Keesokan paginya, pagi sekali, Irma diantarkan ke salah satu kosan temannya yang tidak mungkin diketahui Bang Edo untuk memulihkan diri sejenak. ia berencana pulang ke rumah lusa, setelah lebamnya mereda. Aku diminta Irma untuk mengalihkan fikiran Bang Edo terhadapnya, menurut Irma, hanya aku yang bisa melakukan itu.
Aku kembali ke kosan dan mendapati Bang Edo sedang mengotak-atik handphone bersama sebatang rokok di tangan dan segelas kopi di hadapannya. Tampak sangat frustasi, tetapi tidak ada raut wajah penyesalan kulihat, yang ada hanya rasa kesal sekaligus takut. Ketika aku masuk kamar kos yang pertama kali ditanyakan Bang Edo adalah keberadaan Irma, aku pun menjawab tidak tahu.
Aku dan Irma memang saling mengenal, tetapi tidak berteman akrab, ia kuketahui satu fakultas dengan Bang Edo, hanya saja angkatannya berbeda. Aku pun hanya sesekali berbicara dengan Irma jika ia sedang berada di kosan bersama kekasihnya. Selebihnya aku tidak pernah tahu dan ingin mengetahui cerita mereka berdua.
Lalu dengan kebenaran yang kusembunyikan, aku memancingnya untuk bercerita ada apa sebenarnya dengan Irma. Bang Edo menceritakan segalanya, termasuk mengenai perangainya yang meledak-ledak di hadapan perempuan. Ia berulah tak sadar dan yang tersisa hanyalah rasa penyesalan.
Tetapi aku tidak semudah itu mempercayai Bang Edo, memang sekali lagi aku pastikan matanya berkaca, tetapi itu bukan genangan air mata menyesal telah menyakiti perempuan, itu hanya seberkas air mata ketakutan. Takut jika Irma atau teman-temannya melaporkan ke polisi atas perilaku p**********n. Apalagi Irma telah memutuskan hubungan dengannya dan sekarang tidak bisa dihubungi sama sekali.
Dalam kekalutan seperti itu, aku bersolek dua muka. Mencoba menenangkannya sekaligus mengutuki perbuatannya. Aku sampaikan padanya jika mungkin Irma hanya membutuhkan ketenangan, dalam beberapa waktu pasti akan kembali. Hingga sampai keesokan harinya Irma tak kunjung ada kabar, bahkan hingga berbulan kemudian, bersama waktu jejaknya terlenyapkan.
Pada rentang seperti itu, Bang Edo terlihat sudah mulai mengalami perubahan, minimal pada ketergesaan. Mungkin dalam kehampaan ia belajar, jika menyakiti bukan jalan mencari bukti. Kehidupan Bang Edo dan aku pun berjalan seperti biasa kembali. Setelah itu, Irma aku dengar sudah pindah kampus dan bermaksud menyelesaikan studi sambil menata hidup di tempat barunya. Kabar itu sungguh melegakan diriku, satu perempuan terselamatkan dari kelamnya penderitaan yang berkepanjangan.
Sementara Bang Edo masih bergelut dengan kepribadiannya, aku sarankan ia untuk lebih rajin beribadah, mendekatkan diri pada Tuhan dan mencoba sebentar melupakan perempuan barangkali akan bisa mengurangi kegalauan. Ia amini itu dengan berbagai pembuktian. Sejak kejadian k*******n terhadap Irma terbuka, tema itu menjadi rubrik pembicaraan di kampus, beberapa teman menyarankan aku untuk pindah kos karena menurut mereka Bang Edo terbukti memiliki karakter yang tidak baik. Tetapi aku masih tidak memiliki alasan untuk beranjak dari sini. Bang Edo sekali lagi merupakan pribadi yang tidak bermasalah untuk teman dan sahabatnya.
Hingga tiba pada satu waktu aku harus kembali berurusan dengan pesona lamaku, Tere, dan gawatnya kali ini berkaitan pula dengan Bang Edo. Hari itu aku diajak Bang Edo untuk berdemonstrasi menuntut perubahan arah kebijakan rektorat kampus terhadap organisasi kemahasiswaan. Aku enggan untuk mengikutinya karena ada agenda lain di luar sana. Bang Edo memahami hal itu dan berangkat menuju kampus seorang diri dari tempat kos.
Ketika malam kami bertemu begitu banyak hal yang kami diskusikan, salah satunya mengenai reforma agraria yang tidak menemui jalan kebijakan untuk diterapkan. Siang tadi hal itu disampaikan oleh salah satu pakar ekonomi, Hartedjo Winoto, orang yang kemudian tak asing mengisi hari-hariku kini.
Menurutnya kekayaan alam Indonesia seperti sebuah paradoks tekstual yang hanya memuat daftar kekayaan di atas kertas, tetapi pada kenyataannya tidak ada jaminan bagi rakyat untuk bisa mengelola semua hal itu. Hartedjo yang merupakan ekonomi beraliran sosialis menekankan pentingnya distribusi kesejahteraan. Dan itu hanya bisa dilakukan dengan kebijakan yang berpihak pada kepentingan rakyat, bukan lagi pemodal.
Saat aku ingat apa yang disampaikan Hartedjo hari itu, aku ingin berteriak di depan wajahnya hari ini, jika mimpi hanya ada di langit, kebohongan lah yang ada di mulut para politisi, termasuk politisi yang berjubah ekonom, agamawan, budayawan dan lainnya.
Apa yang menjadi dasar bagiku adalah antara kata dan perbuatan tidak sejalan bagi Hartedjo, ia pernah mengatakan distribusi kesejahteraan, tapi kemarin Bang Hendra atas arahannya memintaku mengorganisir masyarakat agar membuka ruang pada investor yang ingin memutar kekayaan. Sebagai politisi, Hartedjo mengakomodasi itu dengan satu kepentingan, langgengnya jalan menuju kekuasaan.
Sementara itu, Bang Edo juga tidak lupa memberitahuku soal hasil unjuk rasanya pada pihak kampus mengenai pelarangan organisasi ekstra memasuki ranah politik kampus. Bagiku sejak awal, kita sudah terkotak, terdikotomi oleh kelas pemikiran dan aliran organisasi. Mustahil memang bagi kampus untuk menutup ruang persenggamaan organisasi, kaderisasi dan politik.
Di sela perbincangan kami, Bang Edo tidak sengaja menyebut nama Tere. Aku pun tersentak kaget ketika ia bercerita mengenai Tere. Perempuan itu menurutnya turut hadir dan menyampaikan orasi protes pada rektorat saat gelaran aksi terjadi. Bang Edo dengan wajah penuh guratan asmara kini lebih banyak bercerita mengenai Tere dibandingkan dengan hasil pembicaraan antara rektorat dengan pihak kampus.
“Raka, kenal dengan Tere? Anak fakultas pendidikan. Dia tadi orasi dan tergagap-gagap, saya dampingi di sebelahnya. Baru sadar saya jika dia ternyata perempuan yang cantik,” disampaikan Bang Edo dengan wajah sumringah.
“Oh, iya Tere. Saya hanya kenal nama bang tapi tidak tahu pribadinya. Cukup sering ia dibicarakan orang ya, apalagi kader organisasi kita. Hampir semua orang tahu Tere itu,” jawabku coba mengingat-ingat mengenai betapa Tere adalah seorang gadis jelita.
“Ya begitulah Raka, jarang kan ada perempuan cantik, rela terjun ke lapangan, larut dalam berorganisasi, loyal, cerdas dan independen seperti dia. Pantas jika kemudian menjadi bahan pembicaraan orang,”
“Banyak perempuan cantik di kampus kita ini bang. Tapi Tere tampak menonjol karena ia adalah perempuan pemuja kebebasan. Seingatku dia dikader oleh Kak Tari, salah satu aktivis feminis di organisasi kita bang. Kalau dengan Tere saya memang tidak terlalu mengenalnya, tetapi dengan Kak Tari kami cukup sering bertemu dan berdiskusi,” ujarku.
Sejak bertemu pertama kali dengan Tere, aku memang tidak pernah lagi mencoba untuk mencari tahu secara serius, walaupun aku dekat dengan senior yang menjadi mentornya kini, Kak Tari. Tapi aku hampir tidak pernah tertarik menanyakan mengenai Tere kepada Kak Tari. Sampai saat ini, aku juga tidak pernah berbincang dengan Tere.
Aku memang dikenal pemalu untuk urusan perempuan, walaupun beberapa mencoba mendekatiku, biasanya aku akan mengambil jarak pada mereka. Hakikat perempuan adalah dikejar, bukan berarti dengan dalih emansipasi perempuan dapat menunjukkan keberingasannya untuk masuk ke dalam hati laki-laki. Toh setiap hati terhubung melalui pertanda, tidak perlu tergesa untuk mengejar cinta, cukup ikuti saja apa yang disampaikan nurani hingga tiba pada muara yang bahagia.
“Bukankah dia masih jadi pacar Ryan bang? Presiden BEM itu lho,” tanyaku sekedar memastikan.
“Tidak, sudah lama mereka berpisah. Tadi saya sempat berbicara sebentar dengan Tere, dia sedang sendiri sekarang. Tapi saya tidak kefikiran untuk meminta nomor handphonenya. Bagaimana ya?” balas Bang Edo sambil menatapku dengan maksud menyerahkan urusan itu kepadaku. Bang Edo sepertinya mengetahui jika aku cukup akrab dengan Kak Tari sebagai mentornya Tere. “Barangkali bisa kamu bantu, Raka,” lanjutnya.
Namun aku tidak begitu saja menuruti keinginannya. Aku tidak ingin apa yang menimpa Irma terjadi juga pada Tere. Apalagi aku sempat menyukai Tere, hanya saja tidak pernah memiliki kesempatan untuk mengenalnya lebih jauh. Aku ingin melindungi Tere dari terkaman lelaki ini, tetapi di satu sisi aku juga ingin melihat Bang Edo sebagai sahabat dan seniorku berbahagia. Aku bertaruh, barangkali bersama dengan Tere, perangai Bang Edo terhadap perempuan dapat berubah sepenuhnya.
Lalu dengan sumpah janji kepastian untuk tidak berperilaku serupa ketika menjalin hubungan dengan Irma ditambah berbagai kata manis dalam upaya membujukku untuk menanyakan mengenai Tere kepada Kak Tari, aku pun luluh menuruti kehendaknya.
Seketika aku menelefon Kak Tari dengan berbagai basa-basi menanyakan mengenai aktifitas organisasi. Gelagatku terbaca oleh Kak Tari, Ia langsung menembak untuk menanyakan maksud sebenarnya aku menghubunginya.
“Mmm, tidak apa-apa kak, hanya sekedar ingin telfon saja. Hehehe.... Ngomong-ngomong kak, kakak satu kosan dengan Tere ya?” aku mencoba memulai pembahasan mengenai Tere.
“Iya aku satu kosan dengan Tere, cuma anaknya lagi keluar beli makan Raka. Kenapa tiba-tiba sekali menanyakan mengenai Tere? Ada apa? Mmm, aku curiga deh,” kelakarnya sambil bercanda menggodaku.
Aku kehilangan kata-kata untuk menjawabnya, kali ini aku yang menjadi tertuduh sebagai pria penyuka Tere. Padahal aku hanya mencoba membantu Bang Edo, tetapi Kak Tari jelas tidak boleh mengetahui maksudku. Sejak dulu, rivalitas antara Kak Tari dan Bang Edo sudah terbentuk. Lagi-lagi persoalan politik yang membatasi komunikasi antar keduanya. Aku sempat menjadi korban dari rivalitas itu.
Pertanyaan Kak Tari barusan yang mencoba menggoda sambil menggali maksudku mengenai Tere hanya aku jawab dengan tawa kecil sambil berkelakar meminta nomor handphonenya. Kak Tari barangkali mengerti jika aku memang pribadi yang cukup pemalu.
Lantas ia menyambung pembicaraan dengan janji akan menanyakan terlebih dahulu kepada Tere, apakah nomor handphonenya bisa diberikan kepadaku. Aku pun mengamini dan mengucapkan terimakasih sebagai tanda pembicaraan sudah berakhir.
Kurang lebih 15 menit setelah aku berbicara dengan Kak Tari, ada pesan singkat yang masuk ke dalam handphoneku. Aku saat itu masih berbincang dengan Bang Edo, kemudian bunyi tanda pesan masuk memecahkan keheningan. Aku lihat, dari Kak Tari, kubuka pesannya dan hanya ada susunan 12 barisan angka yang tersusun secara acak, di akhir barisan angka ada pula barisan kata singkat mendampingi, TERE.
Aku berikan nomor itu pada Bang Edo yang dan ia menyimpannya dalam daftar kontak di handphone. Aku berpesan padanya untuk melakukan semuanya dengan baik, mulailah membuahi hati dengan cinta. Jika menjadi yang terakhir, Tere adalah gadis baik, tidak pantas masa depannya dirusak hanya untuk kesenangan sesaat. Lalu aku pamit pergi malam itu pada Bang Edo, rencananya aku ingin menginap di salah satu kosan teman. Beberapa baju aku siapkan untuk beberapa hari.
Aku keluar kamar kos dengan sejuta pertanyaan, apakah sikapku ini adalah sebuah hal yang benar? Bagaimana jika kemudian Bang Edo belum benar-benar berubah atas perangainya terhadap perempuan? Lalu bagaimana jika Tere senasib dengan Irma? Aku hapuskan segala pertanyaan itu dengan jawaban jika Tere adalah seorang feminis tangguh yang tidak akan membiarkan harga dirinya sebagai perempuan tercerabut begitu saja dari akar kehidupan.