Bab 2

840 Kata
Jam empat sore. Perpustakaan Daehan High School tampak sepi. Cahaya matahari masuk lewat jendela besar, menyinari rak-rak buku yang tersusun rapi. Udara terasa tenang, hanya ada suara halus pendingin ruangan dan sesekali bunyi halaman buku yang dibalik. Di salah satu meja dekat jendela, Han Jiwoo sudah duduk dengan posisi sempurna, punggung tegak, buku catatan terbuka, dan pena yang siap menulis. Ia mengenakan kemeja seragam dengan lengan dilipat rapi, memperlihatkan gaya serius yang membuat beberapa siswi yang lewat melirik diam-diam. Namun, Jiwoo tidak peduli. Tatapannya hanya tertuju pada jam tangannya. Jarum menunjukkan pukul 16.05. "Hmm… terlambat," gumamnya pelan, wajah tetap datar. Beberapa menit kemudian, suara langkah terburu-buru terdengar. Kang Yura muncul, terengah-engah sambil membawa buku tulis. Rambutnya agak berantakan, wajahnya sedikit memerah karena berlari. "Astaga… maaf… gue telat lima menit," katanya sambil menarik kursi. Jiwoo menatapnya dingin. "Gue bilang jam empat. Bukan jam lewat empat." Yura mendengus, menatap Jiwoo dengan kesal. "Ya ampun, kenapa sih lo kaku banget? Lima menit aja ribut. Gue bahkan masih datang, kan?" "Disiplin dimulai dari hal kecil," jawab Jiwoo tenang. "Kalau lo nggak bisa tepat waktu, bagaimana mau kerja sama?" Yura memutar bola mata. "Oke, oke, Tuan Perfeksionis. Sekarang kita mau bahas apa?" Jiwoo tidak membalas. Ia hanya mendorong buku catatannya ke arah Yura. "Proyek ini tentang sejarah perdagangan internasional. Gue udah bikin kerangka. Lo tinggal lengkapi data yang aku kasih." Yura melirik catatan itu. Tulisan tangan Jiwoo rapi, hampir seperti cetakan komputer. "Wah, tulisan lo kayak font Times New Roman, gak ekspek gue" celetuknya spontan. Jiwoo menoleh dengan ekspresi datar. "Apa maksud lo?" "Ya… rapih banget. Sampai Gue merasa tulisanku kayak coretan anak TK dibanding tulisan lo," jawab Yura sambil tertawa kecil. Jiwoo hanya menghela napas. "Fokus." Yura mengernyit. "Kenapa sih lo kayak robot? Bisa nggak sekali aja ketawa atau bercanda?" "Kalau lo mau bercanda, itu urusan lo. Gue di sini untuk proyek," ucap Jiwoo singkat. Yura menggertakkan gigi. "Astaga… gue nggak percaya harus kerja sama lo tiga bulan ke depan." Jiwoo mengangkat alis. "Lo pikir gue suka?" "Ya jelas lo nggak suka gue, kan? Karena gue Kang Yura, pewaris Kang Corporation, musuh bebuyutan keluarga lo!" Jiwoo terdiam. Tatapannya berubah serius. Untuk pertama kalinya, ia menatap Yura dengan sorot mata yang lebih dalam. "Lo kira gue peduli sama urusan keluarga?" Kata-kata itu membuat Yura terkejut. "Eh?" Jiwoo menutup bukunya. "Gue gak hidup untuk meneruskan kebencian orang tua. Tapi gue juga nggak mau buang waktu berdebat sama lo." Suasana hening sejenak. Yura tidak menyangka Jiwoo bisa bicara seperti itu. Ada nada jujur di suaranya, meski tetap terdengar dingin. Akhirnya, Yura menghela napas panjang. "Oke deh. Gue akan serius. Tapi jangan salahin gue kalau nanti kita sering ribut." Jiwoo menatapnya sebentar, lalu kembali menulis. "Kita lihat saja." Mereka mulai bekerja. Yura mencari data lewat laptopnya, sementara Jiwoo menuliskan analisis. Sesekali mereka berdebat tentang isi laporan. "Menurut gue bagian ini lebih bagus kalau ditulis santai, biar nggak kaku," kata Yura. "Ini laporan akademik, bukan postingan i********:," balas Jiwoo tanpa menoleh. "Ya ampun, Jiwoo! Lo tuh membosankan banget tau GK . Dunia nggak harus selalu kaku dan serius." "Gue lebih suka hasil yang jelas daripada tampilan yang manis," ucap Jiwoo dingin. Yura menghela napas keras, lalu menopang dagu. "Lo tau nggak? Kalau lo terus kayak gini, lo bakal jadi orang yang kesepian." Ucapan itu membuat Jiwoo berhenti menulis sejenak. Tatapannya kosong, seolah kata-kata Yura menyentuh sesuatu yang ia sembunyikan. Namun, ia cepat-cepat kembali menulis, pura-pura tidak terganggu. "Kerjakan bagian lo," katanya singkat. Yura menatapnya lama, lalu kembali mengetik. Waktu berjalan cepat. Tanpa sadar, jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Perpustakaan mulai sepi, hanya tersisa mereka berdua. Yura meregangkan tubuh. "Aduh, capek banget. Kita udahan aja yuk." Jiwoo menutup bukunya dengan rapi. "Oke. Besok jam empat lagi." Yura mendesah. "Lo pikir gue nggak punya hidup lain selain kerja kelompok sama lo?" "Kalau lo mau nilai bagus, lo harus berkomitmen," jawab Jiwoo tenang. "Ugh, dasar manusia tanpa emosi," gumam Yura. Jiwoo memasukkan bukunya ke tas. "Gue dengar itu." Yura langsung salah tingkah. "Eh, gue bercanda kok!" Untuk pertama kalinya, bibir Jiwoo sedikit terangkat. Sangat tipis, hampir tidak terlihat, tapi itu jelas sebuah senyuman. Yura membeku. "Lo… lo baru aja senyum, kan?" Jiwoo menatapnya datar lagi. "Lo salah lihat." "Gk! gue lihat jelas! Han Jiwoo yang dingin itu bisa senyum juga!" seru Yura sambil menunjuknya. Jiwoo hanya berjalan keluar. "Jangan buang waktu dengan hal nggak penting." Yura menatap punggung Jiwoo yang menjauh. Namun, hatinya berdebar. Entah kenapa, ia merasa ada sesuatu di balik sikap dingin cowok itu. Sesuatu yang membuatnya ingin tahu lebih banyak. Di luar perpustakaan, langit sudah mulai gelap. Jiwoo berjalan menuju mobilnya yang sudah menunggu. Sopir pribadi menunduk hormat. Di kejauhan, Yura masih berdiri sambil memandang ke arah Jiwoo. "Han Jiwoo…" bisiknya pelan. "Kenapa gue merasa lo lebih rumit dari yang kelihatan?" Ia menggenggam erat tasnya, seolah bersiap menghadapi hari-hari berikutnya yang entah akan membawa mereka ke mana. Sementara itu, di dalam mobil, Jiwoo bersandar diam. Tatapannya kosong menatap jalanan Seoul yang penuh lampu neon. Dalam hatinya, ia bergumam: "Kang Yura… jangan sampai lo masuk terlalu jauh ke hidupku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN