07 Dapat Kesempatan

2065 Kata
Sudah sekitar dua bulan lebih semenjak Evan menjadi GM di hotel ini. Belum ada perubahan berarti dari setiap usaha yang Grace kerahkan untuk mematahkan sikap dinginnya. Yang terjadi justru pekerjaannya bertambah banyak. Perombakan sistem di sana sini serta pergantian staf juga dilakukan. Mau tidak mau Grace jadi terforsir bekerja dan menjadi terlalu lelah untuk mengejarnya. Terlepas dari keinginan memajukan hotel, Evan memiliki tujuan lain yaitu menjauhkan Grace darinya. Untuk beberapa waktu terakhir usahanya cukup berhasil. Ia merasa cukup senang. Tetapi entah bagaimana melihat Grace cukup sering dijemput oleh lelaki yang tampak begitu akrab dengannya itu menimbulkan perasaan aneh di benak Evan. Pasalnya Grace yang ia kenal tidak mudah bergaul sedekat itu dengan laki-laki. Sebelum ia pergi ke Inggris, ialah satu-satunya lawan jenis yang bisa begitu dekat dengannya. Berdiri dari kejauhan, Evan melihat Grace berjalan dengan lemas ke arah luar gedung. Seperti biasa, gadis itu menunggu jemputan, baik taksi online maupun Anthony. Sama halnya, Evan sengaja menunggu sedikit lebih lama di mobilnya sampai sahabatnya itu pergi. Namun hari ini tidak seperti biasanya. Hampir tiga puluh menit berlalu, tidak ada yang datang menjemput Grace. Ia hanya terduduk lemas di tangga sambil mengistirahatkan kepalanya di atas kedua tangannya yang bertumpu pada lututnya. Evan merasa ada yang ganjil. Sahabatnya berada di posisi seperti itu dalam waktu yang cukup lama. Karena merasa khawatir, ia keluar meninggalkan mobilnya dan bergerak mendekati Grace. Namun sebelum ia sampai, satpam yang berjaga datang mendekat. Ia membangunkan Grace. Grace menegakkan kepalanya dan mendongak pada satpam sambil tersenyum. Dengan tangannya ia memberikan tanda bahwa tidak ada masalah. Karena itu satpam meninggalkannya sendirian kembali. Baru sedikit merasa lega dan hendak kembali ke mobil, Evan melihat tubuh Grace oleng. Tubuhnya terjatuh ke lantai. Untung saja arahnya tidak ke tangga yang bisa mengakibatkannya terguling. Evan lari secepat yang ia bisa ke arah Grace. Ia menopang setengah badan gadis itu begitu sampai. "Grace! Grace!" Ditepuk-tepuknyalah pipi sahabatnya. Dengan mata sayu yang terbuka perlahan, Grace menjawab, "Ah, kamu khawatir juga sama aku, Van." Ia tersenyum tapi kemudian tidak sadarkan diri. Takut terjadi apa-apa, Evan berteriak pada satpam untuk membantu. Ia meminta satpam untuk mengambil kunci mobilnya serta membukakan pintu agar ia bisa meletakkan Grace dengan mudah di jok depan. Sabuk pengaman dipasangkan, lalu ia masuk ke sisi setir. Secepat tapi sehati-hati mungkin, ia melesat menuju rumah sakit terdekat. ~~~ "Bagaimana, Dok?" Evan mendekati dokter begitu melihatnya selesai memeriksa Grace. Dokter tersenyum simpul. "Semua baik. Nona Grace hanya kurang makan. Sepertinya sudah beberapa hari hingga tubuhnya lemas," beritahunya. Evan merasa lega. "Lalu bagaimana? Apa dia harus dirawat di sini?" tanyanya lebih lanjut. "Tidak perlu. Bisa rawat jalan saja. Kami sudah memberikan cairan suplemen penambah nutrisi melalui infus. Tapi setelah ini Nona Grace bisa pulang dan harus segera makan ya," jelas dokter. Evan mengangguk-angguk mengerti. "Baik, terima kasih, Dok. Sekarang ini dia sudah bangun? Saya bisa bertemu dia?" "Ya. Silakan. Tapi kemungkinan perlu beberapa waktu sampai Nona Grace bangun." Dokter memberitahu. "Kalau begitu, saya permisi." Evan pun berterima kasih pada dokter lalu masuk ke dalam ruang sempit yang hanya berbatas kain dimana Grace terbaring. Ia duduk di kursi yang disediakan di dekat ranjang. Kenapa kamu harus bikin khawatir sih, Grace? Evan mendesah kesal dalam hati. Ia tidak ingin usahanya yang begitu keras untuk menjauhi Grace menjadi sia-sia. Dalam keheningan Evan memandangi Grace. Gadis itu sudah menjadi wanita dewasa yang masih berwajah sama seperti dulu, tetapi dengan sikap yang lebih kharismatik. Sejujurnya ia tidak menginginkan situasi seperti ini di antara mereka. Tetapi ia tidak punya pilihan lain selain melakukan hal ini. Di tengah pemikirannya, dering HP yang keras terdengar dari dalam tas Grace. Evan terkejut dan bingung apakah ia boleh membuka tas itu tanpa seijin sang pemilik. Tetapi di waktu yang sama, ia tidak ingin suara bising itu mengganggu istirahat sahabatnya. Alhasil, ia terpaksa mengambil HP itu dari dalam tasnya. Rupanya Bunda Grace yang menelepon, seperti yang terpampang di layar HP. Evan menjadi bingung, apakah ia harus menjawab yang sebenarnya atau tidak. Akan mengejutkan pula jika ia, sahabat lama Grace yang menjawab. Pada saat hendak menekan tombol 'Jawab', tangan Grace yang ada di atas perutnya bergerak. "Aku aja yang bicara," katanya. Evan pun memberikan HP itu pada Grace. Setelah beberapa deheman dan tarikan napas panjang, Grace menjawab, "Ya, Bunda? Oh iya, hari ini Grace harus lembur. Kemungkinan stay di rumah teman. Bunda nggak papa sendiri di rumah malam ini? Oke. Hati-hati ya, Bunda. Jangan tidur malam-malam." Ia tertawa kecil lalu menyelesaikan panggilan. Tangannya terkulai lemas, jatuh di atas perutnya bersama dengan HP-nya. "Kenapa kamu bilang gitu? Harusnya kamu pulang rumah dan istirahat." Evan menegurnya dengan kesal. "Sekalian ijin kerja besok juga nggak papa." Grace menoleh pada sahabatnya. "Kamu peduli sama aku?" tanyanya sedikit menggoda. Ia sengaja menggunakan kesempatan ini untuk bermain-main dengan Evan. Seketika itu juga Evan berdecak kesal. "Kamu pegawai di bawah pimpinanku. Wajar kalau aku bilang gitu," sergahnya. "Masa sih? Kalau bukan aku, apa kamu juga bakalan serepot ini sampai bawa aku ke rumah sakit, nungguin, dan bahkan marah karena aku nggak mau pulang ke rumah?" Grace mempertanyakan sikap Evan. "Aku GM yang care sama semua pegawai di bawahnya ya. Dan lagi pula, kamu itu aset penting hotel. Sulit cari orang dengan kemampuan kaya kamu," sahut Evan menyampaikan alibi sedapatnya. Grace memasang senyum simpul yang lemah. "Hmm, kamu ngomong sama aku santai banget loh. Udah nggak kaya pimpinan sama bawahan. Itu bukan profesionalitas kan? Artinya kamu peduli sama aku lebih dari yang seharusnya," ucapnya lebih menyudutkan Evan. "S-siapa bilang? Nona Grace, Anda salah menilai saja. Jangan berharap lebih dari saya." Evan kembali bersikap dingin seperti sebelumnya. Ia agak menyesal sudah terhanyut dalam kekhawatiran hingga tidak menyadari perubahan cara bicaranya. Grace mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu. Pak Evan bisa pergi sekarang. Saya bisa mengatasi semuanya sendiri," tukasnya langsung mengusir sahabatnya. Mendengar ucapan yang tanpa keraguan itu menjadikan Evan bertambah kesal. Ingin rasanya ia segera menghardik Grace, tapi hatinya dipenuhi dilema. Jika ia melakukannya, ia pasti dinilai peduli pada sang sahabat. Alhasil ia tidak menjawab dan berdiri dengan tangan mengepal serta kaki kiri mengetuk-ngetuk lantai diam-diam. "Kalau nggak tega, Pak Evan bisa bilang kok. Ajak saya istirahat di rumah Bapak." Grace menjadi semakin berani. Ia bahkan tidak berpikir saat mengatakan ini. Evan terbelalak seketika. "Kamu gila ya?" ucapnya dengan volume suara yang sedikit meninggi. Tapi ia langsung tersadar bahwa ia sedang ada di rumah sakit. "Lebih baik saya bayar kamar di rumah sakit semalam untuk kamu istirahat." Senyuman Grace mengembang. "Tuh kan kamu peduli, Van. Kubilang juga apa. Lama kelamaan kamu pasti nggak bisa bersikap dingin terus sama aku," sindirnya. "Ini pasti akal-akalan kamu kan? Kamu ngerti kalau aku nungguin kamu di parkiran dan sengaja akting begini?" Evan berbicara lebih santai lagi karena emosinya. Kali ini giliran Grace yang terkejut, lalu tertawa setelahnya. "Yah, buka kartu sendiri. Jadi selama ini kamu perhatiin aku diem-diem? Apa jangan-jangan waktu kamu masih di Inggris, kamu juga tetep pantau aku meskipun tanpa komunikasi? Wah, wah. Van, kamu ini tsundere banget ya," ejeknya habis-habisan. Evan benar-benar merasa kalah dalam perbincangan ini. Dia hampir-hampir tidak bisa bicara. Tetapi ia berhasil mengatur gejolak di hatinya dan berkata, "Oke. Urus dirimu sendiri." Kemudian ia melangkah pergi dari ruangan itu. Nggak boleh. Pokoknya aku nggak boleh tunjukin kepedulianku ke dia. Aku udah buat keputusan untuk nggak berurusan sama dia. Evan terus menjejali pikirannya dengan kata-kata ini, meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia kuat. Apa yang telah terjadi dalam hidupnya, dalam keluarganya, terlalu menyakitkan untuknya. Terlebih karena ada kaitannya dengan Grace. Gadis itu adalah sahabatnya, satu-satunya yang pernah membuatnya nyaman. Tapi permasalahan yang ada membuatnya tak mampu untuk meneruskan persahabatan mereka. [Juni 2010] "Van, persahabatan kita kuat nggak?" Grace yang bersandar di punggung Evan sambil mengerjakan PR bertanya. Dengan santai dan yakin Evan menyahut, "Kuat lah." "Jadi apapun yang terjadi, kita nggak akan berhenti bersahabat ya?" Grace menyimpulkan. Evan menurunkan buku yang ia baca, lalu berbalik dengan cepat menghadap ke arah Grace. Tangannya sigap menahan tubuh sahabatnya agar tidak terjatuh ke belakang. "Kok kamu tiba-tiba tanya gini sih?" Grace pun turut membalik badan hingga berhadapan dengan Evan. "Nih, tugas sekolah," ujarnya sambil menunjuk pada bukunya dengan pulpen. "Tugas menulis esai tentang hal yang kamu banggakan." "Dan kamu bangga sama persahabatan kita?" Evan mengambil kesimpulan. Grace mengangguk. "Dari sekian banyak orang di sekolah, yang berteman atau bersahabat, cuma kita yang kayanya nggak pernah bertengkar. Yah kita pernah bertengkar, tapi nggak yang hebat banget sampai diem-dieman atau bikin keributan," ceritanya. "Hmm, tapi di masa depan, kita bisa bertengkar hebat nggak ya, Van?" Evan menatap Grace lekat-lekat. Ia tersenyum melihat ekspresi polos di wajahnya. "Mungkin? Tapi yang aku bisa pastiin ya ... persahabatan kita nggak akan pernah putus," ujarnya. "Kamu janji nggak akan ninggalin aku? Apapun yang terjadi?" Grace mengulurkan tangannya dengan jari kelingking teracung ke arah Evan. Senyuman Evan mengembang. "Janji," sahutnya lalu mengaitkan kelingkingnya pada kelingking Grace. [~] Kenangan tahun itu membuat Evan berhenti melangkah. Kakinya seakan berat untuk digerakkan. Ia tidak bisa meninggalkan Grace mengurus dirinya sendiri di kondisinya yang tidak sehat. Alhasil, otak dan hatinya yang tidak sejalan membawanya kembali pada sang sahabat. Grace yang sedang duduk bersandar di sandaran ranjang tersenyum penuh arti ketika mendapati kedatangan Evan kembali. "Oh, Bapak Evan. Ada yang tertinggal?" Ia berpura-pura bersikap tidak tahu alasan kembalinya pria itu. "Cuma hari ini. Nggak ada lain kali." Evan hanya mengatakan hal tersebut lalu meninggalkan Grace dengan sebuah senyuman geli. Evan pergi ke bagian administrasi untuk mengurus semuanya sebelum mengajak Grace meninggalkan rumah sakit. Entah bagaimana ia justru memilih membawa gadis itu ke apartemennya ketimbang membayar kamar di rumah sakit untuk satu malam. Ada dorongan di dalam hatinya yang memaksanya untuk merawat Grace, serta rasa khawatir akan terjadi sesuatu padanya. Jam digital di dasbor mobil menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Jalanan yang dilewati masih ramai, tipikal area Kuta. Terlebih ini hari Jumat, semua orang agaknya ingin menikmati malam sebelum akhir minggu di luar rumah. Sementara itu, keheningan memenuhi mobil. Tidak ada suara musik sedikitpun. Benar-benar berbanding terbalik dengan keadaan di luar. "Sepi banget sih? Nggak enak." Grace menekan tombol-tombol pada pemutar musik digital di dasbor tanpa izin. Belum sempat Evan mencegahnya, mobilnya sudah dipenuhi dengan suara musik. Sejak masih di Inggris, ia memang tidak terbiasa memainkan apapun demi fokus menyetir dan sampai di tujuan dengan cepat dan aman. Tambahan lagi, musik akan selalu mengingatkannya pada Grace. "Di apartemenmu ada makanan apa? Kalau nggak ada, mampir dulu di minimarket atau warung deh. Aku laper," ucap Grace lagi akibat tidak mendapat balasan dari Evan. Mau tidak mau akhirnya Evan menjawab, "Ada makanan. Nggak perlu beli." "Masak sendiri atau beli terus disimpen? Atau frozen meals? Aku nggak suka frozen meals." "Adanya frozen meals. Jangan bawel." Grace berdecak. "Kamu mau aku masuk rumah sakit lagi?" Ia melontarkan pertanyaan retoris. "Aku tuh sekarang cuma bisa makan makanan fresh. Sejak kamu berhenti ngomong sama aku, aku semakin banyak makan makanan pinggir jalan. Yang biasa kita makan. Karena itu bikin aku inget kamu. Tapi karena kebanyakan, pencernaanku jadi kena imbasnya." Perkataan Grace sontak membuat Evan terperanjat. Ia tidak menyangka gadis itu akan bertindak begitu ceroboh. "Foolish," komentarnya singkat. "Jahat kamu," balas Grace. "Kamu yang bikin aku kaya gini. Kamu janji nggak akan ninggalin aku. Kamu janji kalau persahabatan kita nggak akan pernah putus. Karena itu aku tetap nunggu walaupun dikatain bodoh sama orang-orang." Ia menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. "Makanya jadi cewek jangan bodoh. Denger kata orang-orang itu. Cuma orang bodoh yang tetap menunggu seseorang yang nggak pernah kasih kabar." Evan melampiaskan rasa kesalnya karena kegigihan sahabatnya. Grace tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang sambil mengarahkan matanya ke jalanan di depannya. "Karena aku percaya suatu kali kamu akan kembali. Dan ya, kamu kembali," ucapnya. "Tapi aku nggak peduli lagi sama kamu. Sama persahabatan yang kamu pikir akan bertahan selamanya itu," sergah Evan, mencoba untuk tetap mempertahankan sikap dinginnya. "Kalau kamu nggak peduli, kamu nggak perlu datang ke Bali. Belum lagi kerja di hotel dimana aku kerja. Coba kasih tahu ke aku. Apa alasannya?" Grace menantang Evan untuk memberikan jawaban yang masuk akal. "Itu semua cuma kebetulan." Tawa kecil dan miris diperdengarkan oleh Grace. "Lebih baik lagi. Kalau ini kebetulan, artinya kita berdua memang dipertemukan lagi. Urusan kita belum selesai. Dan nggak akan selesai. Karena apapun yang terjadi, kita bersahabat," tukasnya senang bisa mendominasi obrolan ini. Evan hampir kehilangan kata-kata, tidak bisa membalas. "Itu imajinasimu aja. Harapan kosong. Dan nggak akan bisa lagi kita bersahabat kaya dulu," sergahnya. "Kenapa, Van? Kenapa?" Nada suara Grace meninggi. "Kasih tahu aku apa yang terjadi!" [ABY]
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN