Dengan sekuat tenaga ia membangunkan tubuhnya. Ia melihat ke jam tangannya jam setengah empat pagi. Sekuat tenaga ia bangkit dan memungut semua pakaiannya lalu pergi ke kamar mandi. Dikucurkannya air keseluruh tubuh dengan menangis.
Sadar waktu terus berjalan Anggi keluar sudah dalam pakaian lengkap, sambil mengendap ditatapnya sejenak wajah lelaki yang tidur di sampingnya. Lalu ia mengambil ponselnya di tas dan di fotonya lelaki tersebut dan cepat ia keluar. Rasa nya ada banyak mata yang memergoki nya, berusaha menundukan wajahnya takut jika ada CCTV, sangat memalukan.
Keluar dari hotel Anggi melihat Masjid di seberang hotel, Adzan subuh sudah berkumandang, ia berlari menyinggahi masjid tersebut melaksanakan sholat subuh selesai sholat langsung ia beranjak ke luar Masjid, Ia tahu dirinya telah kotor namun tiada siapa tempat ia mengadu biarlah Tuhan nya yang mendengar keluh kesahnya, ia terus menangis hingga ponselnya berbunyi dan terlihat nomor Ayahnya di situ. Diangkatnya panggian tersebut.
" Ayah.., Ayah tolong Anggi. Ayah.. Anggi sudah kotor nggak benar. Tolong Anggi", katanya dengan menangis.
" Anggi, Anggi di mana nak, Ayah jemput", teriak Paramudya berlari menuju mobilnya. Ia hampir tertidur setelah sholat subuh di teras samping Masjid tapi suara kendaraan yang melintas dan langit yang mulai terang mengingatkan anak gadisnya yang belum pulang, sehingga ia coba untuk menelpon Anggi lagi. Tiba tiba dia mendengar suara tangis yang sama dengan di ponselnya. Terlihat seseorang dengan masih menggunakan mukena memegang ponsel sambil menangis.
"Anggi, Anggi, ini ayah", Pram mendekat ke wanita tersebut. Terlihat anaknya dengan wajah sembab memegang ponsel.
" Ayah..", Anggi berdiri hampir terjatuh, Pramudya menyambut anaknya, agar tidak terjatuh terjerembab. Seorang penjaga masjid berlari ke arah mereka.
" Maaf, pak maaf, anak saya terkena masalah. Saya akan membawa nya pulang pak. Pak, ini mukenanya saya pinjam dulu nanti saya kembalikan lagi atau tolong pak beli yang baru", Pramudya mengeluarkan beberapa lembar uang merah kepada penjaga Masjid dan sekali lagi meminta maaf.
Pramudya membimbing anaknya ke mobil.
" Ayah, apa Kak Karen sudah pulang? Anggi tidak mau bertemu dengannya", kata Anggi mengingat minuman yang diberikan oleh Karen dan sudah dimasukkan sesuatu.
" Entahlah Ayah menunggu di sini dari jam setengah dua belas menelpon kalian berdua tak satupun diangkat, jam tiga pagi Karen menelpon Ayah, menanyakan apakah Anggi sudah pulang, ayah katakan Ayah sudah di hotel dan dari jam 11.30 mencari kalian. Lalu dia mengatakan kamu hilang nak.
Ayah tidak pulang Ayah takut kamu terperangkap disalah satu kamar. Makanya ayah menunggu sampai pagi agar dapat melihat kamu dan jika tidak berjumpa Ayah akan memaksa melihat CCTV hotel", kata Pramudya masih belum menyalakan mobilnya.
"Ayah, Anggi tak mau serumah lagi dengan Kak Karen, dia meletakan sesuatu di minuman Anggi, dan meninggalkan Anggi. Anggi merasa ini semua perbuatan dia, Anggi sudah ternoda Ayah, Anggi semalam habis minum jus orange kepala terasa sakit sekali dan tenggorokan serta perut Anggi panas dan tiba tiba Anggi ditarik ke kamar oleh seseorang.
Anggi sudah berontak tapi kepala ini rasanya berat dan sakit sekali dan pagi tadi Anggi sudah tidur dengan seorang pria ayah, Anggi tidak kenal dia, Anggi malu, kepala Anggi sakit tapi Anggi paksa mandi mengguyur seluruh tubuh Anggi dan keluar kamar mandi orang tersebut belum bangun, Anggi takut dia bangun, akhirnya Anggi kemari, bantu Anggi Ayah apa salah Anggi kenapa mereka jahat ke Anggi", Anggi kembali menangis.
Pramudya bingung apa yang harus ia lakukan. Melapor ke polisi, pasti akan ada publikasi yang akan menghancurkan mada depan anaknya nanti.
" Anggi tau di kamar berapa kejadiannya".
" Ayah Anggi takut, Anggi malu, jangan ada orang yang tahu Ayah", Anggi merengek hampir menangis lagi. Bahkan kepalanya pusing dari semalam dia tidak makan, tenaganya sudah terkuras waktu malam dan sekarang ia pun capek sekali menangis, dan akhirnya tak kuasa menahan lemas Anggi pun pingsan.
Pramudya membuka tas tangan Anggi mencari minyak kayu putih yang biasa nya menjadi perlengkapan Anggi. Di balurkan nya minyak tersebut ke leher, pundak dan perut, sedikit di oleskan ke cuping hidung Anggi.
Anggi mulai bergerak lemas, dia lalu memberi minum air mineral botol pada Anggi dan roti yang tadi malam dibelinya untuk dimakan di mobil.
"Nak kita pulang ya biar Anggi bisa istirahat dengan baik, Ayah tak akan membiarkan kamu di aniaya", dalam hati Pramudya berniat kembali ke hotel agar ia tahu kejadian sebenarnya.
Sesampai di rumah Pram memanggil Mbok Inah untuk menolongnya memapah Anggi yang lemah sekali. Dengan susah payah akhirnya mereka sampai ke kamar dan ia membaringkan Anggi. Ia minta tolong ke Mbok Nah mengganti pakaian Anggi. Pram lalu turun, di ruang makan dilihatnya Nia dengan masih memakai pakaian tidur menikmati teh hangat dan roti lapis.
" Apa Karen sudah pulang? " tanyanya ke Nia.
" Sudahlah dia pulang telat karena mencari si Anggi yang nggak bisa diam entah pergi kemana", kata Nia seenaknya tak menyadari bagaimana suaminya sedang emosi.
" Panggil Karen, cepat", kata Pram yang tidak mau meladeni Nia.
" Dia juga baru tidur, nanti sajalah".
" Kau panggil dia atau aku akan menyeretnya dan mengusirnya keluar", Pram sudah tak sabar dengan jawaban jawaban Nia dan menghardik istrinya itu dengan suara keras.
Nia yang terkejut langsung ke kamar Karen membangunkan anaknya. Karen yang sedang mengantuk diseretnya perlahan sambil mengatakan bahwa Papa Pramnya sedang marah besar.
Di bawah Karen didudukkan di sofa.
" Karen apa yang kau letakkan di minuman Anggi, cepat katakan",
" Aku tidak meletakkan apa-apa Pa, aku memesan orange jus dan menyuruh pelayan mengantarnya",
" Sekali lagi Papa katakan apa yang kau letakkan di minuman Anggi, Aku akan keluar sebentar dan jika aku masuk kau masih berbohong akan ku cari bukti dan kulaporkan kau ke polisi Karen".
Pramudya keluar pagar disana dia menelpon Beni salah seorang anak buahnya. Ternyata Beni juga berada di meja yang sama dengan Anggi dan Karen. Beni membenarkan Anggi mendapat minuman dari pelayan yang mengaku disuruh oleh Karen.
Pram meminta Beni mendapatkan video yang berkenaan dengan Karen dan Anggi. Ia langsung mentransfer anggaran untuk hal tersebut. Pram meminta secepatnya sebelum orang lain bergerak menghapusnya. Beni menyanggupinya.
Kemarahan Pramudya bukan saja sekarang ini. Malam Minggu lalu saat ia melihat istrinya berbelanja padahal sebelumnya mengatakan menghadiri ulang tahun anak teman nya yang juga temannya Karen. Pram juga menugaskan Beni untuk mengikuti Istri dan anak dan keesokan harinya ia mendapatkan gambar gambar yang tidak terduga. Dan Beni juga sangat bekerja detil gambar gambar tersebut sudah lengkap dengan info orang orang yang ada di dalamnya.
Pram kemudian masuk ke rumah kembali. Iya melihat Karen yang ternyata ikut sarapan dengan Nia.
" Sudah Karen sekarang aku bertanya lagi, apa yang kau masukkan ke minuman Anggi saat itu",
" Aku tidak memasukan apa apa Papa, setelah dari toilet bahkan aku langsung mencari Anggi dia tidak ada ditempat duduk semula padahal aku meninggalkannya mungkin hanya lima belas menit saja paling lama.
" Aku punya saksi ya Karen dan kau berbohong, tunggu aku mendapatkan bukti baru kulaporkan kalian ke polisi", kata Pramudya geram.
" Kenapa papa ngotot menyalahkan ku bisa sajakan Anggi berbohong", Karen berteriak seolah olah dialah orang yang tidak bersalah dan teraniaya.
" Jangan panggil lagi aku Papa mu, kamu kira aku lebih mempercayai mu dari anakku sendiri, cukup selama ini kalian memanfaatkan ku. Keluar kalian sekarang juga, rumah ini rumah istri pertama ku yang diwariskan kepada anakku. Anakku mengizinkan ku tinggal disini tapi tidak dengan kalian",
"Aku menjatuhkan talak atas mu Nia , aku sudah tahu siapa kau, ternyata kau seorang poliandri. Kau belum bercerai dengan suamimu tapi menikah denganku, bodohnya aku.
Akan ku urus surat cerai kita dan kau berdua bisa meninggalkan rumah ini segera. Bukti bukti akan kuserahkan ke pengadilan, kau bisa membawa tas tas mewah, perhiasan dan semua milik pribadi mu tapi jangan sekali kali mengambil peninggalan istri pertamaku di rumah ini".