Pagi di hari Senin datang dengan ritme yang kembali teratur. Langit Jakarta masih sedikit mendung ketika Naya melangkah masuk ke gedung WCTG, mengenakan blazer tipis dan membawa tas kerja seperti biasa. Tidak ada yang berbeda dari luar, tidak ada perasaan aneh yang mengganjal. Akhir pekan kemarin terasa singkat, ringan, dan sederhana. Ia menyapa beberapa karyawan di lobby sebelum naik ke lantai dua puluh. Begitu pintu lift terbuka, suara kantor yang familiar langsung menyambutnya, keyboard yang berdenting, suara langkah kaki, dan aroma kopi yang samar. Naya masuk ke ruangannya dan meletakkan tas. Ia menyalakan komputer, membuka agenda hari ini, lalu berhenti sejenak ketika melihat satu jadwal meeting tambahan di sore hari. Nama Evan tercantum sebagai pimpinan rapat yang tanpa sadar, memb
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


