Bab 6. Musuh tersembunyi

1707 Kata
"Aargh.. ", Salman menggerakan badan nya, selimut putih yang menutupinya pun bergeser mengikuti gerak tubuhnya. Terasa dingin AC menerpa kulit tubuh bagian bawahnya. Salman terkejut dan langsung terduduk. Kepalanya yang masih sakit diremas remasnya, tubuh polosnya. memaksa ia mengingat apa yang terjadi. Ia melihat jam tangannya terlihat pukul sepuluh lewat lima belas menit. Oh.. disibaknya selimut dan berdiri memunguti pakaian nya dan meletakan ke tepi tempat tidur, dan memakai celana boxernya sekilas dilihatnya beberapa bercak merah di sprei. Sekali lagi Salman terduduk sambil meremas rambut nya. " Ya, Allah ampuni aku", ucapnya lirih, lama ia beristighfar. Matanya pun berkaca kaca. Akhirnya ia ke kamar mandi, membasahi tubuhnya di pancuran air yang deras seorang menjentik jentik kepalanya. Setelah berpakaian lengkap kembali ia duduk mengingat ingat kembali kejadian semalam. Siluet tubuh itu samar tergambar dibenaknya. Tubuh yang menolaknya tapi kemudian membawanya semakin menikmati setiap gerakannya. Panas membara di tubuhnya terselimuti rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan selama dua puluh enam tahun umurnya. Ciri kedua terpatri di otaknya, tubuh itu tinggi semampai, dengan ikatan rambut agak tinggi, tapi Salman tidak dapat mengingat wajahnya. Ia pun meraih bantal yang dipakai gadis itu, menciumnya yah.. aroma bayi, seperti mencium keponakannya Zilla yang berumur dua tahun. Salman serasa gila mengingat semuanya. Tiba tiba matanya tertuju pada sebuah anting emas sederhana. Dimasukkannya Anting tersebut ke dalam sakunya. Ia pun membuka sprei bernoda tersebut dilipat dan diambilnya sebuah kantong didalam lemari pakaian kamar tersebut lalu ia keluar membawa tas travelnya. Kemarin ia memang dari Surabaya langsung ke hotel karena sudah sore dan sempat beristirahat sejenak sebelum menghadiri acara reuni tersebut. Salman memasuki restaurant hotel, perutnya terasa lapar sekali. Ia melihat jam tangan nya sudah jam dua belas kurang, ia melewati jadwal sarapan. Ia pun memesan menu untuk makan siang. Sambil menunggu makanannya Salman menelpon asistennya Irwan. " Assalamualaikum, Mas Salman ", terdengar suara Irwan di telpon sepertinya sedang berbicara dengan seseorang. " Waalaikumsalam, sibuk di kantor Wan? . " Ya, gitulah Mas ini ada masalah mis komunikasi dari PT. Jaya Sentosa tentang harga yang disepakati kemarin. Tapi udah clear kok Mas. Udah di mana Mas? Jadi gak acara reuni nya? kok adem ayem aja", kata Irwan yang memang tidak canggung berbicara dengan Salman atasannya. " Aku, sudah di Jakarta, Wan, kemarin jadi sih acaranya, cuma aku ada masalah nih. Bisa ke mari Wan makan siang disini saja", Salman menyebutkan nama hotel tempat ia menginap semalam. " Ok, Mas ini sudah waktu istirahat ini, aku cabut langsung ke sana". kata Irwan melaksanakan perintah atasannya. Salman pun kembali memesan menu yang sama dengannya agar dapat langsung makan bersama ketika Irwan sampai. Sekitar dua puluh menit kemudian Irwan sampai di depan pintu restoran , Salman menyuruh nya masuk dan makan siang bersama. Dua piring streak sudah tersedia di meja dan tampak seporsi besar kentang goreng di antaranya. "Ini bonus kentang goreng seporsi besar", tanya Irwan menanggapi porsi menu di meja yang dianggapnya baru. " Ayo makan saja, perutku sangat lapar banget, mana tadi terlewat sarapan jadi di double saja karbonya", Salman mulai memotong daging steaknya dan memakannya dengan lahap. " Ini bukan double bos, tapi quarter ". " Kalau mau, ambil, ayo cepat makannya", Salman tak mau menanggapi apa yang ada dipikiran Irwan tentang menunya. Akhirnya Salman benar benar menghabiskan porsinya. Sebenarnya wajar saja sih jika kelaparan tapi hal ini menjadi suatu keanehan di pikiran Irwan mengapa Bos nya jadi sangat kelaparan. Setahu Irwan Salman adalah orang yang konsisten. Sebagai muslim yang baik dia sangat menjaga sholat nya lalu bagaimana dia sampai kehilangan waktu sarapan? Akhir nya mereka berdua memilih untuk duduk di lobby. Salman meminta Irwan mengurus check out nya dan menambahkan biaya sebuah sprei yang diambil Salman, ini membuat satu lagi misteri di kepala Irwan.Tapi ia terus melaksanakan tugas nya semua nanti akan dibahas setelah ini. Salman mengajak Irwan untuk berbincang sebentar di lobby ada hal yang harus ia pecahkan katanya. Ia pun menceritakan keadaannya tadi malam kepada Irwan, Ia pun ingin Irwan mengecek CCTV untuk tahu siapa orang yang sudah membuat dirinya merusak masa depan seorang wanita yang tidak ia kenal. " Lalu untuk apa Mas membawa sprei hotel segala". " Wanita itu masih perawan, gerakanku yang tidak terkendali sepertinya membuat ia berdarah cukup banyak, aku takut melihat sprei ini timbul pula publikasi yang mengarah ke fitnah". Salman menunduk menutup wajahnya. " Aku merasa sangat berdosa, bagaimana keadaan gadis itu". " Jadi menurutmu bagaimana, aku ingin siapa yang mengerjai ku tadi malam diketahui, rasanya hidupku tak akan aman bila peristiwa ini ku diamkan". "Sebaiknya Mas Salman pulang istirahat dulu, sepertinya emosimu tidak stabil saat ini. Biar aku hubungi teman dulu yang berpengalaman dengan hal seperti ini, baru kemudian kami berdua mulai dari CCTV hotel", kata Irwan melihat ke ponselnya mencari no kontak seseorang. " Itu sudah ku transfer Wan untuk hal hal tidak terduga. Biasa nya melihat CCTV perlu kewenang khusus dan tanpa pelicin nggak bisa jalan, mudah mudahan belum ada yang mengotak atik nya sebelum kita", kata Salman berdiri hendak pulang, memang rasanya kepala ya mumet dan hati nya bergejolak seakan hidupnya sedang di monitor banyak orang. "Oh ya, Wan Gadis yang bersamaku memakai setelan celana panjang dan rambut di ikat, itu saja yang kuingat, dan ini sepertinya anting antingnya yang tertinggal", Salman menyerahkan pada Irwan anting yang hanya sebelah. Dan ia permisi pulang. ** Salman tinggal bersama Orang tuanya, walau secara pribadi ia juga memiliki sebuah apartemen tapi itu sesekalicsaja ia singgahi, jika kondisi kondisi ia ingin sebuah privasi. Sesampainya dirumah, Mama menyambut kedatangan nya dengan senyum. "Assalamualaikum, Ma", Salman mencium tangan Mamanya. " Waalaikumsalam, Syukurlah kamu pulang kesini, mama kira kamu menginap di apartemenmu, tadinya mau menelponmu agar malam nanti makan malam disini", ujar Mama, mengiringi Salman masuk. " Ada acara Ma, pakai makan malam segala", Salman masih mencoba menanggapi pembicaraan ibunya. "PT. Sinar Contraction, milik Pak Darmansyah adalah perusahaan paling besar yang menyerap produk keluaran perusahaan kita, dan kemarin penandatangan kontrak kerja sama kita yang kedua. Mama bertemu dengan keluarga beliau mereka punya anak perempuan 2 orang keduanya tamatan Boston USA, dan merupakan penerus perusahaannya masa akan datang Mama berharap ada salah satu dari kalian Salman atau Fahri yang dapat menikah dengan salah satu mereka", kata Mama dengan penuh semangat. " Jangan protes dulu lihat dan berkenalan lah dulu, kalau nggak kenal tentu tak sayang, usia kalian berdua pun sudah mapan untuk berumah tangga". Salman tertegun rasa nya hari ini ia ditekan dari banyak penjuru, dijadikan lelucon bagi teman teman atau saingan yang mempermainkan hidupnya, rasa bersalah amat sangat pada seorang gadis dan sekarang perjodohan bisnis entah dengan siapa. " Salman masuk dulu Ma, Salman nggak langsung ke kantor karena kepala ini agak berat jadi pengen istirahat dulu", katanya mulai menaiki tangga menuju kamarnya. Mudah mudahan Fahri abangnya dapat hadir di acara makan malam nanti hati nya sedang tak menentu sekarang ini. Salman membersihkan badannya dan melakukan sholat dzuhur ia menangis untuk kondisi mentalnya saat ini. Salman adalah anak bungsu dari tiga bersaudara. Papanya Farouk Akbar berdarah Turki dan Jawa, seorang pengusaha yang lumayan sukses hingga sudah merambah beberapa bidang usaha seperti fabrikasi besi baja, Property, Fashion dan Kuliner dan Mama nya Sekar Seruni dari Jawa tengah yang aktif mengendalikan usaha keluarga di bidang kuliner. Saat in Salman dipercayakan di bidang Properti yang memang belum begitu besar dan Fahri serta Ayahnya di Pabrikasi. Sedang Kakak sulungnya Fahriza dan suaminya mengendalikan beberapa Butik dan usaha Cafe & Catering beserta Mama nya tentunya. Selama ini keluarga nya cukup harmonis, riak kecil adalah biasa. Orang tuanya cukup bisa mendidik anak anak mereka di tengah kesibukan mereka di bidang Bisnis. Salman cukup memaklumi keinginan Sekar sang Mamanya dikarenakan memang ia dan kakak nya Fahri sudah cukup matang berumah tangga. Dan ketika Mama nya yang juga pebisnis merasa memiliki rekan yang cocok wajar berkeinginan mengadakan perjodohan, bukan sekedar untuk mengembangkan usaha saja tapi rasa kecocokan dan kesepahaman yang terjalin. Hanya saja belum tentu anak anak mereka juga begitu.Tapi tak salah juga prinsip tak kenal maka tak sayang di kedepankan. Sempat terlena sejaman sejenak, Salman dikejutkan bunyi ringtone ponselnya. Nama Irwan terpampang di sana membuat Salman langsung menegakkan tubuhnya. " Assalamualaikum Wan, Bagaimana dapat video CCTV nya," tanya Salman tak sabar. " Mas, ternyata banyak sekali kejadian mencurigakan di sepanjang area kamar mu Mas". " Maksudnya apa Wan, banyak yang mengerjai aku gitu". " Entah lah tapi yang pasti, pasanganmu malam itu juga korban obat perangsang seperti hal Mas Salman, tapi kalian dikerjai oleh kelompok berbeda. Ada yang mengincar wanita mu itu tapi sudah disambar Mas Salman duluan. Sementara wanita yang dipersiapkan mereka untuk mu kelihatannya seperti wanita nakal, justru kelimpungan mencari Mas Salman ada yang salah info kamar kayaknya disini. Tapi Mas perkiraan ku jika kejadian Mas sesuai dengan rencana mereka Mas akan masuk ke dalam masalah besar kelihatannya. Sudah dipastikan adanya wanita nakal disini untuk merusak reputasi mu Mas dan aku yakin itu mereka ingin adanya publikasi yang dibuat viral, dan pikir sajalah dampaknya. Mas, Walau bagaimana pun dia yang sudah jadi pasangan mu semalam itu sudah menyelamatkanmu Mas. Disini justru dialah yang paling dirugikan apalagi dia masih perawan." " Ya, aku juga sudah merasa hal itu, tidak mungkin mereka hanya ingin aku berhubungan dengan seorang gadis saja pasti ada hal dahsyat yang lebih mereka inginkan, apa kau menemukan siapa yang mengerjai ku". " Ada beberapa laki laki disini dan dua wanita yang berseliweran seperti mencari sesuatu. Yang satu Wanita adalah wanita nakal itu, ia kelihatan memegang foto dalam ponsel dan terus menyusuri pintu pintu kamar bahkan ada yang dia ketuk ternyata yang membuka wanita paruhbaya. Jadi aku pastikan dari pandangan dan interaksi nya pada kondisi disitu wanita itu yang direncanakan untuk mu. Ada tiga lelaki disini satu jika Mas ingat Anton yang badannya gempal kemarin ikut juga ditender terakhir proyek pengadaan instalasi listrik di apartemen, tapi disini bersama seorang cewek berbaju merah seksi. Feeling ku dia yang mengerjai wanita pasangan mu. Dan dua orang lagi adalah supir Giovani Ardan dan satu lagi aku kurang kenal". "Giovani Ardan, tapi dia salah seorang penyandang dana acara selain aku dan dia di dalam ruangan acara bersama ku sampai kepalaku terasa sakit setelah minum minuman yang dibawa pelayan. Ya , beberapa kali kita unggul dari dia dalam memenangkan proyek strategis, coba perhatikan lagi. Mungkin ada bukti lain yang mendukung bahwa dia terlibat mengerjai aku di acara tersebut.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN