Pertemuan Kedua yang Tak Terduga

1393 Kata
Sore itu, langit Jakarta sudah mulai memudar menjadi jingga ketika Naya keluar dari gedung WCTG. Hari ini tidak seberat biasanya, tapi tetap menguras tenaga. Evan sempat mode dingin, lalu mode perhatian, lalu dingin lagi. Naya sendiri sudah bingung harus menyesuaikan yang mana. “Aku butuh makan enak,” gumamnya ketika mengendarai mobil. Ia memutuskan mampir ke café Dawn & Brew sebelum pulang. Café kecil itu hanya berjarak beberapa gedung dari kantor, dan suasananya selalu berhasil menenangkan kepalanya. Begitu masuk, aroma kopi dan vanilla langsung menyambutnya. Hangat, lembut, seperti ingin memeluk. Naya memesan rice bowl dan iced caramel latte, lalu memilih tempat di pojok dekat jendela. Ia meletakkan tasnya, melepas kartu ID di atas meja, dan ketika hendak ingin meneguk minuman ia merasa seperti ada seseorang disebelahnya yang mengajaknya berbicara. “Permisi… ini bukan kebetulan yang aneh kan?” Suara itu membuat Naya menoleh cepat dan matanya membesar. Ia sangat ingat jelas, saat ini yang berada dihadapannya adalah Laki-laki kemarin yang hampir pingsan di Toko Roti, lalu ia papah ke kursi, kemudian ia berikan sapu tangannya untuk mengusap keringat di pelipisnya, dan sekarang entah ada di mana sapu tangannya itu. Naya memperhatikan. Hari ini ia tampak jauh lebih segar, tidak sepucat kemarin, dan rambutnya terlihat sedikit acak-acakan yang justru membuatnya terlihat santai. Kemeja biru laut yang lengannya digulung sampai siku juga membuatnya terlihat lebih muda dan approachable. Ditambah Ia membawa secangkir kopi di satu tangannya. “Oh! M-mas yang kemarin…” Naya refleks berdiri. Laki-laki itu tersenyum pelan. Senyum yang lembut, tenang, dan entah kenapa sedikit menenangkan. Ia memberi sedikit anggukan kecil. “Boleh aku duduk di sini? Kafe lagi penuh.” “Oh! Tentu, silakan!” Naya buru-buru merapikan mejanya, tapi kartu ID nya terjatuh karena tak sengaja kesenggol tangannya sendiri, lalu ia ambil kartu ID nya, ia masukkan kedalam tas. “Adrian,” ucapnya pelan setelah duduk di kursi berhadapan dengan Naya. “Nama aku Adrian.” "Aku Na—" ucapan Naya terhenti karena Adrian memotongnya. “Aku tahu namamu, Naya.” Suaranya lembut, tapi jelas. Naya langsung terbelalak. “Lho? Kok Mas tau…?” Adrian tersenyum tipis, senyum yang terlihat seperti menyiratkan sedikit rasa malu sekaligus sopan. “Kemarin… ID card-mu sempat keluar sedikit dari tas,” jelasnya. “Aku benar-benar tidak sengaja lihat.” Naya membulatkan mulutnya sambil berseru 'O' tanpa suara. "Dan jangan panggil aku Mas. Panggil Adrian saja." Rasanya sedikit aneh jika dirinya dipanggil seperti itu. "Iya, Adrian," ucap Naya tersenyum dan Adrian tampak senang mendengarnya. “Aku mau balikin ini,” katanya sambil meletakkannya di meja. “Sudah aku cuci. Terima kasih sudah nolongin aku kemarin.” Naya terkejut melihat sapu tangannya. Ia pikir sapu tangannya hilang atau tertinggal di Toko Roti setelah dipakai oleh Adrian kemarin. “Terima kasih, Adrian. Aku seneng kamu balikin. Aku pikir ini ketinggalan di Toko Roti kemarin.” Naya mengambil sapu tangannya yang sudah terlipat rapih dan harum. "Tapi harusnya nggak perlu dicuci juga sapu tangannya, Adrian." Naya memasukkan sapu tangannya ke dalam tas. Adrian tertawa kecil. "Kalau aku balikin kotor, kamu pasti bakalan kecewa sama aku." Mendengarnya membuat Naya reflek ikut tertawa. Pembicaraan mereka mengalir natural. Tidak tergesa-gesa dan tidak kikuk. Adrian tidak menanyakan hal pribadi secara agresif, tapi ia juga tidak terlalu menjaga jarak. Paduannya pas. “Jadi, kamu sering mampir ke sini?” tanya Adrian sambil mengaduk kopinya. “Lumayan. Soalnya tempatnya nyaman, makanannya juga enak-enak," jawab Naya setelah meminum iced caramel latte yang sempat tertunda. Adrian tersenyum dan memperhatikan rice bowl Naya. “Pilihan yang aman.” Naya tertawa. “Aku lapar banget, jadi makan yang praktis aja.” Setelah beberapa menit kemudian makanan pesanannya pun tiba. Adrian berkata pelan, “Maaf ya, gara-gara aku kamu nggak jadi beli roti waktu itu." Naya tertawa kecil. “Iya sih… tapi nggak apa-apa kok, yang penting kamu nya nggak kenapa-kenapa kemarin.” Tatapan Adrian melembut. “Kamu suka roti?” Mata Naya langsung bersinar. “Banget! Aku pecinta roti garis keras.” “Kebetulan sekali,” ujar Adrian. “Ibu aku dulu pembuat roti. Aku juga bisa bikin, tapi ya... nggak sejago ibu aku.” Naya tampak terkejut dengan mulut yang masih terisi rice bowl. “Serius? Kamu bisa bikin roti, Adrian?” Ia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Adrian mengangguk ringan. “Lumayan. Kalau nggak percaya, biar aku buktiin.” “Hah?” Naya tersedak sedikit. “Sebagai permintaan maaf karena kamu nggak sarapan kemarin… Jadi, izinin aku buatin kamu roti.” Naya buru-buru menelan habis rice bowl yang ada di mulutnya. “Untuk aku?” Naya menunjuk dirinya sendiri. “Untuk kamu,” ulang Adrian sambil tersenyum kecil. "Nggak perlu, Adrian... Aku nggak mau ngerepotin kamu," ujar Naya sedikit ribut. Tetapi Adrian tidak menanggapinya, justru ia malah mengeluarkan ponselnya. “Kalo kamu nggak keberatan… kita tukeran nomor? Nanti aku kabarin kalau rotinya sudah jadi.” Naya menatapnya lekat-lekat. Berusaha memastikan apakah ini pantas, tidak merepotkan Adrian, aman, dan masuk akal. Setelah mempertimbangkannya ia pun mengangguk. Kini mereka bertukar nomor dan setelah itu mengobrol santai hingga makanan yang mereka pesan masing-masing habis, bahkan sampai café yang tadinya ramai oleh orang-orang yang pulang kerja pun jadi tersisa beberapa saja. Ketika akhirnya mereka berpisah di depan café, Naya melambaikan tangan sambil tersenyum. “Ati-ati ya pulangnya, Naya,” ucap Adrian. Naya menganggukkan kepalanya, “Kamu juga, Adrian.” Anehnya, sekarang langkah Naya terasa lebih ringan dari biasanya. --- Keesokan Harinya, di pagi hari yang cerah, aura Naya terlihat berbeda. Beberapa staf kantor menyadarinya dan juga Janelle, sampai sahabatnya itu menghentikan langkahnya hanya untuk menatap Naya dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. “Naya... Kenapa wajah kamu kaya berseri-seri gitu?” tanya Janelle penasaran dengan beberapa map yang ia peluk erat. Naya hampir tersedak kopi. “Berseri-seri gimana, Nel?” Jared mendekat. “Ini namanya lagi jatuh cinta, Nel...” Ingin membantah ucapan Jared tetapi tidak sempat karena ponselnya tiba-tiba sama berbunyi, tanda notifikasi pesan masuk. Ternyata pesan itu dari Adrian. Sebenarnya udah lama aku nggak buat roti. Jadi, roti pertama gagal, terus yang kedua kebakar dikit, dan yang ketiga aku disemprot oven. Aku merasa dikhianati alat rumah tangga sendiri. Naya menahan tawa, hampir saja ia kelepasan. Jared langsung menyenggol pundak Janelle dengan ekspresi yang seolah-olah berkata "Lihat, kan?" Pada saat yang sama Evan lewat dan berhenti diantara mereka bertiga. Melihat Naya yang seperti itu membuat Evan bertanya dengan suara datar, dingin, dan terselip nada cemburu. “Kenapa kamu senyum-senyum sendiri?” Naya langsung menegakkan tubuh dan mematikan ponselnya. “P—Pak Evan! Nggak… nggak apa-apa.” Evan melipat tangannya, menatap dengan alis naik. “Tidak apa-apa? Tapi kamu dari tadi tertawa kecil sambil menatap ponsel. Lagi chattingan sama siapa?” Naya sedikit kesal, harusnya Evan sadar disaat dirinya bilang 'nggak apa-apa' tadi itu tandanya sudah cukup, tidak perlu ikut campur. Ini kan urusan pribadi. Tidak mungkin kan ia jelasin kalau Adrian yang mengirimnya pesan dan menceritakan kalau dia buat roti gosong. Janelle dan Jared buru-buru pura-pura sibuk. Mereka tahu aura Evan itu aura “siapa itu?” “Perempuan atau Laki-laki?” Evan bertanya pelan. Justru nada pelan itu lebih berbahaya. Naya menelan ludah. “T-tidak ada yang penting, Pak. Cuma teman.” Evan menatapnya lama, sangat lama sekali. Seolah mencoba menembus pikiran Naya, apakah Naya berbohong atau tidak. Dirasa tidak ada yang Naya sembunyikan, akhirnya ia pun berbalik. Namun, sebelum itu, ia berkata, "Saya tidak mau kamu bermain ponsel ditempat kerja, itu bakalan ganggu konsentrasi kamu nantinya." “Baik, Pak," jawab Naya, walau tak suka. Padahal ia sama sekali tidak merasa terganggu konsentrasinya. Setiap hari juga kalau ada waktu luang di kantor ia bakalan memainkan ponselnya dan selama itu juga Evan tidak mempermasalahkannya. "Dasar CEO aneh!" batin Naya. "Ini mah bukan kamu yang nggak konsentrasi, Na, tapi Pak Evan, karena lihat kamu chattingan sama orang lain sambil senyum-senyum begitu!" Janelle tertawa geli. --- Di waktu yang sama, di apartemennya, Adrian duduk di kursi pantry dapurnya. Ia memperhatikan ponselnya yang menyala. Tertera nama Naya masih berada di layar percakapan terakhir mereka. Ia tersenyum kecil, lalu berakhir memperhatikan oven yang di dalamnya terdapat kue buatannya untuk Naya. “Assistant Evan Wiradana…” gumamnya lirih. Ia tahu satu hal dengan pasti, sekarang perempuan itu bukan orang sembarangan dan justru karena itu, langkahnya ke depan tidak boleh ceroboh. “Aku akan mendekat dengan caraku sendiri,” ucapnya pelan. “Pelan… tapi pasti.” Senyumnya tipis, tenang. Namun penuh perhitungan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN