bc

My Sweet Secret Wedding (Indonesia)

book_age18+
73
IKUTI
1K
BACA
family
pregnant
boss
comedy
sweet
small town
wife
husband
like
intro-logo
Uraian

Hana dan Felix meributkan rencana mereka sendiri untuk menikah. Keduanya harus bersiteru untuk menyamakan pendapat.

“Ya udah! Kita nggak jadi nikah aja!” sontak Hana mengagetkan Felix.

Apa tanggapan Felix mengenai ini? Dan bagaimana perjalanan kisah yang dibuat rumit oleh mereka sendiri?

Published in November 2021.

Follow i********: @novelbyreb dan sss author!

chap-preview
Pratinjau gratis
M.S.S.W - 1
Langit sandyakala telah berganti gelap. Sebuah mobil tengah berhenti di sebuah depan rumah minimalis berwarna putih dan hijau. Dengan beberapa tanaman yang terpampang di taman depan.   Wanita dengan rambut yang lumayan panjang sedang cemberut di dalam mobil. Duduk terdiam di kursi penumpang sebelah kiri. Sepertinya pun dia sedang menggertakkan gigi.   “Ya udah! Kita nggak jadi nikah aja kalau gitu!” gertak Hana. Sambil jemarinya meremas tas jinjing yang ia pangku di pahanya.   TINNN!   Tentu saja Felix kaget dengan ucapan tersebut. Pria yang hanya berjarak tiga tahun lebih tua dari Hana ini. Dia kontan menekan klakson karena mendengar pasangannya berkata seperti itu.   “Hah? Kamu nggak bercanda, kan?! Kita udah persiapin beberapa, lhoh! Udah nabung buat beli rumah juga!” balas Felix sedikit emosi.   “Hmm,” imbuh Hana tanpa berkata-kata.   “Astaga, Sayaaang! Kamu kenapa, sih? Kan bisa dibicarakan lagi,” rayu Felix dengan sabarnya.   Hana memang suka kesal sendiri. Dia pun menarik tuas pembuka pintu mobil. “Ya udah. Besok lagi!”   Saat Hana sudah keluar dari mobil, Felix juga sedang tak ingin merayunya lagi. Mungkin sabarnya sudah habis untuk hari ini.   Saat perjalanan pulang ke rumahnya, Felix berdecak. “Cewek! Sukanya bilang ‘ya udah, ya udah’ tapi dalam hatinya masih ada yang dipikirin! Bisa nggak, sih, kalau to the point gitu aja?!” resahnya sendiri.   ***   Sehari setelah kejadian tersebut, Hana sedang berada di kantor. Berbincang dengan teman kantornya, Rara.   “Han? Kamu dipanggil atasan tuh?”   Hana pun sontak tersedak saat meminum air. “Eh?”   Rara mengkedipkan mata pada Hana. Maksudnya agar segera menuju ruangan direktur.   Dok dok dok   “Permisi, Pak? Tadi Bapak memanggil saya?”   Atasan pun mempersilakan Hana masuk ke ruangannya. Ruangan sebesar kamar dengan satu mesin pendingin yang dikhususkan hanya untuk ruangan ini.   “Hana? Gimana pekerjaan kamu? Lancar? Ada nasabah yang komplen lagi nggak hari ini?”   Hana pun sedikit terdiam. Memikirkan tataan kata yang akan ia berikan pada direktur itu.   Hmm kalau yang komplen juga banyak, Pak. Pusing saya. Rasanya kalau bisa milih jabatan mah aku juga mau jadi bos aja. Nggak terima komplen dari nasabah yang marah-marah nggak jelas. Kalau kita yang salah mah spv tinggal marahin kita. Dobel-dobel kan tuh kena marahnya?! Nasabah sama spv! Pusiiiing!   “Oh, itu. Iya, Pak. Lancar-lancar saja. Ada beberapa yang komplen tapi saya bisa mengatasi,” jawab Hana halus.   Direktur yang terpaut sedikit jauh umurnya dengan Hana ini menutup tabletnya. Merekatkan jemarinya di atas meja dan mulai memandang Hana. Dia sedikit menyembunyikan tawanya.   Pintu ruang ini terbuka lagi. Rupanya sang supervisor juga sedang ingin bertemu direktur divisi ini.   “Sebentar ya, antri,” kata direktur tersebut pada supervisor wanita itu.   Kembali ke Hana.   “Hana? Mau naik jabatan?”   Dengan polos Hana menjawab dengan semangatnya. “Ya mau lah, Pak!”   “Jadi pacar saya dulu kalau begitu,” ujar sang direktur. Sembari terkekeh.   Supervisor wanita itupun menutup mulutnya dengan tangan. Menahan tawa atas apa yang dilontarkan atasannya itu.   “Pak? Pak Angga nih bisa aja, lhoh? Memangnya Hana jomblo? Siapa tau sudah punya calon suami lhoh, Pak?”   Hana langsung menoleh panik. “Eh?”   Angga bertanya, “memangnya kamu sudah punya calon suami, Han?”   Dengan mata berkedip-kedip. Hana menjawabnya setengah-setengah. “Eh? Sa-saya belum punya calon, Pak.”   “Nah gitu, dong! Kan saya jadi ada kesempatan.”   Agak risih, Hana pun berpamitan dan keluar dari ruang yang semakin terasa sesak baginya ini.   Sesampainya di meja kantor, Hana siap menyambut beberapa nasabah. Dari yang awal membuka rekening hingga menangani komplen terkait keungan mereka di bank tersebut.   Sesekali ketika tak ada nasabah, Hana dan Rara saling bicara.   “Ngapain, Han?”   Hana berdecak. “Biasalah! Pak bos godain aku lagi. Aku sih b aja. Anak teller juga ada yang sering digodain. Ganjen emang bos kita tuh?!”   Rara terkekeh. “Ya Allah, Paaak! Gitu amat cari istrinya!”   “Perasaan muka juga ga jelek-jelek amat. Kerjaan mapan. Umur juga ga tua amat.”   “Eh? Emang umur berapa Pak Angga, tuh?”   “35 nggak, sih?!” sebut Hana.   Wah, rupanya Rara kedapatan nasabah. Terpaksa harus menunda pergosipan duniawi ini.   Denting jam berlalu cepat. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Saatnya para pekerja kantor ini pulang.   Saat di ruang loker, Rara berucap pada Hana. “Han? Kamu sama Pak Angga aja, sih?! Mayan kan jadi istri direktur kalau menikah nanti. Kamu nggak perlu kerja!”   Hana tersenyum tipis. Bukan maksud mengiyakan namun ia tahu ada seorang teller yang berjarak beberapa langkah saja dari mereka.   “Kamu sengaja bikin panas si Vivi, kan!?” bisik Hana.   Rara semakin mendekat ke telinga Hana. “Ya habisnya dia ganjen. Udah punya pacar tapi mau aja digodain sama si bos,” ucapnya dengan volume kecil.   Ya, gosip baru yang terungkap di kantor beberapa menit sebelum mereka menuju ruang loker. Pasalnya setiap kali mereka ke kantin dan bertemu dengan anggota teller, informasi selalu saja menyebar.   Bagi Hana gosip tersebut tak terlalu penting. Hanya sebagai selingan saja. Yang dibahas tak melulu soal kerjaan.   Hana dan Rara pun berpamitan. Rara sudah melaju cepat dengan kendaraan roda duanya. Sedangkan Hana memilih berjalan kaki agak jauh dari kantornya untuk pulang.   Tin! Tin!   Hana pun menoleh. Seperti seseorang telah mengkodenya.   “Hana? Bareng aku aja?”   Hana membuka matanya lebar. “Eh? Nggak, Pak. Rumah saya dekat, kok!”   “Panggil Angga aja kalau di luar. Lagian umur kita nggak jauh banget,” ucap Angga.   Namun Hana tetap menolak dengan ajakan tersebut dengan berbagai cara. Hingga akhirnya Angga melunak dan dengan berat meninggalkan Hana yang ada di pinggir trotoar.   Tak lama kemudian setelah berdiri di trotoar agak lama ada sebuah mobil lagi yang berhenti di depan Hana. Mobil SUV yang masih tercium wangi barunya.   “Kamu nggak capek?”   “Nggak,” ucap Hana sembari masuk dan menutup pintu mobil berwarna putih itu.   “Maksud aku … kamu nggak capek kayak gini terus?”   “Kayak gini gimana?”   “Ya gini. Kamu ngumpet-ngumpet. Pake jalan jauh dari kantor segala? Kan aku bisa jemput kamu di depan kantor, lho?”   Hana menggidikkan bahunya. Dengan wajah yang jutek karena pernyataan tesebut.   “Sayang? Kita udah tunangan, lho? Masa kamu masih sembunyiin aku di depan teman-teman kantormu?” tanya Felix sekaligus mendesak. “Memangnya kamu mau sampai kapan? Sampai kita menikah lalu kamu baru mau tunjukkin ke mereka? Kita nggak undang mereka, dong?!”   Sambil berbincang kecil dan mobil juga berjalan menuju rumah Hana.   “Ya kalau misalnya kita nggak undang mereka di pernikahan juga nggak apa!” sentak Hana.   Entah kenapa akhir-akhir ini Hana suka tersulut emosinya. Apesnya, Felix seakan menjadi pelampiasan segala amarah yang dirasakan oleh Hana. Namun Felix sangatlah penyabar.   Hana ya Hana, beginilah adanya. Bukan orang lain. Felix juga sudah siap menerima segala kekurangan Hana.   Setelah beberapa menit terdiam, Hana pun angkat bicara.   “Kita nikahnya ditunda aja, Mas!”   ***   Halo semuanya, kalau kalian suka cerita ini bisa langsung subscribe ya! Bisa juga bantu isi review atau komentar di novel ini. Thanks ^   Love,   Rebecca  

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.7K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

TERNODA

read
199.0K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook