Pada awalnya kami tidak saling mengenal meskipun berada dalam satu organisasi di bangku perkuliahan, tetapi pernah suatu waktu aku berpapasan dengan Tere ketika ia hendak berjalan menuju fakultasnya dan aku ingin mengarah ke fakultasku. Itulah pertama kali aku melihat Tere. Saat itu aku begitu terpesona pada anggun rupanya. Nampak ia laksana bidadari yang kemudian menjauhkan ingatanku akan kerasnya dunia berputar. Dalam balutan jilbab biru langit dengan kemeja lengan panjang yang menutupi lekuk tubuh, Tere menyunggingkan senyum pada teman yang ditemuinya di jalan. Dalam senyum Tere, Athena mungkin memberikan seluruh kekuatan untuk menciptakan pesona semerekah itu. Aku sungguh terhanyut.
Belakangan aku mencari tahu siapa wanita ini, ia yang telah mengambil hatiku dalam jarak sesingkat itu. Aku beruntung karena lingkungan kami di kampus yang saling bertautan sehingga tidak sulit untuk mencari jejaknya. Aku juga seringkali bertanya mengenai Tere pada senior organisasi yang satu fakultas denganku. Tapi pertanyaan mengenai Tere tidak pernah kutemui jawaban yang memuaskan. Senior yang kuhadapkan pada pertanyaan itu selalu berujar untuk tidak memperdulikan perempuan, itu bisa mengganggu konsentrasi untuk mengurus organisasi, aku hanya dimintanya banyak membaca buku dan mulai menulis. Aku mati langkah, hendak bersembunyi menyelinap ke balik jeruji dan mencoba menatap Tere dari sana.
Aku juga tidak berani berkomunikasi langsung dengan Tere, bagaimanapun ceritanya, aku adalah sosok lelaki pemalu terhadap wanita, selain itu aku juga mencoba menjaga etika. Apalagi Tere merupakan salah satu kader unggulan yang banyak dibicarakan oleh rekan organisasi lainnya. Unggulan yang kumaksud dalam bidang kaderisasi organisasi maupun juga bidang pria-pria pemburu kader perempuan. Tere pun saat itu sedang memadu kasih bersama Presiden BEM Universitas, tak mungkin bagiku yang hanya mahasiswa baru melangkahi lelaki beruntung itu.
Beberapa bulan berlalu tanpa ada pertanyaan yang mampu dituntaskan mengenai Tere. Sepanjang waktu, aku hanya menajamkan berbagai bacaan dan sesekali melakukan penulisan. Seiring intensitas membacaku meningkat, seiring itu pula kapasitas intelektualku terangkat. Aku jadi semakin sadar akan banyak hal yang tentu tidak benar. Bukan hanya persoalan negara, bahkan penyelewengan di lingkup lokal organisasi pun aku temui. Aku jadi seringkali tidak sepaham dengan senior-seniorku, jika sudah begitu pilihanku hanya dua, diam atau melawan.
Pada awalnya aku hanya diam, tetapi lama kelamaan aku bersuara, suaraku hanya satu, tak bergeming menghadapi banyaknya senior dalam barisan ketidakbenaran. Sedangkan junior yang lain enggan ikut melawan, mereka lebih baik menyingkir dari pembuktian meskipun hati kecil mereka bisa jadi berkata, persepsiku benar. Apa yang kemudian aku lakukan terhadap organisasi di fakultasku mendapat perlawanan dari para senior dan alhasil aku diasingkan.
Tetapi dalam keterasingan, justru senior dari fakultas lain memperhatikan kapasitasku, Bang Edo namanya. Bang Edo lantas memantik rasa penasaranku kembali pada dunia organisasi yang sempat mati. Apa yang dikatakannya tidak serumit mengambil keuntungan seperti apa yang dilakukan senior fakultasku tentunya. Minimal ia telah mengajariku kepekaan sosial, walaupun aku tahu kemudian jika rasa kepekaan sosial itu juga bermanfaat untuk menghidupinya. Aku memutuskan untuk satu tempat kos dengannya guna lebih banyak lagi belajar hal-hal lain tentang organisasi dan sosial politik. Dalam masa-masa satu atap bersama itu, aku pun mengetahui jika Bang Edo merupakan pemain cilik dalam politik.
Beberapa kali kami satu gelanggang dalam arena demonstrasi untuk memprotes berbagai kebijakan liberal pemerintah, Bang Edo ternyata ‘menjual’ gerakan kami pada oposisi pemerintahan. Aku mempertanyakan sikapnya untuk memperjuangkan idealisme gerakan melawan kesewenangan pemerintah terhadap rakyat. Sekali Ia berujar untuk realistis saja.
“Sudahlah Raka, apa mengumpulkan mahasiswa, mengangkut mereka dengan bis, memberi makan siang, kopi atau berbungkus rokok itu bisa disediakan Tuhan untuk kita jika berjuang di jalan yang menurutmu benar? Tidak bisa Raka, ayo kita realistis. Oposisi memiliki kepentingan yang sama dengan kita. Mereka tidak setuju kenaikan BBM, kita juga berpandangan begitu. Mereka tidak setuju utang luar negeri, kita pun sama. Mereka setuju reforma agraria, kita juga sependapat. Lalu kenapa tidak saling membantu. Kita bantu keraskan suara oposisi biar terdengar, kemudian mereka sudah sepatutnya bantu logistik dan akomodasi gerakan kita. Itu fair,” Bang Edo mencoba menjelaskan alasannya ketika ia sudah tertangkap tangan mendapatkan uang dari demonstrasi kami.
Persoalan gerakan demonstrasi membutuhkan logistik serta kekuatan uang untuk mengorganisasi massa aku cukup sependapat dengan Bang Edo. Tapi aku tidak menyukai caranya yang diam-diam membalikkan idealisme perjuangan untuk menampuk keuntungan, sungguh aku tidak sependapat. Aku membiarkannya dalam permainan seperti itu, terus menerus. Sekali dua kali, Ia turut membagi hasil yang didapatkannya kepadaku. Aku merasa tidak enak jika harus menolak, uang itu pun aku gunakan untuk mentraktir makan teman-teman yang ikut dalam demonstrasi.
Selain bermain belakang dalam urusan politik, Bang Edo nyatanya juga memiliki tempramental yang luar biasa keras terhadap perempuan yang dipacarinya, tetapi dengan sahabat, teman serta juniornya, ia adalah pribadi yang baik. Aku dan beberapa teman lain bahkan hampir tidak percaya permasalahan tempramental yang ada dalam dirinya. Hingga suatu malam salah seorang mantan kekasih Bang Edo, Irma namanya, menangis menghampiri kami di sekretariat organisasi dengan darah yang bercucuran dari hidung, lebam mata sebelah kiri dan beberapa bekas merah seperti habis ditampar melekat di pipinya. Kami di organisasi memang terbiasa berkumpul hingga larut malam, terkadang dihabiskan untuk berdiskusi, sekedar membaca buku, rapat kegiatan organisasi atau hanya bermain sambil menertawakan dunia.
Datangnya Irma malam itu hendak meminta perlindungan kami, karena menurut penuturannya, Ia mengalami k*******n dan itu dilakukan oleh kekasihnya, teman satu kos dan sahabatku, Bang Edo. Irma mengaku jika semua permasalahan yang terjadi malam itu hanya salah paham semata, akibat Bang Edo menyuruh Irma untuk menghubungi seorang senior guna meminta dana dengan alasan agenda organisasi. Tapi Irma enggan melakukannya karena sudah terlalu sering ia meminta uang pada senior tersebut. Bang Edo meledak karena permintaannya ditolak.
Tamparan, tendangan, k********r pun membuncah dari mulut jalangnya. Akibatnya, Irma berlari melindungi diri dan mengadukan nasibnya pada kami. Irma malam itu berniat hendak melakukan visum medis dan melaporkan kelakuan Bang Edo pada pihak yang berwajib, ia minta ditemani oleh beberapa teman. Tapi aku menahannya dengan maksud jika bisa didamaikan dengan cara yang baik, tidak perlu melibatkan penegak hukum. Beberapa kawan yang merasa perlakuan Bang Edo sudah keterlaluan tidak setuju pada pendapatku. Tetapi akhirnya Irma sendiri menyetujui untuk tidak melaporkan perlakuan Bang Edo kepada polisi.
Ketika suasana sudah cukup tenang dan Irma memutuskan bermalam di sekretariat, aku mencoba menggali apa yang sebenarnya terjadi. Irma bercerita segala hal tentang tabiat buruk Bang Edo terhadap perempuan, hanya kepadaku yang kebetulan malam itu masih terjaga.
Menurut Irma, Bang Edo pada awalnya sangat baik, baik sekali. Semua berubah ketika beberapa bulan berpacaran, saat Irma sudah menyerahkan hartanya yang paling berharga dari seorang perempuan, mahkota kegadisannya. Perangai Bang Edo berubah drastis, ia merasa seperti memiliki Irma sepenuhnya, mendominasi hati, tubuh dan fikirannya. Irma juga seringkali membiayai kehidupan sehari-hari Bang Edo. Dengan perangainya, setiap kali pertengkaran terjadi, Irma pasti dihadapkan pada k*******n. Irma menunjukkan berbagai bekas luka di kaki dan tangan yang diterimanya akibat pukulan dari Bang Edo. Beberapa k*******n membekas di tubuh Irma, tetapi yang terparah ada di dalam hatinya. Jika sudah begitu dan Irma mulai berbicara mengenai keinginannya untuk berpisah, Bang Edo menurutnya selalu bisa membujuk dengan ribuan kata manis untuk tidak berbuat seperti itu lagi padanya.
Aku dengan mata berkaca secara seksama mendengarkan penuturan Irma, tidak ada gurat kebohongan dari kisahnya, semua lancar keluar dari perkataan tanpa mencoba menerka dan melebihkan cerita. Dengan penuh rasa simpati aku meminta Irma memutuskan hubungan dengan Bang Edo, karena jika lelaki seperti itu terus diberikan ruang hati, tidak ada tempat baginya memijakkan koreksi diri. Aku pun mengusulkan agar Irma mengatakan itu pada Bang Edo melalui pesan singkat tanpa perjumpaan yang bisa berakibat pada urung terjadinya perpisahan.
Irma juga kuminta untuk sementara tinggal di rumah, mengobati rasa traumanya bersama keluarga. Tentu setelah lebam di matanya membaik. Aku sarankan pula agar ia mengganti nomor handphone dan benar-benar menghilangkan jejak setelah kata pisah dilayangkan. Irma menyetujui pendapatku. Malam itu juga ia kirimkan pesan singkat kepada Bang Edo, mematikan handphone dan berniat mengganti kartu seluler, menurut dengan apa yang aku katakan. Sungguh gadis-gadis yang malang.