11 Berhenti Paksa

2047 Kata
"Jadi cewek nggak punya harga diri banget sih si Grace? Mana nggak sopan gitu panggil Pak Evan pakai nama doang." "Iya. Dia pikir Pak Evan mau sama dia? Baru juga dikasih kesempatan bicara sekali udah ngelunjak." "Cewek rendahan, tinggal di kampung. Nggak level banget kali sama Pak Evan yang lulusan Oxford." Ucapan-ucapan itu semakin membabi buta diperdengarkan dalam beberapa hari berikutnya. Bukan hanya di belakang Grace, tetapi juga di depannya. Ia semakin merasa muak dijadikan bulan-bulanan. Emosinya hampir-hampir meledak dan fokusnya jadi sempat teralihkan. Namun ia masih bisa menahan diri untuk memproklamirkan dirinya sebagai sahabat lama Evan. Beruntung Mario adalah manajer yang bijaksana. Sedari awal ia sudah menciptakan atmosfer baik di departemen HRD. Saat di luar ada desas-desus yang buruk mengenai Grace, kantornya adalah tempat yang aman baginya. Para staf di sini juga tidak asal menilai dan menimbrung dalam gosip tak penting. "Grace, boleh ikut ke ruangan saya?" Mario menghampiri Grace setelah membahas pekerjaan dengan beberapa staf HRD. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Grace menurut. Ia berjalan bersama sang manajer menuju ke ruangannya. "Ada yang perlu dibahas, Pak?" tanya Grace ketika duduk di hadapan Mario. Mario mengangguk. "Kamu baik-baik aja?" Pertanyaannya sama sekali tidak diduga oleh Grace. "Kamu kelihatan pucat." Grace tersenyum simpul. "Baik kok, Pak. Pekerjaan saya juga sudah beres semua. Atau mungkin Pak Mario menemukan sesuatu yang salah dan saya perlu perbaiki?" tanyanya. "Enggak, enggak." Tangan Mario melambai menandakan tidak ada kesalahan dalam pekerjaannya. "Saya cuma mau memastikan kamu baik. Kamu adalah asisten saya." Dengan menghela napas panjang, Grace menyahut, "Makasih, Pak. Tapi Bapak nggak perlu khawatir tentang gosip yang ada. Selama ini mereka juga begitu ke saya kan?" "Yakin?" Mario menatap Grace dengan serius untuk memastikan. Ia tahu bahwa asistennya terlalu brilian sedari awal sehingga banyak orang ingin menjatuhkannya. Hanya saja Grace kini tampak sedikit berbeda daripada biasanya dalam penglihatannya. Grace mengambil waktu sejenak untuk terdiam. Ia memikirkan perkataan Mario, menelaah perasaannya sendiri. "Ya, saya pikir begitu," katanya pada akhirnya. "Oke. Tapi boleh saya tahu kenapa kamu bersikap seperti itu ke Pak Evan? Saya yakin ada alasan di balik semuanya. Apa kamu sebenarnya kenal Pak Evan secara pribadi?" Mario mencoba menggali lebih dalam latar belakang kejadian ini. Ia yakin asistennya bukan seorang gadis yang genit. Jika memang begitu, sudah sejak lama Grace menyambut perasaan Mario. Ada perasaan dilema di hati Grace. Ia tidak yakin apakah ia harus memberitahu hal yang sebenarnya pada Mario. Selama ini ia hanya bisa mempercayai Nita yang sudah seperti saudara sendiri. "Kalau nggak bisa kasih tahu juga nggak—" "Dia sahabat saya." Pada akhirnya Grace membuka mulut. Mata Mario cukup terbelalak mendengarnya. Tapi ia tidak langsung mengomentari jawaban Grace. "Kami bersahabat bertahun-tahun. Tapi dia harus ke Inggris karena masalah pribadi, dan akhirnya kembali lagi ke Bali. Dengan sikap yang berbeda," lanjut Grace. Matanya memandang ke meja, bukan pada yang diajak bicara. "Saya cuma mau tahu apa alasannya. Masalahnya, saya nggak bisa melakukan itu di luar kantor. Dia sama sekali membatasi saya sampai nggak ada akses untuk bicara. Jadi saya coba untuk dekati dia di kantor." "Dampaknya justru orang-orang jadi ngomongin kamu." "Ya. Tapi saya nggak bisa mencegah pikiran orang tentang ini. Sama sekali nggak mungkin saya berkoar-koar memberitahu bahwa Evan adalah sahabat saya." Grace menyatakan dilemanya. Kisah Grace terdengar personal sekali. Mario cukup bisa memahaminya. "Saya kira-kira paham masalahnya, Grace. Tapi sebagai manajer, saya pikir ada cara lain yang lebih baik supaya profesionalitas kamu terjaga di sini," katanya. "Tapi saya nggak tahu gimana lagi, Pak." Suara Grace terdengar lirih. Ia kemudian tersadar bahwa ia tidak seharusnya mencurahkan hati pada Mario. "Maaf, Pak Mario. Sepertinya saya harus kembali. Saya usahakan untuk bertindak lebih profesional ke depannya. Terima kasih untuk perhatian Bapak untuk saya." Ia bangkit dari kursinya. Mario tidak bisa mencegah Grace pergi. Ia hanya memandang gadis itu meninggalkan ruangannya. ~~~ Sekuat-kuatnya Grace mencoba menghiraukan perkataan buruk mengenainya, pada akhirnya ia tetap merasa lelah. Ritme kerjanya sedikit lebih lambat daripada biasanya. Alhasil ia harus mengambil waktu lembur untuk menyelesaikan tugasnya. Nita sudah cukup banyak membantu, maka ia tidak ingin merepotkannya lebih lagi dengan membiarkannya ikut lembur. Jam di komputernya sudah menunjukkan hampir pukul tujuh. Grace sudah mengantuk sekali. Ia harus bertahan sedikit lagi sampai pekerjaannya benar-benar selesai. Esok hari sudah ada pekerjaan baru yang harus ia tangani. HP Grace berdering cukup keras hingga mengejutkannya. Nama Anthony tertera di sana. Ia menekan tombol 'Jawab' dan menyalakan mode pengeras suara. "Ya, Ant?" "Kata Bunda kamu masih di kantor. Lembur ya? Selesai jam berapa? Aku jemput aja." Kawan sekompleks rumahnya itu memang benar-benar memperhatikannya. Grace tidak merasa ingin menolaknya karena merasa terlalu capek untuk berkata tidak. Pasalnya Anthony pasti akan bersikukuh untuk menjemputnya dan ia tidak ingin berdebat. "Mungkin setengah jam lagi. Atau lebih. Jadi kamu jangan datang terlalu cepet. Biar nggak kelamaan nunggu," pinta Grace. Ia sudah merasa tidak enak hati untuk merepotkannya. "Oke. Dua puluh menit lagi aku konfirmasi ke kamu ya. Kalau udah hampir selesai, aku jemput kamu." Anthony mengusulkan. Grace mengangguk, seolah-olah Anthony akan melihatnya. "Oke. Thanks, Ant." Panggilan berakhir, saatnya Grace lanjut bekerja. Ia harus segera menyelesaikannya. Angka beserta tulisan di depannya membuat kepalanya sudah pusing. Namun di tengah berusaha berkonsentrasi, kemarahan beserta kesedihan justru bercampur jadi satu di dalam benaknya. Ia pun mendesah gusar. Kepalan tangannya menghantam pelan mejanya. "Evan yang dulu nggak akan diem aja kalau aku diperlakuin nggak baik kaya gini. Kenapa dia harus berubah sih?" gumamnya mengeluarkan unek-unek yang selama ini hanya bisa dipendam olehnya. Grace berharap ada seseorang yang mengenal Evan dengan sangat baik seperti dirinya dulu. Sudah pasti ia akan mendatangi orang itu dan bertanya apa yang telah terjadi. Setidaknya orang itu tahu sesuatu yang tidak ia ketahui. Brak! Suara barang jatuh terdengar dari arah pintu masuk kantornya. Grace menoleh ke sana dan mendapati sesosok laki-laki sedang mengambil barang itu dan meletakkannya kembali ke meja di sampingnya. Dengan menajamkan pandangannya, Grace menangkap keberadaan sahabatnya. "Evan?" panggilnya. "Kamu ... masih di sini." Ia merasakan sedikit harapan, bahwa lelaki itu masih memiliki rasa peduli padanya. "Kenapa? Nggak boleh?" Grace menghela napas kecewa mendengar jawabannya. "Aku cuma mau cek kenapa lampu di sini masih nyala. Barangkali ada petugas yang lalai. Pemakaian listrik yang nggak perlu harus dihindari," beritahu Evan. Ia memandang Grace dengan tatapan datar. "Ngapain masih di sini? Belum selesai kerja? Kenapa? Padahal kamu menyandang reputasi pegawai terbaik yang selalu bisa menyelesaikan tugas dengan cepat." Grace menggeleng lemah. "Ada saatnya orang di titik terendahnya kan? Dan ini hari itu buat aku, Van," beritahunya. "Mungkin hari ini bisa dihindari, seandainya kamu nggak diem aja dan membiarkan orang-orang menjatuhkan mentalku." "Kamu yang mulai. Kamu juga yang harus hadapi konsekuensinya. Aku bukan walimu yang harus bela kamu. Lagi pula, bukannya itu nanti jadi lebih bikin masalah? Di mata para pegawai akan ada pemikiran kalau kamu diistimewakan. Itu nggak profesional, Grace." Evan menjelaskan panjang lebar alasan yang menurut Grace memang masuk akal. Namun Grace merasa seharusnya ada hal yang masih bisa Evan lakukan. "Seenggaknya kamu masih bisa tanya, 'Kamu baik-baik aja, Grace?' kaya dulu. Tapi kamu diem aja. Dan malahan sekarang kamu bikin aku tersudut, dan nyalahin aku tanpa mikirin perasaanku," tukasnya geram. "Kamu seharusnya bisa sedikit lebih baik ke aku. Sahabatmu." "Stop. Kita udah lama berhenti jadi sahabat, Grace." Evan menolak untuk membicarakan hubungan mereka yang lama. Grace mendengus kesal. Ia berjalan mendekati Evan. "Nggak adil, tahu nggak? Persahabatan itu melibatkan dua pihak. Gimana bisa kamu bilang kita berhenti jadi sahabat tanpa aku tahu apa alasannya?" Nada suaranya mulai sedikit meninggi. "Aku capek. Maaf, aku harus pulang." Evan memutuskan pembicaraan begitu saja dan berbalik pergi menuju ke ruangannya. Namun Grace merasa bahwa ia tidak bisa menahan lagi keingintahuannya mengenai alasan putusnya persahabatan keduanya. Ia mengejar Evan dan menghadangnya. "Minggir." "Kamu harus beritahu aku ada apa, Van." Grace memaksa. Dengan gerakan gesit Evan menghindar dan berjalan pergi dengan langkah cepat. Ia tidak ingin membicarakan kejadian masa lalu yang membuat hatinya kembali pahit. Usahanya bertahun-tahun untuk bangkit kembali dari keterpurukan mental tidak boleh hancur malam ini. Sama gigihnya, Grace mengejar Evan sampai ke dalam ruang kantornya. "Kalau kamu kasih tahu apa yang terjadi, seenggaknya aku punya alasan untuk melangkah pergi dari kamu, Van," ujarnya. "Dan alasan itu harus masuk akal." Nggak bisa. Kalau aku beritahu Grace alasan yang sebenarnya, dia pasti hancur. Sama kaya aku dulu. Aku harus bikin dia marah besar. Seenggaknya kalau dia marah sama aku, dia punya kekuatan untuk tetap berjalan. Sembari membereskan barang-barangnya, Evan memikirkan jalan keluar secepat mungkin agar bisa mendorong Grace pergi. "Jangan diem aja, Van!" bentak Grace. Ia memegang sebelah lengan Evan. Evan melepaskan genggaman Grace dengan paksa. "Ini kantor, jangan sembarangan sentuh aku. Kamu cuma asisten manajer dan aku GM," katanya. Ia menjinjing tasnya dan berjalan pergi. "Hentikan semua ini, Evan! Kamu nggak bisa membodohiku." Grace berdiri di depan Evan, mengulurkan tangannya ke kanan dan kiri. "Aku tahu kamu sembunyiin sesuatu." Evan menyilangkan tangan di depan d**a. "Jangan terlalu percaya diri. Dan tolong, tahu posisimu. Aku punya kekuatan untuk taruh orang lain menggantikan kamu." Di dalam ruangan yang sedikit remang itu, ia mencondongkan tubuh ke arahnya dan berbisik ke telinganya. "Atau, sebenarnya kamu lagi coba merayu aku? Berapa tarifmu untuk satu malam?" Setelah mendengarnya, Grace menampar wajah Evan seketika itu juga. Ia terdiam beberapa saat tidak percaya. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Kamu jahat banget, Evan. Aku-benci-kamu," katanya, patah hati. Dia berbalik dari pria itu tanpa basa-basi lagi. Evan menangis juga, melihat sahabatnya pergi. "Maafin aku, Grace. Aku harus lakuin itu. Kita nggak bisa bersama," katanya lemah. Bukannya berjalan pergi seperti yang sebelumnya akan Evan lakukan, ia justru bergeming di tempatnya. Tangannya menghapus air matanya yang mengalir. "Kalau aja aku tahu kamu kerja di sini juga, aku akan tolak tawaran kerja ini." Evan berkata-kata pada dirinya sendiri. "Aku cuma mau lihat keadaanmu dari jauh. Bukan dari deket, setiap hari kaya gini." Ia meremas rambutnya dengan begitu kesal. [February 2012] "Ma, kenapa Mama harus pulang ke Indonesia? Papa kan lagi sakit." Evan mendekati mamanya dan duduk menyebelahinya di sofa. Wanita berambut ikal coklat berpaling pada Evan dan tersenyum. "Mama ada perlu. Penting banget, Van. Kamu tunggu di sini ya sama papa. Sebulan aja kok," katanya. "Sepenting apa sampai nggak bisa ditunda, Ma? Papa operasi minggu depan. Seenggaknya tunggu sampai operasi papa selesai." Evan memohon agar mamanya tetap tinggal. Pasalnya ia merasa takut jika operasi jantung papanya gagal. Belum lagi dokter sudah menyatakan papanya mengalami komplikasi. "Aku takut, Ma." "Jangan takut, Van. Papa itu kuat. Pasti sembuh. Percaya deh sama Mama." Wanita itu membelai kepala Evan. "Mama bikinin s**u coklat ya. Biar kamu nanti tidurnya lebih nyaman." Ia beranjak dari tempatnya tanpa menunggu respons sang putra. Evan merasa tidak tenang. Ia berharap mamanya berubah pikiran. Getaran HP mamanya yang tertinggal di sofa membuat Evan menoleh penasaran. Ia melihat nama yang familiar tertera di layarnya. Diangkatnya benda persegi panjang tipis itu dan melihat pesan-pesan yang masuk. 'Kapan perceraianmu resmi?' Kalimat itu mengejutkan Evan, sampai-sampai jantungnya seakan berhenti sedetik. Ia mencoba untuk membuka kunci HP mamanya. Beberapa kombinasi angka dicobanya dan tidak berhasil. "Apa kodenya?" Evan bergumam dengan perasaan gugup bercampur geram. Pada akhirnya Evan mencoba memasukkan empat digit ulang tahunnya. Berhasil. Kuncinya terbuka. Secepat kilat ia membuka pesan tersebut dan membaca semua yang tertulis di sana. [BABY TAMA] Babe, kamu mau oleh-oleh apa dari sini? - Nggak usah. Kamu datang aja udah cukup. Yakin? - Iya lah. You're my love. Apa yang lebih penting dari kamu? Kamu emang jago deh bikin aku meleleh. - Buat kamu, apa sih yang nggak? Kamu ah. - Oh ya, ada surprise Valentine yang aku udah siapin untuk kamu. Aku juga ada surprise untuk kamu. - Hmm, apa nih? Berita baik? Iya dong. - Tentang perceraianmu ya? Yah, kok tahu sih? Nggak surprise dong. - Haha. No problem. Lebih cepat lebih baik kan? Betul juga. - Kapan perceraianmu resmi? [~] Ingin tahu dengan siapa mamanya berselingkuh, Evan melihat gambar profil pengirim pesan. Seorang pria dengan setelan hitam rapi dan di belakangnya ada lambang salah satu partai di Indonesia. Ia berpikir sangat keras dimana ia pernah melihat orang ini. Secepat mungkin Evan berlari ke dalam kamarnya. Ia mencari informasi mengenai partai tersebut di internet. Dengan memasukkan kata kunci 'anggota partai', beberapa hasil di halaman pertama di mesin pencarian muncul. Ia tidak percaya akan apa yang ia lihat. "Papanya Grace." Evan membenamkan kepalanya pada tangannya yang terlipat di atas meja. Ia menangis sejadi-jadinya dalam kemarahan. [ABY]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN