08 Lebih Agresif

1872 Kata
"Berhenti." Emosi Grace naik ketika Evan tidak memberikan jawaban. "Berhenti aku bilang!" Evan tidak mempedulikannya. Ia tetap menjalankan mobilnya. "Kamu bilang kita nggak bisa bersahabat lagi kaya dulu, jadi tolong stop mobilnya. Aku mau turun," ucap Grace memaksa. Namun perutnya terasa tidak nyaman sehingga ia memilih untuk memakai nada rendah. "Please, Evan." Evan menghentikan laju mobilnya, tetapi ia mengunci sentral semua pintu mobil sehingga tidak bisa dibuka. Setelah Grace melepaskan sabuk pengamannya, ia mencoba membuka pintu tapi tidak bisa. "Buka kuncinya," perintahnya. "Grace. Denger. Kita memang nggak bisa lagi kaya dulu. Tapi bukan berarti aku bisa biarin cewek jalan malam-malam sendirian," beritahu Evan dengan perasaan ikut kesal. "Kamu pikir aku laki-laki macam apa?" Grace memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Evan. "Laki-laki yang ingkar janji, yang mutusin persahabatan tanpa alasan yang jelas," jawabnya sarkastik. Evan bungkam. Ia tidak akan pernah mengatakan alasan yang sebenarnya. "Oke. Kayanya kamu nggak akan bilang alasannya. Kalau gitu aku nggak akan berhenti ganggu kamu juga. Dimanapun kamu berada, apapun yang kamu lakuin, aku akan ada di sana. Sampai kamu nggak berkutik," ujar Grace mendeklarasikan tekadnya yang sudah bulat. "Jalan lagi. Aku lapar. Aku ngantuk." Ia memasang kembali sabuk pengamannya lalu menutup matanya tanda tak peduli. Keadaan begitu hening. Tetapi bagi Grace, kini rasanya lebih menyiksa. Perasaan marah bercampur dengan kondisi tubuhnya yang lemas akibat belum pulih sepenuhnya. Ia memegangi perutnya yang menjadi lapar dengan cepat karena emosinya. Suara bergemuruh dari dalamnya pun terdengar. Evan mendengarnya, tapi tidak ingin berkomentar. Ia menambah sedikit kecepatan mobil agar cepat sampai di apartemennya. Dalam waktu sekitar sepuluh menit, mereka sampai di tujuan. Meskipun menutup mata, Grace tidak tertidur. Ia tahu bahwa mobil sudah berhenti tapi tetap berakting seperti benar-benar tidur. Rencananya untuk mengganggu Evan sudah mulai berjalan. "Grace. Udah sampai. Bangun." Evan melepaskan sabuk pengamannya. Ia membuka pintu mobil dan keluar tanpa menunggu Grace. Dalam hati Grace merasa kesal karena sikap dingin Evan. Tapi ia tidak mau bergerak, bahkan jika hanya untuk mengintip. Ia tidak mau mengambil risiko dipergoki oleh Evan dan ketahuan berpura-pura tidur saja. Jika ia ingin rencananya berhasil, maka ia perlu totalitas dalam menjalankannya. Sementara itu, Evan sudah masuk ke dalam apartemennya. Ia benar-benar meninggalkan Grace di mobil meskipun tidak mengunci mobil atau pintu apartemennya. Pikirnya gadis itu akan bosan sendiri dan kemudian menyusulnya. Namun bahkan setelah lima belas menit Evan selesai mandi dan berganti baju, Grace belum juga tampak juga. Alhasil ia terburu-buru kembali ke parkiran, mendapati sahabatnya masih ada dalam posisi yang sama. Tertidur pulas. "Dasar bandel. Ngerepotin orang kerjaannya," gumam Evan sebelum akhirnya membuka pintu mobil. Evan membungkukkan badannya, melewati badan Grace untuk meraih sabuk pengaman. Ia tidak berusaha untuk melakukannya sepelan mungkin. Malahan ia sengaja membuat kebisingan. Hanya saja Grace tampak tidak terganggu dengan suara-suara itu. Jika ia sudah tertidur lelap, maka suara bising semata tidak bisa membangunkannya. "Grace. Grace!" Evan mengguncang-guncangkan tubuh Grace dengan pegangan yang cukup kencang di kedua lengan atasnya. Karena gadis itu hanya bergeming, ia pun menepuk-nepuk pipinya. Kali ini Grace bereaksi. Tangannya refleks terayun ke arah Evan dan memukulnya. "Ah! Kok pukul-pukul segala?" Evan berseru kesal pada gadis yang rupanya masih tertidur itu. "Hei! Bangun!" Suara mengerang kesal diperdengarkan oleh Grace. Di alam bawah sadarnya ia marah, menolak untuk dibangunkan. Evan merasa gemas, tapi kenangan di masa lalu justru muncul. Ia teringat bagaimana marahnya Grace ketika dibangunkan terlalu pagi, setelah tidur di atap rumahnya di pagi hari pertama tahun 2010. "Kenapa kamu belum berubah sih, Grace?" gumam Evan. Kali ini dengan nada tenang. Pada akhirnya Evan membopong Grace dengan terpaksa. Beruntung gadis itu tidak terlalu berat, sehingga ia tidak merasa kesulitan membawanya masuk ke dalam apartemen. Diletakkannya Grace di atas satu-satunya ranjang di sana. Setelah melepaskan sepatunya, Evan menyelimutinya. Kini mau tak mau ia harus tidur di sofa. Sangat tidak mungkin ia tidur di sebelah gadis itu. Namun seperti yang sudah direncanakan—meskipun kali ini tidak terlalu disengaja, gangguan datang lagi. Grace terbangun dari tidurnya di tengah malam karena merasa sangat lapar. Ia membuka lemari es tetapi hanya menemukan makanan beku di freezer serta sekotak s**u yang tinggal sedikit. "Evan. Evan," panggil Grace sambil mengguncang-guncangkan Evan dari samping saat masih tertidur. Awalnya Evan berusaha untuk menghiraukannya. Tetapi Grace tidak berhenti mengganggunya. "Apa sih?" Ia bangun dari posisinya berbaring pada akhirnya. Grace menyeringai seolah tak berdosa. "Aku laper. Di lemari esmu nggak ada apa-apa," katanya. "Panasin aja frozen meal-nya di oven. Terus makan. Ganggu orang tidur aja," sergah Evan kesal sekali. Matanya sudah terasa lelah dan ia tidak ingin melakukan apapun selain tidur. "Frozen meal itu tetep sehat. Beda dari makanan pinggir jalan." Melihat keengganan Evan, ditambah dengan rasa tidak enak hati mengingat hari sudah larut, Grace akhirnya menerima satu-satunya pilihan yang ada. Ia meninggalkan pria itu dan berjalan menuju ke lemari es. Dengan berat hati ia memanaskan dua pak cumi beku karena tidak ada nasi. Sambil menunggu makanan selesai dipanaskan, Grace berniat untuk menonton serial drama komedi Netflix di HP-nya. Namun ketika kembali ke dekat ranjang, tasnya tidak ada di sana. Ia yakin bahwa Evan tidak membawanya ke apartemen dan masih ada di mobil. Awalnya Grace ingin mencari kunci mobil sendiri tanpa perlu membangunkan Evan. Tetapi ia merasa kesulitan menemukannya. Alhasil ia kembali membangunkan Evan. "Evan. Evan," bisik Grace tepat di telinga Evan. "Apa lagi?" gerutu Evan. Tangannya yang ada di atas dahinya pun langsung diturunkan ketika menoleh pada Grace. Hanya saja Grace belum sempat menjauh. Hidung keduanya pun bertabrakan karena posisi wajah mereka terlalu dekat. Terkejut akan apa yang terjadi, Evan langsung bangkit dari posisinya berbaring. "Bikin repot aja," ujarnya. Ia meninggalkan sofa lalu mengambil kuncinya di dalam laci meja TV. "Habis ini jangan ganggu lagi. Aku ngantuk berat." Ia memarahi Grace lalu kembali berbaring. Grace mengambil kunci mobil lalu keluar dari apartemen. Meskipun lapar ia tetap bisa berlari-lari kecil menuju ke parkiran. Setelah mendapatkan tasnya, ia berjalan masuk kembali ke gedung. Namun naasnya, Grace tidak membawa kunci kamar. Belum lagi ia tidak mengingat di lantai berapa dan nomor berapa apartemen Evan. Dia hampir-hampir mengumpat atas kecerobohannya sendiri. "Duh, Grace. Kenapa nggak perhatiin detail sepenting ini sih?" ucapnya pada diri sendiri. Tapi kemudian tertawa sendiri. "Apa semesta mendukung aku untuk gangguin Evan ya?" Di satu sisi, Grace tetap ingin melancarkan aksinya tapi di sisi lain, ia tidak tega. Ia memutuskan untuk melanjutkan rencananya saat sudah di kantor. Pada akhirnya ia pergi ke resepsionis untuk menanyakan nomor kamar Evan. "Maaf, Nona. Kami tidak bisa memberitahukan informasi tersebut pada orang lain." Jawaban resepsionis mencengangkan. "Tapi saya dari dalam. Saya tamunya Evan Williams. Cuma lari ke luar untuk ambil tas di mobil. Masa nggak lihat saya waktu lewat sini?" Grace memberitahukan kebenarannya. "Coba tanya satpam kalau nggak percaya. Dia pasti lihat saya." Ia menunjuk pada pria berbadan kurus yang duduk di dekat pintu. Resepsionis pria itu pun memanggil sang satpam lalu bertanya mengonfirmasi. Sang satpam terlihat sedikit bingung. "Hm, maaf. Sepertinya saya tidak melihat Ibu," ucapnya. "Hah? Jelas-jelas saya lari di depan Bapak tadi." Grace tidak percaya akan apa yang ia dengar. "Jangan-jangan Bapak tadi melamun ya? Atau tidur sambil melek?" "Nona, mohon tidak asal menuduh. Pak Dwi sudah lama bekerja di sini, tidak mungkin akan lalai seperti yang Nona tuduhkan." Resepsionis itu membela. "Jadi karena tidak ada bukti, saya tidak bisa memberitahu informasi yang Nona minta." Grace menepuk dahinya heran. "Tolong, coba telepon Evan kalau nggak percaya," ujarnya meminta. "Ini tengah malam, saya tidak bisa melakukannya. Pak Evan pasti sudah tidur." Sang resepsionis menolak. "Lagi pula, kalau memang Anda tamu Pak Evan, sudah seharusnya jika keluar, Anda membawa kunci." Gusar karena tidak bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkannya serta dianggap berbohong, Grace tidak punya pilihan lain selain menelepon Evan sendiri. Ia tetap berdiri di tempatnya, sengaja membiarkan resepsionis itu tercelikkan. Nada dering tanda panggilan masuk terdengar cukup lama. Sudah pasti Evan tertidur. Grace hampir-hampir putus asa. Tetapi saat ia hendak menekan tombol 'Akhiri', suara Evan yang kesal terdengar. "Van, Van, maaf. Aku lupa bawa kunci kamar. Terus, tadi nggak lihat nomor lantai sama nomor apartemenmu. Lupa. Kan habis itu aku minta bantuan sama resepsionis, eh, nggak dikasih tahu." Grace membuat nada bicaranya sedikit manja agar bisa menutupi kedoknya dari resepsionis itu. Evan yang sudah geram langsung memberitahukan nomor lantai dan apartemennya. Tanpa bicara lebih lanjut ia mematikan panggilan. "Evan Williams. Lantai tiga, nomor 305." Grace tersenyum penuh kemenangan pada resepsionis yang tampak masih muda itu. "Jadi tolong, Bli ... Egar, bantu saya masuk ke apartemen Evan." Matanya yang jadi terbuka lebar karena insiden ini digunakan dengan baik untuk membaca tag nama di baju sang resepsionis. Setelah mendapatkan bantuan yang diperlukan, akhirnya Grace bisa kembali ke apartemen Evan. Didapatinya lelaki itu bukannya tertidur di sofa tapi di atas ranjangnya. Ia tidak akan memprotesnya. Sudah cukup gangguan tahap pertama yang diberikannya pada sahabatnya itu. Ia segera memakan makanan yang sudah hangat itu dan tidur setelahnya. ~~~ Ketika bangun pukul enam pagi itu, Evan berpikir akan mendapati Grace masih tertidur pulas. Ia masih ingat betapa gadis itu menyukai tidur. Tetapi yang mengherankan, ia justru melihat sahabatnya sedang sibuk di dapur. Aroma masakan yang harum menggugah seleranya. Awalnya Evan ingin memuji Grace meskipun dalam hati. Tetapi ketika mendapati gadis itu memakai kaosnya tanpa ijin, emosinya naik. "Grace! Kenapa kamu pakai kaosku?" sergahnya. Agak terkejut mendengar suara Evan, Grace tidak sengaja menjatuhkan sendok yang hendak dipakainya untuk mengaduk s**u. "Yah soalnya waktu aku mandi, bajuku jatuh ke bathtub. Dan juga semalam kamu bilang jangan ganggu. Makanya aku ambil kaos yang kelihatan paling lusuh di lemarimu. Kamu nggak mungkin lebih milih lihat aku pakai handuk aja kan? Atau bahkan cuma daleman?" jelasnya dengan memain-mainkan perasaan sahabatnya. Dalam hati ia tertawa puas. "Lusuh apanya? Itu memang warnanya dari awal begitu! Harganya itu 50 euro tahu nggak?" Evan memarahinya karena begitu kesalnya. Mata Grace terbelalak tidak percaya. "Kaos begini, harganya 50 euro? Berapa tuh?" Ia menghitung dengan tangannya. "Delapan ratus ribuan? Gila. Dasar orang kaya. Ginian lima puluh ribu juga dapet." Evan mendesah kesal. Tentu saja ia tidak mungkin meminta Grace untuk melepaskan kaosnya. Karena itu ia hanya terdiam dan mengambil secangkir gelas dari rak serta jus jeruk dari dalam lemari es. "Kamu emang bener-bener berubah, Van," ujar Grace lirih disertai dengan kekehan singkat. "Dulu kamu nggak akan marah cuma karena kesalahan sepele begini. Apa lagi menyangkut uang." Tangan kanan Evan mengangkat gelas yang kini sudah penuh dengan jus. Sebelum meminumnya ia berkata, "Hidup berat. Orang bisa berubah." Grace tersenyum simpul. Ia menyodorkan sepiring roti lapis dengan berbagai isi seperti ham, tomat, selada, dan keju. Kemudian ia mendongak pada Evan dan berkomentar, "Yup. Tapi setiap perubahan bisa baik dan buruk, tergantung respons hati. Hidupku juga berat, tapi aku nggak mau karena itu, aku merusak persahabatanku." Ucapan Grace bak menghujam hati Evan dengan tajamnya. Apa yang diucapkan sahabatnya itu memang benar. Tetapi ia merasa tidak bisa memberitahu apa yang telah terjadi. Terlalu pahit baginya jika mengingat tentang hal itu. "Oke. Silakan nikmati sarapanmu. Aku harus pulang sekarang. Dan maaf, aku pinjam kaosmu." Grace mengerlingkan matanya pada Evan lalu mengambil tasnya yang ada di sofa. Ia melambai pada lelaki itu sebelum keluar dari apartemen. Sepeninggal Grace, Evan terduduk di dekat meja. Dipandangnya roti lapis buatan gadis itu sambil termenung. Dinding tinggi yang sudah dibangunnya sebelum datang ke Indonesia mulai bergoyang karena kegigihan sahabatnya. Ia tidak bisa membiarkan hal ini terjadi. Ia tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu. [ABY]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN