Pagi itu, suasana Daehan High School ramai seperti biasa. Mobil-mobil mewah terparkir di halaman depan, sopir-sopir berdiri berjejer, dan para siswa berjalan dengan gaya masing-masing. Ada yang sibuk membicarakan brand terbaru, ada yang pamer gadget keluaran terbaru, ada juga yang sekadar sibuk selfie untuk feed i********:.
Kang Yura melangkah masuk dengan penuh percaya diri, meski dalam hati masih kesal mengingat kerja kelompoknya dengan Han Jiwoo kemarin.
"Aish… orang itu benar-benar bikin gue darah tinggi," gumam Yura sambil memeluk buku.
Park Mina yang berjalan di sampingnya langsung penasaran. "Siapa? Han Jiwoo lagi?"
Yura mendengus. "Siapa lagi? Bayangin aja, dia nyuruh gue ketemu lagi jam empat nanti di perpustakaan. Emang gue nggak punya hidup lain, gitu?"
Mina tersenyum kecil. "Tapi jujur, kan? Lo lumayan penasaran sama dia."
Yura menoleh cepat. "Apa?! Gue penasaran? No way. Gue cuma kesal karena harus kerja sama cowok super dingin itu."
Namun, Mina bisa melihat pipi Yura yang sedikit memerah.
Di sisi lain, Han Jiwoo baru saja memasuki kelasnya. Semua siswa langsung memperhatikan, tapi Jiwoo tetap cuek. Ia duduk di bangkunya, membuka buku, dan menatap lurus ke depan tanpa menanggapi bisik-bisik sekitar.
Tiba-tiba, seorang cowok tinggi dengan senyum penuh percaya diri masuk ke kelas. Han Seojin, sepupu Jiwoo sekaligus senior satu tahun di atasnya. Berbeda dengan Jiwoo yang dingin, Seojin terkenal ramah, pandai bicara, dan pintar memanipulasi suasana. Banyak yang mengidolakan Seojin karena kharismanya.
"Jiwoo-ya," sapa Seojin sambil menepuk bahunya. "Lama nggak ngobrol sama sepupu favoritku."
Jiwoo menoleh sebentar. "Apa mau lo?"
Seojin terkekeh. "Lo selalu dingin. Gue cuma penasaran, katanya lo sekarang satu kelompok sama Kang Yura, kan?"
Jiwoo menutup bukunya pelan. "Terus?"
"Ah, Jiwoo, Jiwoo…" Seojin mencondongkan tubuh. "Lo nggak tau ya, cewek itu gampang banget dimainin. Kalau gue jadi lo, gue tinggal senyum sedikit, dia pasti jatuh."
Tatapan Jiwoo mengeras. "Jangan macam-macam."
Seojin tersenyum tipis. "Santai. Gue cuma bercanda. Tapi lo tau kan, keluarga kita nggak akan pernah setuju kalau lo deket sama Kang Yura. Jadi, jangan buang-buang waktu."
Jiwoo tidak menjawab. Ia hanya menutup kembali bukunya, mencoba tidak memedulikan ucapan Seojin. Tapi dalam hatinya, ia tahu sepupunya bukan tipe orang yang hanya bicara.
Jam istirahat.
Yura sedang duduk di taman sekolah bersama Mina, menikmati bubble tea yang baru mereka beli.
"Ternyata sekolah elit ini nggak cuma punya fasilitas keren, tapi juga kantin yang mewah banget," kata Mina sambil mengunyah.
Yura mengangguk. "Iya, tapi tetap aja… nggak bisa bikin gue tenang kalau inget harus ketemu Han Jiwoo sore ini."
Belum sempat Mina menjawab, tiba-tiba suara ramah terdengar dari belakang.
"Halo, Kang Yura-ssi."
Yura menoleh. Di depannya berdiri Han Seojin, dengan senyum manis yang membuat banyak siswi berbisik-bisik kagum.
"Eh… kamu siapa?" tanya Yura heran.
"Aku Han Seojin, sepupunya Han Jiwoo," jawabnya dengan ramah. "Aku sering dengar tentang lo. Ternyata lo memang cantik seperti yang orang-orang bilang."
Yura agak terkejut. Biasanya cowok-cowok di sekolah elit ini arogan atau sok sibuk. Tapi Seojin justru ramah.
"Uh… terima kasih?" jawab Yura canggung.
Mina menatap curiga. Ada sesuatu pada senyum Seojin yang terasa terlalu manis untuk jujur.
Seojin lalu duduk di bangku depan mereka tanpa diundang. "Gue dengar lo satu kelompok sama Jiwoo. Hati-hati ya, dia itu cowok dingin yang nggak ngerti cara memperlakukan cewek."
Yura langsung mengangkat alis. "Maksudmu?"
Seojin menunduk, berpura-pura seolah tidak ingin membicarakan sesuatu. "Gue cuma nggak mau lo sakit hati. Jiwoo itu… dia nggak pernah serius sama siapapun. Dia mungkin terlihat sempurna, tapi sebenarnya dia tidak peduli sama orang lain."
Yura membeku. Kata-kata itu menusuk, karena secara tidak sadar ia memang sering berpikir begitu tentang Jiwoo.
"Jadi… lo bilang dia nggak bisa dipercaya?" tanya Yura pelan.
Seojin tersenyum tipis. "Anggap saja gue sudah memperingatkan lo."
Ia bangkit, lalu melangkah pergi sambil melambaikan tangan.
Mina segera mendekat pada Yura. "Jangan percaya omongannya! Gue bisa lihat jelas, cowok itu punya rencana."
Yura menghela napas. "Tapi… omongannya masuk akal juga. Jiwoo memang dingin, nggak pernah terbuka. Apa jangan-jangan… dia cuma anggap gue rekan kelompok biasa?"
Mina menatap Yura lama. "Bukannya itu memang kenyataannya? Lo jangan sampai terbawa perasaan, Ra. Ingat, keluarga kalian musuhan."
Yura menggigit bibirnya. Tapi entah kenapa, hatinya jadi gelisah.
Sore hari, di perpustakaan.
Jiwoo sudah menunggu di meja seperti biasa. Jam menunjukkan pukul 15.55. Kali ini Yura datang tepat waktu, tapi wajahnya tidak seceria kemarin. Ada keraguan di matanya.
"Kenapa wajah lo?" tanya Jiwoo datar.
Yura duduk, menatapnya. "Gue cuma mau tanya sesuatu."
Jiwoo mengangkat alis. "Apa?"
Yura menarik napas dalam. "Lo… serius nggak sama proyek ini? Atau lo cuma ngerjain setengah hati biar aku yang repot?"
Jiwoo terdiam sebentar, lalu menatapnya. "Apa maksud lo?"
"Sepupu lo , Han Seojin, bilang kalau lo nggak pernah serius sama orang lain," kata Yura blak-blakan. "Dia bilang gue harus hati-hati karena lo nggak bisa dipercaya."
Tatapan Jiwoo langsung berubah dingin. "Seojin bicara begitu sama lo?"
Yura mengangguk. "Ya. Dan gue mulai mikir… jangan-jangan dia benar."
Suasana mendadak tegang. Jiwoo mengepalkan tangan, lalu berkata dengan nada tegas.
"Dengar baik-baik. Jangan pernah percaya apa yang keluar dari mulut Seojin. Dia hanya ingin membuat lo salah paham."
"Tapi—"
"Kalau lo nggak percaya sama gue , lebih baik kita hentikan kerja kelompok ini sekarang juga," potong Jiwoo tajam.
Yura membeku. Ia tidak menyangka Jiwoo bisa setegas itu. Hatinya campur aduk antara kesal, bingung, dan… entah kenapa sedikit takut kehilangan.
Jiwoo berdiri, meraih tasnya. "Pikirkan baik-baik, Kang Yura. Gue nggak punya waktu untuk meladeni gosip."
Tanpa menunggu jawaban, Jiwoo pergi meninggalkan Yura sendirian di perpustakaan.
Yura menunduk, jantungnya berdebar keras. Kata-kata Seojin dan Jiwoo berputar-putar di kepalanya.
"Gue… harus percaya siapa?" bisiknya pelan.