Anggi segera menelpon Ayahnya
"Assalamualaikum Yah, Anggi hari ini ke Singapore ya ikut penerbangan sore, nanti di sana di jemput Koh Richard.
"Kok mendadak sih Gi, Ayah masih banyak kerjaan gak bisa anterin kamu ke Bandara",
" Ngak apa Yah, toh Anggi cuma bawa koper kecil doang",
" Ok lah tapi ingat sampai Bandara telpon dan sampai ke Changi juga telpon Ayah takutnya Richard belum nyampe di sana".
" Anggi sudah info kok, tiketnya jam berapa jadi Koh Richard bisa mengatur jamnya".
" Iya nak, ingat jangan terlalu sedih masih banyak yang bisa dilakukan untuk hidup mu, ya sayang", Anggi mendengar suara Ayah yang bergetar.
" Iya yah, Anggi sayang Ayah, hanya sekarang ini Anggi butuh jauh dulu , Anggi butuh lingkungan baru". jawab Anggi menutup panggilan dengan salam.
**
Ketika keluar pesawat Anggi melihat ponselnya sudah otomatis menyesuaikan dengan waktu Singapore, namun untuk jam tangan dia tetap memakai waktu Indonesia yang hanya berselisih satu jam saja.
Anggi pun keluar dari Area kedatangan dan mengambil ponselnya untuk menelpon Koko nya.
"Anggi", terdengar suara memanggil dari arah belakang, Anggi memutar tubuhnya, dilihatnya Koh Richard bersama seorang wanita cantik berkerudung dengan style formal berjalan ke arahnya.
"Koh Richard sudah lama disana? ", tanya Anggi yang merasa ia tidak melihat dengan seksama kok bisa ia melewatkan mereka.
" Gak juga, kenalkan ini Mahera nanti kamu tinggalnya dengan Mahera dulu ya dari pada ke penginapan. Unit Koko juga dekat dengan unit Mahera ", Koh Richard langsung menjelaskan dimana Anggi harus bermalam. Kelihatannya Mahera masih hampir sebaya dengan Koh Richard.
" Anggi panggilnya apa? Kak Mahera? ", kata Anggi langsung ke Mahera.
" Boleh juga seperti Itu", Mahera tersenyum. Kelihatan Mahera, seorang yang ramah dan senyumnya tulus. Apa dia pacar kak Richard ya? , pikir Anggi.
" Anggi, Koko sudah muslim, rencana Koko dan Mahera akan menikah bulan depan".
"Alhamdulillah, semoga semua lancar , nanti Anggi minta cerita lengkapnya". Koh Richard tersenyum mengambil koper Anggi dan mereka pun antri untuk mendapatkan taksi.
Sesampai di apartemen Mahera, koh Richard menunjukkan apartemen nya 3 unit dari apartemen Mahera, dan ia permisi sebentar ke apartemen nya setelah itu kita makan di foodcourt bawah kata nya lagi. .
" Kak, Mahera asli Singapore ya kak", Anggi tidak tahan lagi ingin membongkar informasi tentang Mahera.
" Aku, warga negara Indonesia kok dek hanya saja Ayah keturunan Pakistan dan Ibu ku orang Bogor. Kakak dan Koko mu satu SMA dulunya. Ketika Koh Yusuf sudah setahun di sini, kakak mengunjungi saudara yang menikah kebetulan sudah warga negara Singapore, disitulah kakak bertemu Koh Richard.
Sebenarnya Koko kakak kelas ku, dia kelas tiga kakak kelas satu. Dan kata Koko dia sudah menyukai kakak sejak di SMA hanya kan aqidah kita berbeda jadi Koh Richard hanya senang melihat dari jauh saja entah mengapa sepulang kakak ke Indonesia dia sering menelpon kakak dan suatu ketika dia menawarkan satu lowongan pekerjaan di perusahaan tempat temannya bekerja dan kakak pun coba melamar dengan posisi sama dengan pekerjaan kakak di Indonesia.
Ya, dengan panduan Koh Richard kakak bisa lolos interview dan diuruskan izin kerja oleh perusahaan tersebut dan akhir nya bekerja disini.
Selanjut nya kami sering bertemu dan berdiskusi baik pekerjaan maupun masalah agama. Itulah akhirnya enam bulan yang lalu Koko muslim dan memperkuat keyakinan nya dan mendapatkan restu orang tua. Syukur Alhamdulillah kami sepakat bulan depan menikah. Rencana akan akad nikah di Indonesia dek.
" Selamat ya Kak, mudah mudahan diberi kemudahan seterusnya", kata Anggi tulus.
" Terima kasih dek, Insya Allah Anggi pun nanti diberi jodoh yang baik dan diridhoi, maaf kakak mendengar cerita mu dari Koh Richard, kakak tak tahu apa yang menjadi solusi terbaik, tapi berprasangka baiklah selalu ke Allah, Insya Allah Anggi akan di tuntun ke arah solusi yang diridhoi. Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hambanya untuk itu pasti banyak hikmah atas ini semua, yang akan Anggi dapat.
Maaf dek,, memang kakak hanya bisa memberi nasehat padamu belum tentu mampu seperti dirimu. Tapi sekali lagi yang kakak pelajari yaitu tadi, i Allah akan memberi cobaan dan ujian sesuai kemampuan umat nya. Insya Allah Anggi mampu". Mahera menguraikan nasehat nya dengan pandangan lembut dan berkaca kaca pada Anggi. Ia pun memeluk Anggi dan Anggi pun tidak mempunyai keraguan lagi memeluknya.
"Terima kasih kak, bisa membimbing Koh Richard dan kini kakak menerima lagi diri Anggi yang mungkin akan meminta banyak bantuan dari kakak", kata Anggi terisak dari sejak kejadian tersebut baru ini Anggi dapat menangis dan bertumpu pada bahu wanita yang mungkin akan lebih mengerti bebannya setelah ayahnya.
"Teeeet.. Teeeet..", bunyi bel di pintu masuk.
" Mungkin itu Koh Richard sudah kembali",
Anggi melangkah ke pintu dan membukanya.
"Assalamualaikum", sapa Koh Richard melihat Anggi dengan mata sembab.
" Waalaikumsalam" , kata Anggi yang melihat Koko nya lebih segar dan wangi.
" Kok belum bersiap, kita cari makan malam ke bawah aja, ada foodcourt di lantai bawah, Ayo Anggi bersiaplah, mana kak Mahera?", Richard masuk dan langsung duduk di sofa kecil ruang tamu. Dan menunggu kedua wanita tersebut berbenah diri.
" Ayo kak, Anggi Ayo nggak usah terlalu rapi kita hanya ke lantai dasar", kata Mahera memanggil Anggi yang kemudian muncul sudah berganti baju yang lebih santai dan kerudung ya yang menutupi hingga bawah pinggang.
" Sudah lama Anggi memakai hijab, dek?", kata Richard, dari awal ia sempat ragu karena setahunya adik sepupunya tersebut memang belum berpakaian tertutup, walau tidak pernah berbaju seksi.
" Sejak kasus ku itu Ko, dua minggu, entah benar atau tidak niat Anggi ini yang pertama di benak Anggi adalah menjadi sosok yang beda dan berada di lingkungan yang beda pula. Selanjut nya Insya Allah Anggi dapat memperbaiki niat menjadi yang seharusnya yaitu ikhlas menutup Aurat", kata Anggi melihat pada keduanya dengan tersenyum.
" Ok dek, Bismillah", kak Koh Richard keluar dan menunggu didepan pintu karena Mahera mengunci unit nya terlebih dahulu.
Suasana Foodcourt cukup ramai, banyak diantara pengunjung masih menggunakan busana kerja. Koh Richard mengajak ke sebuah stand halal yang menjual Nasi Ayam aneka rasa ada Ayam bakar, Ayam Goreng bahkan Ayam rendang. Masing masing mereka memesan menu.
**
Sepulang makan malam, mereka kembali ke unit kak Mahera.
"Anggi maaf, apa kamu tidak mengenal lelaki yang di jebak bersamamu", tanya Richard.
"Tidak Koh, mungkin dia juga datang ke acara yang Anggi datangi itu, tapi masalah nya kepala Anggi benar benar sakit. Ketika sadar Anggi pun masih merasakan sakit kepala amat sangat tetapi sensasi panas sudah mulai hilang apalagi ketika tubuh diguyur air dari shower sakit sekali awalnya. Dan lama lama seperti kepala yang di pijat mulai agak enakan.
Anggi malu Koh, sepertinya di juga seperti Anggi di beri obat soalnya. Tidak ada pembicaraan sedikit pun hanya maaf kan aku. Sehabis mandi sebenarnya agak segaran tapi sekali lagi Anggi malu kak, sempat ingin melihat wajahnya tapi karena ia tertelungkup jadi kan susah akhirnya Anggi tinggal saja keluar. Hemm.., Anggi ada memfoto tapi sulit wajahnya sambil berjaga jaga takut dia bangun. Tapi ketika di rumah Anggi lihat lagi juga gak bisa kenal dia siapa.
Tapi Anggi yakin dia itu dikerjai, hanya saja apa tujuannya mengerjai nya dengan Anggi? Kalau dia kenal Anggi atau Anggi kenal dia mungkinlah. Lagi pula jika ingin membuat malu orang atau memviralkan masak Anggi yang dipilih Koh kecuali orang itu benar benar mengenal dan membenci Anggi memang kak Karen tidak suka dengan Anggi dan selalu iri tapi apa mungkin harus sejahat ini", Anggi pun menangis.
Mahera memeluk Anggi, dan mengusap punggungnya.
" Jika Anggi mau menuntut laki laki yang bersama Anggi, apa mungkin ? apa semua akan berjalan lancar, dia mau tanggung jawab dan lalu menikahi Anggi, anggaplah mungkin dia mau bagaimana keluarganya? Apa nanti tidak ada drama mengatakan Anggi lah yang menjebaknya atau menurut dengan terpaksa lalu hari hari Anggi di keluarga itu pasti tak menyenangkan karena pernikahan yang direncanakan orang lain sedang kita tak saling mengenal.
Pastilah banyak lagi kak hal hal yang akan merumitkan hidup Anggi dan bila anak ini lahir mereka gak suka. Kasihan anak yang tak berdosa. Biar Anggi saja yang memeliharanya Koh. Kak Mahera sebagai wanita pasti paham apa yang Anggi rasakan".