Berdebar

1013 Kata
“Siapa bilang nggak ada yang rugi? Saya sangat dirugikan di sini, karena saya sudah memiliki tunangan.” Begitu mendengar kalimat jika Arista sudah memiliki tunangan meluncur dari bibir Arista, Arkana sempat terdiam sepersekian detik. Ada kilatan keterkejutan di matanya —halus, nyaris tidak terlihat jika orang lain yang memperhatikannya. Namun, cepat sekali ia menarik napas, menegakkan bahu, dan memasang wajah datarnya kembali. “Baru tunangan 'kan, bukan suami,” ucap Arkana santai. Arista semakin melolotkan matanya. "Anda bilang apa? Perlu Anda tahu, Pak. Kalau tunangan itu artinya akan menjadi suami. Jadi tolong, jaga sikap dan ucapan Anda, itu bisa membuat orang salah paham dan menyakiti hati seseorang." Arkana hanya tersenyum tipis, lebih tepatnya senyum smirk. Sementara Arista, hatinya sangat kesal, tetapi kekesalannya hanya bisa ia tahan di dalam hati. Ia lalu menatap ke sekeliling ruangan di mana para tamu sedang sibuk menikmati perjamuan. Lama kelamaan Arista mulai bosan, apalagi saat Arkana yang tiba-tiba pergi entah ke mana. Ya, walaupun jika pria itu di sana pun Arista tetap akan bosan. Namun, tidak lama rasa bosannya mendadak hilang saat ia mendapat sebuah pesan dari orang yang sangat berarti di hidupnya. Ya! Orang itu adalah Davin. Bibir Arista menyunggingkan senyuman. Ia segera membuka pesan dari Davin dan senyumnya semakin lebar saat membaca pesan dari Davin. Tunangannya pun mengirim sebuah foto sepiring makanan. "Malam, Sayang. Sudah makan belum?" "Aku lagi makan nih, tapi rasanya kurang karena nggak sama kamu." Senyum semakin mengembang di bibir Arista. Dengan cepat ia mengetik pesan balasan. "Belum. Tapi nanti aku makan kok." "Jangan gombal deh, itu bukan kamu banget." Beberapa saat setelah Arista mengirim pesan balasan, ponsel Arista kembali berbunyi. "Jangan telat makan.” “Aku nggak mau kalau kamu sampai sakit." "Aku nggak gombal, Sayang. Tapi rasanya emang nggak seenak kalau lagi makan sama kamu." "Kamu tahu, aku nggak sabar menantikan di mana setiap hari aku makan ditemani kamu, pasti dunia ini akan sangat indah." Wajah Arista memerah membaca pesan itu. Ia menahan senyum sambil menggigit bibirnya gar senyumannya tidak disadari orang-orang yang ada di sekitar. Namun, sayangnya sudah ada satu orang yang menyadari senyuman dan wajah merah Arista. Arkana menatap Arista dengan satu alis terangkat. “Apa yang buat dia senyum-senyum seperti itu?” tanyanya di dalam hati, “jangan bilang dia sedang chat-an sama tunangannya?” Dada Arkana mendadak panas akibat pikirannya itu. Namun, ia segera menggelengkan kepalanya pelan saat tersadar dengan pikirannya itu. “Buat apa aku mikirin dia chat-an sama siapa? Lagi pula itu bukan urusanku.” Arkana kemudian berjalan mendekat ke arah Arista. Berdiri di depan perempuan itu dengan satu tangan yang ia masukkan di saku celana. “Enak sekali kamu, ya?! Ditinggal atasan langsung main ponsel!” ketus Arkana dengan sorot mata yang sangat menusuk. Cepat-cepat Arista membenarkan posisi berdirinya. Ia memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas dan menatap Arkana. “Maafkan saya, Pak. Tapi apa salahnya bermain ponsel? Toh saya sedang tidak ada pekerjaan 'kan?” Tatapan Arkana semakin tajam, rahangnya pun mengeras akibat Arista yang selalu punya cara untuk menjawab perkataannya. “Sekarang kamu ada pekerjaan. Ikut saya!” ucap Arkana yang langsung menarik pergelangan tangan Arista. Arista terperanjat ketika Arkana tiba-tiba menarik pergelangan tangannya dengan begitu keras, seakan tidak peduli dengan tatapan para tamu yang menoleh ke arah mereka, menatap mereka berdua dengan tatapan yang berbeda-beda. Suara bisik-bisik mulai terdengar, tetapi Arkana sama sekali tidak menghiraukannya. Langkahnya tegas, menyeret Arista keluar dari ballroom dan berjalan menuju ke mobil yang sudah menunggu di depan lobi. “Pak Arkana! Lepaskan saya! Apa-apaan ini?!” seru Arista, mencoba melepaskan tangannya. Namun, genggaman Arkana terlalu kuat dan semakin ia memberontak genggaman pria itu semakin erat. Pintu mobil dibuka kasar oleh sang bos, dan tanpa banyak bicara ia mendorong Arista agar masuk. Sementara itu, Arista masih ingin melawan, tetapi sorot mata Arkana terlalu menusuk, membuatnya akhirnya terpaksa menurut. Mobil melaju cepat menembus jalanan malam, dengan Arista yang hanya bisa menggenggam tasnya dengan gelisah. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam. Namun, semakin lama rasa penasaran di hatinya tidak dapat ia tahan dan akhirnya ia memberanikan diri bertanya, “Kita mau ke mana, Pak?” tanyanya menatap Arkana dengan takut-takut. Tidak ada jawaban. Arkana hanya fokus menatap jalan, rahangnya mengeras, pandangannya dingin namun juga … penuh gejolak. Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah gedung apartemen megah. Arista menoleh dengan terbelalak. “Apa …? Kenapa kita ke sini?” Arkana turun, lalu membuka pintu untuknya. Dengan tarikan ringan namun tetap kuat, Arkana membawanya masuk melewati lobi, menuju lift, dan akhirnya berhenti di depan sebuah pintu apartemen mewah. Pintu itu terbuka, dan begitu mereka masuk, Arkana menutupnya rapat. “Pak Arkana, apa maksud Anda membawa saya ke sini?! Apartemen siapa ini?” suara Arista meninggi, panik. Arkana tidak menjawab. Ia melepaskan genggaman tangannya, lalu perlahan berbalik. Sorot matanya tajam, dalam, dan sulit ditebak membuat Arista merasakan bulu kuduknya berdiri. Langkah Arkana mulai mendekat. Setiap satu langkah pria itu membuat jantung Arista berdetak semakin keras. Ia pun spontan melangkah mundur, tubuhnya tegang, napasnya memburu. “Pak, apa yang Bapak lakukan? Jangan … jangan mendekat. Saya serius, Pak!” suara Arista bergetar, hampir histeris. Namun Arkana tetap melangkah, diam, hanya tatapan matanya yang berbicara —tatapan yang seolah menelanjangi perasaan Arista, menembus sampai ke lubuk hati. Gluk! Arista menelan salivanya dengan susah, akibat tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering. Hingga akhirnya, kaki Arista terantuk tepi sofa, membuatnya terhenti. Tubuhnya terkunci, terjepit antara sofa dan sosok Arkana yang kini berdiri begitu dekat. Wajahnya memanas, tangannya gemetar, dan hatinya terasa kacau balau. “A-apa … apa yang mau Anda lakukan, Pak?!” Arista bersuara gugup, matanya berusaha mencari jalan keluar. “Kalau Anda macam-macam, saya akan laporkan ke pihak berwenang!” Arkana tetap diam, tidak bergeming. Hanya matanya yang terus menatap, dalam dan penuh misteri. Senyum tipis —entah itu sinis atau menahan sesuatu— hanya sempat singgah di bibirnya. Arista bisa merasakan deru napas pria itu yang hampir menyentuh wajahnya. Jantungnya berdetak dua kali lipat lebih cepat, seolah hendak meledak karena cemas bercampur emosi lain yang tak bisa ia kendalikan. Dan ketika ia hampir membuka mulut lagi untuk berteriak. Ia terhalang dengan gerakan Arkana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN