bc

FAKE WEDDING

book_age18+
2
IKUTI
1K
BACA
love after marriage
others
CEO
boss
drama
bxg
city
like
intro-logo
Uraian

"Oke Deal," Qhila bersalaman tangan dengan pria di depannya, Dio.

Selembar kertas putih bertuliskan beberapa point isi perjanjian yang telah disepakati bersama dan di tanda tangani oleh keduanya.

"Gue yang nyimpan surat ini," kata Dio, lelaki itu kemudian memasukkan selembar kertas itu kedalam sebuah map biru.

"Oke," Qhila mengacungi jempolnya.

Apa yang sebenarnya terjadi pada keduanya, mengapa ada surat perjanjian?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Pertemuan Pertama
Apes benar hidupnya, setelah di tipu oleh kedua sahabatnya, kini dia di usir dari rumah peninggalan kedua orangtuanya, rumah itu ternyata telah di jual oleh kedua sahabatnya. Untung saja dia tak di pecat dari pekerjaannya kini, jika hal itu terjadi lengkap sudah nasib buruk yang menimpa dirinya. Berjalan menyeret sebuah koper serta ransel, menyusuri jalanan ibu kota yang begitu padat. Belum lagi di tambah panas terik sinar matahari. Dia berjalan tanpa arah. "Gue harus kemana, awas loe berdua kalau ketemu, gue bejek-bejek," Asqhila sangat marah pada kedua sahabatnya sekaligus sepasang kekasih itu. Mereka telah menipunya dan membawa kabur uang hasil tabungan yang sudah dia kumpulkan selama ini. Syukurnya dia masih mempunyai uang simpanan, bisa dia gunakan untuk menyewa kos berukuran kecil. "Panas banget," dia memandangi panas nya terik matahari."Apa gak mau turun hujan, setidaknya bisa mendinginkan kepalaku." Pipp pipp,, pipp pipp (bunyi klakson dari mobil seseorang),, Asqhila tak memperdulikan suara klakson itu, toh kalau mau lewatkan tinggal lewat saja, lagian Asqhila berjalan bukan di tengah jalan, dia berjalan di pinggir. Bodoh Asqhila jika dia berjalan di tengah. Namun suara klakson itu terdengar lagi, suara itu membuatnya jengkel. Dia berbalik kebelakang dan siap untuk memaki orang tersebut. Dia melangkahkan kakinya menuju mobil berwarna hitam itu, di ketoknya kaca mobil cukup keras. Saat kaca mobil itu turun, Asqhila siap untuk memaki sang pemilik."Maaf tuan, masih banyak space untuk mobil tuan lewat, jalanan ini cukup luas. Suara klakson mobil tuan sangat mengganggu." ucap Asqhila masih dengan ramah. Pria itu menurunkan kacamata hitam yang bertengker di hidungnya. Dia menatap Asqhila dengan tatapan datar. "Kalau ngerasa terganggu, tinggal minggir. Kenapa dibikin repot." jawaban tak terduga yang keluar dari mulut pria ini. "Whaattttt?," Asqhila menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara kasar. "Hei Tuan, anda yang terlalu kepinggir, itu lihat jalannya masih luas, jangan cari alasan." dia masih menahan agar emosinya tak meledak, sudah cukup kepalanya sangat panas akibat ulah kedua temannya, jangan lagi di tambah dengan orang ini. "Loe yang harus ngasih jalan bagi pengendara seperti gue, masih bagus gue klakson dulu, bisa saja gue langsung nabrak. Tapi gue gak mau repot dan berurusan sama orang seperti loe." enteng banget pria ini mengeluarkan statement yang bikin siapa pun jadi geram. "Sombong banget loe jadi orang, jangan mentang-mentang loe orang kaya dan seenaknya ngomong seperti merendahkan." "Dari cara omongan loe aja sudah keliatan, perempuan stres," pria malah mengatai dirinya. Prakkk (Asqhila memukul pintu mobil pria ini),"Turun loe, mulut loe minta banget gue tonjok, turun." Bukannya turun, pria ini justru menancapkan gasnya dan berlalu pergi. "Haaahhh," Asqhila tak percaya, pria itu baru saja membuat emosinya yang sedari tadi berusaha di tahannya siap untuk keluar. "Dasar songong, gue sumpahin tuh ban picah, arggghhhh gue bener-bener kesel." Asqhila mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi kedua orang yang telah membuatnya melarat. Namun nihil tak ada jawaban. "Kalian memang pasangan cocok," memasukkan kembali ponselnya,menyeret kembali koper kesayangannya menyusuri jalan dengan teriknya panas matahari. * * * Ternyata nasib baik masih berpihak padanya, setelah berjalan beberapa jam, tak sengaja menemukan selembaran kertas yang terpasang disebuah tembok jalan berisi info kos-kosan murah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak perlu pikir panjang, Asqhila segera menuju ke alamat yang tertuju. Dan yah, disinilah dia sekarang berada, sebuah kamar kos kecil yang cukup bagi dirinya seorang. "Lelahnya," merebahkan badannya di lantai, kos itu sangat kosong, belum terisi benda-benda. Melihat kesekeliling, menatap langit-langit kamar, dan berakhir menatap koper serta tas yang sedari tadi menemaninya berjalan. "Ckk, ngenes banget hidup loe La. Untung aja loe wanita kuat, bisa menerima semua cobaan ini." Menutup matanya perlahan, rasanya dia sangat lelah, hingga rasa kantuk menyerang dirinya. "Gue tidur dulu bentar," beberapa detik kemudian akhirnya dia tertidur. Sedangkan di lain tempat di waktu yang sama, seorang pria sedang mengeluarkan nada keras, semua yang berada di situ rasanya ingin kabur dari hadapan pria ini segera. "Apa saja yang kalian lakukan selama ini?" "Kalian ingin bermain-main?" melempar beberapa lembaran kertas yang di pegangnya. "Maaf Pak, akan kami perbaiki semuanya segera," ucap salah satu diantara mereka yang sedang menunduk ketakutan. "Saya beri waktu sampai besok siang. Kerjakan dengan betul jangan ada kesalahan sedikit pun." "Baik Pak," jawab serempak semuanya. Setelah mengomeli karyawannya, pria itu berjalan keluar menuju ruangan kerjanya. "Hufff, hampir saja. Gue sampai gak bisa nafas," ucap seorang wanita berkacamata. "Pak Ardio jika sudah marah, rasa-rasanya gue ingin menghilang saja dari bumi." sambung seseorang. "Doi belum ngomong aja gue udah takut, tatapan matanya terasa ingin membunuh. Tapi justru Kharisma pak Dio kalau lagi marah-marah gitu makin keluar." ucap wanita dengan berambut panjang dan pirang. Meski Ardio terkenal sangat galak dan juga disiplin. Namun dia banyak di kagumi oleh karyawannya, terutama pada kaum hawa. "Sudah-sudah, sebaiknya kita kembali bekerja dan menyelesaikannya. Jangan sampai membuat pak Dio makin marah," ucap pria tinggi disamping wanita berambut pirang. Mereka semua mengangguk dan bergegas meninggalkan ruangan meting. Tok... Tok... Tok... (Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Dio). Klikk... (Suara pintu terbuka). "Serius amat pak," seseorang muncul dari balik pintu dengan cengiran meledek yang terpasang di raut wajahnya. "Biasa juga langsung masuk, tumben pake di ketok segala dulu pintunya," tanpa dia menoleh dia hafal pemilik suaran itu. "Entar gue di katain gak sopan, sekarang udah sopan malah di katain tumben, serba salah mulu hidup gue," ucapnya dengan dramatis. "Loe hidup aja udah salah," ucap Dio enteng. "Si anj*r, tega banget loe sama sahabat sendiri, gini-gini juga gue selalu ada buat loe." Ardio menatap sahabatnya geli, liat saja tingkah Fando yang berpura-pura sedang meraju. "Muka loe tuh udah ngenes, jangan di bikin ngenes lagi ckk," "Sialan loe Dio," rasanya Fando ingin mengumpati Dio. Sahabatnya itu terlalu kejam jika berkata. Untung Fando orangnya kebal dan gak baperan, makanya persahabatan mereka bisa awet selama bertahun-tahun. "Loe lagi gak ada pasien," tanya Dio. Yah, Fando adalah seorang dokter . Meski kelakuannya suka di luar batas dan tingkahnya yang absurd, dia berhasil mewujudkan impiannya menjadi dokter. "Sebentar malam gue ada jadwal operasi, kenapa sih? kayak gak senang sahabat loe yang ganteng ini datang." "Ckkk, gantengan juga pak satpam kantor gue." ucap Dio ngeledek. "Wah, wah, wah, cari ribut nih, ayolah bertumbu kita." Fando berdiri dan menggulung kedua lengan kemeja putihnya, seakan-akan menunggu Dio untuk melawannya. "Gak usah sok lawan gue, baru juga sekali pukulan sudah k.o.," "Boleh di uji, jangan beraninya ngomong doang, berdiri loe," tantang Fando. "Malas, buang-buang tenaga aja." "Halah, alasan aja, perasaan loe cuma duduk-duduk sambil liatin kertas doang, buang tenaga gimana," Dio melototi tajam ke Fando, "Hehehehe bercanda bro, loe kalau natap kayak gitu berasa ingin makan orang, hiiiihhh," Fando bergidik ngeri. Dio kembali memfokuskan dirinya pada lembaran-lembaran kertas yang bertumpuk. "Besok loe datang?" tanya Fando. "Gak, malas" jawab Dio singkat. "Ckkk, ayolah loe ikut, malas gue kalau gak ada loe," bujuk Fando. "Ya gak usah pergi, jangan di bikin pusing," "Gak asik loe," Fando berbaring di atas sofa, sedangkan Ardio kembali bekerja.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook