Catatan Kekhawatiran Ibu

1393 Kata
Pernahkah kita merasa begitu sadar pada satu mata? Sedangkan mata yang lain meminggirkan kesadaran. Pernahkah kita menolak suara indrawi yang datang dari luar diri ataukah kita penganut kedalaman hati? Kita adalah bagian dari hampanya dunia, kita bagian dari kosongnya semesta, kita juga bagian dari nihilnya praduga, dan nyatanya kita hanya setitik tanda dari susunan rangka. Beruntung hati menggenapinya menjadi sempurna.   Jam menunjukkan pukul 7 pagi ketika aku terbangun dari tidur nyenyak semalam. Aku hela nafas perlahan dan menghembuskannya untuk membantu menyegarkan diri kembali setelah beristirahat dengan cukup. Aku masih enggan beranjak dari tempat tidur, dan hanya menggerakkan beberapa bagian persendian. Rasanya hidup setelah mati mungkin seperti ini. Butuh adaptasi dalam menyadari keberadaan diri. Aku sepenuhnya terbangun dalam balutan kesadaran komunikasi dengan Senja tadi malam. Dalam hati sedikit bertanya, apa kata-kata Senja untukku hari ini. ‘Selamat pagi. Maaf semalam aku sudah tertidur. Untuk pertanyaan mengenai makan malam, seperti biasa, ayah tak hadir pada pertemuan yang sudah direncanakan, barangkali ada pekerjaan yang lebih penting di luar sana. Untuk proposal, Bang Hendra tidak mengatakan penundaan padaku, mungkin dia lupa, tetapi apapun itu segera perbaiki ya. Aku mengingatkanmu karena kamu suka sekali menunda pekerjaan. Dan terakhir, sampai bertemu di kantor ya.’ Kulihat waktu Senja mengirimnya belum terlalu lama dari jam saat ini, pukul 6.15. Senja juga pasti lelah dan tertidur agak lebih awal semalam. Aku tahu jika Ia melewati hari yang buruk akibat kekecewaan pada laki-laki. Pertama sikapku, dan kedua adalah ketidakhadiran ayahnya saat ada acara makan malam keluarga. Senja pernah bercerita jika ayahnya merupakan seorang pekerja keras yang seringkali melupakan waktu bersama keluarga. Ayahnya adalah salah satu direktur perusahaan swasta di Indonesia. Tugasnya sebagai orang pertama perusahaan membuat banyak waktu tersita, bahkan itu untuk keluarga. Sejak dahulu Senja sangat menginginkan kebersamaan, pun itu hanya sekedar makan malam dan senda gurau di meja makan. Tapi acara sesederhana itu juga seringkali urung terjadi. Dalam renungan harapannya, jika kelak ia membina keluarga, Senja tak ingin memiliki suami seperti ayahnya. Ia justru ingin memiliki keluarga yang utuh dan hangat dengan tegur sapa serta perhatian yang terbangun. Aku pun membalas pesannya dengan kalimat singkat dan tak lagi berbasa-basi, ‘Sampai nanti di kantor ya’, balasku. Saat beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar, kulihat ibu sedang persiapkan sarapan yang telah dibelinya di atas meja makan. Aku pun langsung menyambutnya dengan senyuman dan sapaan pagi bak menyambut malaikat di tepi telaga. Ibu tak kalah manisnya tersenyum padaku serta berujar memintaku untuk segera mandi dan menyantap sarapan yang telah dibelikannya. Tidak ada kata perlawanan, karena apa yang disampaikan ibu seluruhnya adalah kebaikan, sampai kapanpun itu. Selesai mandi, ibuku juga sudah bersiap di meja makan menanti kedatanganku. Barangkali Ia sudah tahu jika aku bangun agak pagi seperti ini, aku hendak keluar rumah. Ibu lantas menanyakan jam berapa aku pulang tadi malam, karena sudah terlalu letih, Ia tak mendengar suara gerbang pintu terbuka. “Jam berapa semalam kamu pulang Raka? Semalam hujan dan ibu ketiduran, tidak sempat menunggu kamu,” ujarnya dengan lembut. “Aku lupa bu, sekira jam 11 atau jam 12. Ah ibu, seperti aku masih anak kecil saja pulang harus ditunggui. Lagipula ibu kan lelah, jadi kalau ingin tidur ya tidur saja bu, tak perlu menungguku pulang,” jawabku sambil mencari pakaian di lemari baju. “Bukan seperti itu, bagaimanapun juga ibu kan khawatir kalau kamu pulang larut seperti itu nak. Ya sekedar memastikan kepulanganmu saja, jika sudah pulang baru hati ibu tenang,” dikatakan ibu padaku. Sejenak aku teringat, betapa seorang ibu ataupun ayah sebagai orangtua kita, akan selalu menganggap anaknya seperti anak kecil seberapapun dewasanya sang anak. Itu hal yang lumrah. Karena itu pula ibu dan ayah dahulu semasa beliau masih hidup, perangai juga perhatiannya tidak pernah berubah terhadapku, serupa ketika aku masih kanak-kanak, beranjak remaja hingga saat ini. Jika ibu sudah bertutur mengenai kekhawatirannya, aku hanya bisa mengamini, walaupun aku sedikit banyak merasa risih dibuat seperti itu. Namun, itulah cara orangtua mengasihi kita sepanjang masa. “Iya bu, tapi kalau ibu sudah letih ya tidak perlu memaksakan diri seperti itu. Kalau aku tidak pulang juga aku pasti mengabari ibu kan. Sesuai perjanjian kita. Lagipula sekarang-sekarang aku malas untuk beranjak keluar apalagi sampai lama meninggalkan rumah. Aku ingin di sini saja bersama ibu, menemani jam tua itu berputar,” lirikku pada jam dinding yang sudah hampir 20 tahun berjalan menunjukkan waktu sambil diriku beranjak menuju meja makan setelah selesai berpakaian. Aku lantas mengambil tempat di depan ibu, berhadapan dengannya.  “Huh, kamu ini nak. Ini saja sudah rapi, pasti mau pergi lagi kan?,” tanya ibu. “Iya bu, tapi sebentar dan tidak menginap kok,” kataku. “Ya sudah, ini makan dulu sarapannya, baru setelah itu berangkat,” disampaikan ibu yang langsung meminum secangkir teh hangat manis ditemani beberapa camilan kesukaannya.      Akupun langsung menyantap sarapan pagi yang telah disediakan ibuku. Di sela aku menyantap makanannya, ada pertanyaan dari ibu mengenai masa depanku. Tentu sebagai seorang ibu, ia ingin melihat kebahagiaan untuk anaknya. Kebahagiaan ini adalah persoalan yang rata-rata harus dituntaskan pertanyaannya, kali ini pun aku seolah tak bisa menghindar, terpaku memikirkan apa yang disampaikan ibu. “Raka, ibu sudah lama tidak dikenalkan perempuan olehmu, maksudnya teman dekat atau pacar begitu. Terakhir hanya siapa itu namanya?” ibu mencoba mengingatkan kembali akan kenangan 5 tahun lalu bersama perempuan itu. “Siapa bu? Tere,” jawabku. “Iya itu Tere itu. Setelah dengan dia kamu tidak pernah lagi mengenalkan ibu pada perempuan.” “Nanti bu, ada waktunya Raka kenalkan ibu. Memilih pasangan tidak bisa asal bu. Raka tidak mau ada kesalahan terulang lagi.” “Ibu kan sudah tua Raka, ibu juga mau melihat kamu dan masa depanmu bahagia,” kali ini ibu tampak tak sungkan menyatakan keinginannya. Biasanya Ia melindungi perasaanku dengan tidak pernah mendesak menghadirkan perempuan untuk kehidupanku. Apa yang ibu katakan pagi ini seolah membalikkan kenanganku pada Tere, perempuan yang sedikit banyak telah kuselamatkan hidupnya dari genangan lumpur di rawa tempat kerbau bergumul. ia yang seringkali kulamunkan karena begitu dalamnya meninggalkan rasa sakit karena terkhianati. Tere adalah sahabat yang menjelma menjadi kekasihku, lebih tepatnya ia adalah mantan kekasih dari sahabatku yang kemudian menjadi sahabat lalu menjadi kekasihku. Perjalanan berliku pada kehidupan Tere sedikit banyak telah mengambil empatiku untuk mengulurkan tangan dan hendak menariknya kembali ke daratan. Aku memberikan cinta padanya, memberikannya lagi kepercayaan jika hidup ini pantas untuk selalu disyukuri, apapun itu ceritanya. ** Pada awalnya kami tidak saling mengenal meskipun berada dalam satu organisasi di bangku perkuliahan, tetapi pernah suatu waktu aku berpapasan dengan Tere ketika ia hendak berjalan menuju fakultasnya dan aku ingin mengarah ke fakultasku. Itulah pertama kali aku melihat Tere. Saat itu aku begitu terpesona pada anggun rupanya. Nampak ia laksana bidadari yang kemudian menjauhkan ingatanku akan kerasnya dunia berputar. Dalam balutan jilbab biru langit dengan kemeja lengan panjang yang menutupi lekuk tubuh, Tere menyunggingkan senyum pada teman yang ditemuinya di jalan. Dalam senyum Tere, Athena mungkin memberikan seluruh kekuatan untuk menciptakan pesona semerekah itu. Aku sungguh terhanyut. Belakangan aku mencari tahu siapa wanita ini, ia yang telah mengambil hatiku dalam jarak sesingkat itu. Aku beruntung karena lingkungan kami di kampus yang saling bertautan sehingga tidak sulit untuk mencari jejaknya. Aku juga seringkali bertanya mengenai Tere pada senior organisasi yang satu fakultas denganku. Tapi pertanyaan mengenai Tere tidak pernah kutemui jawaban yang memuaskan. Senior yang kuhadapkan pada pertanyaan itu selalu berujar untuk tidak memperdulikan perempuan, itu bisa mengganggu konsentrasi untuk mengurus organisasi, aku hanya dimintanya banyak membaca buku dan mulai menulis. Aku mati langkah, hendak bersembunyi menyelinap ke balik jeruji dan mencoba menatap Tere dari sana. Aku juga tidak berani berkomunikasi langsung dengan Tere, bagaimanapun ceritanya, aku adalah sosok lelaki pemalu terhadap wanita, selain itu aku juga mencoba menjaga etika. Apalagi Tere merupakan salah satu kader unggulan yang banyak dibicarakan oleh rekan organisasi lainnya. Unggulan yang kumaksud dalam bidang kaderisasi organisasi maupun juga bidang pria-pria pemburu kader perempuan. Tere pun saat itu sedang memadu kasih bersama Presiden BEM Universitas, tak mungkin bagiku yang hanya mahasiswa baru melangkahi lelaki beruntung itu. Beberapa bulan berlalu tanpa ada pertanyaan yang mampu dituntaskan mengenai Tere. Sepanjang waktu, aku hanya menajamkan berbagai bacaan dan sesekali melakukan penulisan. Seiring intensitas membacaku meningkat, seiring itu pula kapasitas intelektualku terangkat. Aku jadi semakin sadar akan banyak hal yang tentu tidak benar. Bukan hanya persoalan negara, bahkan penyelewengan di lingkup lokal organisasi pun aku temui. Aku jadi seringkali tidak sepaham dengan senior-seniorku, jika sudah begitu pilihanku hanya dua, diam atau melawan.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN