Apa itu cinta? Berapa harga yang pantas dibayarkan untuk mendapatkannya? Jika sudah mendapatkan, apakah kita akan bahagia? Atau cinta adalah soal berani menghadapi kepergian? Melepaskan dengan maksud untuk merindu, mencintai lagi dan duka kembali merundung tapal batas yang ambigu. Hati seperti batu atau sekedar tersengal pada nafas yang memburu. Perempuan yang sedang terbelenggu, aku meratapi kesedihanmu.
Sejak saat itu, aku jarang pulang serta bermalam di kosan, kesibukan yang aku hadapi sedikit banyak menghalangi untuk kembali ke Jakarta. Aku dipercaya oleh barisan pendukung Hartedjo Winoto termasuk Bang Hendra Atmaja di dalamnya untuk merajut komunikasi antar universitas guna melakukan perlawanan pada pemerintahan, sekaligus memberikan sosialisasi secara akademis mengenai konsep ekonomi yang dirancang oleh Hartedjo Winoto.
Kehidupanku lebih banyak di jalan saat itu, melakukan konsolidasi, diskusi, sesekali kembali pada aksi. Aku juga jarang berkomunikasi dengan teman-teman di organisasi kampusku, termasuk dengan Bang Edo. Entah bagaimana cerita percintaan Bang Edo dengan Tere. Tidak sesekali pun memenuhi ruang fikiranku saat itu. Segala sesuatu yang menyita perhatianku adalah tentang bagaimana meloloskan tuntutan pada pemerintahan.
Kurang lebih sudah hampir 2 bulan lamanya aku meninggalkan Jakarta, berkeliling Indonesia bersama tim ekonomi Hartedjo Winoto. Kami melakukan diskursus akademik untuk mengkaji kebijakan strategis konsep ekonomi kerakyatan yang dibuat oleh Hartedjo. Beberapa kampus tertarik mendiskusikan secara mendalam, menjadikannya pembahasan dengan melibatkan sistem panel. Sementara beberapa kampus terutama kampus negeri melarang kunjungan Hartedjo sebagai materi kuliah umum terbuka di hadapan publik. Aku tidak mengetahui alasan mengenai hal itu, hanya yang kudengar, karena Hartedjo Winoto dalam setiap penyampaian kuliah umumnya dikesankan sangat melawan kebijakan pemerintahan yang liberal.
Dalam kondisi seperti itu, Bang Edo sempat beberapa kali menanyakan kabarku, tentu itu salam yang basa-basi, tujuan utamanya adalah menagih uang kosan yang kami bayarkan secara bersamaan. Aku tidak pernah kekurangan uang ketika mengikuti agenda kegiatan Hartedjo Winoto. Mudah saja bagiku dan selalu aku penuhi kewajiban membayar kosan. Walaupun aku mengetahui, aku tidak membutuhkan lagi kosan itu sepenuhnya, tetapi suatu saat aku akan pasti akan kembali ke sana. Dalam beberapa kali komunikasi itu berjalan, aku tidak pernah menyebut nama Tere dan berusaha untuk ingin tahu apakah Bang Edo berhasil mendapatkan Tere.
**
Beberapa waktu kemudian, aktifitas keliling Hartedjo Winoto dihentikan sementara, mereka butuh merumuskan ulang segala sesuatu yang coba ditawarkan kepada masyarakat. Aku pun diperkenankan kembali ke Jakarta untuk mengurus urusan akademis di kampus. Itu artinya aku harus juga kembali ke kosan dan mungkin akan menemui kenyataan jika Bang Edo serta Tere sudah bersama. Entahlah, lagipula untuk apa aku merasa khawatir mengenai persoalan itu. Jika pun mereka bersama itu adalah hak mereka, bukan permasalahan bagiku.
Sesampainya di Jakarta aku langsung menuju tempat kos, berharap bisa beristirahat sebentar sampai besok melanjutkan rutinitas dan menyelesaikan tugas akademis di kampus. Tidak ada kabar yang aku sampaikan kepada Bang Edo saat kembali ke sana, karena memang aku tahu, ia tak akan pernah beranjak kemana-mana. Jika pun keluar dari kamar kos, barangkali hanya membeli makan atau kopi. Lagipula aku sampai sudah agak malam, sekira pukul 10 saat itu. Di perjalanan, aku masih sempat melayangkan pandangan ke arah fakultas Tere, perempuan yang tanpa kusadari mencuri rasa khawatirku.
Sesampainya di kosan, rasa lelah dan segera ingin beristirahat mulai menyeruak membebani bahuku. Tetapi, di depan pintu kos aku melihat ada sedikit yang berbeda, sepasang sepatu perempuan bersandar rapi di samping tembok biru langit yang menjadi warna dasar dinding kos ini. Beribu pertanyaan bergejolak, milik siapakah sepatu ini? Entah mengapa fikiranku mengarah pada sosok Tere. Mungkinkah Tere berada di dalam? Ini sudah terlalu malam jika hanya sekedar menghabiskan waktu dengan canda tawa berdua layaknya sepasang kekasih di dalam kosan?
Aku tak punya pilihan untuk menuntaskan rasa penasaranku, lagipula ini tempat kosku. Aku berhak mengetahui siapa di dalam sana. Pada akhirnya aku memutuskan mengetuk pintu dan menunggu ada apa di baliknya, semoga bukan hal yang aku bayangkan. Aku tepis segala kemungkinan yang menjalari kepalaku, semua itu berkaitan dengan Tere. Belum ada jawaban setelah selang beberapa waktu menunggu. Semakin menjadi pertanyaan setelah ada suara berbisik, semakin jelas dan suara itu seolah sedang berburu waktu, persis orang dikejar hantu.
Pintu perlahan dibuka, aku tersontak kaget ketika kudapati yang membuka pintu adalah gadis itu, gadis manis yang bertahun lalu kudapati wajahnya di depan fakultas biru. Tetapi kini ada tirai yang tertutupi, tidak seperti masa di mana aku melihatnya pertama kali. Pemandangan yang kemudian aku saksikan adalah sorot matanya, sendu, terlihat lelah dengan guratan hitam di sepanjang kantung mata, terlalu sering melupakan waktu istirahat nampaknya. Tere menyambutku dengan balutan hijab yang sudah tak utuh dan hanya mencoba menutupi helai rambut panjangnya.
Tanpa mencoba berprasangka, aku berbaik tanya pada gadis ini. Apa yang dilakukannya malam begini, jelas bukan sebuah kebiasaan. Tapi ini memang kebiasaan Bang Edo ketika mendapati dirinya sedang terjerembab dalam kedalaman cinta. Barangkali cinta baginya adalah mengejar peluh bersama lendir di lubang yang menganga. Saat bersama Irma, aku pun sering mendapatinya menginap di kosan kami. Sebelum aku tahu apa yang dilakukannya pada Irma dahulu, aku memang tidak pernah ikut campur soal urusan asmara Bang Edo. Kini semuanya terasa getir, Irma bukan Tere, perempuan yang telah merenggut hatiku secara sembunyi-sembunyi.
“Mmm, Bang Edonya ada?” tanyaku mencoba memecah kebekuan yang sepersekian detik mempertemukan mata kami berdua. Ini pertama kalinya kami dapat bertegur sapa setelah sebelumnya aku tak pernah memberi kata terhadapnya.
Sambil masih menahan kantuk ia menyuruhku masuk dan seolah tidak memperdulikan ada orang yang berada di depan pintu, Tere beranjak ke dalam ruangan. Sambil berseru mengajakku masuk. Entah sejak kapan ia mengenal wajah dan namaku, mungkin Bang Edo banyak bercerita tentangku, ia memang terlalu membuka diri pada setiap orang. Tidak pernah memberi batasan pada kehendak pribadi, karena itu apa yang dilakukannya akan mudah terbaca.
“Masuk Raka, Bang Edo ada sedang di kamar mandi,” jawabnya lalu berlalu.
Aku tak mau kalah untuk turut bersikap dingin dengan tidak memperdulikan sikapnya. Apalagi tubuh lelahku menuntut untuk segera bersembunyi di dalam ruang. Tak berapa lama setelah aku masuk sambil meredakan diri dari lelah perjalanan, terdengar suara Bang Edo keluar dari bilik kekotorannya. Ia menyapaku dengan hangat, seolah aku baru saja pulang berperang, menghasilkan kemenangan dan kebebasan sebagai jaminan kehidupan.
“Raka, pulang tidak mengabari, sudah malam pula ini,” tutur Bang Edo sambil membetulkan letak retseleting celananya di hadapanku.
“Iya bang, biar surprise,” jawabku sekenanya.
“Istirahatlah, lelah pasti kau di perjalanan,” balasnya lalu kembali masuk ke ruang belakang, tempat dimana Tere akan menunggu pagi bersama hatinya.
Aku tertegun pada pemandangan yang kudapati barusan, Tere berhasil didapatkan. Entah sudah sejauh apa, segalanya terlihat begitu muram di mataku. Aku hanya berkhayal, kasihan Tere. Aku juga turut mengasihani diri ini, lelaki macam apa yang tidak bisa berdamai dengan keadaan macam begini. Semoga bersama Bang Edo, Tere berbahagia. Semoga juga aku berbahagia, dalam lelap, gelap dan kalap.
Esok pagi ketika terbangun aku mendapati kosan telah sunyi, tidak ada suara, hanya seberkas sinar mentari pagi menyelinap masuk dari lubang-lubang kaca yang membiaskan partikel cahaya. Aku mencoba mencari keberadaan Bang Edo dan Tere, mudah-mudahan adanya Tere tadi malam hanya bagian dari mimpi. Aku mengaku salah terhadap sikapku yang memberikan kunci untuk membuka komunikasi terhadap Tere kepada Bang Edo. Namun di sisi lainnya, aku menyadari jika kebahagiaan yang enggan kudapatkan bukan berarti aku harus menunjuk wajah orang lain dengan kesalahan.
Dalam lamunan, ada deru suara motor terdengar menghampiri tempat kos yang letaknya agak terpencil ini, jauh di belakang kampus, dekat dengan kebun singkong milik warga. Suara motor itu terdengar tak asing, bisingnya yang nyaring sudah kudengar cukup sering. Itu adalah motor milik Bang Edo. Mengagetkan Bang Edo bisa terbangun sepagi ini, biasanya ia bak mayat hidup yang terbangun ketika matahari mulai menyeruak masuk seluruhnya melalui gorden ruang kosan, saat itu biasanya menjelang sore di kala aktifitas manusia sudah mencapai titik balik keharusannya. Syukurlah jika hidup yang normal kembali merasuk ke dalam dirinya.
Selain suara motor, aku juga mendengar suara orang sedang berbincang, ada dua orang. Kuketahui dari derap langkah kaki yang memasuki halaman, terdengar serempak, terkadang ada bunyi yang genap memijak. Aku enggan mencari tahu dengan siapa Bang Edo datang, memilih untuk tetap lekat pada kasur. Sepertinya sudah lama aku tak begini, membalas segala perilaku menghabiskan waktu yang terkadang tidak mengindahkan batas letih tubuh.
Pintu terbuka, Bang Edo masuk dan menolehkan pandangnya ke arahku. Mencoba memastikan apakah aku sudah terbangun atau belum.
“Sudah bangun ka? Kelihatan lelah sekali.” tak lama Bang Edo berucap menyusul kemudian Tere di belakangnya. Semalam bukan mimpi ternyata, semua hal itu benar adanya.
“Sudah bang,” jawabku kemudian membetulkan posisi yang sebelumnya merebahkan diri kini menopang tubuh dengan menyilangkan kaki. “Darimana bang? Ada perkuliahan hari ini?”
“Tidak ada Raka, hanya mencari sarapan sebentar tadi. Oh iya sudah saling kenal kan? Raka ini Tere, Tere ini Raka,” Bang Edo melepaskan sapa yang tidak pernah aku bayangkan. Ia mengenalkanku pada Tere, padahal sebelumnya untuk mengenal Tere, Bang Edo meminta bantuanku.
“Oh, iya sudah. Tere yang semalam kan.” jawabku singkat.
Sementara itu Bang Edo beranjak ke dapur kosan, Ia mengambil minuman. Dan Tere perlahan duduk di ruangan ini, tak jauh dari tempatku bersila. Tiada pandangan lain kecuali dua mata yang saling bertemu kala itu, antara aku dan Tere.
“Iya, Bang Edo sudah banyak bercerita tentang Raka. Kak Tari juga, hanya saja kita sepertinya tidak pernah ada agenda bersama walaupun satu organisasi. Jadi baru saling mengenal sekarang. Raka sepertinya sedang sibuk sekali, Bang Edo cerita kalau kamu ikut dengan Hendra Atmaja dan Hartedjo Winoto ya akhir-akhir ini?” Tere menyodorkan pertanyaan yang tanpa basa-basi, tipikal anak organisasi.
Bang Edo yang sudah selesai mengambil minum langsung ikut dalam perbincangan kami. Ia menimpali begitu saja akan pertanyaan yang seharusnya menjadi hakku untuk menjawab.
“Iya sayang, Raka keren dalam urusan dekat dengan tokoh publik. Cuma dia tidak cukup keren untuk melibatkan teman dan seniornya masuk ke lingkaran itu,” timpal Bang Edo mencoba menyindirku.
Aku memang selama ini lebih banyak berjalan sendiri, setelah kuketahui karakter Bang Edo yang suka mengambil keuntungan melalui jalan belakang. Hal seperti itu sedikit banyak memberi rasa khawatir jika kemudian jaringan yang aku rajut akan merasa dicurangi, lalu kepercayaan yang kudapatkan kelak begitu saja sirna. Bisa jadi aku yang mengajak untuk ikut bergabung malah akan terkena getah pahit dari perilaku menyimpang seperti itu.
Aku jelas tidak kekurangan akal untuk membela diri. Ini serangan yang dikonfirmasi bagiku. Sudah lama Bang Edo kenal denganku, Ia tahu dengan pasti jika aku tidak suka disindir dengan cara seperti itu.
“Bukan tidak mau mengajak bang, hanya belum ada tempat kosong lagi yang dibutuhkan Bang Hendra. Sejak awal dia memang membutuhkan orang dengan latar belakang pendidikan ekonomi. Sementara abang bukan berlatar belakang itu. Lagipula, saya diminta bukan saya yang meminta, tidak etis jika kemudian saya malah merekomendasikan orang untuk masuk di sana,” tegasku sambil mengalihkan pandangan kemanapun mataku bisa berjalan.
Apa yang aku sampaikan hanya dibalas senyum dari mereka berdua, sesekali tertawa. Entah bagian mana yang lucu. Tere lalu menyambut perkataanku dengan kelakar, mencoba mencairkan suasana.
“Iya, benar juga apa yang dikatakan Raka cukup masuk akal. Tapi bisa lah kalau ada project tentang apapun itu dibagi Raka. Lumayan juga untuk tambah-tambah membayar kuliah,” sebut Tere sambil tersenyum.
Senyum itu yang membuatku jatuh cinta dahulu, itu dulu sekali, entah bagaimana hari ini. Sedikit kurasakan sesak, sedikit kurasakan kecewa, bukan pada siapa-siapa, ini kekecewaan yang kulemparkan pada diriku sendiri. Betapa bodohnya aku, menyiakan kata hati hanya untuk mengutamakan kepentingan orang lain, lagi.