Politik Aliran Sampah

1773 Kata
Hujan adalah sahabat, terkadang hujan menghadirkan cinta, di sela-selanya ada rindu yang dihempaskan. Hujan tak berbekas, pada dinding malam saat lamunan terjaga, pilihan-pilihan dihadirkan. Hujan kembali datang, mencoba menerka cinta lama yang hilang. Kali ini datang bersama kegetiran, bukan cinta, bukan pula rindu, tetapi benci yang menghantui diri sendiri. Bagaimana bisa hujan melukiskan seribu makna dalam satu kisah? Aku datang mendahului Tere pada janji sore ini. Memang sudah menjadi kebiasaanku untuk tak membiarkan orang lain menunggu. Aku tahu jika orang lain tak bisa setabah ini menjalani waktu tunggu. Sebagian menganggap bahwa menunggu adalah hal paling membosankan, sebagian lainnya berujar jika menunggu adalah bekerja untuk kesia-siaan. Tetapi tidak bagiku, menunggu adalah kegiatan yang paling menjadikan kita bersahabat dengan waktu. Relativitas yang dikemukakan Einstein beberapa abad lalu semakin menegaskan mengenai bersahabat dengan waktu itu sangat berharga, apalagi jika bisa dibawa melintasi perjalanannya dari zaman ke zaman. Tentu tak sulit bagi kita menerka kehidupan di masa depan atau juga menghindari kejadian di masa lalu dengan penuh kesadaran. Nampaknya itu hanya sebuah khayalan dari film fiksi hasil tongkat ajaib di negeri barat bekerja.  Sore itu di lantai dua cafe favoritku, yang menjadi tempat janji pertemuan dengan Tere akan dituntaskan, hujan tampak malu-malu merintik dari balik awan yang kelabu. Sementara menemani rintik hujan yang semakin rindang, lagu-lagu folk era 70 sampai 80-an setia mengisi bunyi di telinga, menambah pongah suasana sore ini. Di dalam cafe, hanya ada dua-tiga pelanggan yang mengisi meja, mereka mencoba menjelajahi waktu pula bersama nuansa romantis pekatnya mendung di hilir hari. Sebagian hadir sendiri, sebagian lagi berteman, entah berteman kenangan atau dengan kebahagiaan. Derai tawa mereka menjadi penghias di kala hujan semakin sunyi, dan aku tetap melambungkan pandangan melalui jendela pada tetes-tetes air yang membasahi bumi, mencoba menerka kemana orang-orang di bawah sana akan pergi. Aku selalu memilih tempat ini sebagai sarana berbincang dengan teman, karena ada keakraban yang diciptakan oleh suasananya. Klasik, penuh dengan wangi kayu, juga banyak buku-buku dijadikan teman mengisi rindu. Tanpa kita sadari, sebuah tempat pasti memiliki energi, rupa energi itu akan membentuk kesadaran tersendiri ketika berada di sana. Terkadang, saat mengunjungi sebuah tempat dengan tempat lainnya akan terasa perbedaan atmosfer yang seringkali diistilahkan sebagai kenyamanan. Tak lama berselang, Tere datang dengan mengenakan pakaian terbaiknya, berbalut dress biru langit pola garis-garis, seolah ia ingin menunjukkan, gelapnya awan mendung di luar sana tak akan pernah bisa menutupi cerah penampilannya. Aku sendiri tidak pernah melihat ia seindah ini sebelumnya. Berjalan dengan senyum sumringah dihiasi sendu mata. Bangir hidungnya membawa imajinasi tersendiri bagi setiap lelaki yang menjatuhkan pandang terhadapnya. Aku sempat melirik ke sekeliling tempatku berada ketika Tere berjalan, beberapa pria di tempat ini memperhatikannya. Dari mata mereka seolah terbaca, kenikmatan memandangi Tere bersama sejuknya hujan di sore menjelang senja. “Halo Raka. Aku kira, aku yang lebih dulu sampai, ternyata kamu lebih tepat waktu. Maaf terlambat sedikit ya, jalanan Jakarta kalau hujan dan sabtu begini sangat tidak bersahabat,” sapa Tere menghampiri meja tempat kududuk dan mengambil kursi dengan posisi tepat di hadapanku. “Tidak masalah, saya hanya sedang tidak ada kesibukan, jadi bisa lebih awal datang. Kamu ini, lama tidak bertemu sepertinya tidak ada yang berubah. Hanya terlihat sedikit lebih berbahagia,” jawabku sambil menyodorkan tangan dengan maksud memberikan sapa hangat sebagai tanda persahabatan. “Apa yang terlihat belum tentu itu yang terjadi lho,” balasnya dengan senyum sambil menyambut tanganku dan sejurus kemudian mengambil menu di hadapannya. Tere memesan secangkir cappucino hangat dengan maccaroni schotel sebagai pendamping kudapannya. Sementara aku yang sedari tadi belum memesan apapun hanya menginginkan hot latte, minuman favoritku di manapun hendak bersenda gurau. Hingga saat itu, aku tidak pernah mencium adanya masalah di kehidupan Tere, segalanya tampak seperti hari-hari biasa di kala Tere berbincang denganku secara langsung maupun melalui sambungan telefon. Wajah Tere juga tidak memperlihatkan Ia sedang ada dalam keresahan, semuanya tampak biasa saja. Hanya dari matanya terlihat sedikit sembab, dengan kantung biru di bawah pelupuk, aku fikir itu akibat dari kurang memejamkan mata. Seperti apa yang kusaksikan saat pertama kali berjumpa.  Tere kemudian berbicara, hendak mempertanyakan kesibukanku belakangan ini. Akupun menceritakan apa adanya tentang diriku, walaupun banyak berteman dengan politisi dan sempat mengambil peran dalam dunia politik yang tentu memiliki banyak drama, di hadapan Tere aku ingin menjadi manusia seutuhnya. Segala cerita mengenai diriku, aku paparkan dengan t*******g dan begitu terbuka tanpa harus ada yang dilebihkan maupun mencoba dikurangkan. Aku tak ingin memberi pembatas pada Tere yang kini sudah kuanggap sebagai sahabat. Apalagi Tere juga bersikap sama denganku, hanya memang ada beberapa hal yang tidak kuketahui dan ia tutup sangat rapat, entah sampai kapan akan ia buka, mungkin sampai sore ini kami saling berbicara. “Bagaimana Hendra Atmaja dan Hartedjo Winoto, sebentar lagi Pemilu dan pasti mereka ikut ambil bagian ya? Karena selama ini juga kan rajin mengkritik pemerintah, kalau tujuannya bukan untuk Pemilu lalu buat apa? Bukan begitu Ka?” tanya Tere yang seolah tertarik pada pembahasan politik. Aku tahu jika ia ingin mengulitiku, dan aku pun sadar. Aku akan memberi apa yang memang diinginkannya, bukan hanya kulit, jika Tere meminta jantung pun akan aku berikan. “Ya begitulah, mereka orang yang cerdas, sudah sepantasnya ada di panggung politik nasional. Hanya saja, optimisme kan harus dibangun, itu tugas besar dari mereka untuk membangun optimisme, terutama untuk masyarakat kelas menengah ke bawah. Selama ini, Bang Hendra hanya bermain di kelas menengah elit, kaum terdidik seperti kita. Membangun kesadaran dari kampus dan berharap ada guliran bola salju dari sana,” jawabku lugas. “Kamu menafikkan itu Ka?” “          Tidak sama sekali, justru saya fikir ini adalah formulasi baru, hanya saja butuh penyempurnaan. Jika ingin ke arah politik praktis, memiliki harapan mewujudkan kemandirian ekonomi seperti apa yang selalu disampaikan Hartedjo Winoto harus ada mesin penggeraknya.” “Sebuah partai kah? Di era demokrasi ini kita terkungkung kesitu kan. Belum ada alat politik yang dianggap mumpuni untuk mewujudkan cita-cita demokrasi kecuali dari partai politik. Tetapi yang aku dengar, Hartedjo Winoto beberapa bulan ke depan akan menginisiasi partai baru, Partai Harapan Semesta kalau tidak salah namanya. Benar atau tidak ka?” “Iya benar, Bang Hendra juga diajak ikut ambil bagian di dalam PHS, sebetulnya dia enggan masuk ke partai tapi karena Hartedjo yang meminta jadi susah menolak. Cukup banyak jasa Hartedjo pada hidupnya. Sedangkan saya juga tadinya diminta oleh Bang Hendra membantunya di partai, hanya saja Bang Hendra itu demokrat sejati, dia bebaskan adik-adiknya menentukan pilihan. Ya pada akhirnya saya memilih menolak masuk ke dalam PHS, saya hanya ingin mengabdi di luar koridor yang sudah ada Re. Seperti kemarin keluar masuk kampus itu salah satu instrumen yang baik, hanya maksud saya, tidak harus selalu partai. Terlihat sekali hasrat ingin berkuasanya. Sedangkan kekuasaan akan membuat kita cenderung sewenang-wenang, terlebih lagi membuka potensi memonopoli kebenaran, tidak akan menjadi baik nantinya.” “Cita-citamu cukup baik, tapi apakah bisa? Lalu apa mesin penggerak di politik kalau bukan partai? Lagipula demokrasi hanya mengakui suara dari partai yang terwakili di parlemen. Organisasi seperti di kampus kita itu mana didengar suaranya. Makanya banyak senior-senior yang mencoba merapat ke partai. Kamu malah menghindari partai. Aneh kamu Ka,” Tere mengucapkan itu sambil tertawa kecil, aku tak pernah mengira tawa seperti yang dimilikinya kelak akan dihapus dari pergulatan dunia. “Pokoknya tidak harus partai, jadi sebetulnya di manapun ada himpunan, perkumpulan massa, serikat, atau apapun itu yang sifatnya komunal sebenarnya dapat merubah arah kebijakan politik. Cukup diperhitungkan jika kita dapat mengorganisasi massa, coba lihat serikat pekerja itu. Setiap tahun mereka demonstrasi mengawal kebijakan kenaikan upah minimum, mereka berhasil menekan pemerintah dan parlemen, walaupun juga terkadang angkanya tidak sesuai harapan. Memang partai dianggap lebih formal di alam demokrasi seperti sekarang, tapi bukan berarti mereka corong tunggal pembentuk kebijakan, mereka juga mau tidak mau sebetulnya ikut apa yang dikatakan rakyat. Serikat, organisasi atau apapun namanya itu juga bagian dari rakyat. Kalau tidak ikut kata rakyat, habis mereka nanti di Pemilu. Hanya saja partai sebagai corong aspirasi publik sekarang tanpa kita sadari mulai kehilangan kendali atas fungsinya. Saya tidak tahu di mana salahnya, karena saya bukan kader partai. Tapi yang pasti mereka semakin ganas berebut kuasa, sementara rakyat dibiarkan dalam derita,” jelasku menanggapi apa yang diucapkan Tere. “Kamu tidak mau merubah kondisi itu kalau memang kesadaran sudah terbangun seperti apa yang kamu katakan tadi Ka?” sambut Tere kembali dengan pertanyaan. “Mau tapi tidak sekarang, nanti kalau saya sudah benar-benar kuat,” “Wah jadi semacam tokoh superhero Amerika begitu?” kelakar Tere kembali melemparkan tawa. Aku masih menanggapi dengan serius apa yang disampaikan Tere, “Bukan kuat seperti superhero itu, maksud saya kuat secara prinsip, finansial, dan segala hal yang diperlukan. Kalau sekarang, saya takut terbawa arus Re.” “Nikmati saja Raka, selama arus itu membawa kita jauh ke laut lepas. Dengan begitu justru banyak yang terhidupi.” “Kalau banyak yang terhidupi bagus, bagaimana kalau justru banyak yang mati? Karena arus itu adalah buliran limbah dan sampah.” Tere tertawa kecil menanggapi jawabanku atas pertanyaannya, “Sebagai seorang introvert, kamu cukup terbuka dalam berbicara ya, Ka.” “Kamu tahu saya introvert atau ekstrovert darimana?” aku memicingkan mata pada Tere sejenak, memberinya arti jika aku sedang mengintimidasi. “Aku tertarik soal-soal psikologi, jadi sedikit banyak baca mengenai itu. Sepertinya tidak perlu waktu lama untuk mengidentifikasi kamu introvert atau bukan. Tidak suka berbasa-basi, lugas dan langsung pada pokok persoalan aku temukan ketika pertama kali berbincang dengan kamu setahun lalu,” ucap Tere dengan mata yang penuh perhatian. “Oh ya, sebagai perempuan yang menjunjung tinggi prinsip kesetaraan, kebebasan serta modernitas, justru kamu tidak terlihat ada di sana? Cenderung konservatif. Misalnya soal demokrasi tadi. Zaman Plato tidak ada lembaga partai sebagai corong aspirasi suara bukan? Kemudian dibuat partai atas dasar nilai dan klasifikasi ideologis di era modern. Bisa saja ke depan yang namanya partai kembali ditiadakan. Tapi kalau tidak ada partai bukan demokrasi katanya. Aku jadi kembali bingung, demokrasi itu dari rakyat dan untuk rakyat, tapi apa iya rakyat memiliki kehendak untuk partai itu dijadikan corong aspirasi?” “Benar kan, lugas dan tidak suka berbasa-basi tapi akhirnya jadi bingung sendiri. Tipikal kamu Raka, bukan tipikal introvert. Aku tidak tahu kepribadian seperti itu bisa diklasifikasikan dengan nama apa. Mungkin kalau Jung atau Sigmun Freud masih hidup, dia akan temukan kesimpulan yang sama denganku soal pribadimu.” Obrolan kami tentang kehidupan terhenti dengan datangnya pesanan minuman dan makanan ke meja kami. Pelayan memberikan apa yang telah kami pesan sebagai sajian yang menemani kehangatan sore dengan berbagai perbincangan. Sudah lama aku tidak berbicara sejauh ini dan setertarik ini mengenai dunia politik. Tere berhasil menarik urat nadi keinginanku dan hasrat yang terpendam mengenai persoalan politik, tanpa aku sadari Tere memberikanku zona nyaman, entah itu sebagai sahabat ataupun hubungan lain antar perasaan yang lebih rekat.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN