"Grace, kamu kelihatan belum sehat loh." Indah, sang bunda tampak khawatir melihat putrinya masih lemas.
Di sepanjang akhir minggu Grace paling banyak menghabiskan waktu dengan berdiam diri di dalam kamar. Paling jauh ia akan duduk di teras rumahnya. Ia berusaha memulihkan dirinya agar kenangan buruk itu tidak mengusik pikirannya. Pasalnya ia perlu fokus bekerja, terutama pada tiga bulan terakhir sebelum tahun berganti.
"Grace nggak papa, Bun. Lihat nih, udah bisa senyum lebar kan?" Grace mempertontonkan deretan gigi rapinya.
Indah menggeleng-geleng heran akan kegigihan Grace. Ia tahu betul sang putri tidak pernah ingin membuatnya khawatir. Namun yang mengherankan, gadis itu memang membuktikannya. Kesedihan yang dialaminya berlalu dengan cepat dan senyuman semringah akan datang kembali, seperti kali ini.
"Oke. Tapi pulangnya sama Anthony ya. Dia kan juga lewat tempat kerjamu kalau sore," kata Indah.
Grace menghela napas dan berkata, "Bunda ... jangan bikin Anthony repot terus dong. Gara-gara Bunda minta tolong dia, jadinya dia nggak enak hati. Seharusnya dia bisa pulang lebih awal tapi harus nungguin aku kira-kira seperempat jam, atau setengah jam bahkan, cuma demi antar aku pulang."
"Masa sih? Berarti emang Anthony suka sama kamu. Orang Bunda cuma pernah minta tolong satu kali. Artinya dianya yang memang sengaja mau jemput kamu," ujar Indah menggoda sang putri. Hal ini membuktikan dirinyalah yang menurunkan sifat itu pada Grace.
Cerita bundanya mengonfirmasi pengakuan Anthony Sabtu lalu. Grace merasa bingung bagaimana harus menangani situasi ini. Tentu saja ia tidak ingin menyakiti perasaan kawannya itu dengan menolaknya secara terang-terangan. Tetapi membiarkannya begitu saja juga sama halnya akan menyakiti Anthony pada akhirnya.
Udah ah. Dipikirin nanti aja. Grace menggeleng tanda menyingkirkan pikiran yang cukup menekan itu. "Udah, Bunda nggak perlu khawatir. Jangan minta tolong sama Anthony lagi pokoknya. Grace nggak suka ngerepotin orang," pintanya. Ia meminum air di gelasnya sampai habis lalu beranjak dari meja. "Bun, Grace berangkat dulu ya. Taksinya udah di depan."
Bunda memberikan ciuman kecil di pipi Grace. "Hati-hati di jalan ya, Grace. Bilang driver-nya supaya nggak ngebut," ujarnya mengulang perkataan yang sama setiap pagi.
Grace mengangguk dan melambai pada sang bunda. Ia menghampiri taksi pesanannya yang sudah menunggu di depan rumah.
~~~
Mendekati akhir tahun, lebih banyak pekerja dibutuhkan dengan bertambahnya pelanggan hotel. Pada faktanya, ada banyak pekerja paruh waktu yang kurang memenuhi kualifikasi. Sementara mereka yang memenuhi kualifikasi justru tidak lagi bekerja, baik karena sudah mendapatkan pekerjaan atau posisi yang lebih baik, maupun kembali ke universitas untuk menyelesaikan tugas akhir. Karena itulah tim HRD disibukkan dengan masalah perekrutan orang-orang baru.
Sebagai asisten manajer, Grace hampir-hampir tidak memiliki waktu untuk melakukan hal lainnya. Lebih tepatnya menjalankan rencananya untuk mengganggu Evan. Agaknya ia perlu mengambil jeda untuk operasi yang satu itu.
Telepon di atas meja Grace berdering saat ia sedang memeriksa sebuah data di lembar kerja Excel. "Dengan Grace," sapanya saat menjawab panggilan itu. Sejenak ia mendengarkan permintaan sang manajer HRD yang mendadak itu. "Ah, ya, Pak Mario. Saya kesana sekarang."
Nita menoleh pada Grace, menyadari koleganya perlu mengerjakan hal lainnya. "Apa yang bisa gue bantu? Ada yang perlu gue handle?" tanyanya menawarkan bantuan tanpa diminta.
Grace tersenyum lebar karena inisiatif kawannya. "Aw, kamu so sweet banget sih?" komentarnya senang. "Nggak banyak kok. Cuma spreadsheet[1] ini aja. Kamu pasti udah tahu harus apa." Ia menggeser monitor komputernya sedikit ke arah Nita.
Membantu Grace adalah hal termudah dan paling disukai Nita. Ia tahu gadis itu sangat rapi dalam bekerja sehingga semua data terstruktur dengan baik. Maka tanpa ragu ia berkata, "Beres. Silakan Ibu Grace Melody pergi dari sini."
"Yah dia ngusir." Grace terkekeh-kekeh. "Makasih ya, Nit. Nanti kalau ada yang bingung, kamu tulis aja di chat Slack[2] kaya biasa." Ia membawa iPad-nya lalu meninggalkan tempat.
Sesuai permintaan Mario, Grace pergi ke ruang rapat dimana para manajer dan GM harus berkumpul. Jika sang manajer secara mendadak perlu mengurus ibunya di rumah sakit, ia harus siap menggantikan tugas. Hal ini bukan pertama kalinya sejak tahun lalu sehingga ia tidak perlu merasa panik.
Bukan merupakan sebuah kejutan jika Grace mendapati dirinya yang pertama kali sampai di ruang rapat. Ia langsung menyalakan AC serta proyektor yang pasti diperlukan untuk presentasi. Diambilnya tempat duduk yang tidak jauh dari kursi untuk GM, seperti yang biasa dilakukan oleh Mario.
"Bu Grace?" Suara familiar milik sekretaris eksekutif GM terdengar dari arah pintu masuk.
Grace menoleh mendapati Vino berjalan mendekat dengan senyuman semringah. "Hai, Vin," sapanya.
Vino melihat ke sekelilingnya sebelum kembali mengarahkan pandangan pada Grace. "Bu Grace yang menyalakan semua ini?" Telunjuknya terarah pada layar proyektor.
"Iya," sahut Grace dengan anggukan.
Vino berdecak kagum sebagai respons. "Luar biasa. Bu Grace memang excellent," pujinya. "Seharusnya saya datang lebih cepat tadi. Kan saya yang harusnya siapin semua untuk GM." Ia meletakkan laptop ke atas meja dan memasangkannya ke proyektor dengan kabel HDMI.
"Nggak papa, Vin. Lagian daripada saya nggak ngapa-ngapain." Grace memutar kursinya ke arah Vino. "By the way, kamu gimana progresnya setelah beberapa waktu jadi ex-sec GM?"
Vino menggaruk belakang kepalanya. "Yah masih kaya orang naik sepeda ngejar kereta sih. Tapi seenggaknya udah lebih terbiasa sama kecepatan Pak Evan. Bantuan Bu Grace waktu itu berguna banget," katanya berterima kasih.
"Usahamu keras juga ya, Grace. Sampai sekretarisnya aja dideketin." Seorang wanita yang seumuran dengannya dan merupakan asisten dari manajer Food & Beverages datang dengan sindiran. Ia tidak segan berbicara langsung di depan subyek pembicaraan.
Grace bergeming, tidak berkomentar atas apa yang dikatakannya. Sementara itu, wanita tadi mengambil tempat duduk di ujung meja dan menyiapkan apa yang perlu untuk sang manajer nanti.
Melihat situasi yang tidak nyaman ini, Vino memastikan dengan pandangan matanya apakah Grace baik-baik saja. Anggukan singkat dan senyuman kecil adalah tanggapan yang didapatkannya dari Grace.
Tidak lama setelah itu yang lain datang, termasuk sang GM. Setiap orang mengambil tempat senyamannya dan tidak banyak bicara. Berbeda dari GM sebelumnya yang suka mengobrol, Evan tidak suka berbasa-basi.
Tanpa menunggu semuanya siap, Evan langsung memulai rapat. Ia menjelaskan beberapa kebijakan baru serta beberapa perubahan yang perlu demi kemajuan hotel. Diskusi terbuka dipersilakan, tapi agaknya semua lebih suka mengikuti ide dari sang GM.
Namun setelah mengikuti pembahasan yang telah dilakukan, Grace merasa ada sebuah ide yang perlu disampaikannya. Awalnya ia ragu karena selama ini tidak ada asisten yang memiliki suara di dalam rapat. Hanya saja dengan keyakinan bahwa Evan tidak akan bertindak seperti GM yang lama, ia memberanikan diri.
"Maaf, Pak Evan. Boleh saya memberikan sedikit pandangan?" Grace mengangkat tangannya setengah tiang.
Sebagai hasilnya, para manajer dan asisten mereka berbisik-bisik heran. Bahkan salah satu dari mereka dengan sarkastik berkata, "Nona Grace, Anda di sini hanya untuk mewakili keberadaan Manajer HRD sementara, bukan menggantikan posisinya. Anda tidak ada di level untuk memberikan suara."
Grace menurunkan tangannya, tidak ingin berdebat. Ia menganggap para manajer serta asisten mereka memang berpikiran sempit dan tradisional. Walaupun begitu, ia tetap berharap Evan akan berbeda dari yang lain.
Seperti yang diharapkan, Evan menyahut dengan komentar, "Oh? Ada peraturan tertulis seperti itu di hotel ini? Bisa tunjukkan ke saya dimana?"
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Semuanya hanya terdiam.
"Baik. Kalaupun memang ada peraturan semacam itu, mulai sekarang saya menghapuskannya. Setiap orang berhak memiliki suara." Evan menegaskan perkataannya. Pada dasarnya ia memegang teguh konsep kebebasan hak berpendapat. "Silakan, Nona Grace."
Sebenarnya Grace ingin tersenyum puas. Ia merasa seperti seekor domba yang dilindungi dari kawanan serigala. Tetapi memperlihatkan perasaan itu tentu saja akan menimbulkan konflik yang tidak perlu. Alhasil, ia hanya mengangguk dan berdiri di tempat.
"Boleh?" Grace menunjuk pada laptop yang dipakai Vino, seraya meminta izin untuk memakainya pada Evan.
Evan mengangguk.
Grace mengubah tampilan di layar ke beberapa slide sebelumnya. Ia kemudian berdiri tegak di dekat layar. "Berkaitan dengan event yang rencananya diadakan demi menarik lebih banyak turis, saya pikir hadiah uang atau barang mahal perlu ditinjau lagi," katanya.
Ekspresi orang-orang di sana tampak merendahkan Grace sedari awal. Mereka seakan tidak percaya bahwa ada kualitas dalam idenya.
Meskipun menangkap kesan buruk itu, Grace tetap tenang. Ia melanjutkan, "Hotel ini berbintang empat, hampir 85% pelanggan adalah orang-orang berlimpah harta. Uang atau barang mahal tidak sulit mereka dapatkan. Oleh karena itu saya mengusulkan agar hadiahnya adalah paket-paket liburan yang sudah kita miliki. Hal ini menguntungkan kedua belah pihak. Pelanggan bisa mencicipi paket gratis layaknya mencoba product sample. Ketika mereka merasakan betapa nikmatnya liburan tersebut, ke depannya mereka akan membeli paket liburan sehingga hotel akan diuntungkan juga."
Semuanya tahu bahwa ide Grace bagus, tetapi mengakui hal itu adalah hal yang agaknya tidak bisa mereka lakukan. Hanya Chief Engineering yang memperlihatkan anggukan setuju serta Vino yang bertepuk tangan kecil.
"Itu sama sekali bukan ide yang buruk. Tolong tim Sales & Marketing bisa mematangkan konsep ini, lalu bicarakan dengan saya nantinya," kata Evan menunjukkan bahwa pendapat Grace diterima.
Dalam hati Grace merasa senang sekali. Pertama, karena pada akhirnya ia bisa bersuara secara langsung dan bukan hanya melalui Mario setelah bekerja bertahun-tahun. Kedua, karena sahabatnya mengakui bahwa pendapatnya bagus meskipun cara penyampaiannya tidak seperti yang diharapkannya.
Tepat saat Grace kembali ke tempat duduknya, Evan menutup rapat sore itu. Setelah GM meninggalkan tempat, yang lain juga berhamburan keluar dari ruangan tanpa berlama-lama.
"Congratulations, Bu Grace. Hebat banget tadi," puji Vino dengan mengacungkan dua jempol. Ia membereskan barang-barang yang perlu dibawanya dan berpamitan pada Grace sebelum pergi.
Grace pun membawa iPad-nya dan mematikan proyektor serta AC sebelum keluar. Ia langsung berjalan kembali ke kantornya.
Namun sebelum berbelok masuk ke ruangannya, Grace merasa ingin berterima kasih pada Evan. Ia mengubah arah menuju ke pantry. Dibuatkannya segelas smoothie yang enak, lalu ditempelkannya sebuah catatan dengan ucapan terima kasih singkat.
Kebetulan ada OB di sana. Grace pun meminta tolong padanya agar membawakan minuman itu kepada Evan. Meskipun dirinya begitu ingin menyampaikan rasa terima kasih secara langsung, ia memilih untuk benar-benar beristirahat dari operasi mengganggu Evan hari ini.
Tubuh Grace terasa lebih pegal daripada biasanya. Pasalnya ini hari kedua haid bulan ini. Ia berpikir untuk dipijat sejenak di spa hotel. Tetapi sebelumnya ia harus memeriksa apakah pekerjaannya yang dititipkan pada Nita sudah benar-benar selesai atau belum. Lagi pula jam kerja baru akan selesai tiga puluh menit lagi.
"Sudah selesai, baginda ratu." Nita langsung memberi jawab tanpa perlu ditanya lebih dulu ketika melihat Grace kembali. "Gimana rapatnya?"
Senyuman Grace terpampang lebar sekali hingga membuat Nita penasaran. Ia pun menceritakan apa yang terjadi dengan bangganya. "Aku jadi ngerasa kaya, ugh! Mati kutu kalian semua," komentarnya mengenai para manajer dan asisten mereka yang mencibirnya.
"Gue ikut seneng buat lo, Grace. Emang lo deserve it. Tapi ... tapi nih, lo jangan langsung seneng segitunya. Pak Evan palingan cuma bertindak obyektif aja. Bukan karena lo sahabatnya. Toh selama ini dia cuek banget sama lo. Jangan sampai lo kejebak sama kebaikannya yang sedikit ini." Nita memberikan wejangan. Ia bisa melihat kegembiraan kawannya yang terlalu besar dan bisa jadi berdampak tidak baik.
Grace berdecak. "Tenang aja lah. Evan itu dasarnya emang baik. Cuma aku perlu tahu aja apa yang bikin dia sedingin sekarang. Dan yang pasti aku nggak akan nyerah untuk balikin dia jadi sahabatku yang dulu meskipun diketusin kaya apapun lah," katanya yakin.
"Pokoknya hati-hati aja gue bilang," ucap Nita kemudian bangkit dari kursinya. "Toilet dulu ya. Kalau-kalau ada yang nyariin gue."
"Iya," sahut Grace disertai anggukan.
Tidak ada lagi pekerjaan tersisa untuk hari ini. Grace memilih untuk memejamkan matanya sejenak setelah seharian menatap komputer. Ia menopang dahinya dengan kedua telapak tangan yang terlipat dan tegak berdiri di atas meja.
Dalam keheningan, pikiran Grace dibawa ke masa lalu. Kenangan demi kenangan indah bersama Evan tidak pernah bisa ia lupakan. Kebaikan pertama lelaki itu dan persahabatan mereka sudah mengubah kehidupannya. Ia yang sebelumnya benar-benar membenci laki-laki dan menyamaratakan perilaku mereka karena sang ayah, akhirnya bisa memiliki pandangan berbeda. Karena itulah ia tidak ingin menyerah terhadap Evan.
"Grace!" bisik Nita yang tiba-tiba sudah kembali. Ia menunjukkan sebuah gambar di layar HP-nya pada Grace. "Ini barusan."
Mata Grace yang tertutup beberapa lama perlu waktu untuk memproses apa yang dilihatnya. Ada sebuah gelas dengan minuman berwarna ungu serta kertas kecil bertuliskan 'Thank you ya, Van, buat yang tadi. Aku bersyukur akhirnya boleh bersuara.'
"Ini?!" Grace terperanjat melihat apa yang diberikannya pada Evan melalui OB sebelum ini.
Meskipun namanya tidak tercantum di sana, bisa dipastikan pada akhirnya semua orang akan tahu bahwa itu tulisan Grace. Apa lagi para asisten manajer kebanyakan adalah orang-orang yang suka bergosip.
"Ini di-post di forum Slack staf, yang biasa untuk chatting umum, bukan kerja. Jadi manajer sama GM nggak mungkin lihat. Kecuali asisten mereka kasih tahu," ucap Nita berpendapat.
Grace tidak menyangka kejadiannya akan begini. OB yang mengantar pasti bertemu dengan seseorang yang tidak menyukainya. Ia bisa saja mendatangi OB dan bertanya siapa yang melakukannya, lalu mengkonfrontasi orang tersebut. Tetapi hal itu hanya akan menghabiskan energi dan waktu.
"Udah lah. Kan dari dulu aku emang jadi bahan bulan-bulanan mereka. Bukan hal baru juga." Grace memilih untuk bereaksi biasa walaupun hatinya merasa kesal.
Nita merasa sedih melihat koleganya terus mendapatkan perlakuan seperti ini. "Grace, menurut gue sih ya, lo harus kurangi intensitas perhatian lo ke Pak Evan. Ya gue ngerti apa tujuan lo, kaya yang lo udah ceritain. Lebih baik lagi, mungkin lo bisa lakuin itu di luar kantor aja," katanya memberi usulan.
Grace menopang wajahnya dengan salah satu telapak tangannya. "Kaya bisa ketemu aja sama dia di luar kantor, Nit," sahutnya dengan helaan napas. "Setelah pertama dan terakhir aku ke apartemen dia, aku nggak punya akses lagi ke sana. Resepsionis ataupun satpam udah diminta untuk nggak kasih ijin aku untuk ketemu dia. Jadi yah satu-satunya cuma di kantor."
"Tapi kan jadinya buruk begini," tukas Nita. "Inget, reputasi lo penting di sini. Lo nggak mau sampai kena masalah dan akhirnya harus berhenti kerja kan?"
Grace menggeleng. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. 'Operasi Mengganggu Evan' memang mungkin harus diubah dengan cara lain. Yang pasti ia akan terus mempergunakan segala cara untuk mengembalikan sahabatnya kembali seperti dulu.
[ABY]
Keterangan:
[1] Lembar kerja di komputer (Ms. Excel)
[2] Aplikasi/program kerja di komputer/HP
[3] Executive Secretary