Mimpi

1020 Kata
Pagi harinya, Arista terbangun karena cahaya matahari yang masuk dari celah tirai kamar. Tubuhnya masih terasa lemas, tetapi lebih segar dibanding semalam. Arista melihat ke arah jendela kamar yang sudah terang. “Jam berapa sekarang?” tanyanya pada dirinya sendiri. Ia melihat ke sekeliling dan mendapati jam sudah menunjukkan pukul 06.05 WIB. Dengan segera Arista bangun dan meraih ponsel yang ada di sebelah bantal. Harapannya masih sama, mengharapkan pesan balasan dari Davin. “Mungkin Davin sudah membalas pesanku,” pikirnya. Namun, ketika ia melihat layar ponselnya, layar itu tetap sepi. Tak ada pesan baru. Tak ada panggilan tak terjawab. Hanya notifikasi email kantor yang membanjir. “Ke mana dia? Kenapa nggak ada kabar?” Arista menarik napas panjang, menahan perasaan kecewa yang menusuk d**a. Hatinya sangat khawatir, tidak biasanya Davin menghilangkan tanpa kabar seperti ini. “Semoga nggak ada hal buruk yang terjadi sama Davin,” do'a Arista. Ia menaruh kembali ponsel itu dengan gerakan lambat. Tidak lama ia teringat dengan kejadian tadi malam saat melihat Arkana masuk ke dalam kamar dan membenarkan selimutnya. “Tadi malam itu beneran apa cuma mimpi sih?” tanyanya pada dirinya sendiri, “tapi kalau mimpi, kenapa kayak kenyataan banget ya?” Arista menggelengkan kepalanya. “Ish, ngapain juga aku mikirin hal itu. Lagian, kalau itu mimpi kenapa aku mimpiin dia coba? Nggak banget!” Arista lalu bangkit dari tempat tidur. Berjalan ke arah kamar mandi untuk membasuh wajahnya, menghilangkan jejak-jejak semalam. Setelah selesai, Arista berjalan ke arah pintu kamar. Ketika ia membuka pintu kamar tamu, aroma bumbu-bumbu masakan langsung menyeruak ke hidung Arista. “Siapa yang sudah masak pagi-pagi?” tanyanya di dalam hati sambil melihat ke sekeliling apartemen Arkana. Sorot mata Arista terhenti di pantry. Di sana, Arkana berdiri di balik meja pantry, sibuk dengan peralatan masak. “Aku nggak salah liat?” tanyanya tidak percaya dengan mata sedikit melebar. Lengan kemeja putih Arkana digulung hingga siku, rambutnya masih agak berantakan. Namun, hal itu justru membuatnya terlihat … seksi dan manusiawi. Tidak seperti CEO arogan yang selalu ia temui di kantor. Laki-laki itu terlihat lincah menggerak-gerakkan spatula di tangannya. Arista segera menggelengkan kepalanya saat pikiran aneh masuk ke dalam benaknya. “Kamu mikirin apa sih, Arista!” gumamnya sambil memukul kepalanya. Arkana mengangkat wajahnya saat samar-samar mendengar suara Arista. Tatapannya tidak lagi dingin, melainkan teduh —walau tetap disamarkan dengan gaya sok tenang khas dirinya. “Kamu sudah bangun?” tanya Arkana datar, tapi suaranya lebih lembut dari biasanya. Arista tertegun sejenak. “I-iya,” jawabnya sambil tersenyum kaku. “Kemarilah, sebentar lagi sarapannya jadi,” titah Arkana sambil kembali mengaduk nasi goreng di hadapannya. Arista tertegun, hampir tak percaya dengan sikap Arkana. “Hei, kenapa diam saja?” tegur Arkana saat melihat Arista masih diam. Arista mengerjap, dengan segera ia berjalan ke arah Arkana. “Ambilkan piring,” titah Arkana lagi. Arista melihat ke sekeliling pantry, mencari keberadaan piring. Namun, ia tidak melihat adanya piring di sana. Arkana yang melihat Arista kebingungan, mendengkus pelan. “Piring ada di lemari atas,” ucapnya dengan nada cuek. Arista segera membuka lemari yang dimaksud Arkana. Benar saja, di sana ada piring dan gelas yang tertata rapi. Ia sedikit terdiam saat melihat piring dan gelas tersusun rapi di sana. Sepertinya bosnya itu tipe laki-laki yang sangat perfeksionis. Arista kemudian mengulurkan tangan, berusaha mengambil piring yang ada di atas sana. Namun, karena posisi lemari yang cukup tinggi dari tinggi badan Arista, hal itu membuat Arista kesusahan. “Kenapa susah banget, sih! Lagian, kenapa juga dia naruh piring setinggi ini!” gerutu Arista pelan. “Itu salah kamu sendiri yang terlalu pendek.” Gluk. Arista menelan salivanya dengan susah saat mendengar suara dingin Arkana yang begitu dekat. Dengan gerakan lambat, ia berbalik dan mendapati Arkana yang sudah berdiri di belakangnya dengan jarak yang begitu dekat. Tatapan laki-laki itu sangat tajam, seakan bisa menusuk, menembus jantung Arista. “Kenapa dia sudah di sini?” tanya Arista di dalam hati panik. Gluk. Arista kembali menelan salivanya dengan susah. Ia tersenyum kaku, menunjukkan deretan gigi putih dan rapi miliknya yang berjejer di dalam mulutnya. “Pak Arkana, kok di sini? Nanti nasi gorengnya gosong loh.” Arkana hanya diam, terus menatap Arista dengan tajam. Tanpa mengatakan apapun, Arkana mengulurkan tangannya meraih piring di atas sana, membuat Arista sontak mundur dan membentur meja wastafel akibat tubuh Arkana yang condong ke depan. Gluk. Arista menelan salivanya kembali saat tubuhnya terjepit di antara meja wastafel dan tubuh Arkana. Jarak yang begitu dekat membuat Arista bisa mencium dengan jelas aroma maskulin bosnya itu yang bercampur dengan keringat. Untuk sesaat Arista seakan terhipnotis dengan aroma tubuh Arkana. Namun, dengan cepat ia tersadar saat suara Arkana memecah pikirannya. “Ya?” tanya Arista saat tidak terlalu jelas dengan ucapan Arkana. “Kamu siapkan air minum saja. Ini gelasnya,” ulang Arkana, menyerahkan dua gelas yang sudah ia ambil. Arista menerima gelas itu. “B-baik,” ucapnya yang kemudian melakukan apa yang Arkana perintahkan, sementara Arkana menyiapkan nasi goreng. Untuk sesaat setelah menaruh air minum ke dalam gelas, Arista kembali memperhatikan Arkana. Ada sesuatu yang bergetar di dadanya —campuran kagum, heran, sekaligus perasaan yang tak bisa ia jelaskan. “Ayo, sarapan,” ucap Arkana membuyarkan lamunan Arista. Arista menurut. Ia duduk di seberang Arkana, lalu mulai menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Suasana menjadi hening, hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Hingga tidak lama, suara Arkana memecah keheningan. “Habis sarapan, kamu langsung bersiap. Kita akan langsung ke kantor setelahnya.” Arista mendongak, menatap Arkana dengan ekspresi sedikit terkejut. “Tapi, Pak, baju saya ....” Arista menatap baju yang melekat di tubuhnya dari semalam, masih dengan gaun yang ia pakai di pesta anniversary Nalengga dan sang istri. “Saya sudah menyiapkan semuanya. Semua kebutuhkan kamu ada di paperback di meja.” Arista melihat ke arah meja ruang tamu, di sana terlihat beberapa paperback. Ia menatap tidak percaya. Setelah itu, ia kembali menatap Arkana. “Kapan Bapak menyiapkan semua itu?” Arkana menghentikan gerakannya, lalu menatap Arista. “Kamu tidak perlu tahu. Kamu tinggal bersiap-siap saja. Jangan sampai kita terlambat karena kamu yang terlalu banyak bertanya,” jawabnya dengan tatapan yang begitu menusuk.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN