Mobil hitam itu melaju pelan di tepi jalan protokol Jakarta, baru keluar dari gedung tempat Adrian Mahendra melakukan meeting dengan investor. Dia seharusnya langsung kembali ke kantor pusat perusahaannya, Kenanga Culinary Group (KCG), sebuah perusahaan yang ia bangun dari nol, dari toko roti kecil peninggalan ibunya, hingga kini punya banyak cabang dan produknya yang dikenal luas.
Namun, setelah selesai meeting, pikirannya bercabang entah kemana. Sapu tangan putih dengan bordiran nama Naya Almeera itu masih ada di genggamannya sejak pagi. Lipatannya sudah agak kusut karena berkali-kali ia sentuh, seolah benda kecil itu membawa pengaruh yang terlalu besar untuk hari yang seharusnya biasa-biasa saja.
"Naya..." gumamnya pelan.
Wajah perempuan itu terus muncul jelas di benaknya, ekspresi panik saat melihatnya hampir jatuh, tangan kecil yang menopangnya, suara lembut yang menegur pelan ketika ia memaksa berdiri, sampai tatapan tulus yang terasa sangat familiar. Seperti ibunya.
Hatinya mencelos di saat kenangan itu datang tiba-tiba.
“Adrian, duduk dulu. Kamu jangan paksa diri seperti itu, nanti makin pusing. Biar Ibu ambilin air dulu, ya.”
Suara lembut ibunya, hangat dan penuh kasih. Suara yang tidak pernah lagi ia dengar sejak tiga tahun lalu.
Napas Adrian mengencang sedikit ketika perasaan itu menusuk lagi, ada rasa rindu, amarah, dan luka yang sejak lama ia simpan. Dia memejamkan matanya sambil menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Pak, kita langsung ke kantor?” tanya sopirnya dari depan.
Adrian membuka mata. Sebelum menjawab, pandangannya menangkap gedung tinggi menjulang yang sangat ia kenal, yaitu WCTG — Wiradana Creative & Tech Group.
Perusahaan keluarga kakak tirinya.
Tempat nama keluarganya dipuja.
Di rumah Wiradana itu ia pernah diusir secara tidak langsung.
“Berhenti sebentar,” ucap Adrian pelan dan Sopir langsung menepi.
Adrian memandang gedung itu lama. Sangat lama. Sampai matanya terasa panas.
Ia tahu Evan, kakak tirinya bekerja di sini, ia tahu perusahaan Wiradana itu besar, ia sangat menyangka jika kakak tirinya memegang posisi setinggi itu.
Tapi pagi tadi, Ia benar-benar tidak menyangka ketika melihat ID Card di tas Naya.
Naya Almeera — Assistant Executive CEO Wiradana Creative & Tech Group.
Darah Adrian sempat berhenti mengalir sejenak waktu itu.
“Jadi… kamu asistennya Evan,” gumamnya, getir. Untuk sekian kalinya ia berkata seperti itu seharian ini.
Ironi macam apa ini?
Perempuan pertama yang membuatnya merasa hangat lagi, kini terhubung dengan seseorang yang ternyata bekerja dengan orang yang paling ia benci di dunia.
Evan Wiradana. Keluarga Wiradana.
Adrian tumbuh tanpa kemewahan, tanpa keamanan, tanpa sosok ayah.
Ayahnya?
Ia hanya tahu dari cerita ibunya.
Adrian adalah buah dari kesalahan dan percintaan sepihak. Ibu Adrian begitu mencintai ayah Evan, tapi tidak pernah dicintai balik. Ia hanya diberi tempat di balik bayang-bayang rumah besar keluarga Wiradana.
Ketika Adrian lahir, ayahnya langsung memutus semua hubungan.
Yang ayahnya berikan hanya satu, yaitu sejumlah uang dan peringatan keras untuk tidak pernah datang ke rumah megah itu.
“Tolong jangan muncul di depan keluarga saya. Jangan pernah mencemarkan nama Wiradana,”
begitu kata ayahnya pada ibu Adrian, tepat sebelum menutup pintu besar rumah mewah itu.
Mereka hidup dari sisa uang itu, sampai akhirnya ibu Adrian membuka toko roti kecil, toko yang kini menjadi cikal bakal perusahaan makanan milik Adrian dan ia tumbuh menyaksikan ibunya bekerja keras setiap hari.
Mengingatnya membuat Adrian menggenggam sapu tangan itu lebih kuat. Kenangan pahit mulai kembali menyeretnya.
Ibunya jatuh sakit. Sakit keras sampai menghabiskan uang terakhir.
Dalam putus asa, Adrian pergi menemui pria yang seharusnya memenuhi kewajibannya sebagai seorang ayah dan suami.
“Pak… tolong. Ibu saya, keadaannya sekarang lagi kritis. Saya mohon, hanya untuk biaya rumah sakit saja.”
Ia berlutut, menyatukan kedua telapak tangannya, tanda ia benar-benar memohon.
Tapi ayahnya hanya berdiri melihatnya dengan wajah dingin yang tak akan pernah Adrian lupakan.
“Saya sudah bilang, kau tidak perlu datang ke sini. Kau bukan bagian dari keluarga ini. Jangan muncul lagi.”
Pintu besar itu tertutup. Adrian pulang dengan lutut bergetar, tangan gemetar, dan hati yang hancur.
Sampai beberapa hari kemudian ibunya meninggal dunia. Mulai sejak itu nama Wiradana tidak pernah lagi ia sebut dengan hormat.
“Kau akan kubuat menyesal suatu hari nanti," ujar Adrian saat itu di depan tempat pemakaman sang ibu.
Adrian menahan napas saat mengingat semua itu sambil menatap gedung mewah WCTG, hal ini membuat dadanya terasa sesak.
Di saat dulu ia hidup kesusahan untuk mempertahankan ibunya dari ajal, justru gedung ini sedang berdiri dengan agungnya.
“Pak Adrian?” sopirnya memanggil ragu. “Apa Anda baik-baik saja?”
Adrian mengangguk pelan. “Ya… lanjutkan saja perjalanannya.”
Mobil kembali berjalan, meninggalkan gedung WCTG.
Namun, sapu tangan itu ia simpan di saku jasnya. “Ini bukan salah Naya…” gumamnya lirih.
Ia tahu itu benar.
Dan justru karena itu, ada bagian kecil dari dirinya yang ingin bertemu lagi dengan perempuan itu. Ingin mengetahui lebih banyak tentangnya, ingin mengetahui kenapa suara dan sikapnya begitu mengingatkan pada sosok yang paling ia cintai.
“Aku ingin mengenalnya lebih dekat…” katanya pelan.
Namun kalimat berikutnya keluar dengan bisikan dingin,
“…tanpa dia tahu siapa aku sebenarnya.”
---
Kantin kantor WTCG selalu penuh saat jam makan siang. Naya datang bersama Janelle dan Jared setelah menyelesaikan tugas laporan pagi yang diminta Evan.
Janelle langsung menyikut Naya begitu mereka duduk. “Kok kamu lesu banget, Na?"
Naya mengaduk sopnya. “Pagi tadi aku nolong orang pingsan di toko roti…”
Jared langsung angkat alis. “Makanya kamu telat?”
“Iya…” Naya menghela napas. “Aku sampai nggak sempat beli roti buat sarapan.”
Jared menatapnya penuh rasa ingin tahu. “Terus Evan ngomel dong?”
“Ngomel sih… tapi nggak parah.”
Naya menunduk sambil berusaha memotong telur rebus yang ada di sopnya.
“Cuma… entahlah. Ekspresi Pak Evan tuh kayak… campuran marah, bingung, sama… ya gitu deh.”
Janelle langsung memicingkan mata.
“Gitu deh tuh apa? Cemburu?”
Naya langsung tersedak air minumnya.
“J-Janelle! Yang benar aja?! Mana mungkin Pak Evan cemburu?”
Janelle santai. “Aku liat lho... Tatapan dia pagi ini. Intens banget. Kayak ada petir kecil.”
Jared ikut menimpali, “Kalo aku sih udah yakin, Evan itu sebenarnya suka sama kamu. Cuma gengsi akut.”
Naya menggeleng keras. “Udah lah kalian, jangan ngawur…" ujarnya berusaha meredam hawa panas di pipinya.
---
Setelah jam istirahat selesai, Naya kembali ke lantai 20 sambil membawa minuman yang ia pesan di kantin.
Namun langkahnya terhenti setelah melihat di atas mejanya ada sebuah kotak roti besar berisi enam varian yang berbeda, semuanya dari Roti & Kopi Delima.
Naya mengedipkan kedua matanya.
“Siapa yang naro…?”
Naya memperhatikan kotak tersebut, tidak bertuliskan apa pun, tidak ada catatan, dan tidak ada pesan.
Janelle melongok dari belakang.
“EH?! Itu roti yang tadi kamu pengen beli kan?! Siapa yang ngasih??”
Naya sedikit terkejut dengan kehadiran Janelle yang tiba-tiba, tetapi rasa bingung lebih mendominasinya. “Aku juga nggak tahu…”
Tapi Janelle tersenyum nakal.
“Aku taaaaauu…”
“Janelle jangan mulai...” Naya merotasikan bola matanya malas.
“Itu pasti Pak Evan. Udah jelas banget!”
Janelle menunjuk kotak roti itu dramatis.
“Dia merasa bersalah kamu belum sarapan. Terus dia beliin yang lengkap sekalian. Gila, ini enam varian, Nay! Mana roti favorit kamu semua lagi!”
"Tapi emang Pak Evan tau roti kesukaan aku?" Naya mengambil roti coffee bun isi keju.
Janelle terdiam sejenak, ia berpikir apa yang Naya katakan itu benar adanya. Tapi seketika ia menutup mulutnya dengan tangan kanannya, kedua bola matanya membulat sempurna, ekspresi bahwa ia sangat terkejut dengan fakta yang baru saja ia ketahui.
"Kenapa, Nel?" Tanya Naya yang panik melihat perubahan ekspresi wajah Janelle.
"Aku baru inget!" Ujar Janelle dengan dramatis.
"Tadi setelah dari kantin... Jared nanya-nanya ke aku tentang roti apa aja favorit kamu!" Janelle menunjuk-nunjuk kotak kue yang sedang Naya pegang.
"Fix! Pak Evan pasti suruh Jared buat nanyain hal itu ke aku." Janelle menjentikkan jarinya.
"Kita harus tanyain hal ini ke Jared," ujar Janelle, sementara Naya hanya menggelengkan kepalanya dengan ekspresi aneh. Aneh melihat sahabatnya seperti itu.
Dan tanpa mereka ketahui, di balik pintu ruangannya yang sedikit terbuka, Evan melihat seluruh reaksi itu dari kejauhan.
Ia tidak masuk ataupun mendekat. Dirinya hanya berdiri sambil memalingkan wajah, seolah menutupi sesuatu. Sesuatu yang tidak siap ia akui.
---
Sesampainya di rumah, Adrian kembali membuka kembali sapu tangan putih itu.
Menatap bordiran nama Naya yang sederhana namun cantik.
“Assistant Evan…” gumamnya.
Kalimat itu ia ulang seperti merasakan rasa pahit di lidah.
Berbagai perasaan bercampur kejengkelan, rasa penasaran, luka lama, tapi juga ketertarikan yang sulit dijelaskan.
Ia memejamkan mata.
“Tidak apa-apa. Aku akan tetap mendekati dia.”
Ia membuka mata dengan sorot dingin yang sama seperti saat ia memutuskan membangun perusahaannya dari nol untuk menantang keluarga Wiradana.
“Tapi bukan sebagai adik tirimu, Evan.”
Adrian menyandarkan kepala ke kursi.
“Suatu saat, aku ingin melihat bagaimana reaksimu ketika tahu perempuan yang kau jaga… memilih untuk mendekat padaku.”