Keesokan paginya, Kang Yura sudah menyiapkan strategi sederhana: hindari Han Jiwoo sebisa mungkin. Ia bahkan berangkat lebih pagi dari biasanya supaya tidak satu waktu masuk dengan Jiwoo.
“Ra, Lo serius banget. Baru kali ini gue lihat lo niat ke sekolah lebih awal,” komentar Park Mina yang ikut di mobil.
Yura menatap keluar jendela. “Gue nggak mau ada gosip aneh-aneh lagi. Mulai sekarang gue bakal jaga jarak sama Jiwoo.”
Mina menghela napas. “Tapi Ra, masalahnya kalian masih satu kelompok. Gimana mau jaga jarak?”
“Gue bakal cari cara,” jawab Yura cepat, meski dalam hatinya sendiri belum yakin.
Di kelas, Yura langsung mengatur posisi duduknya supaya agak jauh dari Jiwoo. Biasanya mereka cuma beda dua meja, tapi kali ini Yura sengaja pindah ke sisi lain ruangan dengan alasan “pencahayaan lebih bagus buat belajar”.
Jiwoo menatapnya dari jauh, ekspresinya datar, tapi matanya jelas menangkap perubahan itu.
Selama pelajaran berlangsung, Yura pura-pura sibuk menulis padahal otaknya kosong. Setiap kali ia merasa Jiwoo menoleh, jantungnya berdegup kencang.
“Aish, kenapa gue jadi kayak orang salah tingkah gini,” gumamnya pelan.
Istirahat siang.
Mina melihat Yura buru-buru menariknya ke arah kantin. “Seriusan, lo lagi kabur dari Jiwoo, kan?”
Yura melotot. “Ssst! Jangan keras-keras! Nanti ada yang denger.”
Mina menahan tawa. “Ra, kalau lo makin ribut gini justru makin ketahuan loh. Semua orang udah ngeh kalau kalian awkward banget sejak gosip itu.”
Yura memegang kepalanya. “Ya Tuhan… gimana caranya gue bener-bener lepas dari gosip ini?!”
Namun sialnya, baru saja mereka duduk di kantin, Jiwoo juga masuk bersama beberapa teman cowoknya. Semua orang langsung melirik antara Jiwoo dan Yura.
“Gue cabut aja deh,” bisik Yura sambil berdiri.
Tapi langkahnya tertahan ketika suara salah satu teman Jiwoo cukup keras terdengar. “Eh, Jiwoo, itu Yura tuh! Katanya kalian sering bareng ya?”
Kelas seakan berhenti bergerak. Semua tatapan kembali tertuju pada mereka.
Jiwoo hanya menatap sebentar, lalu duduk tanpa menjawab. Tapi Yura merasa panas dingin, seakan semua gosip itu benar.
Sore hari, Yura berusaha kabur dari kewajiban kelompok dengan alasan ada urusan keluarga. Ia bahkan sengaja pulang lebih cepat.
Namun, saat melewati koridor belakang, langkahnya terhenti. Jiwoo sudah berdiri di sana, bersandar ke dinding, seolah menunggunya.
“Kenapa Lo kabur?” tanya Jiwoo tenang.
Yura terkejut. “Gue nggak kabur! gue cuma… ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Itu bukan urusan lo!” balas Yura cepat.
Jiwoo menatapnya lama, membuat Yura gugup. “Lo pikir dengan menjauh, gosip itu bakal hilang?”
Yura menggertakkan gigi. “Gue cuma nggak mau semuanya makin buruk.”
“Tapi lo justru bikin semuanya kelihatan aneh.”
Yura terdiam. Ucapannya benar, tapi hatinya menolak mengakuinya.
“Yura,” suara Jiwoo lebih lembut, “gue nggak peduli gosip mereka. Yang penting sekarang kita fokus ke proyek. Jangan biarin mulut orang lain ngatur hubungan kita.”
Kata “hubungan” itu membuat wajah Yura memanas. “H-hubungan?! Jangan salah ngomong!”
Jiwoo hanya menaikkan satu alis, lalu berbalik pergi. “Suka nggak suka, lo nggak akan bisa menghindar dari gue.”
Yura berdiri terpaku, wajahnya merah padam.
“Kenapa dia ngomong kayak gitu…?!” bisiknya, jantungnya berdegup tak karuan.
Malam itu, Yura merebahkan diri di ranjang, menatap langit-langit kamar. Ponselnya terus berbunyi dengan notifikasi grup sekolah penuh gosip.
Ia menggulir chat-chat itu, lalu berhenti pada satu foto: seseorang diam-diam memotret saat Jiwoo menarik tangannya kemarin. Foto itu tersebar dengan caption:
“Couple baru Daehan High?”
Yura menutup wajah dengan bantal, berteriak frustrasi.
“Gue benci ini! Gue benci gosipnya… tapi kenapa gue nggak bisa benci orang itu?!”
Di tempat lain, Jiwoo duduk di kamar kerjanya, menatap layar laptop sambil memikirkan proyek. Tapi pikirannya terus kembali pada Yura.
Seojin masuk tanpa mengetuk, membawa senyum licik.
“Gue dengar gosip tentang lo dan Yura makin panas,” ucapnya ringan. “Lo nggak keberatan, kan?”
Jiwoo menatapnya dingin. “Lo yang mulai, kan?”
Seojin tersenyum lebih lebar. “Siapa tau. Yang jelas, gue senang lihat lo panik.”
Jiwoo mengepalkan tangannya di bawah meja, menahan emosi. Dalam hati ia bersumpah, ia tidak akan membiarkan Seojin menang.