Pagi itu, langit Seoul begitu cerah. Sinar matahari menembus kaca besar gedung Daehan High School, sekolah elit yang terkenal hanya menerima anak-anak konglomerat, politisi, atau artis papan atas. Di balik pagar tinggi dengan logo mewah berwarna emas, para siswa berdatangan dengan mobil-mobil mahal, sopir pribadi, bahkan bodyguard yang menunggu di kejauhan.
Di antara kerumunan itu, Kang Yura melangkah dengan penuh percaya diri. Rambut panjang cokelatnya tergerai indah, matanya yang bulat memancarkan semangat khas anak muda. Seragamnya tampak rapi, tapi ia sengaja melonggarkan dasi agar terlihat lebih santai. Yura bukan tipe yang suka aturan kaku, meskipun ia pewaris dari keluarga besar Kang Corporation, perusahaan fashion ternama yang bahkan brand-nya dipakai idol-idol K-pop terkenal.
"Yura-ya!" teriak Park Mina, sahabatnya, sambil melambai. Mina, berbeda dengan Yura, berasal dari keluarga biasa. Ia bisa masuk Daehan High lewat beasiswa karena otaknya yang super jenius. Meski berasal dari dunia berbeda, mereka berteman sejak SMP.
Yura tersenyum, lalu merangkul bahu Mina.
"Kamu kelihatan kurang tidur, ya? Jangan bilang semalaman belajar lagi."
Mina tertawa kecil. "Aku memang harus belajar. Nggak kayak kamu yang bisa santai karena punya nama keluarga besar."
"Aish, kamu ini," gumam Yura sambil mencubit pipi Mina. "Santai aja. Kita masih muda, jangan hidup kayak nenek-nenek yang mikirin ujian tiap hari."
Mereka berdua berjalan masuk ke gedung sekolah. Lantai marmer mengilap, lukisan dinding yang mahal, dan fasilitas serba modern membuat suasana sekolah ini lebih mirip universitas bergengsi.
Saat itulah, suasana di koridor tiba-tiba berubah. Beberapa siswa cewek langsung bisik-bisik, memperbaiki rambut, bahkan ada yang sengaja berdiri di dekat tangga. Semua mata tertuju pada satu arah.
Han Jiwoo baru saja masuk.
Dengan langkah tenang dan tatapan dingin, cowok itu berjalan melewati koridor. Rambut hitamnya tersisir rapi, wajahnya tampan bak model majalah. Seragamnya tampak sempurna, tanpa satu pun kerutan. Ia seperti berjalan di catwalk, tanpa peduli sorotan orang-orang di sekitarnya.
"Astaga, itu Han Jiwoo."
"Gila, makin ganteng aja."
"Dia beneran kayak karakter drama."
Bisik-bisik itu terdengar jelas, tapi Jiwoo tidak menoleh sedikit pun. Wajahnya tetap datar, seolah semua perhatian itu cuma angin lalu.
Yura mendengus.
"Tch, gaya banget. Jalan aja kayak dunia punya dia."
Mina melirik sahabatnya. "Kamu ngomong gitu karena kamu benci keluarganya, kan?"
"Ya jelas," jawab Yura cepat. "Keluarga Han itu musuh bebuyutan keluarga Kang. Papa selalu bilang jangan sampai terlibat dengan mereka."
Mina mengangkat alis. "Tapi jujur aja, dia emang ganteng banget sih."
"Hei!" Yura menoleh tajam. "Jangan ngomong gitu di depan aku. Ganteng apa sih, mukanya kayak patung. Beku, nggak ada senyum."
Namun, dalam hati kecilnya, Yura tidak bisa memungkiri sesuatu: Jiwoo memang punya aura berbeda. Dingin, tapi justru itu yang bikin orang penasaran.
Tanpa sengaja, langkah Yura berhenti tepat di depan Jiwoo yang sedang berjalan. Mereka saling berhadapan di koridor.
Suasana seketika hening.
Jiwoo menatap Yura sekilas. Hanya satu detik, tapi cukup membuat jantung Yura berdetak lebih cepat dari biasanya. Mata hitamnya tajam, seakan bisa menembus isi hati.
"Minggir" ucap Jiwoo singkat, suaranya datar.
Yura tersentak. "Apa?!"
"Minggir, lo nutup jalan," ulang Jiwoo dengan nada dingin.
Wajah Yura memerah. "Hei, siapa juga yang nutup jalan? Ini koridor umum, bukan jalan pribadi lo!"
Beberapa siswa langsung menahan tawa. Mereka tahu Yura bukan tipe cewek yang bisa diam saja kalau disinggung.
Jiwoo tidak bereaksi. Ia hanya melirik Yura sebentar, lalu melangkah melewatinya tanpa kata lain.
Yura terdiam. Tangannya mengepal.
"Astaga, cowok itu! Sombong banget!"
Mina menarik lengan Yura. "Ya ampun, tenanglah. Itu Han Jiwoo. Semua orang tahu dia dingin kayak es."
"Gue gak peduli!" seru Yura kesal. "gue nggak suka dia!"
Namun, jauh di lubuk hatinya, Yura merasa tersengat. Bukan hanya karena omongannya, tapi karena tatapan mata Jiwoo tadi masih terbayang jelas.
Bel masuk berbunyi. Kelas pertama dimulai.
Di kelas, Yura duduk di samping Mina, masih kesal karena kejadian tadi. Namun, nasib berkata lain. Guru tiba-tiba mengumumkan bahwa ada proyek kelompok baru.
"Proyek ini akan memengaruhi nilai kalian. Aku sudah tentukan kelompoknya," kata guru dengan tegas sambil membacakan daftar.
Saat nama Yura dipasangkan dengan Jiwoo, ia langsung membeku.
"Apa?! Tidak mungkin!"
Jiwoo, di sisi lain, hanya mendengarkan dengan wajah datar. Tidak ada ekspresi sama sekali.
Waktu pulang sekolah, Yura mengejar guru untuk protes.
"Seonsaengnim, kenapa aku harus satu kelompok dengan Han Jiwoo? Tidak bisakah diganti?"
Guru menatapnya tajam. "Kang Yura, di dunia nyata kamu tidak bisa pilih-pilih rekan kerja. Belajar menyesuaikan diri."
Yura menghela napas panjang, frustrasi.
Saat keluar kelas, ia melihat Jiwoo sudah berdiri menunggunya di depan pintu.
"Lo nggak suka sekelompok sama gue, kan?" tanya Jiwoo datar.
Yura mendengus. "Jelas. Gue nggak mau kerja sama orang dingin dan sombong kayak lo."
Jiwoo menatapnya lama, lalu berkata, "Bagus. Gue juga nggak suka kerja sama cewek berisik kayak lo."
Mata Yura membelalak. "Apa lo bilang?!"
Jiwoo melangkah pergi tanpa menoleh. "Besok kita ketemu di perpustakaan. Jam empat. Jangan telat."
Yura berdiri terpaku, wajahnya merah karena kesal.
"Astagaaa! Kenapa harus gue yang kena sial sih?!"