Bab 3. Ujian Kelulusan

1593 Kata
Sepulang dari dari Mall, Anggi mendapatkan rumah mereka masih terkunci, tidak ada telpon ke Ayah atau dirinya jika memang tadi tante Nia dan kak Karen pulang, berarti mereka masih memiliki acara yang lain. Padahal pusat perbelanjaan banyak yang tutup dari jam sembilan tadi. "Ayah jangan terlalu dipikirkan hal tadi nanti tensi Ayah naik, Sholat dan Istirahat lah Ayah", Anggi mengantar Ayah nya ke pintu kamarnya, Ayah nya mengangguk dan masuk ke kamar. Sedang Anggi langsung naik ke atas. Ingat apa yang dikatakan Mbok Inah, ia pun membuka lemarinya. Ia melihat tumpukan baju nya memang lipatan baru ia pun melihat tas Ibunya masih ada disana tapi urutannya sudah berganti. Reina memang menyusun tas ibu nya dengan memasukkan tas kecil ke dalam tas besar untuk menghemat tempat. Tapi ini sudah tidak beraturan walaupun terlihat disusun, inilah susunan Mbok Inah. Dan Iya ke bagian lemari lainnya, memang terlihat ada perubahan tata letak barang barang disana ada beberapa yang tidak ada kotak jam tangan nya ada tiga dan satu tak ada di tempat. Dan parfum hadiah Ko Richard sepupu nya juga hilang serta beberapa lipstik hadiah temannya juga hilang. Ya ampun untuk hal hal seperti ini pun mereka menggangguku, batin Anggi. ** Keesokan harinya, terdengar pertengkaran Ayah dan Tante Nia, Anggi ke dapur dan mendapat kan Info bahwa Tante Nia dan Kak Karen pulang pagi, jam lima subuh tadi. Kemana mereka? Apa pesta ulang tahun nya di mulai tengah malam? Pusing mendengar sahut sahutan mereks Anggi naik ke kamarnya. Di kamar ia melihat ponselnya ternyata ada chat masuk dari Kak Ardi tentang Beasiswa untuk melanjutkan S2 dan beberapa brosur tentang program Magister di Singapura. Anggi membalas chat tersebut. [ Thanks kak.. tapi Anggi masih harus ujian Komprehensif. Jadwal Rabu depan , fokus itu dulu nih. ] Anggi menuju kamar mandi nya, rencana ia akan membuat presentasi skripsinya dan tentunya harus segar pikiran. Keluar dari kamar mandi, Anggi keheranan melihat Karenina berbaring di tempat tidurnya. " Uh.. Enak kamarmu sudah lengkap dan lebih besar dan kamar mandi pun di dalam", kata nya tak menyadari sebagai pendatang di rumah ini. " Lah iya lah kak, rumah ini di bangun atas desain Ibuku dan aku anak nya. sedang kamarmu kan kamar tamu lagi pula kamar mandinya di samping kamar kok bukan ke bawah sana", jawab Anggi untuk hal yang harusnya sudah tidak dipertanyakan lagi oleh Karen. " Apa Ibumu pemilik rumah ini? Maksudnya rumah ini atas nama Ibumu", tanya Karen lagi. " Ya, bahkan rumah ini sudah ada sebelum mereka menikah, hanya didesain ulang setelah Anggi sekolah SD", kata Anggi masih heran Karen belum menyatakan maksud tujuannya. " Kak Karen, ada apa nih tumben ke kamar Anggi. Dan itu kenapa kemarin ke kamar ngacak ngacak barang Anggi. Anggi rasa jatah bulanan kakak lebih besar daripada Anggi, selain dari Ayah, ibumu juga mengupayakan uang untuk mu. Jangan lah diambil barang barang Anggi, yang di ambil itu sengaja disimpan karena kenang kenangan dari sepupu dan kawan kawanku. Kak Karen tau Anggi juga cari duit tambahan untuk beli barang barang tolong hargai lah", Anggi berkata memelas. " Alah itu aja pun, pelit kali ", " Karena bagi kak Anggi remeh itulah aku bingung kok ngambil punya Anggi. Mintalah ke Ayah atau Tante Nia. Anggi sudah lama tidak meminta, semua di beli dengan uang bulanan karena dari masa ada Ibu memang sudah perjanjian seperti itu kalau Anggi kurang Anggi akan pinjam uang ibu dan jatah bulan depan dipotong. Makanya sekarang Anggi kerja supaya dapat beli barang sendiri". " Nanti ku pulangkan semuanya, sekarang kamu janji dulu tolong aku", kata Kak Karen sudah duduk di sisi tempat tidur. " Janji apa, Anggi saja sedang berusaha untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bagaimana pula mau menolong kakak", Anggi berkata bingung apalagi yang mau di ambil dari dirinya. " Malam Minggu depan ada acara temu para pengusaha banyak diantaranya adalah kontraktor. Kamu harus ikut aku dan memberi wawasan padaku untuk dapat masuk dalam pembicaraan mereka", " Anggi hari Rabu ada ujian kelulusan, mau fokus ke situ, bukannya teman kakak banyak. Lagi pula Anggi belum pernah ikut acara seperti itu hanya pernah seminar seminar", Kata Anggi menuju mejanya dan menyalakan laptopnya. " Acara nya itu Malam Minggu depan, ya pasti kamu sudah lulus. Pokoknya ikut, ini ku ambil barang barangmu yang kemarin." Karen keluar dari kamar Anggi seenak saja, Anggi menggelengkan kepalanya. Semoga ada jalan agar semua ini berakhir, batin Anggi lagi. ** Rabu yang di nanti tiba, secara teknis Anggi menguasai materi yang akan ia bawakan. Tapi mengingat ini adalah ujian kelulusan tetap saja hatinya berdebar semoga ia tidak blank saja didepan dosen penguji nanti. Pramudya mengantar Anggi, dan berjanji menemani sampai ujian berakhir, karena sejak seminggu yang lalu Anggi menanyakan apakah ayah nya mau menemaninya ujian, sehingga Pramudya sudah mengatur jadwalnya untuk kosong di hari ini. Sesampai di kampus Anggi melihat Kak Ardi juga datang ke kampus, ia langsung menghampiri Anggi dan Ayahnya. Anggi mengingatkan kembali Ardi pada Ayahnya dan sekilas menceritakan kondisi Ardi saat ini. Ayah terlihat takjub dan tercetus andai Anggi juga mendapatkan kesempatan seperti itu. Sehingga jadilah Anggi menitipkan Ayahnya pada Ardi agar dapat berbincang lebih lanjut sementara Anggi masuk bersama teman teman seangkatannya yang akan diuji juga hari ini. Tak terasa ujian pun berakhir, Anggi mendapat nilai A untuk kesempatan ini. Ia benar benar bersyukur dapat menjadi mahasiswa bimbingan pak Harun, berbagai macam kegiatan yang dilakukan pak Harun selalu menyertakan Anggi. Sehingga hampir semua pertanyaan di ujian tadi dapat dijawab oleh Anggi dengan mulus karena sudah sering terlibat dengan diskusi diskusi dengan konsentrasi yang sama. Anggi menghampiri Pramudya yang terlihat bangga dan Anggi mengajak Ayahnya menemui Pak Harun. Ternyata Pak Harun dan Ayah nya saling mengenal dan sudah lama tidak berjumpa padahal anak nya adalah bimbingan temannya tersebut. Kondisi rumah tangganya mengakibat kan kedua Ayah dan anak tersebut jarang menikmati waktu bersama. Dan itu mulai disesali oleh Pramudya. ** Keesokan harinya, tiba tiba Ayah sudah memanggil Anggi. Ada tamu katanya, Anggi yang masih. bermalas-malasan karena otak nya yang baru saja rileks, dengan malas turun ke bawah menemui tamu yang dimaksud. Ternyata Kak Ardi, disitu juga ada Kak Karen yang sudah dalam posisi akan berangkat kuliah tapi justru ikut ngobrol bersama. " Eh, baru bangun Gi" , tanya Ardi. " Sudah dari tadi dong kak sudah mandi juga, hanya malas turun saja Anggi masih mumet rasanya sisa ujian, mau rileks sejenak. Kakak mau kemana? " tanya Anggi lagi. " Kemarin Kan kak Ardi ngobrol dengan Ayah Anggi jadi sepertinya sangat semangat dengan studi di Singapura. Jadi kakak mau mastiin kamu jadi ambil Beasiswa nya nggak usah nunggu ada ijazah masukin dulu transkrip nilai kan udah dapat nilai skripsi dan ujian komprehensifnya". "Iya ntar , Senin aja Anggi urus semua kan baru kemarin lulusnya. Tata usaha jurusan juga belum rekap nilai mungkin kalo sekarang", kata Anggi lagi. "Ia, cuma ngingetin aja, kakak sih mau ke kampus dulu hari ini. Ada tawaran honorer jadi dosen part time. Menunggu Jadwal penerimaan Dosen tetap. Jadi lengkapi berkas dulu". "Keren kak Ardi, entar Anggi ikuti langkah maju nya. Mengabdi dan berkarier ya kak", kata Anggi lagi. " Eh tau nggak Gi, Ardi ini teman ku SMA dulu pernah dekat sih, sayang aku nggak langsung lanjutin kuliah jadi nya begini", Anggi baru sadar ternyata Karen masih ada disitu. " Ayolah Di, kalau Anggi gak mau ke kampus kita aja berangkat dulu, aku nebeng ya Di", Karenina langsung menarik tangan Ardi. " Ya, istirahatlah dulu Anggi, aku berangkat dulu, ya salam buat Om Pramudya", kata Ardi diam saja ditarik Karen. Karenina tanpa sungkan menggandeng tangan Ardi menuju mobil. Anggi yang melihat sedikit bingung. Walau bagaimanapun Karenina saat ini berstatus keluarganya apa ia mau melanjutkan hubungan nya yang dekat tadi. Tapi semua mempunyai tentu ada hak sendiri sendiri, ah sudah lah akhirnya Anggi membalikkan badan menuju kamarnya, Di meja makan terlihat ayahnya sedang melihat ponselnya dengan secangkir kopi di meja. " Ayah tadi kak Ardi menitip dalam pada Ayah sebelum berangkat dengan kak Karen", akhirnya Anggi memutuskan menemani ayahnya sarapan. "Apa kamu tidak ke kampus hari ini?" " Ya, ke kampus yah tapi agak siangan. Rasanya kepala Anggi masih capek dengan berbagai persiapan materi di minggu lalu. Lagi pula ada hampir dua puluh orang di jurusan yang ikut ujian kemarin. Anggi hanya akan ke Pak Harun dahulu menanyakan apakah ada banyak perbaikan skripsi dari penguji", Anggi mengambil secangkir teh dan roti lapis yang disediakan untuknya. Ayahnya hanya mengangguk. "Yah, seperti yang dikatakan Mbok Nah, beberapa barang Anggi kemarin hilang, ada parfum dari Koh Rhicard, lipstik oleh oleh dari teman dan beberapa accesories Anggi. Kak Karen juga mengakui ia mengambil nya dan mau mengembalikannya dengan janji Anggi mau menemaninya pergi ke acara pertemuan para pengusaha muda malam minggu Yah, Anggi tak terbiasa untuk acara gituan yah dan mengapa juga harus mengajak Anggi biasanya dia punya teman segalanya. Bagaimana menurut Ayah?" Kata Anggi meminta pendapat Ayahnya. " Ayah juga sedang bermasalah dengan Mama Nia, tidak tahu apa yang mereka cari, terlalu banyak sensasi. Sepertinya Ayah memang harus memutuskan yang terbaik untuk kita, untuk apa bekerja keras tapi hidup terasa di peras. Ayah juga ingin menghadapi hari tua dengan rasa aman dan damai. Mengenai acara itu memang ada seperti reuni alumni tapi bukan almamater Ayah dan terindikasi kaum muda semua. Ayah heran mengapa Karen bisa mendapatkan undangan kesana? Mana baik nya aja Anggi, jika kamu ingin datang pergilah, memang seharusnya kamu refreshing sejenak." kata Ayah. " Itu bukan refreshing yah, Anggi yakin akan banyak kerumitan bila Anggi bersama Kak Karen, tapi Anggi juga merasa tak adil kalau hanya menduga jelek, biarlah Anggi coba pendekatan dengan dia", Anggi lalu permisi ke kamar, dia benar benar masih mengantuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN