Bab 7

1132 Kata
Hari itu suasana kelas terasa berbeda. Bukan hanya bisik-bisik murid yang semakin ramai, tapi bahkan guru mereka, Pak Jang, sempat melontarkan komentar saat membagi tugas. “Kang Yura, Han Jiwoo,” ucapnya sambil menatap keduanya. “Kalian berdua kerja kelompok, kan? Tolong buktikan kalau kalian benar-benar fokus belajar, bukan… hal lain.” Seluruh kelas langsung gaduh. “Wah, Pak Jang aja tau gosipnya.” “Hahaha, berarti beneran ada apa-apa.” “Mereka cocok sih sebenernya.” Yura menunduk, wajahnya merah padam. Rasanya seperti ditelanjangi di depan semua orang. Jiwoo tetap tenang, meski rahangnya mengeras. Ia tidak suka kalau guru sampai ikut-ikutan. Begitu kelas selesai, Yura buru-buru keluar. Mina mengejarnya. “Ra, kamu oke?” tanya Mina hati-hati. Yura berhenti di tangga, matanya berkaca-kaca. “Gue nggak tahan, Min. Semua orang ngomongin gue seakan-akan gue… gue cewek murahan yang kejar-kejaran sama Jiwoo.” Mina memeluk bahunya. “Lo bukan kayak gitu. Mereka cuma sirik.” Tapi Yura menggeleng. “Gue benci banget jadi bahan gosip. Gue bahkan… nggak tau perasaan gue sendiri tentang Jiwoo.” Di sisi lain koridor, Han Seojin mendengar percakapan itu dari jauh. Senyum liciknya muncul. “Bagus. Dia lagi rapuh,” gumamnya. “Saatnya gue jadi penyelamat.” Sore hari, Yura duduk sendirian di taman sekolah. Angin berhembus pelan, membawa dedaunan jatuh di pangkuannya. Ia menatap layar ponselnya yang penuh dengan notifikasi komentar di media sosial sekolah. Beberapa akun anonim menulis hal-hal menyakitkan. “Kang Yura cuma cari perhatian.” “Pantes aja sok populer, ternyata deket sama Han Jiwoo buat naikin status.” “Dasar cewek fake.” Yura menutup layar, air mata akhirnya jatuh juga. Saat itulah suara lembut terdengar. “Lo nggak apa-apa?” Yura mendongak. Seojin berdiri di depannya, membawa dua botol minuman dingin. “Minumlah. Lo kelihatan butuh.” Ia menyodorkan salah satunya dengan senyum hangat senyum yang jarang sekali ia tunjukkan. Yura ragu sejenak, tapi akhirnya mengambilnya. “Terima kasih…” Seojin duduk di sampingnya, cukup dekat tapi tetap memberi jarak. “Gue tau Lo lagi berat sekarang. Semua orang ngomongin tanpa tau kebenaran.” Yura menggigit bibirnya. “Kenapa mereka begitu kejam? Gue bahkan nggak ngapa-ngapain…” “Karena mereka iri.” Seojin menatapnya serius. “Lo cantik, pintar, populer. Wajar Lo mereka ingin menjatuhkan lo. Tapi lo nggak sendirian, Yura.” Yura menoleh, sedikit terkejut. “Maksud lo?” “Gue ada di pihak lo.” Seojin tersenyum tipis. “Kalau ada yang nyakitin lo, gue nggak akan tinggal diam.” Kata-kata itu membuat hati Yura bergetar. Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa ada seseorang yang benar-benar mendengarkan tanpa menghakimi. Namun, tak jauh dari situ, Jiwoo berdiri di balik pohon besar, melihat semuanya. Tatapannya dingin, tangannya mengepal. “Seojin…” gumamnya dengan nada rendah. Ia tau betul apa maksud adiknya. Malam itu, Yura merenung di kamar. Kata-kata Seojin terus terngiang. “Gue ada di pihak lo.” Entah kenapa, ia merasa sedikit tenang. Tapi di sisi lain, setiap kali mengingat wajah Jiwoo yang dingin, hatinya terasa lebih rumit. “Gue nggak ngerti lagi… siapa yang bener-bener tulus? Siapa yang cuma mainin gue?” bisiknya sambil memeluk bantal. Di rumah Han, Jiwoo mendatangi kamar Seojin. “Lo pikir gue nggak tau apa yang lo lakukan?” suaranya tajam. Seojin tersenyum santai. “Gue cuma menolong Yura. Kenapa? lo keberatan?” Jiwoo mendekat, menatap tajam. “Jangan coba-coba main-main dengan dia.” Seojin terkekeh pelan. “Atau apa? lo bakal akui kalau lo peduli?” Jiwoo terdiam sejenak, lalu berbalik keluar tanpa menjawab. Tapi hatinya bergemuruh. Ia tahu Seojin sedang memainkan permainan berbahaya. Hari berikutnya, Yura melangkah ke sekolah dengan langkah berat. Ia sudah siap mental dengan bisik-bisik yang pasti akan terdengar lagi, tapi pagi itu ada sesuatu yang berbeda. Begitu ia memasuki gerbang, beberapa murid cewek langsung heboh. “Ya ampun, itu Seojin kan? Dia jalan bareng Yura!” “Serius? Kok bisa??” “Dua keluarga kaya sekarang makin seru deh. Pertama gosip Yura-Jiwoo, sekarang Yura-Seojin.” Yura melirik ke sampingnya. Benar saja, Han Seojin berjalan santai di sampingnya, seolah sengaja menyesuaikan langkah. “Kenapa lo tiba-tiba muncul di sini?” tanya Yura cepat, agak gugup. “Gue cuma kebetulan lewat,” jawab Seojin dengan senyum tipis. “Lagian, lebih baik gue ada di samping lo daripada Lo sendirian dikerubungi gosip.” Yura terdiam, tidak bisa menyangkal kalau kehadiran Seojin membuat orang-orang berhenti berkomentar pedas. Tapi hatinya resah. Di kelas, suasana makin ramai. “Wah, Yura sekarang double jackpot ya, kakak-adik Han deket sama dia.” “Jangan-jangan dia lagi mainin dua-duanya?” “Astaga, drama banget!” Mina yang duduk di samping Yura langsung membanting buku dengan keras. “Kalau kalian nggak tau apa-apa, diam aja!” Kelas langsung hening, tapi Yura hanya menunduk, menahan air mata. Sore itu, proyek kelompok kembali membuat Yura dan Jiwoo harus bertemu di perpustakaan. Yura sudah bersiap dengan ekspresi datar, mencoba seolah-olah tak terjadi apa-apa. Namun begitu ia duduk, Jiwoo langsung berkata, “Berhenti jalan bareng Seojin.” Yura kaget. “Apa urusannya sama lo?” “Dia nggak tulus.” Jiwoo menatapnya tajam. Yura menggertakkan gigi. “Lo juga nggak tulus! lo sendiri yang bilang kita pura-pura nggak kenal di luar proyek. Jadi jangan gue!” Jiwoo terdiam, wajahnya menegang. Hatinya terasa ditusuk, tapi ia tidak bisa menyangkal kata-katanya sendiri dulu. “Yura…” suara Jiwoo lebih pelan, “gue cuma nggak mau Lo terjebak dalam permainan dia.” “Permainan? lo pikir gue bodoh?!” Yura berdiri dengan marah, menutup bukunya dengan keras. “Gue capek dengerin lo. Kalau memang lo nggak peduli, berhenti urusin gue!” Ia melangkah pergi, meninggalkan Jiwoo yang duduk terpaku. Di luar perpustakaan, Seojin sudah menunggu dengan senyum hangat. “Yura, ayo gue anter pulang. Lo kelihatan capek.” Yura menatapnya sejenak, lalu menghela napas. “Baiklah…” Ia akhirnya berjalan bersama Seojin. Dan untuk pertama kalinya, Yura merasa sedikit lega karena tidak harus menghadapi semua sendirian. Malam itu, Jiwoo duduk di kamarnya, memandangi kertas proyek yang kosong. Kata-kata Yura terus bergema di kepalanya: “Kalau memang lo nggak peduli, berhenti urusin gue!” Ia mengepalkan tangannya. “Kenapa gue peduli? Kenapa gue nggak bisa diam aja?!” Jiwoo akhirnya sadar ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak bisa ia hentikan. Perasaan yang sejak awal coba ia tekan kini mulai muncul ke permukaan. Di sisi lain, Seojin menatap layar ponselnya dengan puas. Foto dirinya berjalan bersama Yura sudah tersebar di media sosial sekolah, membuat gosip semakin liar. “Langkah pertama berhasil,” gumamnya. “Tinggal tunggu Jiwoo terpancing.” Yura berbaring di ranjang, menatap langit-langit kamar. Ia mengingat tatapan tajam Jiwoo, lalu senyum hangat Seojin. Dua bayangan itu saling bertolak belakang, tapi sama-sama menghantui pikirannya. “Kenapa semuanya jadi serumit ini…?” bisiknya pelan, sebelum akhirnya tertidur dengan air mata yang masih basah di pipi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN