Berbagi Cerita, Awal Mula Cinta

1635 Kata
Tak lama pembicaraan kami bertiga terjadi, Bang Edo pamit pergi untuk bertemu dengan salah seorang kawannya di kampus. Sementara Tere tidak diperkenankan untuk mengikutinya, Tere pun tidak ada agenda lain pada saat itu. Jadilah kemudian Tere dititipkan padaku di kosan. Aku juga tidak hendak beranjak kemanapun hari ini, segalanya diniatkan untuk memberikan hak istirahat pada tubuh yang sudah berbulan lamanya bekerja keras. “Raka, saya mau ke kampus dulu ya, ada janji dengan Roni. Tere sepertinya di sini saja tidak perlu ikut, hanya sebentar nanti saya kembali, sebelum jam makan siang. Saya titip Tere, Ka,” berkata padaku lalu beranjak dengan agak tergesa. Tidak ada kata bantahan dan pertanyaan dari kami berdua atas izin kepergian Bang Edo, aku masih berkonsentrasi pada kopi yang ada di depanku, sementara Tere sedang asyik bermain handphone di tangannya. Dengan diamnya kami, itu adalah tanda persetujuan bagi Tere untuk sementara ditinggalkan. Dan bagiku itu tanda mengamini pesan yang disampaikan. Tentu Bang Edo percaya padaku menitipkan gadis secantik Tere di tempat ini berdua dengan lelaki sepertiku. Bang Edo selama ini mengenalku dalam kebaikan. Aku pun mencoba memecah kebekuan dengan Tere, di depan Bang Edo Ia begitu lancar berkomunikasi, tetapi di saat kami hanya duduk berdua dalam satu ruangan sempit seperti kamar kos ini, hanya ada kebekuan yang mendinginkan suasana di antara mata yang tak hendak bertemu. Upaya itu nyatanya hanya berbuah sinisme semata serta berakhir dengan ironi. “Sudah berapa lama kalian bersama Tere?” tanyaku sambil berdiri dan melangkah mengambil minum di ruang belakang. “Belum terlalu lama, sekira kamu tidak pernah kembali. Barangkali sekitar 2 bulan,” jawab Tere saat masih asyik memainkan gadgetnya. “Waktu yang tidak lama untuk bisa mengajak kamu tidur di kosan dan menemani hari-hari Bang Edo ya.” “Maksudmu?” Tere langsung memalingkan wajahnya ke arahku. Matanya seolah menelanjangi perkataanku barusan. Jelas Ia ingin segera mendapat jawaban. “Tidak, tidak ada maksud apapun. Bagaimana kabar Kak Tari? Baikkah?” menyadari reaksi Tere yang seolah merasa diintimidasi, aku mencoba mengalihkan pembicaraan sejenak sambil lalu mengambil tempat kembali ke hadapannya, duduk bersila kemudian menyalakan layar handphone, memeriksa apakah ada email dari Bang Hendra atau teman-teman lainnya. “Kata Kak Tari kamu yang meminta nomorku, aku sempat bertanya, Raka itu yang mana pada Kak Tari, karena kita belum pernah bertemu sebelumnya kan. Kak Tari menggambarkan kamu sebagai pribadi yang baik. Tapi kemudian malah Bang Edo yang berkomunikasi denganku. Kak Tari juga tidak pernah mengira kalau kamu meminta nomorku untuk Bang Edo. Aku dan Kak Tari sempat berbeda pendapat mengenai Bang Edo, dia memintaku untuk tidak terlalu jauh menjajakan kedekatan dengan lelaki seperti itu. Tapi semakin dilarang aku semakin penasaran dan ya seperti yang kamu lihat sekarang. Kini aku tidak satu kos lagi dengan Kak Tari. Artinya bisa kamu simpulkan sendiri,” jawab Tere. Aku sendiri tidak terlalu terkejut akan reaksi Kak Tari atas kedekatan Bang Edo dengan salah satu adik di organisasi kesayangannya, Tere. Kak Tari selalu menganggap Bang Edo sebagai penjahat politik sekaligus penjahat perasaan pada perempuan. Latar belakangnya sebagai aktifis feminis membuat nalurinya sedikit tajam akan perlakuan laki-laki seperti Bang Edo terhadap perempuan. Sebetulnya aku juga memiliki perasaan yang sama dengan Kak Tari, hanya saja aku tidak bisa sereaktif itu. Lagipula aku hanya berfikir sebelumnya jika Tere dengan segudang pengetahuan tentang keperempuanan pasti akan bisa melindungi diri dari terkaman laki-laki. Nyatanya perempuan selalu bergulat dengan hati, sementara paham feminisme adalah milik fikiran. Jadi tidak ada hal yang linier antara pekatnya pengetahuan dengan cara hati bersuara pada kita. Minimal itu adalah kesimpulan setelah apa yang kulihat tadi malam, ketika Tere hanya berdua bersama kekasihnya, tengah malam, di sini. “Wajar Kak Tari marah, saya tidak bilang kalau nomor handphone itu untuk Bang Edo. Tentu kalau Kak Tari mengetahui sejak awal, dia tidak akan pernah berikan. Mereka berdua juga kan tidak pernah akur. Tetapi yang sudah terjadi untuk apa disesali. Hanya saja, barangkali saya harus meminta maaf pada Kak Tari. Lagipula sepertinya benar, lebih mudah meminta maaf daripada meminta izin.” “Tidak usah Raka, itu bukan kesalahanmu. Aku yang telah mengambil keputusan soal hidupku, bukan kamu, Kak Tari atau siapapun itu. Jadi tidak perlu ada yang meminta maaf atau dimaafkan,” Tere diam sejenak dan kemudian berujar kembali padaku, “Jika pun ada yang perlu kamu mintakan maafnya, itu adalah aku, bukan Kak Tari.” Aku sedikit tersentak, tetapi mencoba tetap tenang, terkadang perempuan tidak menyukai jika kita terlalu menyudutkannya pada persoalan. Satu hal yang kuyakini, Tere sedang masuk dalam sebuah permasalahan yang membuatnya merasa terbelenggu. Aku tidak ingin menerka-nerka kali ini, tidak mungkin pula Tere bisa secara terbuka menisbahkan kisahnya padaku sekarang. Kami baru saling mengenal dan berbicara satu malam. “Tak perlu ada yang meminta maaf dan dimaafkan kan katamu. Saya fikir ada benarnya, semua yang sudah terjadi biarlah terjadi. Saya tidak tahu untuk apa kemudian saya meminta maaf pada kamu. Jadi saya kira tidak perlu, kecuali kamu menjelaskan untuk apa saya harus meminta maaf pada kamu,” aku menyudutkannya dalam satu pertanyaan yang semestinya bisa dijawab. Sejurus kemudian aku menegaskan dengan lebih terperinci, mengenai apa yang kulihat di gurat mata Tere. “Kamu bahagia?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku, tanpa menimbang legam batin Tere saat itu. Tetapi apa yang kuyakini sepertinya menjadi buah kesimpulan. Air mata Tere menetes begitu saja dengan rupa wajah yang bisa menjelaskan beribu keadaan. Aku bersimpati padamu, dan itu mengalahkan rasa sayang yang aku punya untuk hatimu. Pertanyaan mengenai bahagia atau tidaknya dijawab dengan langkah gontai kaki Tere yang berjalan menuju ruang belakang, aku dengar tubuh indahnya terjerembab begitu saja ke kasur. Menumpahkan segala jenis penyesalan yang barangkali menjadi keriangan sebagian setan. Belenggu itu kini mengikat Tere dengan eratnya, hingga ia lupa bagaimana hati melangkahi hari-hari ke depan. Dalam hati aku berikrar agar itu menjadi urusan Tere semata, dengan dirinya saja. Tak ada hak aku mencampuri permasalahannya. Ia juga sudah memberi pagar pembatas supaya aku tidak terlalu jauh memasuki kehidupannya. Entah pagar pembatas itu dibuat untuk aku sengaja ketahui, kemudian memancingku agar datang melangkahi atau memang Tere mencoba menyembunyikannya sendiri. Bagaimanapun juga, Tere pasti tahu apa yang sedang terbersit dalam otakku, karena aku sudah hidup cukup lama dengan Bang Edo sebagai sahabatnya. Tapi Tere tidak pernah mengetahui diriku yang cukup merasa terasing menyimpan berbagai beban rahasia kelamnya kehidupan seorang manusia. ** Setelah kejadian itu, hubungan kedua anak manusia ini, Tere dan Bang Edo berjalan tampak seperti biasa cinta dipadukan. Aku memutuskan untuk tidak lagi tinggal dalam kos itu karena berbagai pertimbangan, salah satunya karena aktifitas akademik yang sudah tidak sepadat seperti dahulu. Aku bisa menjalani dengan perjalanan panjang dari rumah ke kampus. Tetapi alasan utama lainnya adalah aku tidak sanggup melihat Tere dengan kegetirannya mengorbankan diri demi lelaki yang menurutnya pantas untuk dicintai. Berbulan berikutnya aku kembali banyak menjalani kegiatan bersama Hendra Atmaja serta Hartedjo Winoto. Perkuliahan pun hampir rampung aku jalankan, hanya sekira seminggu dua kali dalam satu semester aku memasuki halaman parkir kampus untuk masuk kelas perkuliahan. Sisanya banyak aku habiskan di jalanan. Bagaimana dengan Tere? Aku sudah lama tak bertatap wajah dengannya. Walaupun aku masih sering ke kampus, tetapi fakultas kami berbeda. Tidak ada kepentingan pula aku bertemu dengannya. Beberapa cerita kudengar kemudian dari teman-teman organisasi lainnya jika Bang Edo terancam drop out karena sudah 2 semester tidak mengikuti perkuliahan. Sementara Tere tidak kalah malangnya, walaupun perkuliahannya cukup lancar dan hanya tinggal menjalankan skripsi, tetapi dirinya diasingkan di lingkungan organisasi. Berbagai alasan menghantui itu, yang paling dapat diterima adalah Tere adalah kekasih Bang Edo dan itu menjadi sebuah stigma buruk di organisasi. Karena citra Bang Edo yang kadung melekat pada diri Tere. Suatu hari Tere menghubungiku melalui pesan singkat, ia mendapatkan nomorku dari Bang Edo. Hanya kelakar basa-basi yang disampaikan, sisanya menanyakan mengenai apa yang sedang aku kerjakan, dan bagaimana rencana kehidupan ke depan. Aku menjelaskan mengenai berbagai angan-angan. Tere adalah perempuan yang ambigu bagiku, terkadang ia berkhayal begitu indah tetapi cukup sering pula ia memasuki lamunan realitas kehidupannya yang kelam dan enggan untuk keluar dari kubangan. Komunikasi seperti itu terus berlanjut dengan intens, cukup banyak Tere bercerita padaku, terkadang ada canda tawa yang disampaikan, banyak pula duka yang coba ia ceritakan, selayaknya manusia aku hanya bisa menyampaikan simpati melalui kata ‘sabar’, seperti kebanyakan orang bereaksi jika ada kejadian memilukan yang menimpa orang lainnya. Aku tak hendak memasuki kehidupan mereka berdua, walaupun secara tersirat cukup sering Tere memintaku untuk mengangkatnya keluar dari genggaman Bang Edo yang diciptakannya untuk membelenggu, tetapi aku tidak tertarik masuk ke bagian itu. Aku rasa hidupku sudah cukup sempurna sekarang, meskipun dalam hati menginginkan untuk membantunya. Tetapi lekat persahabatan antara aku dan Bang Edo akan rusak jika ada upaya dariku menarik Tere masuk kembali ke kehidupan nyata. Aku terjebak kini, diantara 2 orang yang kukasihi, sahabat dan cinta lama. Satu tahun berlalu dengan begitu rupa, Tere lama tidak berhubungan denganku melalui pesan singkat yang dilayangkannya. Artinya kebaikan sedang dijalaninya. Toh ia datang padaku hanya ketika masa sulit serta pesakitan menghampiri. Dengan begitu, aku sedikit banyak berhasil melupakan segala sesuatu tentangnya dan berharap kehidupan dua insan itu akan senantiasa berbahagia. Mengenai cinta, sepenuhnya aku sudah merelakan, dengan kesadaran bahwa kebahagiaan bukanlah mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi selalu bisa bersandar pada apa yang kita butuhkan. Namun, suatu hari Tere menghubungiku kembali, tidak banyak yang ia coba sampaikan, dirinya hanya ingin bertemu denganku dan saling berbagi cerita, katanya. Tere berpesan agar permintaan bertemu denganku tidak disampaikannya pada Bang Edo. Aku tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi, dari nada suara yang kudengar Tere nampak banyak dilingkupi kekhawatiran. Dengan mencoba memastikan bahwa aku tidak memberitahukan pada Bang Edo soal pertemuan denganku, aku dapat menerka, mengapa hal itu bisa terjadi. Kelihatannya, dinding tebal feminisme itu telah dirubuhkan oleh egoisme dan fatamorgana yang dinamakan cinta. Aku mengiyakan permintaannya itu, kami menyepakati tempat bertemu di luar lingkungan kampus, Tere setuju dan sabtu sore menjadi pemantik rindu bagi kenanganku, serta gadis yang sedang dibelenggu ambigu.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN