Jam telah menunjukkan pukul 8 malam.
Semakin malam suasana ibukota semakin rame dan padat. Disini Asqhila berada di tengah keramaian orang-orang yang sedang berlalu lalang. Menghirup udara malam haru sembari mencari makan malam untuk mengisi perutnya yang kosong.
Sebelumnya beberapa jam yang lalu, dia pergi ke toko furniture untuk membeli kasur serta bantal dan juga lemari untuk menyimpan pakaiannya. Tidak mungkin dia tidur tanpa beralaskan apa-apa, dia masih menyayangi tubuhnya, jika sampai sakit siapa yang akan merawat dirinya jika bukan dia sendiri.
Beberapa saat berjalan, dia berhenti tepat di sebuah warung pinggir jalan yang menjual nasi goreng dan beberapa menu pilihan makanan yang tersedia. Tanpa pikir panjang dia langsung menghampiri dan memesan seporsi nasi goreng, minta di take away karena dia ingin makan di kos saja.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pesanan sebungkus nasi gorengnya telah selesai. Asqhila berjalan kembali menuju kos, melewati banyak orang-orang. Dia berjalan kaki, kebetulan letak kosnya tak jauh dari tempat keramaian.
Ketika melewati jalan yang cukup sepi, terdengar dari arah belakang suara klakson mobil. Bahkan suara klakson itu terdengar di bunyikan berulang-ulang kali.
"Apasih," Asqhila berbalik kebelakang, laju mobil itu semakin mendekat kearahnya.
Dan,"aduhhhh, awwwwww..." jerit teriakan dari mulutnya, dia terjatuh kesamping.
"Ahhh sakit," tangan kanannya lecet sedikit, akibat terkena aspal jalan, namun terasa perih.
"Aaaaaa,,, nasi goreng gue," nasi gorengnya ikut jatuh dan malah berhamburan. Kasian.
"Woiiii, keluar loe," Asqhila berdiri dan menghampiri si pengandara mobil yang ugal-ugalan di matanya.
Seseorang keluar dari dalam mobil, berjalan menghampiri Asqhila.
"Kenapa?" dengan rasa tidak berdosanya, nih cowok malah bertanya kenapa? s**t, buta kali yah matanya, begitu lah isi pikiran Asqhila.
"Loe bisa gak sih bawa mobil,! jalanan ini luas, bukan berarti loe harus ngebut dan mainin klakson. Lampu penerangan menyala semua, gak mungkin loe gak ngeliat gue jalan di samping. Dan jalanan ini sepi, gak ada siapa-siapa kecuali gue yang lagi jalan."
Asqhila menatap pria itu lekat,"Loe..." menajamkan pendangannya kepada pria di depannya ini, agar tak salah duga.
"Loe cowok yang tadi siang kan! wah gue rasa mata loe itu rabun, gak bisa ngeliat. Tadi siang loe hampir nabrak gue, dan sekarang loe buat gue jatuh bahkan nasi goreng gue ikutan jatuh dan sekarang gak bisa gue makan." tekan Asqhila penuh emosi.
"Gue kan sudah ngeklakson dari jarak jauh, harusnya loe ngehindar. Loe jatuh itu salah loe sendiri." ucapnya biasa dan tak ada rasa bersalah sedikit pun, justru balik menyalahkan gadis malang ini.
Mata Asqhila membelalak, pria ini sangat tidak sopan.
"Loe yang salah, kenapa nyalahin gue. Loe gak bisa banget yah ngomong yang sopan,"
Pria itu memperhatikan lengan Asqhila yang lecet,"tangan loe lecet, sebaiknya loe pulang obati tangan loe itu,"
Asqhila tak percaya dengan omongan pria ini barusan, ternyata masih punya hati.
Pria itu mengeluarkan beberapa lembar uang dan memberikannya pada Asqhila.
"Sory, gue gak sengaja, gue buru-buru. Nih buat biaya obat dan juga makanan loe yang udah jatuh."
Asqhila terdiam tak bergerak untuk mengambil uang tersebut.
Karena tak ada pergerakan dari Asqhila, pria itu menarik tangannya dan memberikan beberapa lembar uang yang di pegangnya dan menaruh di tangan Asqhila.
"Lunas kan, gue cabut dulu," ucap pria itu dan bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya dan berlalu pergi.
Asqhila tersadar beberapa saat kemudian setelah pria itu telah pergi.
"Haaahhh,,, astaga kok gue malah jadi bengong sih," melihat beberapa lembar uang di tangannya, senyumnya terukir lebar.
"Buset banyak amat," dia menghitung uang itu lembar perlembar, dan matanya makin membola,"dua jutaaaaaaaaaa...." mulutnya dia tutup dengan cepat, melihat kesekeliling apa ada yang melihat atau mendengar suara teriakannya atau tidak. Setelah di lihat aman, senyumannya terukir kembali.
"Hehehe, lumayan malam-malam dapat rejeki nomplok," uang itu dia masukan ke dalam kantong celananya.
"Yah meski tangan gue harus lecet, tapi gak apa-apalah. Tapi sayang nasi goreng gue jatuh, padahal belinya harus antri."
Nasi goreng itu dia pungut dan membuangnya di tong sampah. Asqhila cinta kebersihan.
Gadis itu berjalan kembali pulang ke kos, untung saja dia ketemu Abang penjual sate di depan kos, jadi perutnya tidak akan keroncongan karena kelaperan.
* * *
"Selamat malam tuan, non Sera ada di atas," ucap asisten rumah tangga.
Dio mengangguk mengerti dan segera berjalan naik ke atas. Seorang gadis tengah berdiri di balkon.
Dio berjalan menghampiri gadis itu, terlihat telapak tangan gadis itu di balut kain kasa.
"Sera," gadis itu berbalik ke sumber suara yang memanggilnya.
Gadis itu tersenyum menatapnya, wajahnya terlihat bahagia.
"Apa yang terjadi! Loe baik-baik saja kan!" tanya Dio panik.
"Gue baik Dio, gak usah khawatir," ucap Sera.
"Gimana gue gak kha-," ucapannya terjeda karena seseorang menyebut namanya.
"Dio," suara yang tak asing di telinganya.
"Bang Niko? sejak kapan disini?" tanya Dio bingung.
"Sekitar sejam yang lalu, gue dari dapur ngambilin Sera minum. Loe ngapain kesini?" giliran Niko yang bertanya heran.
"Tadi gue yang ngabarin Dio kak, gue pikir kak Niko gak bakalan datang, ternyata langsung datang. Soalnya chat Sera gak di balas kak Niko." Sera sedikit cemberut perihal Niko tak membalas pesannya.
"Sorry, gue panik dan langsung menuju kesini, jadi gak sempat untuk ngebalas."Niko berjalan mendekati Sera dan memberikan segelas air minum yang di bawahnya dari dapur.
Keduanya tengah asyik saling memandangi satu sama lain dengan senyuman yang tak pudar. Mereka melupakan seseorang yang tengah berdiri menatap mereka datar.
"Gue balik,"
"Loh cepat banget, duduk dulu kita ngobrol-ngobrol, sudah lama gak ngumpul bertiga gini," ucap Niko.
"Gue balik aja bang, sudah ada loe yang jagain Sera. Gue cuma memastikan keadaanya saja."
Dio berbalik dan berjalan pergi, saat akan menuruni tangga, suara Sera menghentikan langkahnya sejenak.
"Dio, thanks udah datang," Dio tak berbalik, hanya mengacungkan tangannya keatas, kemudian kembali melangkahkan kakinya meninggalkan rumah gadis itu, berjalan dengan senyuman pahit yang terukir.
"Gue pikir loe hanya ngabarin gue Ra, ternyata loe ngabarin dia juga. apa gue jadi pilihan kedua loe jika bang Niko gak datang?"
menatap rumah Sera, tepatnya kearah balkon rumah itu. Dapat terlihat jelas oleh matanya, Sera tertawa bahagia berada dekat Niko.
Dengan cepat dia menjalankan mesin mobilnya, menancap gas meninggalkan rumah gadis yang bertahun-tahun dia cintai. Cinta bertepuk sebelah tangan. Dimata Sera, Dio adalah sahabat yang selalu ada untuknya.
Sebaliknya, Dio mulai menyukai Sera sejak mereka masih SMA.
Sera menyukai Niko, bahkan gadis itu terang-terangan menunjukkan rasa sukanya pada pria yang lebih tua 4 tahun dari umur Sera dan Dio.
"Loe dimana bro?" ucap seseorang yang menelponnya saat dalam perjalanan pulang.
"Di jalan, gue habis ngecek Sera kerumahnya,"
"Ckkkk,, masih berharap loe,?
"Ada apa loe telpon gue?" Dio mengalihkan pertanyaan.
"Gue lagi sama anak-anak ngumpul nih, di tempat biasa,"
"Gue otw kesana,"
"Siplah..."
Lebih baik dia pergi berkumpul bersama teman-temannya, setidaknya bisa menghilangkan sedikit rasa sesak di hati.
* * *
"Alhamdulillah kenyang, arghh (bersendawa),"
"Masih tersisa banyak (menghitung sisa lembaran uang yang di beri Dio, hanya berkurang beberapa ribu, cuma beli sate seporsi dan air mineral), coba tiap hari gue di kasih duit segini, betapa nikmatnya hidup ini,"
Plakk (menampar pipinya sendiri),"loe mikir apa sih Asqhila, aneh-aneh banget isi pikiran loe, mending tidur gih, besok loe harus kerja jangan sampai telat, bisa diomelin sama si botak," setelah berbicara pada dirinya sendiri, dia bergegas tidur. Menutup matanya dan siap menjelajahi alam mimpi.