Kutatap wajah cantik Jesica, dia terlelap hingga tak mendengar pertengkaran kami. Mungkin pengaruh obat, hingga dia tidur dengan pulas. Kucium tangannya, air bening mengalir dari sudut netra. Aku tak sanggup kehilangan dia. Ya Allah persatukan kami dalam ikatan suci pernikahan. "Cepat pergi dari sini! Saya muak melihat kamu!" bentak papi Jesica. "Maafkan aku Jes." kubisikan di telinganya. Semoga saja dia memaafkanku. "Adam, kamu tak mendengar perkataan saya!" "Ba-baik Om, saya titip Jesica. Kalau ada apa-apa tolong hubungi saya." kuangkat b****g dari kursi. Tak ada alasan lagi aku berada di sini. Melangkah gontai, sesekali kulirik Jesica yang masih terlelap. Andai dapat kuulang waktu. Aku akan memilih menolak perjodohan itu. Aku tak sanggup kehilangan kamu Jes. Ini terlalu sakit. **

