Arkana menghentikan gerakannya, lalu menatap Arista. “Kamu tidak perlu tahu. Kamu tinggal bersiap-siap saja. Jangan sampai kita terlambat karena kamu yang terlalu banyak bertanya,” jawabnya dengan tatapan yang begitu menusuk.
Arista kembali menatap paperback itu. Ada tatapan ragu di matanya, merasa curiga dengan Arkana yang mendadak baik kepadanya. Bagaimana tidak? Arkana tiba-tiba menyiapkan sarapan dan baju untuk dirinya.
"Aku yakin, dia pasti merencanakan sesuatu," gumam Arista di dalam hati.
"Cepat selesaikan sarapannya!"
Suara dingin menerpa pendengaran Arista, membuat atensi perempuan itu beralih pada laki-laki di hadapannya. "Baik, Pak."
Setelah itu, Arkana beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar. Sementara Arista, ia segera menyelesaikan sarapannya. Ia tidak ingin membuat Arkana menunggunya yang bisa membuat laki-laki itu murka yang artinya bisa membuat hidupnya tidak baik-baik saja.
Selesai sarapan, Arista membereskan meja makan dan mencuci piring bekas dirinya dan Arkana tadi. Ketika semuanya sudah selesai, ia berjalan menuju meja di ruang tamu, menatap sekilas beberapa paperback di hadapannya sebelum membawanya ke kamar.
Beberapa menit kemudian, Arista sudah selesai membersihkan diri. Ia kini tengah berdiri di sebelah tempat tidur dan menatap paperback yang disiapkan oleh Arkana.
Arista mengambil salah satu paperback yang berisi baju. Ia mengeluarkannya dan menatap baju yang baru saja ia keluarkan.
Mata Arista melotot melihat baju berwarna krem yang ada di tangannya. Baju model bodycon wrap dress. Memang tidak ada yang salah dengan baju itu, tetapi baju itu memiliki model krah yang cukup rendah sehingga jika ia memakainya ia yakin buah dadanya akan terlihat dengan jelas.
Arista menghempaskan baju di tangannya. Lalu ia remas baju itu dengan kuat. "Sialan emang tuh orang! Bisa-bisanya ngasih aku baju kek gini!" maki Arista dengan suara tertahan.
Arista kembali mengangkat baju itu dan menatapnya. Ia lalu menghela napas kasar.
Sementara itu, Arkana yang berada di kamarnya saat ini sedang tersenyum puas. Ia sedang membayangkan seperti apa ekspresi Arista saat melihat baju yang ia siapkan.
Ia yakin, jika Arista tidak akan berani memakai baju itu. Alasannya sudah jelas, jika selama ini Arista tidak pernah memakai baju model seperti itu.
Dari kemarin ia memang sudah merencanakan semua itu. Ia berubah menjadi baik dan perhatian, selalu bersikap ambigu bukan karena ia jatuh hati pada sekretarisnya itu, melainkan ia ingin membuat Arista tidak betah bekerja dengannya karena sikapnya. "Kita lihat Arista, seberapa lama kamu akan bertahan di sampingku."
—oOo—
Arkana duduk di kursi ruang tamu sambil menatap layar tab-nya, melihat beberapa grafik kenaikan saham perusahaannya. Senyum tipis terukir di bibirnya melihat hal itu. Ternyata tidak sia-sia opanya yang selalu memaksa dirinya untuk mengambil alih perusahaannya, baru beberapa hari ia sudah mendapatkan peningkatan saham perusahaan yang cukup signifikan.
Merasa hari sudah semakin siang, Arkana mengalihkan tatapannya ke pintu kamar yang ditempati Arista. Ia kemudian berdecak kesal. "Lama sekali perempuan itu."
Tidak lama, terdengar notifikasi pesan masuk membuat Arkana mengalihkan tatapannya pada ponselnya yang ada di meja. Ia lalu mengambil ponselnya dan melihat siapa yang sudah berani mengusiknya di pagi hari seperti ini.
Opa : [Nanti siang, Opa tunggu di mansion. Opa ingin makan siang sama kamu.]
Arkana menghela napas saat membaca isi pesan dari opanya. Ia paling tidak suka jika opanya sudah bersikap seperti itu. Ia baru akan mengetikkan pesan balasan, jika ia tidak bisa menemani opanya makan siang dengan alasan pekerjaan. Namun, belum sempai ia mengetikkan pesan itu, ponselnya kembali bergetar dan detik itu juga muncul pesan lagi.
Opa : [Jangan coba-coba tolak permintaan Opa. Atau ... kamu ingin apa yang Opa katakan waktu itu terjadi?]
Genggaman tangan Arkana di ponselnya mengerat membaca pesan itu. Sungguh, ia sangat benci dengan opanya yang suka mengatur itu. Namun, ia pada akhirnya ia hanya bisa mengiyakan perintah opanya itu.
Arkana menaruh ponselnya kembali pada tempatnya. Ia lalu menghela napas panjang dengan kepala tertunduk. Pagi itu, kepalanya terasa pusing hingga membuatnya memijat pangkal hidungnya.
Ceklek.
Arkana yang tengah menundukkan kepalanya mendongak mendengar suara pintu terbuka. Atensinya menatap ke arah pintu di mana di sana terlihat seorang wanita yang berpenampilan sangat cantik berdiri.
Ya, siapa lagi jika bukan Arista. Di sana, Arista berdiri dengan anggun dengan balutan bodycon wrap dress berwarna krem melekat sempurna di tubuhnya, menonjolkan lekuk yang tegas sekaligus lembut.
Kain yang jatuh rapi mengikuti setiap garis siluetnya, memberikan kesan sederhana namun memikat. Lipatan pada bagian wrap dress menyilang di tubuhnya, menambah sentuhan elegan.
Arkana menatap Arista dengan mata yang tak berkedip. Tatapannya turun menyusuri setiap lekuk tubuh perempuan itu. Dan ... tatapannya berhenti pada bagian d**a milik Arista yang menyembul membuatnya menelan salivanya dengan kasar.
Tidak ingin semakin kacau, tatapannya segera beralih pada wajah sekretaris pribadinya itu. Ia menatap Arista dengan tatapan tak percaya. "Sial! Kenapa dia berani memakai baju yang aku siapkan? Seharusnya dia tidak memakai itu dan mengundurkan diri dari pekerjaannya," gumam Arkana di dalam hati dengan telapak tangannya yang mengepal.
Sementara Arista, ia menarik ujung bibirnya, tersenyum melihat reaksi atasannya itu. Setelah itu, ia menatap manik mata Arkana yang tengah menatapnya dengan berani. "Sampai kapanpun, aku tidak akan menyerah dan terpengaruh dengan semua yang kamu lakukan."