BAB 6

1421 Kata
Malam ini adalah malam yang dinanti - nantikan oleh yuna, karena keluarganya bertemu dengan keluarga calon suaminya. Dia sengaja berdandan sewajarnya agar tidak terlalu mencolok. Kesan pertama adalah yang terpenting dalam langkah awal membina hubungan. Olivia membantu kakak iparnya itu bersiap - siap, terpancar kebahagiaan diantara keduanya. “Seandainya anting yang kamu kasih masih ada, kita akan memakainya malam ini.” kata yuna dengan raut wajah sedih. Olivia memeluk yuna dari belakang. “Kak yuna pake anting apapun tetep cantik, aku sudah mengurus anting kakak yang hilang. Mereka bisa bantu membuatkannya lagi, karena desainku masih tersimpan disana.” olivia menghibur yuna. “Makasih. Kamu emang adek kakak yang terbaik.” kata yuna yang kini mulai tersenyum kembali. “Nah….gini dong senyum.” lalu mereka tertawa bersama.  Lain halnya dengan yasmin dan gio, mereka sebenarnya sudah siap sejak tadi. Tapi, yasmin terlihat murung dan tidak bersemangat di acara pertama anak perempuannya ini.  “Apa aku siap bertemu mereka lagi ?” tanya yasmin dengan wajah lesu. Gio menghampiri istrinya, dia berlutut didepannya agar tinggi mereka sama. Karena yasmin tengah duduk di sofa. “Masa lalu memang sudah menjadi kenangan, tapi masa lalu kita bisa mempengaruhi masa depan yuna. Kamu nggak sendirian, kita akan hadapi mereka bersama.” gio menyemangati yasmin, padahal ini juga kali pertamanya setelah sekian lama tidak bertemu dengan ayden. Tapi ini benar - benar pertama kalinya bagi mereka bertemu ayana. “Apa kamu masih marah pada ayana atau ayden ?” yasmin menggeleng. Sungguh dia sudah berusaha berdamai dengan hatinya dan mencoba melupakan masa lalu itu. Bahkan walaupun dia sempat marah pada ayana karena kejadian waktu itu, sekarang yasmin mendapatkan ganti yang jauh lebih besar. Suami yang sangat baik dan mencintainya, juga kesempatan menjadi seorang ibu lagi. Lalu untuk apa dia marah ? Rasa marah atau dendam tidak akan menyelesaikan semuanya, mungkin justru akan menyakiti banyak pihak. Lagipula umur mereka juga bukan di tahap masih bisa bersikap kekanakan. Seharusnya mereka memberikan contoh yang baik kepada anak - anak mereka. Yasmin menghembuskan nafasnya, lalu berdiri sambil menarik gio untuk mengikutinya. “Baiklah, kita lakukan ini bersama untuk yuna.” kata yasmin lalu disambut senyuman gio. Mereka segera keluar dari kamar untuk bersiap - siap untuk menyambut calon besan mereka. Dunia benar - benar sempit kan ? Bahkan tidak ada yang tau bahwa mereka akan menjadi satu keluarga di masa depan ? Yuna turun dari tangga bersama dengan olivia dan omar dalam gendongannya. Membuat semua orang yang duduk diruang tamu menolehkan kepala untuk melihatnya.  “Ma, apa mereka sudah datang ?” tanya yuna pada mamanya saat sudah sampai diruang tamu. “Belum, mungkin sebentar lagi. Kamu sangat cantik, sayang.” puji yasmin. “Baju ini adalah pilihan aimmar, ma.” bisik yuna pada yasmin dengan wajah tersipu malu. Yasmin tertawa melihat sikap anaknya yang sedang kasmaran ini. ‘Mungkin aimmar memang dilahirkan untuk yuna.’ Tidak lama kemudian, aimmar datang bersama ayana dan aira adik perempuannya. Yasmin dan gio langsung menyambut hangat keluarga besannya ini. Mereka masuk lalu menuju ruang tamu, gio sempat menatap dengan tatapan yang yasmin pahami maksudnya. Mata mereka seakan menyampaikan perasaan aneh karena ayden tidak datang bersama. Lalu mereka mengobrol santai untuk berbasa - basi dan mencairkan suasana. Tiba - tiba ada seseorang datang dan membuat suasana yang tadinya mulai mencair menjadi kaku. “Maaf, terlambat.” kata seorang pria yang ternyata adalah ayah kandung aimmar. Yasmin mengenal dengan baik suara pria itu, senyum yang tercetak diwajahnya berubah sirna. Gio pun menyadari hal itu. Selain yasmin, aimmar juga menatap ayden dengan tatapan permusuhan. ‘Sedang apa pria itu datang kemari ?’ Ayana yang melihat kedatangan suaminya langsung bangkit dari duduknya dan menyusul ayden. “Kenapa baru sampai ? Apa sangat macet ?” tanya ayana lembut dan penuh perhatian. Ayden hanya menjawab dengan anggukan saja, tapi tatapan tajam dari anak laki - lakinya itu menusuknya. Ayden akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang ayana. ‘Wah….wah….pria itu sangat pintar bersandiwara rupanya.’ batin aimmar. Gio berdiri untuk menyalami ayden, sedangkan yasmin masih duduk. Juna menatap aneh ke arah mamanya, tidak biasanya mamanya akan bersikap seperti itu. “Ma…” panggil yuna. Dia memberikan kode kepada mamanya untuk menyapa papa calon suaminya. “Lama tidak bertemu.” sapa gio sambil menjabat tangan ayden dan memeluknya sekilas. Setelah itu yasmin dengan gerakan kaku melangkah maju ke arah ayden. “Lama tidak bertemu nyonya archer.” sapa ayden sambil mengulurkan tangan. Setelah diam beberapa saat yasmin membalas uluran tangan ayden, sambil mengangguk. Lalu dia menarik tangannya saat ayden menyunggingkan senyumannya.  Tidak berselang lama, acara makan malam mereka berlangsung. Mereka makan dalam suasana yang kaku. Jika saja omar tidak rewel, mungkin suasana disana masih dingin dan kaku. “Biar mama yang gendong.” kata yasmin pada olivia sambil mengulurkan tangannya ke arah cucunya itu. “Ma, ada keluarga calon suami kak yuna. Mama disini aja ya, biar olivia yang masuk ke dalam.” tolak olivia lembut yang diangguki yasmin, menantunya itu benar. Tidak pantas rasanya jika dia pergi dari ruang makan saat ini. Juna yang awalnya ingin menyusul istrinya pun diberikan kode oleh olivia untuk tetap duduk. Olivia merasa ada sesuatu yang tidak beres. Jika juna juga ikut pergi menyusulnya mungkin suasana disana akan semakin kaku. Akhirnya juna memulai obrolan dengan aimmar, yuna pun akhirnya ikut dalam obrolan mereka. Obrolan yang tidak jauh dari urusan pekerjaan mereka, aira yang duduk disebelah aimmar hanya diam saja. Sedangkan para orang tua mereka masih terus makan dalam diam. “Bagaimana kabarmu, ayden ?” tanya gio pada akhirnya. Mereka yang duduk bersebelahan dengan yasmin yang duduk di seberang ayden. "Baik, bagaimana kabarmu ?" Tanya balik ayden. Lalu kedua pria dewasa itu akhirnya menemukan pembicaraan tentang masalah bisnis mereka. Yasmin masih terus diam sambil memakan hidangannya di piringnya. Ayana pun terlihat lebih pendiam dibanding pertemuan mereka sebelumnya. Tak berselang lama, olivia kembali menuju ruang makan sendirian. Sepertinya anaknya tadi mengantuk. “Tante ay, enak nggak makananya ?” olivia membuka pembicaraan. “Enak, sayang. Kamu yang masak ?” olivia menggeleng sambil tersenyum. “Mama yasmin yang masak.” jawab yasmin riang. Yasmin hanya tersenyum canggung mendengar pujian calon besannya. “Mine, kamar mandi dimana ?” tanya aira tiba - tiba saat suasana kembali hening. “Kamu manggil dia dengan panggilan mine ?” tanya juna yang tiba - tiba ikut nimbrung. Aira mengangguk dengan wajah yang masih terlihat datar. “Itu panggilannya sejak kecil.” jawab aira cuek. Setelah itu dia berdiri saat olivia bilang ingin mengantarkannya. Setelah tak berselang lama acara makan pun sudah selesai. Gio mengajak ayden berbicara di ruang kerjanya. Sedangkan yang lain menuju ke ruang tamu untuk melanjutkan obrolan mereka. Suasana jauh lebih baik dari sebelumnya, karena akhirnya ada topik yang mereka bahas. Ayana dan yasmin membicarakan beberapa butik dengan desain gaun pengantin terbaik menurut mereka. Hingga konsep apa yang akan mereka pakai di acara pernikahan kedua anaknya nanti. “Nyonya, tuan gio memanggil anda.” kata bi ida. Yasmin yang mendengar itu langsung mengangguk. “Ayana, aku tinggal sebentar ya.” pamitnya. Yasmin berjalan menuju ruang kerja suaminya, saat masuk ada dua pria sedang menatapnya. “Masuklah sayang.” kata gio lembut. Ayden memperhatikan yasmin hingga duduk di sebelah suaminya. “Ada apa ?” tanya yasmin pada gio. “Apa kau ingin berbicara dengan ayden ? Mungkin ada sesuatu yang harus kalian selesaikan.” kata gio. Yasmin menatap bingung ke arah suaminya. Bagaimana bisa suaminya ini dengan mudahnya menanyakan hal seperti ini di depan pria masa lalunya ? “Katakan saja jika memang ada yang ingin dibicarakan.” jawab yasmin. Tapi gio tiba - tiba berdiri. “Aku akan tinggalkan kalian berdua.” setelah itu gio pergi meninggalkan yasmin dan ayden di ruang kerjanya. Jangan tanyakan bagaimana perasaan gio, pria itu mati - matian menahan rasa cemburunya. Tapi ini adalah kesempatan terakhir untuk ayden menyelesaikan semuanya. “Yas…” panggil ayden saat mereka sudah berdua. “Katakan saja yang ingin kamu sampaikan, setelah selesai kamu bisa pergi.” kata yasmin dengan nada ketus. “Baiklah. Aku hanya ingin meminta maaf karena saat itu aku tidak mempercayaimu.” yasmin tidak merespon apapun. Setelah itu ayden menyentuh tangan yasmin. “Aku bahagia melihatmu bersama gio, kamu bersama pria yang tepat. Setelah ini aku akan menjaga putrimu sebagai ganti aku pernah gagal menjagamu dulu.” ucap ayden tulus. Yasmin langsung menarik tangannya dari tangan ayden. “Baiklah, apa kamu sudah selesai ?” tanya yasmin. Ayden merasa tidak mengenali wanita yang masih sangat dicintainya ini. Wanita ini sudah berubah banyak, dia menjadi lebih tenang, lebih dewasa, dan semakin cantik di umurnya yang sudah tidak muda ini. Aimmar melihat papanya menggenggam tangan wanita yang sangat dibencinya. Wanita yang menjadi alasan air mata mamanya menetes. Tangannya mengepal kuat, terlihat rahangnya juga mengeras. Padahal niat awalnya adalah ingin keluar sejenak karena wangi yuna membuatnya kembali teringat dengan gadis vanillanya malam itu. Tapi lihat apa yang dilihatnya, justru papanya bersama wanita yang sangat dibencinya. ‘Tidak akan ada lagi senyuman di wajah putrimu setelah menikah denganku nanti.’ janji aimmar dalam hati. Sedangkan yasmin langsung berdiri dan meninggalkan ayden. Saat berada di ambang pintu dia menolehkan kepalanya, “Jangan pernah melakukan hal seperti ini, diluar sana ada anak dan istrimu. Lagi pula hubungan kita sudah lama berakhir.” kata yasmin setelah itu pergi meninggalkan ayden sendirian. Sayangnya saat yasmin mengatakan itu aimmar sudah pergi meninggalkan ruang kerja gio. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN