Anggi pun akhirnya menghapus air matanya.
" Koh Richard, maaf ya jika kedatangan Anggi terasa penuh dilema. Anggi hanya ingin penuh semangat sekarang ini. Jika dirumah sana Anggi akan sedih melihat Ayah yang termenung memikir kan masa depan Anggi dan Kak Karen pun masih kadang mengganggu.
Terakhir ia datang justru membully Anggi yang selama ini hanya aktif akademis sehingga nggak ngerti pergaulan dan mudah terpengaruh laki laki b******k. Pada hal kan ini semua karena tingkah nya yang memaksa Anggi untuk ikut Acara dan memberikan obat di minuman Anggi dan ini terbukti di CCTV dan pengakuan pelayan yang mengantarkan minuman.
Koh, Anggi tau hidup di Singapura mahal, dan Anggi punya tabungan walau sedikit dan Ayah juga ada menyiapkan dana untuk Anggi. Tapi karena kasus ini dan memang aturan yang ada di Singapore lebih ketat dari negara kita Anggi betul mengharapkan bantuan kalian mendampingi Anggi hanya kalian keluarga Anggi disini. Ya kak Hera", Kata Anggi dengan erat menggenggam tangan Hera.
" Memang semua butuh dana dek tapi bukan itu yang membuat Koko sedih, walau bagaimanapun Anggi adalah adik Koko satu satu nya. Di kasus mu sekarang Koko menjadi malu nggak bisa membela mu. Padahal Koko sudah janji pada Tante Reina untuk selalu menjaga adikku, begitu juga Papa selalu mengingatkan untuk selalu menelepon dan menanyakan keadaanmu. Papa pasti nggak.tahukan hal ini Anggi? " , Koh Richard berkata sedih.
" Nggak Koh Anggi nggak sanggup bilang sama A Ku (om) dan A Kim (Tante), sudah lah nanti Koko saja yang pelan cerita tentang kasus Anggi tapi jangan cerita Anggi terpuruk Anggi mau semangat.
Satu lagi Koh Richard, tadi sewaktu menunggu pesawat Anggi menelpon Ayah, katanya ada dulu Ibu membeli dua petak tanah dari temannya yang kepepet uang di pinggiran kota sudah lebih dua puluh tahun yang lalu. Beberapa tahun kemudian Ibu mengatakan itu tanah satu untuk anggi da satu untuk Koko.
Ayah tidak mau ikut campur masalah itu dan menyangka ibu sudah memberkannya ke Koko. Tapi tahun lalu ternyata ada pembebasan tanah untuk perumahan dan pertokoan ternyata hanya tanah Ibu yang belum menyetujui sekelilingnya sudah ayah dan dua bulan lalu ayah sebagai ahli waris ibu menandatangani pernyataan setuju ketika mencari sertifikat nya Ayah melihat catatan kecil nama kita tertempel disertifikat Ayah jadi ingat tapi karena sudah menandatangani Ayah bermaksud menyelesaikan dulu baru memberitahukan ke Koko, uang nya sudah cair kemarin ini foto foto setifikat sebelum diserahkan dan ini serah terima sertifikat, nilai penggantian dan biaya biaya terkait yang di bebankan. Ayah meminta nomor rekening Koko dan pembayaran dari pengembang itu pertahap jadi nanti transfernya juga bertahap. Ayah minta maaf atas kelalaian ini semata mata karena Ayah tidak mau ikut campur awalnya dan kealpaan Ibu menyerahkannya kee Koko mungkin sudah pernah di bicarakkan tapi belun sempat di laksanakan.
Semoga Koko tiddak berkecil hati kata Ayah", Anggi menyampaikan pesan Ayahnya dengan pelan karena ia paham kalau ini sudah pernah di bicarakan Ibu, ini bisa jatuhnya hutang karena itu akan menjadi hak Koko nya. Anggi juga mengirimkan semua foto berkas terkait yang di krim via chat oleh Ayahnya.
" Masya Allah Anggi, tak mungkin Koko berkecil hati atas rezeki ini mungkin A Ko memang belum sempat membicarakan nya tapi Allah sudah memanggilnya. Koko malah sangat berbesar hati atas rezeki ini", kata Koko dengan wajah berseri. Iya langsung menelpon Ayah Anggi, mengucapkan terima kasih karena mau mengurus hal tersebut.
Richard memang sedang mengumpulkan dana untuk acara pernikahannys di Indonesia dan sedikit acara kecil di Singapore untuk teman temannya dan teman teman Mahera. Tentu saja rezeki tidak terduga ini sangat membantu nilai lebih dari 2M tiba tiba hadir tidak terduga.
Ia bersyukur pada Allah, karena dana yang mereka harap kan saat ini masih belum ke luar bahkan masih ada beberapa fase pekerjaan terkait yang belum selesai. Ia bahkan sudah menelpon Mama nya kemungkinan untuk menunda acara.
" Alhamdulillah, Mahera Insya Allah kita bisa meminta Mama mulai menyiapkan acara kita", ucap Richard pada Mahera. Dan Mahera pun tak lupa mengucapkan terima kasih pada Anggi dan Ayah nya.
Sebenarnya Papa Richard sudah mengatakan akan membantu membiayai acara mereka tapi keputusannya menjadi muallaf dan menikahi Mahera membuatnya sungkan untuk membebani Papa dan Mamanya. Ia bahkan berprinsip akan membiayai kehidupan orang tuanya karena merasa sudah masanya mereka beristirahat karena selama mereka berusaha membiayai sekolah dan biaya hidup nya di Singapore.
Selesai menelpon Om nya ayah nya Anggi. Richard pun menelpon orang tuanya, dengan menggunakan bahasa Hokkien seperti biasanya, menceritakan keinginan A ko nya yang baru disadari Om nya ketika melihat sertifikat tanah yang disimpan A ko. Dan Richard juga akan meminta Om Pramudya mentransfer dana tersebut kepada Papa nya. Papa nya menolak tapi Richard memaksa karena bukan nya Richard mengingatkan tidak ingin pesta yang besar jadi sebahagian saja dan biarkan Papa juga punya andil di acara tersebut.
Sementara Richard menelpon Papa nya. Anggi dan Mahera sibuk berbicara tentang pekerjaan.
" Sebenarnya bahwa kantor nya mempunyai cabang di Batam dan sedang mencari orang untuk penempatan di sana" kata Mahera pada Anggi ketikaa berkata ingin bekerja aja dulu karena dia membaca ada program S2 yang mensyaratkan pengalaman kerja dengan konsentrasi sejenis sebelum melamar ke jenjang S2.
" Aku mau kak, apa masih buka dan memasukan lamaran. Atau aku kerja aja kak, nggak usah S2. Toh aku akan punya anak dan oastii menyita waktu. Nanti anakku tidak terurus".
" Aduh aku lupa kamu hamil ya. Aduh senangnya, nanti jika kakak belum punya anak bisa pinjam tidur dirumah ya Gi.
Coba aja Gi, kontrak nya cuma enam bulan jadi bisa saja nggak kelihatan tapi kamu harus kuat dan sehat nanti susah kalau kecapekan", kata Mahera.
Richard yang mendengar sekilas pembicaraan keduanya jadi tidak beriku konsentrasi. Ia kemudian meminta memutuskan pembicaraan terlebih dahulu karena masih di unit Mahera sehingga tidak enak jika terlalu malam dan Papanya menyetujui memutuskan perbincangan mereka.
Richard lalu mendekati kedua wanita tersebut.
" Koko nggak setuju kalau Anggi ke Batam sendiri. Apa kata Om Pram nanti, om Pram menitipkan Anggi ke Koko bagaimana pula mengatakan kalau Anggi akan kesana sendiri",
" Ko Batam itu dekat Koko dan Kak Hera bisa sebulan sekali kalau gak keberatan mengunjungi ku, Lagipula untuk sekarang ini pasti sulit bagi Anggi untuk mencari pekerjaan di sini , nanti setelah Anggi melahirkan nan si kecil sudah bisa ditinggal maka Anggi akan punya pengalaman mungkin bisa bekerja lagi diperusahaan tersebut.
" Aduh Anggi, bagaimana mungkin Koko bisa meninggalkan kamu dalam keadaan Hamil disana".
" Kalau memang diterima, Ko gimana kalau Anggi minta Bi Imah menemani Anggi. Koko tenang ya Anggi akan bicara hal ini ke Ayah, kak Mahera bantu Anggi dong biar keterima", kata Anggi memohon pada Mahera.
Mahera yang melihat kecemasan calon suaminya tadi jadi merasa ragu dia hanya diam melihat ke Richard.
" Ya udah, tapi harus bicara dulu pada Ayah mu Anggi, jangan sampai sudah di Batam baru di omongin besok Koko yang akan bicara ke Om Pram" , akhir nya Richard memberi solusi.
" Jangan, harus Anggi dulu yang bicara ke Ayah, nanti kalau Koh Richard pasti dicerita susahnya. Jangankan di kasi yang ada Anggi malah disuruh pulang", kata Anggi memajukan mulut nya menunjukkan kondisi merajuk yang biasa ia lakukan ke koko nya.
" Iya, kalau begitu, Koko pulang dulu, istirahat langsung ingat kamu sedang hamil, besok malam kita antar dia untuk periksa ke dokter Mahera", kedua nya mengangguk dan mengantarkan Richard ke depan pintu.
**
Keesokan harinya, Mahera bersiap untuk pergi ke tempat kerja, biasa nya ia akan di jemput Richard kemudian bersama sama menuju stasiun MRT terdekat. Biasanya Mahera akan turun dulu karena tempat kerjanya lebih dekat.
Sebelum berangkat biasanya Mahera akan membuat bekal sederhana untuk ia dan Richard sarapan karena biasanya semua serba terburu buru. Ia juga memberi kan email perusahaan nya yang digunakan untuk melamar pekerjaan yang mereka bicarakan tadi malam. Dan Richard mengingatkan untuk menelpon Ayah Anggi juga siang ini. Karena ia pun akan memastikannya dengan menelpon Om nya malam harinya.
" Anggi jangan Capek banyak istirahat, yah jangan bersedih semangat saja untuk hidup lebih baik, ya dek, makan pastikan. Tadi di kulkas Mahera kaka lihat ada sayur dan Ikan, dapatkah diolah dulu, dirumah saja dulu jangan keluar di kehamilan muda biasanya memang harus super hati hati. Malam kita periksa , tolong Mahera booking no antri dulu di klinik yang terdekat saja". Richard memberikan arahan nya yang disambut anggukan oleh Anggi dan Mahera.
Sepeninggal keduanya. Anggi pun mengambil ponselnya. Ia pun telah menscan semua dokumennya dan menyimpannya dalam sebuah folder dan email.
" Bismillah", ucapnya khusyu ketika ingin menekan tombol send untuk emailnya.
Kemudian menchat Ayahnya,menanyakan sedang dimana. Apakah ia bisa menelponnya sekarang.
Dilihatnya Chat nya sudah centang dua tapi masih abu abu belum di baca. Anggi pun membuat sarapan paginya. Ia membuat Teh hangat dan dua lapis roti selai, karena perutnya cukup lapar. Ia pun menghabiskan makanannya.
Baru saja ia memasukkan pakaian kotornya ke mesin cuci didengarnya suara panggilan dari ponsel nya. Anggipun segera bergegas mendapatkan Ponselnya di atas meja makan. Terlihat panggilan dari Ayahnya ternyata.
" Assalamualaikum Ayah, maaf Anggi mengganggu ", kata Anggi, memastikan ayahnya ada di proyek karena suara berisik di sekitarnya.
" Iya, ini Ayah sedang ada di proyek , ada apa nak", kata Ayah anggi sedikit berteriak.
"Yah, bagaimana kalau nanti saat Ayah sudah ada di tempat yang lebih tenang, soalnya Anggi mau berdiskusi minta pendapat".
" Ok sayang nanti satu jam lagi ayah telpon ya", lalu Pramudya memutuskan panggilan karena memang suasananya sedang riuh di proyek.
Anggi mengambil dompetnya ia melihat semalam di bawah ada sebuah mini market dan bermaksud membeli jajanan karena perutnya terasa masih ingin diisi. Untung sebelumnya Anggi sudah menukar uang rupiah nya ke dollar dengan nominal cukup besar.
**
Setelah berbelanja , Anggi membenahi dan menjemur baju yang ia cuci tadi. Kemudian ia melihat ke Jam masih kurang lima menit lagi untuk satu jam dari panggilan Ayah nya tadi.
Anggi pun duduk menunggu panggilan dari Ayah sambil mengunyah snack kentang kesukaannya. Ia membuka buka lowongan kerja di J*bstr**t, dan meng screenshot nya untuk dilihat kembali nanti.