Pagi itu, koridor Daehan High School lebih ramai dari biasanya. Bisik-bisik terdengar dari setiap sudut, tatapan-tatapan penuh rasa ingin tahu diarahkan ke satu orang: Kang Yura.
Yura baru saja turun dari mobil keluarganya ketika ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Semua mata seolah menyorotinya.
“Apa-apaan, sih? Kenapa mereka semua liatin gue?” gumamnya sambil melangkah cepat.
Begitu masuk kelas, bisik-bisik makin jelas.
“Eh, itu kan Yura…”
“Kamu udah denger? Katanya dia deket sama Han Jiwoo!”
“Serius? Bukannya mereka musuhan?”
“Justru itu, katanya mereka sering ketemuan diam-diam.”
Yura berhenti di depan kelas, wajahnya memanas.
“APA?!” suaranya refleks keluar lebih keras dari yang ia mau.
Seketika suasana kelas hening. Semua mata tertuju padanya.
Park Mina buru-buru mendekat, menarik lengan Yura ke bangku mereka. “Ra, jangan terpancing. Duduk dulu.”
“Tapi Min, mereka ngomong apa barusan?!” Yura setengah berbisik setengah berteriak.
Mina menatap sekeliling dengan kesal. “Ya, jelas gosip bodoh. Aku yakin ini ada hubungannya sama Seojin.”
Yura menatapnya tak percaya. “Maksudmu… Seojin yang nyebarin?”
“Kalau bukan dia, siapa lagi? Gosip ini pasti sengaja ditiup biar lo makin ribut sama Jiwoo.”
Di sisi lain koridor, Han Jiwoo baru tiba. Sama seperti Yura, ia juga jadi pusat perhatian. Beberapa murid cowok menepuk bahunya sambil tertawa.
“Wih, Jiwoo-ya! Diam-diam kamu jalan sama Yura, ya?”
“Berani juga lo sama anak Kang Corporation!”
“Jangan-jangan bentar lagi dua keluarga kalian bikin aliansi lewat cinta?”
Jiwoo hanya menatap dingin dan berjalan tanpa menjawab. Tapi wajahnya jelas menunjukkan ia tidak suka.
Begitu masuk kelas, ia langsung bertemu tatapan Yura. Tatapan yang penuh emosi, campuran marah, bingung, dan… sedikit tersakiti.
Jiwoo menahan diri, lalu duduk di bangkunya tanpa berkata apa-apa.
Istirahat pertama, gosip itu makin menjadi. Bahkan di kantin pun semua orang membicarakan mereka.
“Aku lihat sendiri kemarin, Jiwoo narik tangan Yura!”
“Ya ampun, serius? Romantis banget!”
“Romantis apanya, bego. Itu pasti cuma ribut.”
“Tapi kan mereka sering di perpustakaan bareng…”
Yura sudah hampir tak tahan. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar di meja. “Gue sumpah, Min, aku bakal cari siapa yang mulai gosip ini.”
Mina menatapnya penuh simpati. “Gue ngerti lo marah. Tapi jangan gegabah, Ra. Kalau lo salah langkah, justru gosipnya makin panas.”
Yura mengepalkan tangan. “Gue nggak peduli. Gue benci banget kalau nama gue diacak-acak begini.”
Di tempat lain, Han Seojin sedang duduk santai di balkon lantai dua sekolah, menonton semua hiruk pikuk dengan senyum puas.
“Bagus. Semuanya berjalan sesuai rencana,” gumamnya. “Sekarang tinggal tunggu Yura makin jauh dari Jiwoo.”
Seojin tahu betul gosip di sekolah elit seperti ini adalah senjata paling mematikan. Sekali rumor menyebar, hampir mustahil untuk menghentikannya.
Sore hari, perpustakaan.
Yura datang dengan wajah masih kesal. Ia langsung meletakkan buku dengan keras di meja. Jiwoo sudah duduk di sana, menatapnya.
“Lo nggak punya apa-apa buat dijelasin?” tanya Yura ketus.
Jiwoo mengerutkan kening. “Jelaskan apa?”
“GOSIP!” Yura hampir berteriak, tapi segera menurunkan suaranya karena sadar mereka ada di perpustakaan. “Semua orang bilang kita deket, katanya lo sering narik gue, katanya kita sering ketemuan diam-diam. Lo tau nggak betapa memalukannya itu?!”
Jiwoo menatapnya dingin. “Kenapa lo peduli dengan omongan mereka?”
“Karena itu nyeret nama gue! Seolah-olah gue—” Yura berhenti, wajahnya memerah. “Gue nggak mau kelihatan murahan cuma karena deket sama lo.”
Ucapan itu seperti tamparan keras bagi Jiwoo. Matanya meredup, tapi ekspresinya tetap tenang.
“Kalau begitu, anggap saja kita tidak pernah kenal,” ucap Jiwoo pelan tapi tegas.
Yura tertegun. “Apa maksud lo?”
“Kalau kedekatan kita bikin lo malu, gue bisa pergi kok. Kita tetap kerja kelompok, tapi di luar itu… anggap aja gue nggak ada.”
Suasana hening. Kata-kata Jiwoo membuat hati Yura bergetar aneh antara lega, sakit, dan marah sekaligus.
“Jiwoo…” bisiknya pelan, tapi cowok itu sudah berdiri, mengambil tasnya, lalu melangkah pergi.
Yura hanya bisa menatap punggungnya, jantungnya berdegup kencang.
“Kenapa gue harus marah? Kenapa gue nggak bisa cuek aja?” gumamnya. Tapi dadanya terasa sesak.
Malam harinya, Yura duduk di balkon rumahnya. Angin malam berhembus pelan, tapi hatinya tetap panas. Ia membuka ponselnya, melihat chat grup sekolah yang penuh dengan meme dan gosip tentang dirinya dan Jiwoo.
“Gue benci ini…” bisiknya sambil memeluk lutut.
Namun jauh di lubuk hatinya, ia sadar satu hal: kalau benar-benar benci, kenapa setiap kali mendengar nama Han Jiwoo, dadanya selalu terasa bergetar?