Mata Arkana memicing melihat Arista. Ia menatap tajam pada sekretaris pribadinya itu. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya dingin.
Dengan cepat Arista menurunkan tangan lalu menegakkan tubuhnya. “Tidak, Pak. Saya cuma lagi ... lagi nangkap nyamuk. Iya, nangkap nyamuk. Tadi ada nyamuk yang tiba-tiba terbang ke sini,” jawabnya sambil nyengir kuda, menunjukkan deretan gigi putih miliknya dengan detak jantung yang berdebar dua kali lipat dari biasanya. Takut jika Arkana tidak percaya akan ucapannya.
Mata Arkana menyipit dan pandangan matanya semakin dingin dan menusuk. “Semoga dia percaya.” Do'a Arista di dalam hati.
“Terserah!” ucap Arkana tidak peduli, “sekarang telepon Ibu Lily, minta beliau ke ruangan saya,” lanjutnya dengan tegas, lalu kembali masuk ke dalam ruangannya.
“Baik, Pak,” jawab Arista sambil mengangguk.
Ia mengembuskan napas pelan, merasa lega karena Arkana percaya padanya —lebih tepatnya tidak peduli. Setelah itu, ia kembali ke mejanya dan menelepon Ibu Lily —direktur keuangan— agar menghadap Arkana.
—oOo—
Langit sore sudah merona jingga ketika jarum jam dinding menandai pukul lima tepat. Suara riuh para karyawan yang bergegas pulang berbaur dengan deru lift yang naik turun.
Arista menatap layar komputernya sejenak sebelum akhirnya mengembuskan napas panjang. “Akhirnya, waktunya pulang.”
Tangannya meraih tas yang tersandar di sisi meja, sembari menumpuk berkas-berkas yang sudah selesai ia kerjakan. Ada kelegaan di wajah Arista, semacam kebebasan kecil setelah seharian bergulat dengan tumpukan dokumen dan tekanan tak tertulis dari Arkana. Semenjak Arkana menjadi bosnya hidupnya tidak pernah baik-baik saja.
Namun, seakan takdir masih ingin mengujinya, pintu ruangan Arkana tiba-tiba terbuka. Sosok pria tinggi dengan jas yang masih melekat rapi itu melangkah keluar.
Refleks, Arista menunduk dan berharap bosnya itu berjalan lurus menuju pintu keluar. Tapi harapannya hancur saat suara berat itu memecah keheningan.
“Arista, masuk ke ruangan saya sekarang. Bawa jurnal kegiatan besok.”
Gerakan tangan Arista yang baru saja hendak meraih tas terhenti. Ia menoleh, menatap Arkana dengan kening berkerut.
“Tapi, Pak, ini sudah jam pulang,” ucapnya pelan, berusaha menjaga nada agar terdengar sopan meski hatinya mendidih.
Tatapan Arkana dingin, sama sekali tidak peduli. Bibir tipisnya melengkung seolah mengejek. “Apa kamu akan pulang sementara atasanmu masih sibuk dengan pekerjaannya?”
“Bu-bukan begitu. Hanya saja ... ini sudah di luar jam kerja, Pak.”
Tatapan mata Arkana semakin dingin dan tajam. “Kalau begitu saya akan tambah gaji kamu. Pulang terlambat akan saya anggap lembur. Sekarang, cepat masuk!” titahnya dengan suara yang seakan tak mengenal penolakan. Tanpa menunggu jawaban, Arkana berbalik dan kembali melangkah ke ruangannya.
Arista terdiam, menahan helaan napas kesal. “Astaga … sudah jam segini pun masih saja dia punya cara untuk mengganggu hidupku.”
Dengan langkah malas, ia mengambil jurnal yang tergeletak di meja lalu bangkit. Dentuman hak sepatunya terdengar lirih saat ia berjalan menuju pintu ruangan Arkana. Tangannya mengetuk pelan, lalu setelah mendengar suara “masuk” ia pun melangkah masuk.
Arkana sudah duduk santai di sofa, jas masih melekat dengan rapi. Aura wibawa yang arogan itu memenuhi ruangan, membuat Arista semakin ingin cepat menyelesaikan semuanya. Ia berdiri di hadapan Arkana, menyodorkan jurnal.
“Ini, Pak. Agenda untuk besok.”
Arkana mengangguk tipis. “Jelaskan.”
Arista membungkukkan tubuhnya, membuka halaman pertama dan mulai menyampaikan rincian. Namun, suaranya baru saja mengalun beberapa detik, ketika suara Arkana memotong.
“Duduk.”
Arista mengangkat wajah, menatapnya dengan ragu. Namun, tatapan tajam Arkana tak memberi ruang untuk menolak. Dengan canggung ia pun duduk di sofa sebelah di mana Arkana duduk. Jantungnya berdetak lebih cepat, entah karena kesal atau karena gugup berada cukup dekat dengan bos menyebalkan itu.
Ia melanjutkan penjelasannya, menyebutkan detail demi detail dengan suara terkontrol. Arkana diam, tetapi tatapannya tak beralih sedikit pun.
Awalnya, tatapan itu dingin dan penuh perhitungan, namun perlahan sesuatu yang lain mulai muncul. Ada ketertarikan samar, rasa kagum yang tak ia sadari sepenuhnya.
“Kenapa dia masih di sini? Kenapa dia tidak menyerah meski aku sudah membuatnya kewalahan berkali-kali?” batin Arkana.
Arista menutup jurnal setelah selesai menjelaskan, lalu menatap Arkana yang masih terdiam. “Apakah ada yang perlu diubah, Pak?” tanyanya dengan alis terangkat.
Tidak ada jawaban. Hanya tatapan yang menusuk, membuatnya sedikit gelisah.
“Pak Arkana?” panggil Arista sekali lagi.
Arkana tersadar, buru-buru menetralkan wajahnya kembali ke ekspresi dingin yang sudah menjadi ciri khas. Ia bersandar ke sofa, menyilangkan kaki, dan membuka suara dengan nada datar.
“Tidak ada yang perlu diubah. Hanya saja .…” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan, “Besok malam saya ada acara anniversary salah satu klien besar. Kamu ikut, temani saya ke sana.”
Arista terbelalak. “Apa?! Kenapa saya harus ikut?”
Arkana menatapnya datar, seolah pertanyaan itu tak masuk akal. “Kamu itu sekretaris saya. Jadi, ke manapun saya pergi, kamu wajib ikut. Itu sudah seharusnya.”
Arista menggertakkan gigi, menahan cacian yang hampir saja keluar. Rasa tidak terima mendesak di dadanya, tetapi ia tahu melawan hanya akan memperpanjang masalah.
Dengan pasrah ia menarik napas panjang lalu mengangguk. “Baik, Pak.”
Arkana hanya menatapnya sekilas, seolah puas dengan jawaban itu. “Sekarang kamu boleh pulang.”
Arista berdiri, lalu membungkukkan tubuhnya dan berpamitan pergi. Ia berjalan ke luar ruangan Arkana dengan perasaan marah, mengutuki nasibnya dalam hati. “Sial. Aku pikir, aku bisa bebas dari pria sombong itu sore ini juga. Tapi ternyata … aku harus kembali berurusan dengannya, bahkan di luar jam kerja.”
—oOo—
Malam itu, gedung ballroom hotel bintang lima sudah dipenuhi tamu undangan yang mengenakan gaun dan jas terbaik mereka. Lampu kristal berkilauan, musik lembut mengalun, dan para pelayan lalu-lalang dengan nampan berisi minuman. Acara anniversary klien ternama Arkana memang selalu menjadi pusat perhatian kalangan bisnis.
Sebuah mobil hitam berhenti di depan lobi. Arkana turun lebih dulu, tampak gagah dalam jas formal hitam dengan dasi perak yang membuat auranya semakin berwibawa. Ia melirik jam tangannya sekilas, lalu menoleh saat mendengar langkah seseorang mendekat.
Arista.
Wanita itu melangkah keluar dari pintu hotel dengan gaun berwarna biru tua yang jatuh anggun membingkai siluet tubuhnya. Rambutnya yang biasanya dikuncir sederhana kini terurai rapi, dihiasi sedikit gelombang di ujungnya. Wajahnya dipoles make-up tipis, cukup untuk menonjolkan kecantikan naturalnya.
Untuk sesaat, Arkana terdiam. Pandangannya tidak bisa lepas. Ada sesuatu yang berbeda dari Arista malam itu —bukan lagi sekadar sekretaris yang duduk di balik meja dengan wajah lelah karena pekerjaannya, melainkan sosok anggun yang bisa membuat siapa pun menoleh dua kali.
“Kenapa aku baru sadar … kalau dia bisa terlihat semenarik ini?” ucap Arkana di dalam hati, sedikit terusik oleh dirinya sendiri.
Arista berjalan mendekat sambil menghela napas kecil, tampak masih kesal harus ikut. Ia sempat memandang Arkana, lalu berkata dengan nada dingin,
“Saya sudah datang sesuai perintah Anda, Pak.”
Arkana menatap Arista dengan dingin, menahan senyum tipis yang hampir tercipta. Ia tidak ingin menunjukkan kekaguman yang tadi sempat menyergapnya. Jadi ia kembali ke peran biasanya —dingin, arogan, dan datar.
“Bagus. Ikuti saya. Jangan sampai kamu membuat celah yang bisa mempermalukan saya malam ini.”
Arista mendengkus pelan, nyaris tak terdengar. “Kalau dia merasa aku bisa mempermalukannya, kenapa juga aku diajak coba,” gumamnya di dalam hati.
Mereka masuk ke dalam ballroom secara bersama. Semua mata seakan otomatis tertuju pada Arkana Dirgantara, pria yang dikenal sebagai pengusaha muda sukses. Namun, perhatian tidak hanya berhenti padanya. Beberapa pasang mata juga menoleh kagum pada Arista, yang berdiri anggun di sisinya.
Arkana menangkap tatapan-tatapan itu. Entah mengapa, ia merasa ada sedikit rasa bangga.
Sepanjang acara, Arista menjalankan perannya, menemani ke mana pun Arkana pergi. Sesekali ia juga tersenyum dan membalas sapaan dari para istri maupun pasangan klien Arkana.
Arkana beberapa kali memperhatikan bagaimana Arista mampu berinteraksi sopan dengan para tamu, memberikan senyum yang tulus meski dalam hati ia menggerutu.
Saat musik berganti menjadi lebih lembut, Nalengga —pemilik acara malam itu berjalan menghampiri Arkana bersama sang istri. “Terima kasih Pak Arkana, saya merasa sangat terhormat Anda bisa datang ke acara kecil saya ini,” ucap Nalengga setelah menyalami Arkana.
Arkana tersenyum tipis. “Justru saya yang merasa terhormat karena diundang acara anniversary pernikahan Anda dan istri Anda yang begitu megah ini,” ucapnya melihat ke sekeliling.
Nalengga dan istrinya tersenyum lembut. “Anda terlalu memuji,” balasnya yang kemudian menoleh ke Arista. “Ngomong-ngomong Pak Arkana ... dia siapa?” tanya Nalengga dengan sorot mata ke arah Arista.
“Tidak mungkin kalau dia istri Anda bukan, karena setahu saya Anda belum menikah.”
“Kamu ini bicara apa sih, Sayang? Pastinya dia tunangan Pak Arkana. Benar 'kan?” ucap Nala —istri Nalengga, menatap Arista.
Arista tersentak, buru-buru menggeleng dengan wajah memerah. “Oh, bukan, saya bukan tunangan Pak Arkana. Saya hanya sekretaris beliau,” jawabnya, tidak ingin ada orang yang salah paham.
Nalengga dan Nala sedikit terkejut. “Ah, maafkan saya. Saya kira kamu tunangan Pak Arkana, karena kalian begitu serasi,” ucap Nala tidak enak.
Arista tersenyum canggung. “Serasi apanya? Orang dia nyebelin kek gitu. Masih bagusan juga Davin,” batin Arista.
Sementara itu, Arkana tetap tenang. “Bukan Bu Nala. Dia Arista, sekretaris saya,” ucap Arkana memperkenalkan siapa Arista.
Nalengga dan Nala mengangguk. “Anda sangat beruntung memiliki sekretaris secantik Nona Arista, Pak Arkana. Saya yakin Anda semakin semangat bekerja,” ucap Nalengga, mengenal bagaimana sifat rekan bisnisnya yang sangat terobsesi akan pekerjaan.
Arkana hanya tersenyum tipis, tidak menanggapi lebih ucapan Nalengga. Tidak lama Nalengga dan Nala pergi, mengatakan ingin menemui tamu yang lain.
Arista menatap Arkana dengan kesal. “Lihat? Saya sudah bilang, Pak, saya tidak seharusnya ikut acara seperti ini. Sekarang orang-orang malah salah paham.”
Arkana menatap Arista, kali ini tanpa topeng dingin. Matanya menelusuri wajah Arista yang berkilau di bawah lampu kristal, lalu ia mendekat sedikit.
“Biarkan saja. Lagipula, kalau pun mereka salah paham itu tidak akan merugikan siapa-siapa. Bahkan seharusnya kamu merasa bangga karena orang-orang menganggap kamu tunangan saya.”
Arista membelalakkan mata. “Bangga? Cih. Siapa juga yang ingin jadi tunangan dia!” makinya di dalam hati, merasa jika Arkana terlalu percaya diri.
Ia lalu menatap Arkana dengan berani. “Siapa bilang kalau tidak ada yang dirugikan? Saya sangat dirugikan di sini, Pak. Karena saya sudah memiliki tunangan.”