Setelah sekian lama hubungan juna bersama gio memburuk, akhirnya mereka saling berbicara. Sejak olivia masuk ke dalam keluarga mereka, bahkan ketika anak juna dan olivia lahir membuat hubungan ayah dan anak yang sempat tegang itu mencair. Gio bersyukur karena juna kembali pulang dan membawa bonus kebahagian didalamnya, yaitu omar dan olivia.
Gio meminta juna mencari tau tentang aimmar, calon suami kakaknya. Karena yasmin merasa resah dengan kebenaran siapa calon suami yuna. Padahal mereka sudah mengetahui jelas bahwa nama belakang aimmar adalah adista bukan pranaya. Tapi kenapa yasmin masih merasakan kejanggalan ?
Apalagi baru saja yasmin menelfon gio setelah mendengar dari olivia bahwa aimmar adalah anak ayden. Kenapa setelah sekian lama masa lalu masih menghampiri mereka ? Bahkan sekarang mulai menyeret anak - anak mereka.
Juna langsung pergi dari kantor gio setelah membicarakan hal itu, dia harus mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Tiba - tiba gio merasakan perasaan bersalah karena menerima lamaran aimmar tanpa mencari tau dengan detail siapa aimmar sebenarnya. Sama halnya dengan yasmin, karena dia pun merasakan perasaan bersalah seperti gio. Dia justru membujuk anak perempuannya untuk memberikan kesempatan pada aimmar. Dan disaat yuna memberikan kesempatan itu, yasmin menemukan kenyataan bahwa anak perempuannya itu sedang jatuh cinta.
“Gi, apa kita harus bertemu mereka lagi ?” Tanya yasmin dengan wajah yang telihat cemas.
“...” gio hanya diam saja. Dia sedang dalam dilema besar antara terus membiarkan hubungan yuna dan aimmar berlanjut atau membatalkan hubungan ini sebelum semakin jauh. Hanya karena mereka tidak ingin memiliki urusan dengan masa lalu mereka apa anak - anak mereka harus menanggung semua ini. Bukankah terlalu egois ?
Gio mengetahui dengan pasti apa yang dulu terjadi diantara mereka. Tapi kenapa hubungan ini masih berlanjut hingga ke anak - anak mereka. Dan yang paling membuat gio merasakan keanehan adalah jika aimmar benar anak ayden tapi mengapa dia tidak menggunakan nama keluarga ayden dibelakang namanya.
“Gi…” panggil yasmin lagi saat mengetahui suaminya justru melamun. Keadaan yang akan mereka hadapi kali ini adalah makan malam keluarga. Yang mau tidak mau pasti membuat mereka kembali bertemu.
“Sayang, jangan biarkan yuna mengetahui hal ini. Biarkan kita bereskan semuanya tanpa membuat yuna terlibat. Lagi pula aku sudah meminta juna mencari tau.” Kata gio menenangkan lalu mencium kening istrinya.
“Tapi aku nggak bisa ketemu ayden lagi.”
“Apa kau masih mencintainya ?” Yasmin hanya menggeleng.
“Bukan…. bukan gitu, gi. Hubungan ini sudah terlalu lama, tapi sampai sekarang aku masih tidak bisa jika harus bertemu ayden lagi.” Gio maju lalu memeluk istrinya. Mengusap lembut punggung itu, sambil sesekali mencium puncak kepalanya.
“Ingatlah sesuatu, kamu nggak melewati ini sendiri. Aku selalu ada untukmu.” Kata gio. Yasmin menghela nafas mendengarkan hal itu. Memang benar bahwa gio tidak pernah meninggalkannya sedetik pun.
Di luar sana juna pun sedang merasakan perasaan yang kacau. Mengetahui kakaknya harus menikahi pria yang membuat kedua orang tuanya resah. Tapi dia tidak mengetahui apapun yang terjadi di masa lalu orang tuanya.
“Bang.” Panggil juna sambil melambaikan tangan. Saat ini dia sedang bertemu dengan bobby di salah satu cafe dekat kantornya.
“Ada apa ?” Tanya bobby saat sudah duduk di hadapan juna.
“Yuna.”
“Kenapa dengan yuna ?” Bobby bertanya lagi dengan raut wajah khawatir.
“Kita harus cari tau semua informasi tentang aimmar.” Jelas juna.
“Aimmar ? Siapa dia ?”
“Calon suami yuna.” Jawab juna. Membuat bobby mengurungkan niat untuk meminum kopinya.
“Calon suami ?” Juna mengangguk.
“Udah nggak usah kaget gitu, lu kan udah sama dee.” Mendengar itu membuat bobby termenung. Perkataan juna memang benar, lagi pula sejak awal hubungannya dengan yuna pun tidak berjalan lancar.
“Oke, nanti gua kabarin.” Setelah itu bobby mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
**
Yuna sedang berada di sebuah butik bersama aimmar memilih gaun yang akan dipakainya saat makan malam keluarga nanti. Calon suaminya itu terlihat sangat bersemangat sekali mempersiapkan semua ini.
Biasanya pasti para wanita yang akan repot mempersiapkan penampilan mereka jika ada suatu acara. Tapi kali ini berbeda, justru si pria yang terlihat antusias. Seakan dia mengetahui masa depan.
“Bagaimana dengan yang ini, ay ?” Tanya yuna sambil mencoba menyesuaikan baju itu didepan kaca.
“Cobalah, nanti akan terlihat cocok atau tidak saat kamu memakainya.” Jawab aimmar santai dibarengi senyuman.
“Akan ku coba.” Mendengar jawaban calon suaminya membuat yuna ikut bersemangat dan antusias untuk acara mereka nanti. Yuna langsung bergegas ke ruang ganti untuk memakai langsung gaun yang sudah dipilihnya.
Setelah memakainnya, yuna merasakan kecocokan dengan gaun itu. Sebuah bodycon dress berwarna nude yang mengikuti tubuh ramping yuna, dengan brokat dibagian luar yang membuatnya terlihat sangat menawan. Dia keluar dari ruang ganti untuk menunjukkan pada aimmar.
Sesaat saat yuna keluar, pandangan mata mereka bertemu. Waktu seakan berhenti, aimmar merasakan ada hal lain dalam dirinya. Sebuah ketertarikan pada sosok didepannya yang sangat cantik dan menawan. Dia benar - benar terpesona pada yuna.
Lalu, tiba - tiba aimmar berdehem untuk membuat suasana kembali ke keadaan semula.
‘Ingatlah bahwa dia adalah musuhmu. Jangan terkecoh dengan kecantikan palsu itu.’ Batin aimmar terus menerus menolak kenyataan didepannya.
“Gimana ?” Tanya yuna dengan tubuh yang sedikit kikuk karena sedari tadi aimmar menatapnya intens.
Aimmar tersenyum lebar, bahkan terlihat binar dimatanya. “Sangat cocok denganmu.” Katanya. Memang hati dan mulut aimmar tidak kompak kali ini, membuatnya merutuki mulutnya yang dengan gemulai memuji yuna.
“Ambil saja yang itu.” Kata aimmar lagi, lalu dia memanggil pegawai butik untuk mengurus pembayaran gaun itu. Yuna dengan hati berbunga segera mengganti bajunya dengan pakaian kantornya tadi. Lalu kembali duduk di sofa bersama aimmar sambil menunggu.
“Makasih, ay.” Ucap yuna tulus.
“Bentar lagi kamu kan jadi tanggungjawab aku, ini cuma hal kecil. Aku bisa membelikanmu lebih dari ini.” Kata aimmar. Tapi dalam hatinya tersenyum sinis. ‘Bersiaplah untuk kejutan yang lain.’
Selesai dari butik yuna dan aimmar makan malam bersama. Mereka benar - benar sangat serasi, bahkan semua orang menatap mereka dengan pandangan iri. Aimmar terlihat penuh perhatian pada yuna. Seperti sekarang ini, dia sedang menyuapkan sepotong daging steak ke mulut yuna. Memang sesuatu hal yang sederhana bagi sebagian orang, tapi tidak semua orang mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari pasangannya.
“Yuna, apa kita perlu memesan cincin pertunangan hari ini ?” Tanya aimmar disela - sela acara makan mereka.
“Boleh, mungkin kita bisa pesan selagi mempersiapkan yang lain.” Jawab yuna menyetujui. Akhirnya setelah selesai makan mereka menuju ke salah satu toko perhiasan dengan merek terkenal.
“Pilihlah.”
“Aku lihat dulu, nanti kalau suka aku akan bilang.” Jawab yuna sambil memperhatikan beberapa cincin dibawah lemari kaca itu. Aimmar memperhatikan yuna yang sejak tadi mengelilingi toko. Justru dia sudah menjatuhkan pilihan.
“Yuna, gimana dengan cincin ini ?” Tanya aimmar sambil menunjukkan salah satu cincin pilihannya. Yuna melihat pilihan aimmar dengan mata berbinar, calon suaminya ini sungguh manis.
“Waaaah….ini sangat cantik.” Puji yuna.
“Kau mau ?”
“Apapun yang kamu pilih aku menyukainya.” Yuna mengatakannya sambil tersenyum lebar.
“Baiklah, kami ambil yang ini.” Kata aimmar pada pegawai toko perhiasan itu.
Karena ini adalah jatuh cinta yuna yang pertama kalinya dalam hidup membuatnya sedikit buta dan menjadi tidak waspada. ‘Cih!! Bahkan dia tidak menyadari cincin itu sama persis dengan milik seseorang.’ Batin aimmar.
**