Pertemuan di Toko Roti

1210 Kata
Pagi itu udara masih lembut, belum terlalu panas. Naya melangkah cepat menuju toko roti kecil yang selalu ramai setiap pagi sebelum berangkat ke kantor. Ia memang sengaja berangkat lebih pagi karena hari ini ingin membeli roti untuk sarapan, sekalian untuk Jared dan Janelle juga. Begitu masuk, aroma roti panggang langsung menyambutnya. Manis, hangat, dan menenangkan. Ia jadi tidak sabar ingin memakan rotinya. “Penuh banget…” gumamnya saat melihat antrean. Ada empat orang di depannya. Tepat sebelum dirinya, berdiri seorang laki-laki berjas hitam rapi, tubuhnya tinggi dan tegap, auranya seperti orang kantor sukses. Dari samping wajahnya terlihat tegas dan sedikit pucat. Naya tidak terlalu memperhatikan, fokusnya ada pada kasir yang sedang sibuk melayani pelanggan. Sampai tiba-tiba... Laki-laki itu mengangkat tangan ke pelipisnya. Gerakannya pelan, tapi jelas menahan sakit, bahkan ubuhnya sedikit goyah… limbung. Naya refleks mengerjap. “Hah? Mas?” Laki-laki itu berusaha menopang tubuh ke meja display roti yang kebetulan berada di sampinya, tapi tangannya bergetar. Beberapa pembeli mulai menoleh, tapi tidak ada yang benar-benar bergerak. Naya yang pertama merespon. Ia langsung maju dan memegang lengan laki-laki itu agar tidak jatuh. “Mas! Mas nggak apa-apa?” suaranya panik tapi tetap tenang. Laki-laki itu menahan napas, mencoba berdiri tegap, tapi tubuhnya kembali goyah. “Kita duduk dulu, ayo.” Tanpa menunggu izin, Naya memapahnya ke kursi dekat jendela. Para karyawan toko dan pembeli melihat mereka dengan pandangan khawatir. Bahkan orang-orang yang berada di belakang Naya langsung maju ke depan untuk menempati tempat Naya ketika Naya membawa laki-laki tersebut keluar dari barisan. Laki-laki itu menutup mata sebentar, menarik napas panjang. “Aku cuma… pusing sedikit…” “Pusing begini mah bukan sedikit, Mas.” Naya membelalakkan mata sambil menuang air mineral ke cup. “Minum dulu.” Air mineral itu tadi ia minta ke salah satu karyawan toko roti. Laki-laki itu menerima tanpa protes, dan meneguknya perlahan. Setelah sekitar satu menit, nafasnya sudah terasa lebih teratur. “Terima kasih…,” ucapnya pelan. Suaranya berat dan terasa lemah. Naya mengangguk. “Mas ada yang bisa dihubungi? Orang kantor? Teman? Supir? Atau siapa saja yang bisa jemput?” Laki-laki itu mengambil ponsel dari saku jasnya. Ia menyalakan ponselnya dan menekan satu nomor cepat. Begitu tersambung, ia menyerahkan ponselnya ke Naya tanpa banyak bicara. Naya sempat bingung, tapi langsung mengerti. “Halo? Mas-nya lagi kurang sehat. Bisa tolong jemput? Kita ada di dalam toko Roti & Kopi Delima.” Naya mendengar suara panik dari sebrang ponsel dan orang tersebut juga langsung mengatakan bahwa ia akan segera datang. Naya menutup telepon dan mengembalikan ponselnya. “Udah ya, Mas tinggal nunggu.” Laki-laki itu tersenyum tipis, tampak berusaha tetap sopan meski lemah. “Kamu… baik banget.” Naya menggeleng cepat. “Wajar lah, Mas. Orang kalau perlu bantuan ya kita bantu.” Tetapi Naya heran, ia merasa Laki-laki tersebut seperti tidak pernah bertemu dengan orang baik dalam hidupnya. Laki-laki itu menatapnya lama, tatapannya bukan menilai, tapi seakan baru pertama melihat seseorang seperti Naya. Ada ketertarikan yang halus, samar, tapi nyata. Tepat saat itu mobil hitam berhenti di depan toko. Dua orang turun, masuk ke dalam Toko Roti dan membantu laki-laki itu berdiri. Naya ikut memastikan orang yang ia tolong aman masuk ke dalam mobil. “Terima kasih,” ucapnya sekali lagi sebelum pintu mobil tertutup. Naya menghela napas lega, kemudian melihat jam, dan darahnya mendadak hilang dari wajah. “ASTAGA AKU TELAT!!” Ia segera berlari menuju parkiran, ia urungkan niatnya yang ingin membeli roti untuk sarapan. Karena sekarang yang terpenting ia harus sampai ke kantor. — 20 menit kemudan Naya sampai di gedung WTCG. Naya masuk ke lift sambil megap-megap, tanpa sadar ia masuk ke dalam lift tanpa rasa takut sedikitpun. Karena faktanya ia terlalu panik memikirkan Evan. Ketika pintu Lift terbuka, sosok pertama yang ia lihat ialah Evan yang sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Berdiri dengan aura mengintimidasi yang tidak mungkin disalahpahami. Tangan yang dimasukkan ke saku, bahunya yang tegang, dan tatapannya yang tajam. Membuat satu lantai 20 seakan membeku. Bahkan karyawan yang lewat memilih pura-pura tidak melihat. Naya langsung pucat. "Habislah aku…" Begitu mata mereka bertemu, Evan mendekat dengan langkah pelan tapi tegas. “Naya.” Naya meringis dalam hatinya, suara itu terdengar rendah, dalam, dan... marah. Naya meringis dalam hati, "Oh tidak..." “P—pak Evan… saya bisa jelasin—” “Kamu tidak mengangkat telepon saya.” Nada datar tapi menusuk. “Maaf, Pak. Tadi saya—” “Kamu telat dua puluh lima menit.” Masih datar. Naya menelan ludah. “Saya… tadi nolong orang yang hampir mau pingsan di Toko Roti, Pak.” Evan mengerjap sedikit. Ia tidak menyangka alasan itu. Ada kekesalan, tapi juga ada sesuatu lain yang menegang di wajahnya. “Laki-laki?” Naya membeku. "I-iya.” Rahang Evan langsung mengeras. “Dan kamu memapah dia?” Nadanya turun satu oktaf. Tidak terdengar marah, tapi cemburu? Atau protektif? Atau keduanya? Entahlah... Hanya Evan yang tau. Naya gugup. “Saya cuma bantu orang, Pak—” Evan menarik napas dalam, memalingkan wajah sejenak seolah menahan sesuatu. Akhirnya ia berkata dengan nada lebih terkendali, “Baik. Saya tidak akan memarahi kamu. Tapi lain kali, beri kabar. Satu pesan saja. Jangan buat saya khawatir.” Naya terpaku. "Khawatir? Jadi sebenarnya dia marah karena aku telat atau apa?" Batin Naya. “S—siap, Pak…” Evan menghembuskan napasnya pelan, "Yasudah, kamu boleh lanjut kerja, tapi untuk laporan operasional minggu kemarin masih berantakan. Jadi, tolong rapikan formatnya dan pastikan semua data sudah sesuai. Saya butuh sebelum jam makan siang." “B-baik, Pak…” Evan mengangguk kecil lalu kembali ke ruangannya tanpa menoleh lagi, meskipun ekspresinya jelas masih tidak suka. Naya bernapas lega, dalam hatinya ia sangat menyesal sudah telat, tapi yang lebih ia sesali adalah tidak ada roti untuk sarapan. — Sementara itu di dalam mobil hitam. Laki-laki tadi yang Naya tolongin sewaktu di Toko Roti sedang duduk di kursi belakang, kini dia sudah jauh lebih stabil. Ia memandang sesuatu di tangannya. Sebuah sapu tangan bewarna putih dengan bordiran nama Naya Almeera yang dibawah nama tersebut ada bordiran berbentuk bunga bewarna biru muda. Sapu tangan tersebut dia dapat saat Naya mengelap bulir-bulir keringat yang ada di pelipisnya. Ia berkeringat saat tadi kepalanya terasa sangat pusing. "Naya Almeera." Adrian tersenyum kecil ketika meyebutkan nama Naya. Ya... Laki-laki tersebut bernama Adrian. "Nama yang cantik." Batin Adrian. Tapi senyumnya memudar pelan ketika ia mengingat ucapan Naya saat menelepon orang suruhannya tadi. “…bisa tolong jemput? Mas-nya lagi kurang sehat. Kita ada di depan Roti & Kopi Delima.” Nada bicara Naya terdengar lembut dan tulus. Sudah lama tidak ada perempuan yang berbicara padanya seperti itu. Tanpa pamrih, tanpa berharap apa pun. “Pak, kita langsung ke kantor?” tanya sopirnya. Adrian mengangguk. “Ya.” Namun, ada satu hal lagi yang membuatnya memasang wajah dingin. Tadi sebelum Adrian masuk ke dalam mobil, ia sempat melihat Id Card Naya yang sedikit keluar dari dalam tasnya. Di sana tertulis Naya Almeera – Assistant CEO Wiradana Creative & Tech Group (WCTG) Adrian tersenyum miris. “Evan Wiradana... Kau selalu beruntung.” Ia menoleh lagi ke sapu tangan bertuliskan nama Naya. Seolah sebuah garis samar mulai menghubungkan semuanya. Tepat sebelum mobil berhenti di lampu merah, Adrian berbisik pada dirinya sendiri, “Semoga kita bertemu lagi, Naya.” Adrian tahu, pertemuan keduanya adalah awal dari permulaan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN