Dua bulan berlalu, Amara tenggelam dalam mengelola rumah makan yang dihadiahi sang suami. Setiap hari, ia akan datang lebih awal, membantu melayani pelanggan dengan senyuman terus membingkai di bibir. Tidak hanya itu, dia juga selalu ada untuk karyawannya, memberikan bantuan dan kadang motivasi. membuat mereka merasa dihargai walau hanya seorang pegawai. "Sebenernya senang banyak banget pelanggan, tapi ... aku bahkan sempat istirahat dan mengisi perut," keluh Tiara. Perempuan itu memegang perutnya dan tanpa sengaja Amara mendengar gerutuan karyawati tersebut. Ia segera menutup pintu dapur dan mendekati Tiara, tangan pemilik rumah makan ini menepuk bahu pegawainya. Membuat sang empu terkejut. "Eh, Mbak ada di sini," kata Tiara. Suaranya terbata-bata karena gugup, bahkan menggaruk le

