Pagi ini yuna bangun dengan perasaan berbunga - bunga. Bagaimana tidak semenjak semalam dia resmi jatuh cinta pada calon suaminya, aimmar. Bahkan panggilan sayang juga sudah ada diantara keduanya.
Walaupun aimmar tetap memanggilnya dengan nama, tapi setidaknya dia memberikan ide panggilan khusus diantara mereka berdua.
Drrt… Drrt…
‘Apa kau sudah siap ?’
‘Sudah.’
‘Baiklah aku akan sampai dalam 10 menit.’
‘Oke.’
‘See you.’
‘See you, ay.’
Setelah menerima panggilan itu yuna semakin merasa kasmaran. Ini adalah pertama kalinya dia menerima tawaran untuk berangkat ke kantor bersama. Kali ini yang lebih spesial adalah dia berangkat bersama dengan calon suaminya, bukan dengan laki - laki yang tidak jelas.
“Kayaknya aku harus berterima kasih sama papa karena menjodohkanku dengan aimmar.” Gumamnya semangat.
Lalu yuna menuruni tangga, melihat adik iparnya sedang sibuk di dapur.
“Selamat pagi.” Sapa yuna penuh semangat. Dia tampil rapi menggunakan kemeja putih dengan pita besar di bagian atasnya dipadukan rok pensil berwarna peach sepanjang lututnya. Blazer kerjanya dia gantungkan di lengannya. Wajahnya dipoles makeup tipis dengan rambut yang dibiarkan tergerai.
“Tumben udah siap lu kak ?” tanya juna heran saat keluar dari kamarnya melihat kakaknya sudah siap. Sedangkan dirinya masih menggunakan piyama, berniat untuk melakukan olahraga pagi seperti biasanya.
“Hari ini calon laki gua jemput buat ke kantor bareng.” Jelas yuna dengan wajah ceria. Adiknya hanya bisa menggelengkan kepala saja melihat tingkah antik kakaknya akhir – akhir ini.
Saat di meja makan, juna sudah duduk meminum kopi buatan olivia.
“Kak yuna, pagi – pagi udah cantik aja.” Goda olivia yang sukses membuat yuna semakin malu – malu. Padahal tadi saat juna yang bertanya sikapnya tidak seperti saat oliv yang menggodanya.
“Semalem kan kakak udah cerita.” Olivia merasa bahagia melihat kakak ipar yang sudah di anggap seperti kakak kandungnya sendiri ini terlihat bahagia dengan calon suaminya yang merupakan anak sahabat orang tuanya yang oliv anggap seperti kakak laki – lakinya sendiri.
“Kalian berdua ini kenapa sih.” Juna kesal melihat tingkah dua wanita di hadapannya ini.
“Alah, lu lupa apa dulu kalo kasmaran sama oliv gimana ?” omel yuna.
“Iya nih, lupa kali dia kak.” Olivia lagi – lagi lebih memilih membantu yuna, membuat juna tak berkutik jika harus menghadapi yuna dan olivia yang kompak seperti ini. Daripada masalah ini merembet ke yang lain, juna memilih untuk segera pergi meninggalkan meja makan.
“Sayang, aku mau mandi dulu.” Juna pamit untuk mandi, membuat olivia dan yuna tertawa menang sudah membuat juna kesal di pagi hari.
Drrt… Drrt…
✉️ Ay
Take your time, i’ll be waiting..
Setelah membaca pesan itu senyum langsung tercetak di wajah yuna, dengan segera dia berpamitan pada olivia karena aimmar sudah menunggunya di depan rumah.
“Liv, kakak berangkat dulu ya.” Pamit yuna lalu mencium pipi adik iparnya itu.
Dengan detakan jantung yang menggila yuna berulang kali menarik nafas dan menghebuskannya agar lebih tenang. Yuna memasuki mobil sport mewah warna hitam milik aimmar.
“Good morning.” Sapanya.
“Morning.” Jawab yuna mencoba setenang mungkin.
“Mau sarapan dulu ?”
“Apa masih sempat ?”
“Selalu sempat jika waktu itu untukmu.” Jawab aimmar dibarengi senyuman manis. Tak dapat dipungkiri hati yuna meleleh diperlakukan semanis ini.
Bahkan dulu dia pernah diperlakukan seperti ini oleh bobby pun tidak membuatnya merasakan getaran di hatinya.
“Untukmu.” Kata aimmar sambil memberikan sebuket bunga. Semua macam keindahan bunga ada disana, bahkan ada sebuah kartu tertulis ‘semoga harimu indah.’
“Terima kasih, ay.”
“Dengan senang hati.” Lalu aimmar menyentuh tangan yuna. Awal pagi ini sangat indah untuk yuna.
Mereka berangkat menuju salah satu hotel milik aimmar untuk sarapan bersama.
“Kau suka apa saat sarapan ?” Tanya aimmar.
“Buah dengan yogurt.”
“Hanya itu ?”
“Mungkin omelet.”
“Baiklah siapkan american style dan juga buah dengan bermacam - macam yogurt.” Pesan aimmar pada sekertarisnya. Setelah tiba disana semua orang mengikuti kemana pun aimmar pergi. Seperti ratu dan raja berserta dayang - dayangnya.
Mereka makan di restoran dengan pemandangan terbaik hotel milik aimmar. Bahkan yuna diperlakukan seperti tuan putri oleh calon suaminya. Wanita mana yang tidak ingin diperlakukan seperti ini ?
**
Yasmin yang kembali setelah berjalan - jalan dengan omar melihat menantunya sibuk sendiri di dapur.
“Yuna udah bangun sayang ?” tanya yasmin pada oliv.
“Kak yuna udah berangkat ma, tadi barusan aja di jemput sama kak aim.” Kata olivia semangat.
“Oh, yaudah.” Jawab yasmin dengan nada kecewa.
‘Siapa sebenarnya aimar ?’ batin yasmin.
“Sayang, boleh mama tau tanya tentang aimmar ?”
“Boleh ma.”
“Siapa nama lengkap aimmar ?”
“Aimmar moussa pranaya, ma.”
“Apa papa aimmar namanya ayden pranaya ?” Olivia mengangguk.
“Mama kenal om ay ?”
“Kenal, sayang. Sangat kenal.”
“Mama kenal dimana ?”
“Nanti kapan - kapan mama ceritain ya, sayang. Mama harus pastikan sesuatu dulu.”
Olivia yang bingung hanya mengangguk saja. Setelah itu yasmin pergi meninggalkan olivia sendiri. ‘Kenapa rasanya aneh ya ?’
Jika yasmin sedang bingung memastikan asal usul calon menantunya, berbeda dengan yuna yang sedang makan sambil mengobrol santai dengan calon suaminya. Berita tentang perjodohan diantara keduanya bahkan sudah banyak di dengar oleh kolega mereka.
“Bagaimana jika bertunangan terlebih dahulu ?” Tanya aimmar.
“Bertunangan ?”
“Apa kau keberatan ?” Yuna menggeleng.
“Baiklah. Kapan kau ingin mengadakan acaranya ?” Tanya yuna.
“Semua tergantung padamu, yuna. Aku akan mewujudkan semua pernikahan imipanmu.” Katanya. Melihat sikap aimmar yang seperti ini membuat yuna merasa menyesal sempat menolak aimmar saat itu.
“Sungguh ?”
“Tentu saja.” Binar bahagia terlihat di mata yuna. Membuat aimmar merasa sedikit kesal. Tapi dia harus tetap melanjutkan ini semua. ‘Tahap awal dengan membuatmu nyaman sudah berhasil.’
“Bagaimana kalo kita bicarakan sambil makan malam antar keluarga ?”
“Aku setuju.”
Pembicaraan yang sangat menyenangkan hati yuna mengiringi sarapan mereka. ‘Semoga kegiatan ini akan terus kita lakukan, ay.’
Setelah itu aimmar mengantarkan yuna ke kantornya.
“Aku akan menjemputmu nanti sore.” Pesannya setelah itu yuna turun.
‘Nikmati semuanya selagi kamu bisa menikmatinya, yuna.’
Aimmar kembali ke kantornya, lalu dia menghirup wangi yang membuatnya merindukan gadisnya malam itu. Tanpa dia sadari bahwa wangi itu sama dengan wangi milik yuna. Bahkan anting milik gadis itu pun tak pernah aimmar tinggalkan, selalu berada di kantongnya. Baginya ini seperti jimat keberuntungan.
Tuuut..
‘Win, gimana udah ada kabar ?’
‘Belum mar, lu sabar napa.’
‘Masa cari tau satu wanita aja lu lambat banget win.’
‘Kalo gua udah tau, yuna mau lu kemanain ?’
‘Berisik lu, win!’
Setelah itu panggilan ditutup secara sepihak oleh aimmar. Sebenarnya dia memang hanya berencana membalaskan dendam pada yuna. Tapi jika gadisnya itu sudah ditemukan, maka apa yang akan dia lakukan pada yuna ?
**
Rencana makan malam keluarga sudah di rencanakan oleh aimmar dan yuna secara spesial. Seminggu sebelumnya ayana sudah meminta aimmar untuk menghubungi ayden, tapi rasanya dia terlalu malas untuk menghubungi pria itu.
Tok… Tok…
Terdengar suara pintu kantor aimmar diketuk, sebelum aimmar mempersilahkan masuk tiba - tiba seseorang muncul dihadapannya.
“Apa kabar, nak ?”
“Untuk apa anda datang kesini ?” Tanya aimmar sinis.
“Apa aku tidak boleh mengunjungi anakku ?”
“Tidak perlu, aku tidak membutuhkannya.”
“Apa kau juga tidak mengundangku di acara makan malam bersama keluarga calon istrimu ?” Tanya ayden kepada putranya. Ya… ayden sudah kembali dari urusannya. Kembali untuk mengisi posisi yang telah lama kosong dikeluarga mereka. Posisi yang selama ini digantikan oleh anak laki - lakinya.
“Untuk apa anda datang ? Bertemu dengan mantan istri anda, hah ?” Dengan tatapan benci aimmar menyindir ayah kandungnya.
“Hubungan itu sudah lama berakhir, ay.”
“Tapi rasa cinta dan sayang itu belum berakhir.” Kata aimmar ketus lalu kembali sibuk dengan berkas dihadapannya.
“Kau tidak tau yang sebenarnya, ay.”
“Apa yang ku lihat sudah cukup. Jika tidak ada yang perlu dibicarakan, silahkan tinggalkan ruangan saya.” Usir aimmar secara sopan.
Ayden yang menerima sikap dingin anaknya itu merasa terluka. Entah kesalahan apa yang pernah dia perbuat saat itu hingga sang anak semarah ini kepadanya.
_____