09 Oktober 31

2369 Kata
Ada berbagai macam cara yang Grace terus lakukan dalam melaksanakan 'Operasi Menggangu Evan' setiap harinya. Mulai dari hal kecil seperti mengambil pekerjaan OB untuk membawakan minuman untuk Evan sampai mengurus segala sesuatunya di departemen HRD yang memerlukan kontak dengan GM. Banyak desas-desus mengenai tindakan Grace yang semakin terlihat ini. Di antaranya adalah menggoda pimpinan untuk mendapatkan promosi. Sementara subjek pembicaraan justru tidak mempedulikannya, sang kolega terdekat sudah mengomel selama satu jam terakhir. "Tenang aja, Nit. Semua bakalan baik-baik aja. Kalau memang sampai terdesak banget, baru aku akan buka kalau Evan itu sahabat aku." Grace menyahut dengan santai. Nita memasang wajah datar sambil memperdengarkan desahan. "Lo tuh emang ngeyel ya anaknya," tukasnya sambil mencubit lengan Grace sedikit. Karena cubitan itu tidak meninggalkan rasa sakit, Grace hanya terkekeh. "Nit, ada hal yang lebih penting untuk aku lakuin daripada sekadar mikirin omongan orang-orang tentang tindakanku," katanya tenang. "Mungkin buat kamu, atau orang-orang lainnya, aku ngelakuin hal yang bodoh. Tapi dia sahabatku, Nit. Yang pernah jadi penyelamatku sama Bunda di kecelakaan besar yang kami alami dulu." Berurusan dengan seorang Grace memang tidak mudah. Dia memang keras kepala jika sudah berkaitan dengan tekad bulatnya. Tetapi Nita tahu bahwa semua hal yang dilakukan gadis itu selalu punya alasan. "Gue memang nggak pernah bisa menang dari lo, Grace," komentar Nita menyerah. Tangannya sibuk memindahkan kartu-kartu kecil yang akan dipakai untuk pesta Halloween nanti malam. "Anyways, thank you ya udah dateng Sabtu-sabtu gini ke kantor untuk bantuin gue meskipun lo nanti nggak dateng ke acaranya." Grace mengangguk sembari membantu menyortir nama-nama staf yang sudah mengkonfirmasi kehadiran mereka melalui Google Forms. "Ini tiap staf boleh ajak orang lain yang bukan pegawai, maksimal satu orang ya? Tapi sejauh ini nggak begitu banyak mereka yang ajak orang lain. Cuma sepertiga kalau menurut estimasi," beritahunya. "Oh." Nita tampak tidak terkejut. Kerutan di dahi Grace tercetak. "Kamu kaya nggak kaget. Emang selalu gini ya?" tanyanya. "Kamu sih selalu skip pesta Halloween. Padahal seru loh. Jadi bisa pakai kostum macem-macem gitu tiap tahunnya. Kan lucu," sahut Nita menerawang, membayangkan dirinya memakai kostum yang sudah disiapkannya. "Dan jaman gini kamu masih mikir Halloween itu pemujaan setan." Grace mengedikkan bahunya saja. Itu hanyalah alasan yang dipakainya untuk tidak berada dalam pesta Halloween. Kilasan pemandangan yang menyakitkan ketika melihat Ayahnya bersama dengan seorang wanita pada tanggal di hari perayaan Halloween waktu itu bisa kembali, seperti memutar ulang sebuah video lama. Melihat tidak ada respons lebih, Nita memberikan pertanyaan baru, "Terus malam ini rencana kamu ngapain?" "Mungkin di rumah aja. Nonton Netflix. Atau ngobrol sama Bunda kalau Bunda nggak capek. Well, paling mentok ya tidur." Grace tampak tidak bersemangat dengan jawaban itu tetapi tidak ada pilihan lainnya. "Makanya cari pacar. Jangan ngurusin sahabat lo itu terus. Orangnya juga angkuh gitu. Kalau bukan GM sih gue udah semprot." Nita berani meluapkan sedikit rasa kesalnya, ketika yakin dua kolega lainnya yang menjadi penanggung jawab acara nanti malam tidak akan mendengar. "Sambut lah perasaan Mario. Jangan digantungin terus." Mendengar nama manajer HRD itu disebutkan, Grace langsung menoleh dan menggeleng-geleng pada Nita. "Sampai kapan kamu kait-kaitin dia sama aku? Lagian nih ya, Nit, aku kasih tahu. Semenjak dia denger desas-desus tentang aku kejar-kejar Evan, dia mundur tuh. Perasaannya ke aku nggak sekuat itu," tukasnya. "Ya lo sih yang salah. Dia jadi mundur kan? Wuu." Nita memanyunkan bibirnya. "Eh, tapi, tapi ... yang jemput lo kemarin sore siapa? Jangan-jangan dia gebetan lo ya?" Ia menudingkan jarinya ke arah Grace. Grace berdecak. "Ah, Anthony? Itu temen sekompleks rumah. Nggak ada apa-apa sama dia," jawabnya santai. Seketika itu juga Nita menurunkan tangannya ke atas meja dan menatap Grace dengan intens. "Denger ya, Grace. Mungkin 'nggak ada apa-apa' itu menurut lo. Tapi menurut Anthony, ada apa-apa. Sekarang bilang ke gue. Apa dia kebetulan jemput lo kemarin? Dan apa itu terjadi cuma sekali?" Bibir Grace bergerak terkumpul ke sisi kanan. "Enggak sih. Udah beberapa kali. Agak sering malah, akhir-akhir ini," jawabnya dengan nada menggantung. Ia baru menyadari seberapa sering Anthony menjemputnya. "Nah kan? Lo sih fokusnya ke Evan mulu." Nita menggeleng-gelengkan kepalanya. Grace memilih untuk mengabaikannya. "Udah nih. Beres semua. Jumlah total ada 215 orang yang hadir nanti malam," katanya lalu menggeser laptop ke arah Nita hingga bisa melihat layar monitornya. "Dari sini kamu bisa urus sendiri kan? Aku mau santai-santai di pantai bentar sebelum pulang ke rumah. Udah janjian sama Anthony juga soalnya." "Lah? Lo bilang nggak ada apa-apa sama dia. Kok janjian ke pantai?" Nita pun terperanjat. Grace hanya merespons dengan suara desisan seperti mengusir kucing liar. "Have fun tonight. Bye!" ucapnya tanpa memberi kesempatan pada Nita untuk bicara lebih panjang lagi. Ia tidak ingin ditahan lebih lama lagi di sana dengan topik yang tidak enggan dibicarakannya. Setelah mengucapkan pamit, Grace meninggalkan ruang kantornya. Awalnya ia hendak langsung menuju ke lift, tetapi jiwa penasarannya muncul. Ia berbelok ke arah sebaliknya, dimana ruangan Evan berada. Ini adalah pertama kalinya Grace ada di kantor pada hari Sabtu semenjak Evan menjabat sebagai GM. Ia tidak tahu apakah sahabatnya itu ada di kantor di akhir minggu. Melihat ritme kerja lelaki itu selama ini, ia menduga Evan datang untuk bekerja. Tanpa berpikir panjang Grace mencoba mengetuk pintu ruangan GM. Ia menunggu beberapa lama, tapi tidak mendapatkan jawaban. Diketuknya lagi pintu untuk memastikan, tetapi tampaknya memang tidak ada orang. Grace pun berbalik hendak melangkah pergi, tetapi suara pintu terbuka terdengar. Dalam satu putaran cepat ia menoleh dan mendapati Evan membuka pintu dengan kedua manik matanya berputar tanda kesal. "Nggak ada kerjaan sampai harus ganggu aku di hari Sabtu juga? Bisa kasih aku satu hari tanpa kamu?" Begitu sarkastiknya ucapan Evan menanggapi kehadiran sahabatnya. Tetapi tentu saja Grace tidak tersinggung. Ia justru merasa geli dan puas dalam hati karena berhasil mengusik kehidupan Evan. Itu berarti rencananya bekerja dengan baik. "Kalau bukan masalah pekerjaan, tolong pergi." Evan mengusir Grace secara terang-terangan, tanpa berusaha menjaga perasaan gadis itu. Tak ingin langsung pergi begitu saja, Grace mencari akal untuk sedikit lebih lama berada di dekat Evan. "Mohon maafkan saya, Pak Evan. Saya tidak bermaksud mengganggu," katanya. "Nggak usah basa-basi. Ganggu banget," potong Evan, tidak mau meladeni Grace. "Wah, Bapak sepertinya nyaman sekali berbicara kasual ke saya ya? Sudah mulai menganggap saya sebagai sahabat kembali ya?" goda Grace diiringi dengan kekehan. "Lima, empat, tiga—" "Iya, iya. Bawel amat," sahut Grace cepat. Ia menyilangkan kedua lengan di depan d**a. "Cuma mau cek aja. Kamu emang nggak dateng ke pesta Halloween nanti malam? Kamu kan GM. Harusnya ada di sana." Alis Evan naik, tapi tatapannya datar. "So what?" Grace tidak terkejut mendengar jawaban seperti itu. "Yah, nggak papa sih. Aku juga nggak ikut. Lebih asik menikmati sunset di pantai sama Anthony. Ah ya, mungkin kamu belum tahu Anthony. Dia cowok yang selama ini ada di sisiku, kaya kamu dulu," ungkapnya. Ia berharap Evan termakan oleh umpan yang sengaja dilemparkannya agar ia merasa penasaran. Hanya saja Evan justru menunjukkan sikap sebaliknya, di luar harapan Grace. "Oh, oke. Nggak peduli. Bukan urusanku. Bye." Ia pun menutup pintu ruangannya. Karena begitu kesalnya Grace melemparkan tinjunya ke arah pintu. Tetapi tentu saja tidak sampai mengenainya. Ia tidak ingin melukai dirinya sendiri dengan bodohnya. Mungkin hari ini Grace bisa beristirahat sejenak dari operasi yang dijalankannya. Beberapa waktu terakhir mengganggu Evan memang melelahkan. Terutama karena lelaki itu bisa jadi sedingin es di Antartika. ~~~ "Grace!" Anthony datang dari arah belakangnya sambil berlari-lari kecil. Ia terlihat terengah-engah dan langsung mengatur napasnya setelah sampai di dekat Grace. "Maaf ya aku terlambat. Sejam sebelum toko tutup, ada pelanggan yang minta dikirim lima karung beras sekaligus. Aku harus pinjam mobil pick-up dari teman bapa. Terus habis itu nganter dulu baru ke sini." Yang tadinya merasa agak kesal, kini Grace mengerti. Kawannya itu memang menomorsatukan pekerjaannya demi menghidupi keluarganya. Jadi ia sudah merasa bersyukur jika Anthony bisa datang untuk menemaninya barang sejenak. "Duduk deh. Ini es kelapa mudanya. Udah nggak dingin, jadi kalau mau es ya kamu bisa minta lagi." Grace menunjuk pada salah satu kelapa yang masih penuh di atas meja di antara dua kursi yang mereka duduki. Dengan lambaian tangan singkat Anthony menjawab, "Nggak papa. Lagi pula aku menghindari es hari-hari ini." "Oh? Kenapa? Bukannya biasanya kamu nggak bisa kalau nggak minum es?" tanya Grace penasaran. Ia cukup ingat kebiasaan Anthony. Tangan Anthony mendarat di tenggorokannya. "Ada yang aneh sama tenggorokanku setiap minum dingin. Daripada kenapa-kenapa, aku kurangi aja porsi minum yang dingin-dingin," jawabnya. "Ngomong-ngomong, tadi aku ketemu Bunda." "Bunda minta tolong sesuatu sama kamu lagi?" tebak Grace. Pasalnya beberapa waktu terakhir ini ia mendapati sang Bunda banyak meminta tolong pada Anthony jika berkaitan dengan dirinya. "Kali ini apa?" Anthony terkekeh sambil menggeleng. "Kamu curiga banget sama Bunda sendiri," ujarnya. Ia menyeruput kelapa mudanya sedikit. "Bunda cuma nebak aku mau kemana. Dan tebakannya bener." Senyuman kecil tersungging di pipi Grace. "Soalnya aku selalu terbuka sama Bunda. Jadi aku juga udah cerita kalau kamu bakalan temenin aku dan kasih aku tumpangan pulang," beritahunya. "Idih, kamu kepedean deh. Siapa juga yang mau kasih kamu tumpangan pulang?" canda Anthony seperti biasanya. "Kamu kan berat. Ban motorku jadi cepet kempes." Grace mengulurkan tangannya lalu memukul-mukul pelan lengan Anthony. "Kurang ajar," tukasnya kesal tapi juga geli. "Eh, jadi cewek jangan ganas dong," balas Anthony sambil mengelus-elus lengannya. "Pantes aja nggak punya pacar." "Belum. Bukan nggak." Grace mengoreksi perkataan Anthony. "Sekarang ini kerjaan lebih penting. Sama kaya kamu kan?" Anthony tidak langsung menjawab. Ia menatap ke arah Grace dengan tatapan yang dalam. "Ya, emang kerjaan penting. Tapi aku nggak keberatan untuk menikah kalau udah ketemu sama yang cocok," katanya. Kedua alis Grace naik. "Jadi, udah ketemu?" tanyanya penasaran. "Udah." Grace menyipitkan kedua matanya di saat kepalanya bergerak agak mundur. "Oh ya? Siapa?" Bukannya menjawab, dagu Anthony sedikit bergerak ke depan dan senyuman menghiasi wajahnya. Awalnya Grace tidak mengerti. Tetapi tatapan Anthony membuatnya tersadar bahwa ialah yang dimaksudkannya. Ia hendak membuka mulut untuk bicara, tetapi situasi sudah terlanjur menjadi canggung. "Kamu nggak harus jawab. Aku cuma jawab pertanyaanmu aja." Anthony bersikap santai. Ia tahu bahwa Grace akan bereaksi seperti itu. "Lagi pula, aku mulai merasa kalau pantai ini punya kenangan tersendiri untuk kamu. Ada seseorang di masa lalumu yang masih belum bisa kamu lupain. Ya kan?" Grace tidak menyangka pada akhirnya bahwa jawaban dari pertanyaan Anthony yang selama ini ditahannya justru bisa ditebak dengan tepat. Ia pun hanya terdiam. "Kalau kamu mau move on, aku ada di sini. Soalnya nggak sehat hidup di masa lalu. Just saying.[1]" Anthony menawarkan bantuan sekaligus memberikan wejangan singkat. Move on? Kalau Evan belum kembali juga sampai sekarang, mungkin aku bisa mempertimbangkan tawaran Anthony. Tapi pada kenyataan akan sulit. Apa aku bisa move on? Ya, walaupun di antara aku dan Evan nggak pernah ada sesuatu yang lebih dari ikatan persahabatan, aku nggak yakin bisa lepas dari dia. Grace membatin begitu dalam sampai-sampai tidak mendengar Anthony sudah memanggilnya dua kali. "Graceeeee." Anthony mencubit pipi Grace demi mengembalikan pikirannya ke dunia nyata. "Ah, maaf-maaf." Grace tersadar kembali. Ia merasa sedikit aneh. "Kita pulang yuk. Aku kayanya capek habis bantu-bantu untuk acara Halloween di kantor. Tapi aku bayar dulu. Kali ini aku traktir." Ia bangkit dari kursi tanpa menunggu respons dari Anthony. Namun saat melayangkan pandangan ke arah kafe, Grace menangkap sesosok lelaki yang familiar. Orang itu berbalik dengan cepat hingga ia tidak melihat wajahnya dengan jelas. Namun pikirannya langsung teringat akan baju yang dipakai Evan saat ditemuinya beberapa jam lalu di kantor. Grace pun berlari mendekat ke arah mana lelaki itu berjalan pergi. "Evan! Evan!" panggilnya. Lucunya, bukannya pergi ke tempat dimana Grace tidak bisa mengejarnya, Evan justru masuk ke dalam kafe. Ia bertingkah seolah-olah orang lain. Grace mengatur napasnya ketika masuk ke dalam kafe. Ia mendekati Evan dengan tenang. "Van, kamu datang juga," katanya saat berhenti di dekat sahabatnya itu. "Jangan GR. Aku cuma mau mampir aja ke pantai," sahut Evan dengan nada yang dingin. "Lebih tepatnya ke kafe ini?" Grace duduk di hadapan Evan tanpa dipersilakan. Ia mengerling dan tersenyum menggoda dengan perasaan geli. Evan sudah tertangkap basah. Tapi ia tidak bisa membiarkan kharismanya jatuh karena Grace. "Kalau aku datang ke sini, bukan berarti itu karena kamu. Aku cuma suka kafe ini aja," sergahnya mengemukakan sebuah alibi. "Kafe yang dulu selalu kita datangi. Dan aku yang bawa kamu pertama kali ke sini," sahut Grace menambahkan rincian pada alasan Evan. "Oh, Evan, Evan. Kamu itu masih peduli sama aku. Kamu masih inget tentang persahabatan kita. Atau lebih tepatnya nggak bisa ngelupain." Mendengar bagaimana Grace dengan mudahnya mempermainkan perasaannya sekarang, Evan pun mengeraskan hati. "Itu cuma imajinasimu," katanya sambil memperdengarkan dengusan sarkastik. "Selamat menikmati fantasimu." Grace tersenyum-senyum, tidak tersinggung. "Eh?" Suara terkejut milik Dahayu, sang pemilik kafe, terdengar di samping Grace dan Evan. "Ini Gus Evan, betul?" Sementara Evan terbelalak tidak mengerti, Grace mengangguk. "Iya, Mbok. Ini Evan," katanya. Dahayu menyatukan kedua telapak tangannya tanda senang. "Wah, CLBK ya ceritanya?" tebaknya asal. Grace tersipu malu dikatai seperti itu. Tetapi tidak dengan Evan. Ia justru bangkit berdiri dan meninggalkan kafe itu tanpa sepatah kata pun. "Mbok, maaf. Duluan ya. Kembaliannya disimpan aja." Grace mengeluarkan uang seratus ribu dari tasnya dan berlari menyusul Evan. Evan sudah cukup jauh hingga Grace harus berlari mengejarnya. Hanya saja yang dikejar justru berjalan semakin cepat. "Evan!" seru Grace. "Apa kamu nggak peduli untuk sekedar tanya alasan kenapa aku nggak ikut pesta Halloween kantor? Kamu yang dulu bakalan tanya untuk hal sekecil apapun." Pada akhirnya ia berhasil menahan Evan dari berjalan lebih jauh. Mata Evan melotot. "Oke. Aku yang dulu kan? Aku yang sekarang nggak gitu," ucapnya lalu berjalan lagi. "Aku lihat Ayah selingkuh tanggal tepat tanggal 31 Oktober. Di klub malam, pesta Halloween." Grace tidak mengejar lagi. Dadanya mulai nyeri mengingat ketika memori itu melewati pikirannya. Ia hanya berharap untuk mendapatkan rasa iba dari Evan kembali. Evan memang sempat berhenti berjalan sejenak. Tanpa Grace ketahui, ada rasa sesak di dadanya juga. Emosinya meningkat dan ia hendak marah. Tetapi ia tidak mau membuat keributan di sana. Berada bersama dengan Grace mengingatkannya pada alasan mengapa persahabatan mereka harus berakhir. Melihat Evan pergi, Grace berlutut di pasir. Ia terisak sampai tidak terdengar suaranya. Kepedihan yang diharapkannya bisa hilang dengan kepedulian sang sahabat justru menjadi semakin besar. Kekecewaan terhadap sikap lelaki itu menusuk jantungnya sampai ke dalam. "Grace." Anthony datang dari sampingnya dan langsung memberikan pelukan. Dalam dekapannya gadis itu meluapkan kesedihan mendalamnya. [ABY] Keterangan: [1] Cuma bilang
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN