BAB 7

1546 Kata
Aimmar duduk di sebuah gazebo dekat kolam renang rumah keluarga archer. Sebenarnya dia muak harus berada lebih lama disana. Jika bukan karena misi rahasianya untuk membalaskan dendam, mungkin sudah sejak dulu dia menghancurkan keluarga ini. Terlebih lagi, kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri perbuatan papanya. Rasa bencinya kepada ayden tidak bisa dihindarkan lagi.  Kebetulan olivia lewat setelah mengecek omar yang ternyata masih tertidur nyenyak. Memang semenjak menjadi ibu dia menjadi sangat sensitif terhadap suara - suara. Seperti saat mandi biasanya terdengar suara omar menangis, ketika dia cek ternyata anaknya masih tertidur pulas. Olivia berencana menghangatkan ASI beku untuk anaknya di dapur, tapi ketika sedang berjalan menuju dapur matanya menangkap sosok aimmar yang sedang duduk termenung dengan wajah yang sulit di artikan. “Sedang apa kak ?” tanya olivia saat sudah menghampiri aimmar. “Cari angin.” jawab aimmar singkat. Tapi olivia semakin merasakan ada yang tidak beres. Karena mereka tumbuh bersama sejak kecil, jadi olivia tau bagaimana sikap aimmar saat terjadi masalah. “Apa ada masalah ?” aimmar menggeleng. “Bagaimana bisa kamu menikah dengan juna ?” tanya aimmar untuk mengalihkan pembicaraan. “Dulu aku kerja sebagai asistennya.” “Apa kau mencintainya ?” tanya aimmar lagi, olivia mendengarkan pertanyaan aneh itu hingga mengerutkan kedua alisnya. “Apa dia sangat mencintaimu ? Apa keluarga mereka memperlakukanmu dengan baik ?” pertanyaan aimmar bertubi - tubi membuat olivia yang awalnya membuka mulut untuk menjawab lalu menutupnya kembali. Dia menunggu aimmar menyelesaikan semua pertanyaannya. “Apa hubungan kakak dengan om ay sudah membaik ?” bukannya menjawab olivia justru menanyakan hal lain. Aimmar hanya diam saja. Tidak banyak yang mengetahui tentang permasalahan yang terjadi dengannya dan ayden. Tapi olivia sangat peka, sejak sikapnya berubah olivia terus menanyakan penyebab pertengkaran ayah dan anak itu. Terlebih hubungan mereka semakin menjauh semenjak ayden yang memutuskan untuk tinggal di Singapura, sedangkan ayana tinggal di Indonesia bersama aimmar dan aira. Setelah itu mereka sempat berpisah karena kepindahan olivia ke Bandung bersama keluarganya. Jadi ini adalah pertemuan mereka setelah sekian lama. “Kak…” panggil olivia lagi. “Jawab pertanyaan kakak, nanti aku akan menjawab pertanyaanmu.” “Sejak awal aku sudah mengenal juna. Bahkan saat masih duduk di bangku SMA, sebelum pindah ke Bandung waktu itu. Tapi entah takdir apa yang mempertemukan kita lagi, ya...walaupun harus melewati banyak cobaan sih buat bisa bersama. Tapi juna dan aku memang saling menyukai sejak dulu.” jelas olivia panjang lebar. “Bagaimana keluarganya memperlakukanmu ?” aimmar mengulang pertanyaannya lagi. “Mama yasmin sejak awal sangat menerima kehadiranku, apalagi kak yuna. Dia selayaknya kakak kandung bagiku. Dia banyak membantu dalam hubunganku bersama juna. Papa gio juga sangat perhatian, apalagi kakek dan nenek.” aimmar semakin marah saat olivia menyebutkan nama yasmin. Tapi dis berusaha menahannya. Yang aimmar tangkap dari cerita olivia, sepertinya mereka memang keluarga yang baik. Olivia sudah seperti adik kandungnya sendiri sama seperti aira, aimmar juga tidak menangkap adanya kebohongan di mata olivia. Justru binar kebahagiaan yang dia lihat. “Nanti kak aim kan jadi bagian keluarga ini, jadi nanti kakak rasain sendiri deh.” lanjut olivia lagi. Aimmar berpura - pura menampilkan senyumannya sambil mengusap puncak kepala olivia. “Apa aira masih sering berdiam diri di kamar ?” tanya olivia tiba - tiba. Sejak tadi aira terlihat paling pendiam diantara yang lain. Bahkan dia hanya berbicara pada olivia saja. “Kamu bisa menilainya sendiri.” jawaban aimmar membuat olivia menghembuskan nafas beratnya. Sepertinya permasalahan kedua sahabat yang seperti saudara baginya ini semakin berat saja. Tiba - tiba yuna datang sambil menggendong omar yang terbangun sambil menangis, terlihat bekas air mata di ujung matanya. “Kalian disini.” sapa yuna sambil terus tersenyum. Sebelum olivia menghampiri omar bersama yuna, aimmar sudah lebih dulu mengulurkan tangannya untuk menggendong omar. Dan bayi pemilih itu dengan mudahnya menerima tangan aimmar. Membuat olivia dan yuna saling pandang sambil tersenyum.  “Kak, ini pertama kalinya kalian bertemu. Jarang - jarang anak bayi ini mau dengan orang baru.” kata olivia. “Benarkah ? Ternyata dia mengenali unclenya.” kata aimmar sambil mengayun - ayunkan omar. Yuna melihat pemandangan indah di depannya, mungkin jika nanti mereka memiliki anak aimmar juga akan menyayanginya seperti ini. Semakin hari yuna makin jatuh cinta pada pesona aimmar si calon suaminya. Olivia tersenyum melihat yuna dan aimmar sangat kompak saat menggoda anaknya. Jika nanti diantara mereka ada masalah dia tau harus berbuat apa. Juna pun melihat kejadian itu di ambang pintu menuju ke arah luar. Entah kenapa dia merasa bahagia, tapi ingatan tentang permintaan papanya untuk mencari tahu tentang aimmar membuatnya kembali gelisah. Tapi di depannya ini yuna terlihat sangat bahagia bersama pria itu. ‘Semoga takdir baik bersama kalian.’ doa juna dalam hati. ** Malam itu para orang tua sudah selesai membicarakan semua rencana pertunangan hingga pernikahan anak - anak mereka. Terlebih aimmar dan yuna juga memberikan keleluasaan untuk mama dan mama mertuanya menentukan pilihan. Tapi tetap saja kedua wanita itu ingin mendengarkan pendapat yuna.  Pertunangan akan diadakan satu minggu lagi, lalu pernikahan mereka akan dilakukan 2 minggu setelah acara pertunangan diadakan.  Setelah itu ayana, aimmar, dan aira bangkit dari duduknya untuk berpamitan. Waktu sudah hampir larut malam karena mereka terlalu asyik membahas pernikahan anak - anaknya. Ya...suasana canggung diantara yasmin dan ayana memang sudah mencair. Bahkan yasmin bersikap seakan tidak terjadi apa - apa diantara mereka, dan bersikap sewajarnya di depan ayana Tapi, saat ayden masih duduk dan tidak ikut berpamitan membuat juna merasa janggal. Dia tau mereka membawa mobil masing - masing, tapi ada hal lain yang mengganggunya. Aimmar menatap nyalang ke arah papanya, membuat ayden membalas tatapan itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Ayden tau pasti anaknya akan marah saat melihat sikapnya yang seperti itu. Padahal dia berencana berpamitan setelah mereka pulang, tapi kembali lagi apapun yang dilakukan ayden anaknya itu pasti salah paham. Setelah itu mereka pulang, begitu pula dengan ayden. Mungkin hanya selisih beberapa menit. Tapi aimmar langsung pergi begitu saja setelah menyelesaikan urusannya hari ini. Saat ayden masuk ke dalam mobilnya, ponselnya bergetar. From : Son Sepertinya anda sangat  betah tinggal disana ?  Atau anda ingin pulang dengan membawa ‘wanita itu’ juga ? Seharusnya memang tidak perlu datang hari ini!! Cukup berpura - pura menjadi ayah yang baik !! Ayden membaca pesan dari anak laki - laki yang sangat disayangi dan dicintainya itu dengan hati yang pilu.  Sedalam apa informasi yang anaknya tau tentang masa lalunya dulu ? Mengapa salah paham ini semakin tidak terkendali ? Sungguh, ayden sendiri mengalami hari yang sulit saat itu. Hari dimana dia tidak sengaja melihat yasmin sedang mengandunh anak keduanya bersama gio. Kenangan buruk waktu itu membuatnya marah, jika saja mereka masih bersama pasti sudah ada 2 ayden kecil atau yasmin kecil memeriahkan hidup mereka. Dia masih menyimpan cinta itu dalam - dalam. Ayden masih mendengar pesan yasmin waktu itu, untuk menjadi ayah yang baik walaupun belum ada rasanya cinta dihatinya untuk ayana. Tapi wanita itu sudah melahirkan anaknya. Ayden berusaha bersikap menghargai dan menghormati ayana, hanya sebatas itu. Tapi, setelah kejadian itu dia justru membuat ayana kembali mengandung anaknya. Kejadian malam itu saat dia marah, mabuk, dan kembali membuat kesalahan. Bukan kesalahan karena dia melakukan 'hal itu' bersama istrinya, jadi sebenarnya sah - sah saja. Saat aimmar jatuh dari sepeda karena terserempet motor waktu itu, membuat ayden marah. Dia menyalahkan ayana atas kejadian itu. Dia menuduh ayana tidak becus mengurus putra mereka, padahal saat itu dia sedang masuk ke dalam karena mual dan ingin muntah. Aimmar yang memang memiliki rasa ingin tau yang tinggi bermain keluar rumah tanpa ada pengawasan. Hingga akhirnya anaknya itu terluka sampai harus dilarikan ke klinik terdekat. Ayden benar - benar panik setelah mendengar kabar itu. Dia sesegera mungkin datang ke klinik dengan menyetir seperti orang kesetanan.  Dan saat tiba disana justru ayana sendiri juga baru saja sampai. Ayden masih menyimpan kemarahannya. Setelah melihat anaknya sedang duduk diam, hatinya merasa lega. Terlebih anaknya baik - baik dan hanya terdapat luka lecet saja. Tapi malam harinya dia menumpahkan kemarahannya pada ayana. Menyalahkan wanita itu, bahkan membahas masa lalu mereka. “Apa kau sangat ingin membuatku tidak memiliki anak, HAH ?!?!” bentak ayden. “Dia anakku juga, ay.” jawab ayana dengan suara bergetar. Ayden tersenyum sinis. “Kalo aja waktu itu aku tidak mendengarkan pesan yasmin, mungkin aku akan segera menceraikanmu setelah melahirkan aimmar!!”  “Kenapa kamu selalu membawa yasmin dalam hidup kita ? Dia sudah bahagia bersama keluarganya.” “Kau memang lupa, bahwa semua ini terjadi karena ulahmu.” “Apa maksudmu, ay ?”  “Kau mendapatkan semua ini dengan cara yang kotor. Mama dan kamu kan yang menyerahkan berkas perceraianku dengan yasmin ? Ah… aku juga lupa bahkan kamu bisa membuatku menandatangani surat perceraian itu dengan mudah dan tanpa aku sadari.” sindir ayden. Mendengar hal itu ayana membeku. Darimana ayden mengetahui hal itu ? “Aku sudah curiga semenjak pertemuan tidak sengaja kita di depan kantor baruku saat di Singapura. Bahkan setelah itu pun kau dengan mudahnya membuat yasmin kehilangan anaknya lagi, bukan anaknya tapi anak kami.” ayden semakin membuka semua kejahatan yang pernah dilakukan ayana di masa lalu. “Ta-tapi….aku melakukan semua itu karena mencintaimu, ay. Aku tidak pernah ingin mencelakai dia, a-aku….hanya ingin menghilangkan penghalang diantara kita.” jelas ayana sambil menangis. "Cinta ? Apakah ini adalah definisi cinta menurutmu ? Apa kau bahagia setelah mendapatkanku sepenuhnya ? Aku tidak menyangka kau wanita yang sejenis itu." “Beruntung Tuhan tidak menghukummu dengan masih memberikanmu kesempatan untuk hamil.” lanjut ayden, tapi kata - kata  itu menampar ayana. “Dan satu lagi jangan pernah menjadikan cinta sebagai alasan pembenaran sikapmu itu. Karena sampai kapanpun hal itu tidak akan membuat hatiku mencintaimu.” setelah itu ayden masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan ayana sendiri. Sayangnya, semua itu terekam di dalam otak anak mereka yang masih berusia 4 tahun. Aimmar mendengar dengan jelas nama yasmin disebutkan berulang kali, walaupun dia tidak mengetahui dengan pasti masalah yang mereka bahas. Tapi nama yasmin dan juga ayana yang menangis setelah bertengkar dengan ayden membuat aimmar mulai merubah sikapnya. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN