Hari-hari di sekolah elit itu berjalan seperti biasa. Anak-anak konglomerat sibuk dengan gaya hidupnya, guru-guru sibuk menjaga reputasi sekolah, dan gosip beredar lebih cepat daripada notifikasi i********:.
Tapi bagi Kang Yura, suasana terasa lebih berat. Setelah pertemuannya dengan Han Jiwoo di perpustakaan kemarin, hatinya masih diliputi keraguan.
Pagi itu, Yura duduk di meja kantin bersama Park Mina.
“Yura,lo kelihatan muram banget sejak kemarin,” komentar Mina sambil menusuk saladnya.
Yura menghela napas panjang. “Gue nggak ngerti, Min. Jiwoo marah banget pas gue bilang soal Seojin. Tapi kenapa dia nggak bisa langsung jelasin siapa sebenarnya sepupunya itu? Kenapa dia cuma nyuruh aku jangan percaya?”
Mina menatap Yura lekat-lekat. “Karena Jiwoo emang tipe cowok yang nggak banyak ngomong. Dia nggak suka buka hati. Tapi aku bisa lihat dia beda pas sama kamu.”
“Beda gimana?”
“Dia peduli. Lo sadar nggak? Jiwoo nggak pernah mau repot sama orang lain. Tapi sama kamu, dia rela ngatur jadwal, ngajak kerja kelompok, bahkan marah karena takut kamu salah paham.”
Yura mengernyit. “Marahnya bikin gue tambah bingung. Bukannya bikin gue percaya, malah bikin gue mikir jangan-jangan Seojin benar.”
Mina langsung mendecak. “Yura, lo nggak boleh gampang percaya omongan orang, apalagi dari cowok se-manipulatif Seojin. Aku nggak suka auranya, sumpah.”
Yura terdiam. Hatinya tetap gelisah.
Di sisi lain, Han Seojin sedang duduk santai di ruang musik, memainkan piano dengan elegan. Beberapa siswi berdiri di luar ruangan, terpukau melihatnya.
“Oppa, kamu keren banget!” teriak salah satu siswi.
Seojin hanya tersenyum tipis, pura-pura cuek. Tapi dalam kepalanya, ada satu target: Kang Yura.
Ia sudah lama muak melihat Jiwoo selalu dipuja-puja sebagai pewaris sempurna keluarga Han. Jika ia bisa membuat Yura berpihak padanya, itu akan jadi tamparan keras untuk Jiwoo.
“Sudah waktunya gue gerak lebih jauh,” gumamnya sambil memainkan nada terakhir.
Siang hari, di koridor sekolah.
Yura sedang berjalan menuju kelas ketika tiba-tiba Seojin muncul, membawa dua botol minuman dingin.
“Hai, Yura-ssi,” sapanya ramah.
“Oh… Seojin-ssi,” jawab Yura agak kaku.
Seojin menyodorkan minuman. “Gue pikir kamu pasti capek. Ambil ini.”
Yura ragu. “Uh… terima kasih, tapi gue—”
“Jangan khawatir, ini cuma minuman biasa. Gue nggak racunin kok,” ucap Seojin sambil tertawa kecil.
Yura akhirnya menerima, meski masih canggung. “Kenapa lo tiba-tiba baik?”
Seojin menatapnya dengan tatapan yang seolah tulus. “Karena gue nggak suka lihat cewek baik kayak kamu dimainin orang lain. Jiwoo itu… dia mungkin pintar, tapi hatinya beku. Gue cuma nggak mau kamu terluka.”
Yura terdiam. Kata-kata itu menusuk, lagi.
Dan sialnya, saat itu Han Jiwoo lewat di ujung koridor. Ia melihat jelas bagaimana Seojin menyodorkan minuman pada Yura, dan bagaimana Yura menerimanya.
Mata Jiwoo menggelap.
Ia melangkah mendekat, tanpa bicara apa-apa, lalu meraih tangan Yura dengan tegas.
“Ayo. Kita perlu bicara.”
“Eh? Jiwoo! Lepasin, sakit!” seru Yura kaget.
Seojin tersenyum licik melihat itu. “Hei, sepupu. Jangan kasar dong sama cewek.”
Jiwoo menatapnya tajam. “Jangan ikut campur, Seojin.”
Tanpa menunggu jawaban, Jiwoo menarik Yura pergi menuju taman belakang sekolah yang sepi.
“Apa-apaan sih lo?!” Yura langsung menepis tangannya begitu sampai di taman. “Kenapa lo seenaknya narik gue kayak gitu?!”
Jiwoo menatapnya dengan wajah dingin. “Kenapa lo masih mau ngobrol sama Seojin?”
“Kenapa nggak boleh? Dia kan cuma ngobrol biasa!”
“Dia nggak sesederhana itu, Yura!” suara Jiwoo meninggi. “Gue udah bilang jangan percaya omongannya!”
Yura membalas dengan nada tak kalah tinggi. “Lalu kenapa lo nggak pernah kasih gue alasan jelas? lo cuma bilang ‘jangan percaya’. Lo pikir gue boneka yang bisa nurut gitu aja?”
Jiwoo terdiam, tapi rahangnya mengeras. Ia jelas menahan emosi.
“Aku…” Jiwoo menarik napas dalam. “Gue nggak bisa jelasin sekarang. Tapi tolong, jauhi Seojin.”
Yura menatapnya tajam. “Kenapa? Karena lo nggak suka dia? Atau karena lo takut gue lebih percaya sama dia?”
Jiwoo menunduk sebentar, lalu menatapnya lagi. Tatapannya menusuk, dingin tapi juga ada rasa sakit yang tersembunyi.
“Percaya sama gue. Itu aja yang gue minta.”
Yura terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa membuat dadanya sesak.
“Jiwoo…” bisiknya pelan.
Tapi sebelum ia bisa melanjutkan, bel sekolah berbunyi nyaring. Suasana tegang itu pun terputus.
Jiwoo langsung melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Yura berdiri terpaku, memeluk minuman yang masih ia genggam dari Seojin. Hatinya semakin kacau.
Sore harinya, di kamar Yura.
Ia duduk di depan meja belajar, mencoba mengerjakan tugas tapi pikirannya terus kembali pada Jiwoo.
“Kenapa dia nggak bisa jelasin aja sih? Kenapa selalu bikin gue bingung?” gumamnya sambil menatap layar laptop.
Di meja, botol minuman dari Seojin masih ada. Yura menatapnya lama, lalu meletakkannya ke tempat sampah.
“Gue nggak bisa milih percaya siapa kalau semuanya penuh rahasia.”
Matanya terasa panas. Untuk pertama kalinya, Yura sadar kalau ia mulai peduli terlalu jauh pada Han Jiwoo.
Dan di tempat lain, Jiwoo duduk di kamar pribadinya, menatap foto keluarga yang dipajang di dinding. Wajah ayahnya yang keras, ibunya yang dingin, dan Seojin yang selalu tersenyum di sampingnya.
“Seojin…” bisiknya penuh amarah. “Gue nggak akan biarkan lo hancurin apa pun yang tersisa.”