Anggi sedang memilih kostum yang akan digunakan pada acara yang akan dihadirinya bersama Kak Karen, malam ini. Tadi dia selintas melihat Karen mengenakan Slack dress merah tanpa lengan yang kontras ke kulit. Terlihat cantik memang.
Tapi bagi Anggi dia tidak Pede dengan hal itu, walaupun kulitnya berwarna putih dan postur Anggi juga lebih tinggi dari Karen. Ia merasa tidak mengenal sesiapa nantinya di pesta selain Karen. Dan jika tujuan adalah mencari relasi nanti di dunia kerja, sebaiknya dia berpakaian kasual saja pikirnya.
Akhirnya Anggi memilih menggunakan menggunakan stelan cream celana satin tebal dengan dalaman tanktop dan Blazzer mini dengan sedikit ornamen bling di bahannya. Dengan rambut sepundaknya yang di Ikat tinggi memperlihatkan wajahnya yang fresh dan ceria. Ia tidak ingin menarik perhatian banyak pria tapi juga tidak mau terabaikan. Sehingga riasan sederhana dengan warna nude yang dipilihnya.
Dengan menggunakan sepatu heels 5 cm Anggi menjadi lebih dewasa dari kesehariannya sebagai Mahasiswa yang aktif mendampingi dosennya mengadakan kegiatan. Tubuh nya yang tinggi dan ramping berjan bagai kapstok pakaian yang memperagakan pakaian.
" Kau ini Gi, cobalah lebih gemerlap, ini bukan acara seminar ilmiah. Tapi pesta reunian yang para alumni nya sudah banyak menjadi pengusaha", kata Karenina mengkritik tampilan Anggi walau tidak dipungkiri Anggi saat itu terlihat anggun dan smart.
" Ini kali pertama ku menghadiri acara yang aku juga tidak tahu tema nya apa. Penampilan ku ini sudah cukup beda kok dari biasa nya, dan aku nyaman seperti ini", kata Anggi dan di sambung dalam hatinya, " aku masih curiga niatanmu kak mengajakku ke pesta ini".
Anggi keluar mendapatkan ayah nya yang akan mengantarkan mereka ke hotel yang dimaksud.
" Gimana sih Gi, menyusahkan Papa saja, harusnya kita naik taksi saja sehingga ayah tidak capek pulang balik nantinya", Karenina bersungut ia tadinya sudah meminta teman cowoknya menjemputnya, menjadi batal karena Anggi mengatakan Ayah akan mengantar mereka.
" Ayah yang mengharuskan nya Karen, dua anak gadis berpakaian seronok seperti kamu harus dipastikan sampai di tempat yang kalian infokan ke Ayah. Jadi kalau ada apa apa ayah bisa menelusurinya", kata Pramudya tegas.
" Seperti anak SMA saja", gerutunya yang akhirnya naik ke mobil juga.
**
Sesampai di parkiran hotel, Ayah mengingatkan agar menelponnya kira kira jam berapa mereka akan keluar sehingga dapat diatur kapan Ayah berangkat dari rumah, walau peraturan baku adalah jam dua belas malam sudah di rumah.
Perkataan ayah nya lebih ditujukan ke Anggi karena percuma saja berbicara dengan Karen yang susah memegang janji.
Sebelum memasuki ruang acara, Karen berusaha mencari seseorang dan menelponnya. Seorang lelaki gempal memakai setelan jas datang menghampiri mereka. Sepintas Anggi merasa pernah menjumpainya dan Karen memperkenalkan lelaki tersebut sebagai Anton kakak tingkat nya yang sudah lulus dua tahun yang lalu. Anggi mengingat ingat dimana ia pernah berjumpa dengan Anton.
Akhirnya ia ingat ketika ia bersama kak Ardi mengunjungi kantor BEM di kampus tiga tahun yang lalu, ada beberapa orang kakak tingkat yang mengganggunya di luar ruangan BEM. Dan salah satunya Anton, sampai beberapa bulan selanjutnya Anton masih sering menegur nya dan Anggi menjawabnya dengan sopan. Dan entah kapan terakhir nya, dia tidak pernah bertemu Anton lagi.
" Halo Anggi kamu masih ingat aku kan? " kata Anton berjalan membawa mereka ke meja tamu.
" Ya kak, Anggi ingat", jawab nya pendek, Anton tersenyum senang dan mempersilahkan mereka masuk ke Ballroom dimana acara diadakan. Anggi menyadari mereka masuk atas referensi dari Anton.
Di ruangan sudah tampak banyak tamu yang hadir, ada beberapa wajah dikenalnya sebagai kakak kelasnya. Apa kak Ardi juga datang ya, pikir Anggi.
" Kak Karen apa kak Ardi tidak diundang di acara ini ya? Kemarin Kakak bersama Kak Ardi tidak membicarakannya? ", tanya Anggi sedikit menguatkan suara karena ruangan yang mulai riuh dengan teriakan gembira bertemu kembali.
" Dia ada acara keluarga katanya, pertunangan adiknya, jadi tak bisa hadir. Jika ada dia tentu aku batal mengajak mu Anggi" , kata Karen tanpa memandang ke arah adik tirinya tersebut. Membuat Anggi penasaran apa mungkin kak Ardi jadian sama Kak Karen sehingga bisa dengan pedenya berkata demikian pada dirinya.
Acara dibuka dengan sambutan ketua panitia, ternyata acara ini adalah reunian kampus nya untuk alumni lima tahun berjalan. Apa aku sudah termasuk alumni ya, batin Anggi. Tapi ia juga tidak menyumbang di acara ini.
Ada beberapa nama alumni yang sukses dan menjadi sponsor utama acara. Beberapa nama tadi disebutkan dan pemilik nama berdiri diiringi tepukan riuh hadirin. Salah seorang Alumni ternyata berparas indo bernama Farid Salman, perawakan tinggi dan tampan tentunya membuat para wanita disana berteriak histeris tampilannya sederhana dengan berkemeja polos di gulung dan celana jeans. Anggi tidak mengenalinya mungkin mereka tidak sempat bertemu di kampus karena sudah keburu tamat dan dia juga tidak berasal dari Fakultas yang sama dengan Anggi.
Kemudian dengan segala kata sambutan yang berakhir, acara temu ramah dengan berbagai motif pun di buka. Anggi mengikuti Karen yang mengajaknya berkumpul bersama Anton dan kawan kawan. Beberapa senior satu fakultasnya ada disana. Anggi pun bertegur sapa, ia senang dapat bertemu dengan mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tapi. Acara temu ramah baru saja di mulai, Kak Karen tiba tiba meminta Anggi menunggu di tempat duduknya.
" Gi, kamu duduk di sini aja dulu jangan pindah pindah, aku mau ke toilet dan mengambil minuman. Mau minum apa ntar ku bawain", kata Karen sudah berdiri di sampingnya, Anton pun ternyata ikut berdiri , apa mau mengantar Karen ke toilet ya. Hah.. Anggi bingung melihatnya.
" Iya Anggi tunggu, kalau ada. Jus orange atau apel juga boleh kak minumannya atau yang segar lah asal jangan yang beralkohol", kata Anggi melihat gelagat Anton pada Kak Sekar yang tidak biasa dan memandang ke Anggi sambil senyum senyum saja.
" Apa pun itu untuk mu bisa cantik ", kata Anton mengiringi kepergian Kak Karen, mengherankan, gumam Anggi.
Seorang Alumni Fakultas Anggi bernama Farhan menoleh ke Anggi dan bertanya.
" Aku kemarin ikut seminarnya Pak Harun lho, Apa kamu sudah kelar skripsinya?", tanya Farhan pada Anggi, Anggi mengenal Farhan yang seletingan dengan Kak Ardi.
" Sudah Kak, Rabu kemarin Anggi sudah ujian ", Anggi kini semeja dengan Farhan, Anita dan Beni semuanya seangkatan dengan Anton.
" Kamu dekat ya dengan Ardi, kemarin kulihat bersama Ardi", tanya Farhan lebih detil pada Anggi.
" Dulu kan kak Ardi banyak membantu saya kak , tapi lama saya nggak dengar kabar dia tahunya dapat beasiswa S2 ke Singapura, kemarin itu di seminar kita baru jumpa kembali kak", jawab Hanin.
"Dia memang kayaknya bakal konsentrasi ke Akademis. Bagus juga sih".
" Kakak sekarang dimana? "
" Ikut Pamanku di proyek, sekarang di salah satu proyek pembangunan Apartemen".
" Oh mungkin kenal dengan Ayahku, Pak Pramudya kak, kalau gak salah Ayah juga tergabung dalam satu proyek Apartemen", Anggi senang dapat teman ngobrol dari pada bengong menunggu Kak Karen.
"Oh.. Om Pramudya Ayahmu? Iya Paman ku dan Om Pramudya adalah sub kontak di proyek tersebut. Bukannya Pak Pramudya Papa nya Karen", kata Farhan baru menyadari hal tersebut.
"Iya Ayah ku menikah lagi dengan Ibunya hampir tiga tahun yang lalu", kata Anggi menjelaskan kedudukannya dengan Karenina.
Tiba tiba seorang pelayan menghampiri Anggi.
" Maaf apa ini Mbak Anggi, saya di minta Mbak Karen mengantarkan jus ini ke Mbak Anggi. Katanya ada keperluan dulu, Mbak di minta menungggu disini saja dulu", kata pelayan tersebut. Anggi pun mulai curiga Karen punya acara apa dengan si Anton. Mudah mudahan dia tahu janjinyaa dengan Ayah yang akan menjemput mereka.
Anggi meminum Jus orange nya, agak pahit tapi cukup segar di tenggorokannya yang dari tadi belum tersentuh minum.
" Ayo, Anggi kita. belum menyentuh makanan sedikit pun. Itu antrian pun sudah nggak ada", ajak Farhan yang sedari tadi melihat Anggi tidak menyentuh makan dan minum kecuali jus yang diantar pelayan. Sedang dia sebenarnya sudah sempat makan sebelum bergabung ke meja ini tadi.
Anggi merasa tenggorokannya panas, apa karena dia sangat haus dan langsung minum dingin ya. Tapi panas nya semakin menjalar ke kepala dan sakit sekali dan membuat nya bingung dan terpikir ke toilet dulu mengoleskan lehernya dengan minyak kayu putih yang selalu ia bawa.
" Kak Anggi ke Toilet aja dulu, mungkin masuk angin lalu minum dingin kepala Anggi sakit, kakak duluan saja", Anggi pun berjalan searah jalan yang tadi di tuju Karen. Ia sudah keluar dari Ballroom. Kepala nya berat dan panas menjalar ke tubuhnya ada rasa menggelitik di perut nya.
Hanin terus berjalan tapi ini ternyata menuju deretan kamar kamar. Harusnya ia menemukan toilet tadi di Ballroom, tapi mengapa jadi ke luar dan sudah berada di deretan kamar. Ia terhuyung memegang kepalanya, tadi ia hanya minum orange jus mengapa begini, apa dicampur alkohol sama Kak Karen?
Hanin masih bisa berpikir di tengah rasa pusing yang semakin hebat. Dimana orang orang mengapa tidak ada yang lewat. Tiba tiba pintu kamar di depan sana terbuka sekilas ia melihat seseorang yang juga memegang kepalanya, ia seorang lelaki. Coba aku ke sana mungkin ia bisa menolongku panas ini semakin mengocok perut dan kepalaku mengapa begini, Ayah tolong, Anggi yang terus menyusuri dinding kamar perlahan.
Tiba tiba sepasang tangan kekar menarik Anggi dan terdengar pintu tertutup.
" Maafkan aku", terdengar suara parau ditelinga Anggi.Tiba tiba dirinya sudah dipelukan seorang pria dan Anggi mencoba berontak tapi kepalanya sakit sekali. Ia mengelinjang ketika wajah pria tersebut memasukan wajah ke ceruk leher nya meremas bagian tubuhnya.
Otak Anggi seakan sadar hal itu bahaya, tapi justru tubuhnya mengikuti alur semuanya bahkan ketika pakaiannya menghilang dari tubuhnya dan dingin AC sejenak hinggap di kulitnya berganti aroma panas yang rasanya menghendaki ia bergerak liar.
Sampai disuatu titik otaknya sempat menyadari apa yang terjadi dan coba menolak tubuh di atasnya. Namun rasa sensasi panas yang menggelora dan membuncah diperutnya membawa nya kembali mengikuti alur gerakan yang membawa nya berasa nikmat, walau tadi terasa sakit amat sangat.
Berulang kali kegiatan itu dilakukan sampai mungkin keduanya kehilangan tenaga dan tertidur pulas.
**
Anggi terbangun dengan rasa sakit amat sangat di kepala dan di bawah perunya, Ia kembali terpejam menenangkan rasa sakit tersebut. Perlahan kemudia membuka mata kembali dan ia dapat melihat sekitarnya.
Rasa berat menimpa d**a nya membuatnya sesak, sebuah lengan dan rambut kepala, hah.. Matanya terbelalak ada seseorang di sampingnya.
Ya.. Allah, ada apa ini, batinnya. Dadanya sesak ingin berteriak. Didorongnya tubuh tersebut terdengar erangan pelan kemudian kembali diam tetidur.
Lalu.. hah, apa ini selimut. Dia sudah tidur satu selimut dan mana pakaian ku. Ia coba melihat ke samping. Ternyata sama selintas terlihat siluet tubuh tanpa pakaian di sebelahnya.