Acara makan malam dengan rekan bisnis pun terlaksana. Pak Darmansyah customer utama produk rekayasa besi baja keluarga Farouk, datang bersama istri dan kedua anaknya. Dua wanita sebaya Salman dan Fahri hadir di balutan busana simple terusan tanpa lengan dan panjang selutut.
Fahri, anak kedua keluarga Farouk hadir di waktu yang tepat acara makan malam akan berlangsung. Ia tampil ramah tapi tampak letih sehingga ketika makan malam berakhir dengan mudah meminta maaf dan permisi untuk tidak menemani koleganya tersebut dan naik ke kamar untuk istirahat.
Salman yang tertinggal mau tak mau harus ikut kedua orang tuanya menemani keluarga tamu mereka dengan ramah. Kedua putri mereka dengan dandanan wajah lengkap walau terlihat natural cukup banyak bercerita tentang kehidupan mereka di Boston tapi tanpa menyentuh pendidikan yang mereka ambil disana.
Sedang Salman cukup tenang menceritakan status kelulusan nya empat tahun yang lalu dari sebuah kampus swasta terkenal dalam negeri dengan konsentrasi jurusan yang diambilnya. Dan sekarang masih merintis bisnis properti yang dipercayakan Papa padanya.
Salman merasa ada rasa sedikit pandangan meremehkan dari kedua gadis tersebut. Padahal tidak sedikit pun aspek bisnis dan pengetahuan dari pendidikan mereka yang terbias di pembicaraan. Hanya lingkungan pergaulan dan acara pesta saja yang mereka bicarakan sehingga pembicaraan terasa menjenuhkan bagi Salman.
Tiba tiba ponsel Salman berdering seakan menyelamatkannya dari kondisi tersebut. Ia permisi untuk menjawab panggilan dari asistennya pergi keluar dan membawa mobilnya menghindari rumah.
Hah.. lepas untuk sementara, yang penting aku sudah membuat Mama tersenyum berbincang dan paling sebentar lagi pulang, batinnya. Lalu memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah cafe memesan minuman dan menunggu kedatangan Irwan.
Tak lama Irwan datang dan mereka memilih duduk di pojokan.
" Mas, aku belum bisa mendapatkan info tentang gadis yang bersama mu, kecuali nanti kita dapat berbicara pelan pelan dengan Anton. Hanya saja berat karena Anton lah yang meletakkan obat perangsang tersebut ke minuman gadis tersebut sebelum diserahkan pada pelayan.
Karena aku mendapatkan pelayan yang mengantarkan minuman ke Gadis itu tapi dia lupa namanya karena ada beberapa orang yang dia antarkan minuman selama acara. Dan dia tidak mengantar ke wilayah bagian depan katanya".
" Oh iya masa aku menjadi lupa, aku menitipkan pesan agar dibawakan Orange juice pada Sisi. Dan Sisi membawa minuman kepada ku bersama Giovani yang sebelumnya permisi ke toilet. Tapi tak mungkin Sisi mengkhianatiku bukan. Besok di kantor kita tanyakan padanya." kata Salman sedikit marah tapi dia juga tidak bisa menduga duga.
Sisi adalah sahabat Salman yang ikut bekerja pada perusahaan properti miliknya, ia ditempatkan di keuangan kedekatannya ke Salman hampir sama dengan hubungan Salman dan Irwan.
" Menurut mu jika ini terbukti perbuatan Giovani apa aku harus melaporkanya ke Polisi Wan".
" Jika Giovani terus menolak tentu ya Mas tapi Mas harus menemuinya dulu menanyakan apa motifnya dan mempertimbangkannya. Di samping aspek moral, Mas tidak dirugikan apa apa karena rencana itu boleh dikatakan gagal Mas .
Oh ya tadi kami juga mendapatkan wanita nakal yang akan direncanakan mendampingimu dan direkayasa untuk merekam hubungan yang terjadi nantiinya untuk publikasi dan laki laki yang bersama supir Giovani adalah orang yang membawa wanita tersebut.
Wanita itu mendapatkan kemarahan besar dari Giovani tapi bagaimanapun mereka tidak tahu ada dua rekayasa di disini dan ada alur yang berbenturan dari keduanya yang tidak Giovani sadari. Lain hal nya dengan Anton kelihatannya ia menyadari ada kesalahan, terbukti ia dan seorang wanita yang aku ceritakan tadi menyusuri lorong kamar kamar bahkan menempelkan telinga ke pintu kamar, apalagi kalau tidak mencari wanita tersebut.
Kerugian terbesar adalah ditanggung gadis yang Mas gauli apa ia akan hamil karena peristiwa itu. Itu yang akan menjadi konsekuensi Mas disini".
" Astaghfirullahaladzim. Wan mengapa aku tidak terpikir hal itu. Aku hanya merasa sudah merenggut kesuciannya, tapi tak terpikir ia akan hamil karena aku.
Tolong aku Ir, menemukan gadis itu".
Salman hampir menangis membayangkan ucapan Irwan. Sebagai muslim ia paham bahwa jika sampai gadis itu melahirkan anak dan walau mereka menikah tetap saja, jika ia perempuan maka ia tidak bisa menikahkan anaknya karena nasabnya ada pada ibunya. Ia merasa sudah menzolimi gadis tersebut dan anak kandung nya sendiri".
"Maka itu Mas kita harus tegas pada Giovany panjang akibat yang ia perbuat. Mungkin jika rencana itu berhasil wanita nakal itu pasti tidak akan membiarkan dirinya hamil dia pasti sudah siap sedia dengan kontrasepsinya, tapi Mas akan mendapat konsekuensi viralnya video m***m Mas dan ini berdampak ke seluruh keluarga Mas. Jadi bisa saja ini dendam keluarga bukan semata dendam pada Mas Salman seorang."
"Ok, Irwan, besok kita menemui Sisi, sepertinya memang Giovani yang pasti terlibat, tapi belum tentu ia sendiri. Aku mau mereka mengetahui dampak atas permainan mereka dan merasakan perasaan bersalah seperti yang kutanggung saat ini",
Salman pun pulang dengan perasaan gundah gulana dan hampir saja ia mengeluhkan takdir yang menimpanya saat ini padahal bukan karena hatinya busuk akan memperkosa seseorang. Tapi karena rezeki yang datang padanya membuat orang iri . Astaghfirullah, batin Salman berarti Engkau sedang mencoba ku ya Allah. Ampuni lah aku dan Mampukan lah aku menghadapinya.
**
Dua minggu sudah berlalu dari kejadian tersebut, selama itu pula Anggi hanya bersembunyi di kamarnya. Beberapa kali Ardi datang namun ia menyuruh agar Mbok Inah mengatakan ia pergi dan tidak tahu kemana.
Tante Nia dan Karenina sudah di usir Ayahnya, pada hari kejadian tersebut tapi beberapa kali mereka datang dan mencari tahu apa yang terjadi dengan Anggi, hingga akhir nya mereka menyimpulkan sendiri bahwa malam itu aku sudah melakukan hal terlarang bersama seorang pria.
Bukannya merasa bersalah Karenina malah mencibir Anggi, dan mengatakan hal itu akibat dirinya yang sok konsentrasi pada perkuliahan sehingga di goda lelaki langsung mengikuti dan meninggalkan nya sendiri di acara itu, padahal dia dan Anton yang telah memberi minuman padanya hingga ia tidak bisa fokus dan kehilangan kendali tubuh serta rasa sakit yang amat sangat mendera kepalanya.
Anggi tidak ingin menanggapi perkataan Karen yang manipulatif di sadar Karen hanya ingin tahu dengan siapa ia malam itu. Pramudya yang pada saat Itu ditelpon oleh Mbok Inah memilih pulang dan melihat bagaimana anaknya di bully oleh mantan istri dan anak tirinya, ia lalu melempar semua pakaian yang tersisa dan menjadi alasan bagi mereka datang kembali.
Sebelum pergi Karen menunjukan foto dimana dia bersama Ardi dalam salah satu acara dan berkata Ardi sudah kembali padanya jangan berharap lagi karena pasti sekarang Anggi bukan lagi perawan dan mungkin sedang mengandung anak haram.
Hal ini membuat Pramudya marah dan menolak Karen dan Mamanya keluar hingga tersungkur dan Pram mengunci pintu serta ia menelpon satpam perumahan dan menegaskan bahwa ia tidak memiliki hubungan lagi dengan kedua orang tersebut agar jangan lagi mengaitkan kedua ibu dan anak tersebut dengan keluarganya.
Sebenarnya bukan semata kasus anak nya yang membuat Pramudya murka tapi ia sendiri sudah pernah menerima panggilan dari Beni yang memberinya sebuah alamat dimana ia melihat sendiri Nia istrinya bersama mantan suami, ayah dari Karenina bercengkrama seperti hal nya suami istri berbicara tentang masa depan keluarga mereka. Jadi buat apa lagi dia memaklumi tingkah Nia yang jelas jelas mempermainkan perkawinan yang jelas mempunyai sisi sakral.
Setelah peristiwa tersebut, membuat Anggi semakin terpukul dan mengurung diri hingga mata nya bertumpu pada kalender dimana ia mencatat kedatangan tamu bulanannya, dan bulan ini ia sudah telat dua minggu.
Dengan hati tak menentu, Anggi bermaksud membeli beberapa buah test pack , alat tes kehamilan. Namu ketika akan keluar rumah dia melihat dua orang lelaki menuju pagar rumah nya, seorang dari mereka Anggi kenal sebagai Anton teman Karenina yang memasukan mereka ke acara tersebut.
Anggi masuk kembali ke rumah dan langsung meminta Mbok Inah untuk mengatakan pada tamu mereka seperti hal yang sudah sudah, bahwa ia sudah tidak tinggal disini. Anggi juga akhirnya memesan beberapa buah testpack secara online dan hari itu ia mendapat kepastian ia hamil.
Anggi bingung tidak mungkin baginya bersembunyi sepanjang waktu untuk itu dia dengan berat hati ia menelpon kakak sepupunya Koh Richard setelah memastikan dengan chat ia mau menerima panggilan dari Anggi.
" Hallo Gi, ini Koko ada apa? "
" Hallo Ko, maaf Anggi, bantu Anggi Ko untuk tinggal di Singapura Anggi ada masalah dan tak bisa untuk tetap tinggal disini", Anggi menangis dan menjelaskan kondisi nya, sebelumnya Anggi sudah membicarakan rencananya mengambil kuliah S2 di Singapura, tapi kini ia sedang down tidak ada yang diingat nya mengenai hal tersebut ia hanya berpikir untuk pergi jauh ke tempat dimana orang lain tidak mengenalnya.
" Anggi sayang, tenang lah dek bukankah kita sudah berencana untuk S2 mu, sudah bagaimana? Jika belum ada jawaban dan kamu suntuk di sana datang saja kemari nanti Koko jemput di Bandara", jawab Koh Richard dengan tenang. Namun bukannya tenang Anggi justru menangis dan menceritakan kisahnya.
Mendengar cerita Anggi ia terkejut dan bermaksud mengajak Anggi liburan dulu. Ia tidak ingin menekan Anggi. Peristiwa itu jelas kesalahan kakak tiri Anggi, hanya buntut nya sangat panjang. Bila dilaporkan kepolisian maka akan ada penyelidikan yang membuat banyak pihak tahu kusah tersebut, bukannya mendapat solusi Richard yakin Anggi akan semakin tertekan.
Dan la bila ia mengejar orang yang sudah menggaulinya, orang tersebut saja dalam keadaan tidak sadar tetap saja ujung ujung nya penyelidikan bahkan bisa saja pihak yang dirugikan akan menjadi lebih dirugikan. Richard sedih memikirkan adik nya tersebut walau bagaimanapun Anggi sudah seperti Adik kandungnya mengingat mereka sama sama anak tunggal. Ia memilih menghibur Anggi dengan menjauhkannya dari situasi yang akan menekan Anggi, yaitu berlibur ke tempatnya.
Richard adalah kakak sepupu Anggi anak dari abang kandung ibu Anggi yang sudah meninggal dunia. Richard sudah bekerja di Singapura selama lima tahun tapi ia memang lulusan salah satu universitas terkemuka di Singapura sehingga memiliki kemudahan untuk berkarir disana. Anggi selalu ingin seperti Koko nya dan Ayah nya. Koh Richard mengambil jurusan arsitektur dan Ayah Anggi adalah sarjana teknik sipil.
Anggi tidak ingin terlalu memberatkan Koko nya. Tapi untuk awal ini tentunya ia akan sangat banyak meminta pertolongan Koh Richard.