Acara perkenalan itu akhirnya selesai. Para karyawan perlahan meninggalkan aula dengan wajah penuh antusiasme, saling berbisik membicarakan betapa karismatiknya pimpinan baru mereka.
“Gila sih … pimpinan baru kita tampannya kayak aktor drama Korea, tapi auranya lebih … gimana, ya? Tegas banget,” ujar seorang karyawan perempuan sambil menepuk-nepuk pipinya, masih tampak berbunga-bunga.
“Iya, aku juga merasakannya,” timpal yang lain dengan mata berbinar. “Baru masuk ruangan aja udah bikin semua orang diam. Kayak … dia benar-benar punya kuasa. Karismanya tuh keluar tanpa usaha.”
Seorang karyawan laki-laki ikut menimpali, suaranya sedikit bercampur nada iri. “Aku akui, dia memang punya aura pemimpin. Tegap, berwibawa, dan … yah, jelas bukan orang sembarangan. Katanya, dia udah sukses bangun perusahaan sendiri sebelum gabung di sini.”
“Pantesan … tatapannya aja bikin kita langsung merasa harus nurut, ya?” celetuk seorang staf perempuan sambil terkekeh. “Tapi jujur, aku agak takut juga, sih. Tatapan dinginnya bikin jantung deg-degan, antara ngeri sama … jatuh cinta.”
Tawa kecil terdengar, lalu salah satu dari mereka menambahkan dengan nada berbisik, “Dan katanya, dia masih muda banget untuk ukuran pimpinan perusahaan. Belum tiga puluh, tapi sudah jadi penguasa bisnis. Bisa bayangin betapa cerdas dan ambisiusnya?”
Semua terdiam sejenak, mengangguk penuh kagum. “Nggak bisa bayangin deh, kalau punya pasangan seperti Pak Arkana, udah tampan, muda, punya perusahaan sendiri. Beeehh ... bakal bahagia banget, sih.”
Semua orang yang ada di sana mengangguk setuju. “Pokoknya, punya bos kayak dia … pasti seru, sih. Walau mungkin bakal bikin kita kerja setengah mati,” kata salah satu karyawan sambil tertawa pahit.
“Seru buat kalian, kali,” sahut yang lain sambil menunjuk ke arah Arista dengan ekor mata. “Kalau jadi sekretaris pribadinya, entah seru … entah malah sengsara.”
Mereka semua serentak menoleh ke arah Arista yang tengah melangkahkan kakinya pergi dari sana. Senyum penuh arti muncul di bibir mereka.
Sementara Arista tidak peduli dengan obrolan rekan-rekan kerjanya. Ia terus melangkah dengan d**a yang masih dipenuhi rasa tak percaya bercampur kesal. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa pria arogan yang hampir mencelakakannya di jalan beberapa saat yang lalu, kini malah menjadi atasannya.
Dan yang lebih parah lagi ialah, ia sendiri yang ditunjuk oleh direksi lama untuk menjadi sekretaris pribadi pria itu.
Arista mendesah keras di dalam hati. “Karismatik? Berwibawa? Tampan? Kalau saja mereka tahu siapa pria itu sebenarnya ....”
Arista mengepalkan tangannya. Jantungnya berdegup tak menentu, bukan karena pesona Arkana seperti yang dibicarakan rekan-rekannya, melainkan karena rasa sebal bercampur ngeri. Ia membayangkan harus berhadapan dengan pria itu setiap hari, mengatur jadwalnya, menerima perintahnya, bahkan mungkin … menahan sikap angkuhnya.
“Astaga, bisa gila aku kalau setiap hari bertatap muka dengan orang seperti dia,” gumam Arista di dalam hati dengan bibir yang mengerucut kesal.
Arista menghembuskan napas panjang, mencoba menenangkan diri. “Semoga aja aku bisa bertahan,” bisiknya lirih, hampir tak terdengar.
“Arista,” panggil seorang staf HR dengan sopan mengalihkan pikiran Arista. “Tuan Arkana meminta kamu langsung menemuinya di ruangannya.”
Arista menelan ludah, jantungnya berdegup keras. Namun, ia mencoba tetap profesional. Dengan langkah teratur, ia menuju lantai atas —ke ruang kerja yang baru saja ditempati Arkana.
Saat pintu diketuk dan ia melangkah masuk, pemandangan yang menyambutnya adalah sosok pria itu, duduk di balik meja besar dengan sikap tegap. Jas hitamnya sudah dilepas, hanya menyisakan kemeja putih yang digulung hingga siku, memperlihatkan lengan kokoh. Ia menatap layar laptop sejenak, lalu perlahan mengangkat wajah.
Tatapan itu. Tajam, dingin, penuh kesombongan. “Jadi … sekretaris pribadi saya adalah kamu,” ucap Arkana dengan nada datar, namun menyiratkan ejekan. “Kebetulan yang … menarik.”
Arista menegakkan tubuhnya, berusaha keras menjaga ekspresi tetap profesional. “Ya, Pak Arkana. Saya Arista Anandita, sekretaris pribadi Anda. Mulai hari ini saya akan membantu segala keperluan dan kebutuhan pekerjaan Anda.”
Arkana menyandarkan tubuh ke kursinya, menyilangkan tangan di d**a. Senyum tipis —lebih tepatnya senyum sinis— terbit di bibirnya. “Lucu sekali. Pagi tadi kamu melemparkan uang ke wajah saya. Dan sekarang … kamu berdiri di sini, bekerja untuk saya.”
Arista mengepalkan jemari di samping tubuhnya. Ingin berusaha menahan emosi di dalam diri tetapi tidak bisa dan langsung menimpali ucapan Arkana, “Maafkan saya, Pak. Tapi saya melakukan itu karena Anda berbuat kurang ajar di jalan. Hampir saja saya celaka karena mobil Anda tadi pagi. Dan saya tidak terima diperlakukan seperti barang yang bisa dibeli dengan uang.”
Arkana mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapnya lebih dekat. “Kamu benar-benar berani, Arista Anandita. Tidak banyak orang yang berani mempermalukan saya di depan orang lain. Kamu wanita pertama.” Ada kilatan misterius sekaligus kesal dalam suaranya.
Arista menegakkan dagunya. “Saya hanya melakukan apa yang seharusnya, Pak Arkana. Dan jika Anda ingin melanjutkan perdebatan pagi tadi, saya rasa tidak pantas dilakukan di kantor.”
Hening sesaat. Lalu, Arkana tertawa singkat —dingin, rendah, namun penuh tekanan.
“Baiklah, Nona Anandita. Mari kita lihat … sampai sejauh mana kau bisa bertahan bekerja dengan saya.”
Sorot matanya menancap dalam, membuat Arista merinding. Namun, ia tidak membiarkan dirinya gentar. Ia tahu satu hal: bekerja di bawah pria arogan ini tidak akan mudah.
—oOo—
Hari-hari selanjutnya Arista sebagai sekretaris pribadi Arkana terasa seperti ujian hidup. Sejak pagi, pria itu sudah datang lebih awal dari semua orang —bahkan sebelum Arista tiba di kantor. Begitu masuk, Arista langsung disambut dengan tumpukan pekerjaan yang menurutnya tidak masuk akal.
“Buatkan laporan detail transaksi tahun lalu. Saya ingin semuanya rapi, ringkas, dan ada di meja saya sebelum makan siang,” perintah Arkana, suaranya tenang tapi tajam.
Arista menatapnya tidak percaya. “Sebelum makan siang? Itu … cukup banyak, Pak.”
Arkana hanya menaikkan satu alis, menatapnya dengan tatapan menantang. “Kalau kamu merasa tidak sanggup, katakan saja. Aku bisa minta HR mencarikan sekretaris lain yang lebih kompeten.”
Kata-kata itu menancap dalam, tetapi Arista menahan diri. “Tidak perlu, Pak. Saya akan menyelesaikannya.”
Seharian itu, ia bekerja tanpa henti. Jari-jarinya menari di atas keyboard, matanya fokus membaca tumpukan dokumen, sementara Arkana dengan santai keluar masuk ruangannya seolah sengaja mengawasi. Dan benar saja, ketika Arista hampir selesai, Arkana datang hanya untuk menambahkan catatan tambahan yang semakin memperberat pekerjaannya.
Sore harinya, Arista benar-benar lelah. Namun ia berhasil meletakkan laporan yang sudah rapi di atas meja Arkana tepat waktu. Arkana mengambilnya, membaca sekilas, lalu meletakkannya kembali.
“Cukup baik,” ujarnya singkat.
Arista menahan napas, menunggu komentar lebih lanjut. Namun, Arkana menatapnya sekilas, lalu menambahkan, “Tapi lain kali, buat lebih cepat. Saya tidak suka menunggu.”
Arista hampir meledak, tetapi ia menghela napas panjang. “Baik, Pak.”
Ia kemudian berpamitan untuk keluar. Sampai di luar, Arista menoleh dan melihat ke arah pintu ruangan Arkana, tatapannya nyalang penuh kebencian.
“Dasar atasan kejam! Seenaknya saja, memangnya aku ini mesin apa?! Aku yakin kalau dia ngerjain pekerjaan itu sendiri belum tentu selesai tepat waktu!”
Ia menjeda kalimatnya sebentar, menarik napas pelan. “Kalau nggak ingat dia bos, udah aku cekik dia!” ucapnya dengan tangan yang seakan mencekik seseorang.
Ceklek!
Mata Arista melebar saat tiba-tiba pintu ruangan Arkana terbuka dan menunjukkan laki-laki itu di hadapannya sekarang.
“Mati aku!”