Lama kami saling terdiam, menikmati apa yang ada di atas meja. Kali ini aku yang memulai pembicaraan. Bagaimanapun juga, aku cukup merasa penasaran dengan apa yang Tere sembunyikan. Jika itu tak cukup penting, kami masih bisa membahasnya secara tidak langsung. Tetapi penekanan ingin bertemu, bercerita dan jangan beritahukan pertemuan kami sekarang pada Bang Edo menampik berbagai asumsi jika Tere dalam keadaan baik-baik saja atau barangkali benar jika ia ingin sekedar bertemu untuk menuntaskan rasa penasarannya terhadap dunia politik. Selama ini Tere juga tidak pernah sungkan menunjukkan ambisinya di politik melalui organisasi kampus, yang pada akhirnya memuat tesisku jika Tere betul hanya tertarik mengupas sendiri politik praktis denganku.
“Saya rasa kita sudah berbincang membahas politik di sajian pembuka tadi. Saya penasaran dengan menu utamanya, ada apa kamu meminta bertemu di sini, sore ini, dan tidak boleh diketahui oleh kekasihmu sendiri? Kamu tidak berniat mengajak saya dalam hubungan gelap bukan?” tanyaku dengan sedikit candaan agar Tere tidak merasa terintimidasi.
Mendadak atmosfer ruangan dan keadaan antara kami berubah, menjadi lebih pekat. Rasa-rasanya semakin menekan, membuatku untuk kesekian kalinya mengalihkan pandang keluar jendela, membiarkan mataku terjerembab pada luas jalanan di balik kaca. Sekejap aku memandang Tere kembali, dengan hati-hati dan menggunakan hati. Tere terdiam sambil tertunduk menghadapi pertanyaanku, ia sedang mencoba mengendalikan dirinya, membenamkan sebagian jiwanya dalam rasa bersalah yang entah oleh siapa harus dibayar. Keceriaan dan keinginannya untuk tertawa lenyap begitu saja.
“Ini soal aku dan Bang Edo, entah pada siapa aku dapat mempercayakan cerita ini. Aku terfikir Raka bisa menjaga rahasia. Sejujurnya aku hanya butuh teman cerita, aku tidak butuh dikasihani apalagi kalau sampai kamu memarahi. Itu saja,” Tere masih tertunduk ketika mengatakan hal itu padaku.
Aku enggan membalas perkataannya dan memutuskan untuk mendengarkan iba hatinya dengan seksama. Sejenak aku biarkan ia dalam ruang kosong di matanya. Ada gurat terbaca jika dilema menghantui kehidupannya. Ia mulai bersuara dengan nada yang lirih, menahan isak tangis yang datang dari perasaan lembut seorang wanita.
“Maaf kalau aku merepotkanmu. Jauh-jauh datang ke tempat ini hanya untuk melihatku dalam keadaan seperti ini,” ujar Tere kembali dengan nada suara yang sangat pelan.
“Soal aku dan Bang Edo, mungkin kamu sudah mengambil kesimpulan terlebih dahulu dari apa yang terjadi padaku. Bisa jadi apa yang kamu fikirkan itu benar, bisa jadi juga itu keliru. Tapi aku mengenal kamu sebagai pribadi yang tidak pernah menghakimi kehidupan orang lain,” lanjutnya.
Dengan penekanan seperti itu, Tere berharap banyak jika aku dapat menjadi pelepas beban dirinya yang terpendam selama ini. Tanpa harus menambah rasa bersalah, tanpa pula harus merasa dihakimi kehidupannya. Tere berhenti berucap sejenak, mengangkat kepalanya, menatap mataku seolah meminta kepastian, lalu meminum cappucino yang hanya tinggal setengah cangkir itu setelah mendapatkan kepastian. Jeda berbicara ia manfaatkan untuk meredakan emosi di kepalanya. Satu helaan nafas, segalanya kembali lagi. Tapi tidak dengan keceriaan yang selalu setia mendekapnya.
“Aku sudah berikan segalanya pada Bang Edo, itu adalah hal paling berharga yang aku punya dalam hidupku. Karena aku cinta dengannya, dan jika perempuan sedang terbelenggu cinta, akal warasnya akan mudah dikuasai perasaan. Itu juga sebagai upaya membenamkan keyakinan jika hubungan ini akan berhasil. Di awal kami menjalin hubungan, segalanya membahagiakan, itu adalah perjalanan hidup yang paling pantas dikenang. Aku merasa wanita paling beruntung sedunia. Walaupun banyak orang berkata jika pilihanku adalah sebuah kesalahan, tetapi aku tidak pernah mengindahkan itu. Aku selalu membela apa yang orang katakan terhadap Bang Edo, aku bisa buktikan perkataan mereka itu tidak benar. Tentang dia yang penjahat perempuan, suka memakan anggaran organisasi, menjadikan juniornya hanya sebagai alat dan sebagainya. Tapi itu berjalan sekira 4 bulan kami bersama, walaupun hingga sekarang aku masih memoles rupanya di hadapan orang-orang,” Tere menceritakan segalanya dengan guratan senyum getir yang sesekali dipampangkannya ke hadapan mataku, senyum itupun nyatanya tidak bisa menutup bekas luka yang jelas menganga di balik hatinya.
“Lalu?” tanyaku singkat sambil meminum latte yang sudah menjadi dingin karena kudiamkan sedari tadi.
Aku tak banyak berkata, seperti apa yang dipesankan Tere agar aku tidak menghakimi kehidupannya. Aku hanya mencoba bersimpati padanya dengan tidak banyak berkata.
“Segalanya berubah ketika dia merasa sudah tidak memiliki pilihan.”
“Atas apa?” tanyaku pada Tere.
“Atas hidupnya, kamu tahu jika Bang Edo sudah terkena drop out dari kampus? Sedikit banyak hal itu mempengaruhi kepercayaan dirinya. Dia merasa tidak mampu menuntaskan persoalan akademisnya. Kemudian pada kehidupan sehari-hari, kepercayaan orang lain juga sudah lenyap dari kehidupannya. Banyak senior yang merasa kecewa dengan apa yang dilakukan Bang Edo selama ini. Uang yang mereka berikan untuk kegiatan organisasi banyak yang masuk kantong Bang Edo pribadi. Tetapi aku masih berhubungan baik dengan beberapa dari mereka, aku kenal mereka juga dari Bang Edo, belakangan mereka ikut menyayangkan kenapa harus Bang Edo pria yang kukasihi. Tapi lagi-lagi atas alasan cinta aku masih mengutamakannya. Aku merasa bersalah pada diriku sendiri yang tak bisa membunuh rasa cinta ini.”
“Selama ini pula aku selalu menceritakan padamu jika pertengkaran kami terkesan biasa saja, cenderung baik dan tidak pantas untuk dikhawatirkan. Selayaknya orang-orang berpacaran yang bertengkar karena cemburu, salah paham dan sebagainya. Aku mencoba berujar begitu pada setiap orang, termasuk kamu. Tetapi ini kemudian menjadi lebih rumit, dan aku tidak tahan untuk bisa berbagi cerita tentang dilema yang sedang aku hadapi ini,” Tere diam kembali, memainkan kedua tangannya yang terlihat saling menggenggam pertanda gelisah, kemudian membuka suara melanjutkan cerita.
“Aku dianggap telah melangkahi kekuasaannya sebagai pria, dianggap tidak memiliki hak suara untuk menentukan jalan hidupku sendiri. Aku dipaksa menggantungkan hidupku hanya padanya, seolah dia telah meresapkan doktrin ke dalam kepalaku kalau aku tidak akan mampu berbuat apapun tanpa kehadirannya. Dia berhasil dan aku selalu merasa ketakutan dengan hal itu. Jika aku sembunyi-sembunyi menampilkan diri ke khalayak, terutama teman-teman organisasi, ada rasa tak senang dari raut wajahnya. Dia selalu meneror aku dengan puluhan kali dering telefon, memintaku agar cepat kembali bersamanya. Lalu saat kami sedang berdua, dia menjadikanku sebagai bulan-bulanan kekesalan yang dibuatnya sendiri. Aku harap kamu dapat menjaga rahasia tentang ini, lama aku bersembunyi ketika tamparan kerasnya menghujani pipiku, aku tidak ingin ada seorangpun yang melihat bekas kemarahannya di wajahku. Biarlah itu menjadi deritaku seorang.”
Tere bersungut sambil mengutuki diri akan apa yang terjadi padanya. Aku merasakan betapa penderitaan itu menghantui Tere. Tak heran jika Ia menjadi begitu khawatir ketika mengajak diriku bertemu hari ini. k*******n yang dilakukan seorang pria terhadap pasangannya tidak hanya berujung pada sakitnya fisik saja, tetapi yang lebih dalam adalah trauma di hati dan fikiran.
Selintas fikiranku mengingat Irma yang harus memilih jalan hidupnya sendiri dengan melarikan diri dari Bang Edo. Itu terjadi akibat Irma sudah tidak bisa menahan titik ledak emosinya atas perlakuan yang dilakukan Bang Edo padanya. Dan apa yang pernah aku khawatirkan mengenai persoalan Bang Edo tidak pernah bisa berdamai dengan dirinya sendiri akhirnya terjadi pula pada Tere. Ternyata aku salah dengan mengira apa yang Tere pahami mengenai perempuan dapat merubah paradigma dominan seorang pria dan perasaan selalu ingin berkuasa atas perempuan yang dimiliki Bang Edo. Kerasnya Tere dengan segala pemahamannya tentang perempuan yang sungguh prinsipil ditambah arogansi seorang pria yang sedang terkikis kepercayaan dirinya, nyatanya semakin membuat benturan menjadi tak teratur.
Aku menyampaikan empati pada Tere, perempuan yang dulu kukagumi karena pesona keindahannya itu kini sedang berdarah-darah pada batin jiwanya. Tere merasa dikerdilkan atas segala yang ia mampu lakukan untuk membesarkan dirinya.
Di luar hujan nampak telah lelah jatuh turun ke bumi, bergantian dengan air yang menggenangi aspal jalan. Serupa dengan basah jalanan setelah hujan, mata Tere tak mampu membendung air dari hatinya yang sedang dirundung kesedihan. Bola mata putih bening dengan pijaran hitam pekat di tengahnya itu itu terlihat berkaca-kaca, tetesnya masih tertahan oleh lentiknya bulu mata. Tapi itu tak berlangsung lama, Tere menumpahkan segalanya, menangisi kisah hidupnya sendiri, derita yang tak mungkin mampu ia pikul lagi.
Aku mengambil inisiatif untuk sedikit meredakan isaknya yang tak terbendung dengan memberanikan diri menggenggam tangannya. Keberadaan dua tangan Tere yang saling menggenggam pertanda gelisah sedari tadi di atas meja membuatku mudah meraihnya. Aku pun berujar memberikan harapan lain kepada Tere atas kehidupannya, “Roda kehidupan itu berputar asal kita meyakininya, Re. Begitu juga dengan kisah kehidupan Bang Edo yang mungkin hari ini terjebak pada tingkah pola buatannya sendiri dan itu melibatkanmu. Tidak ada yang menyangka bukan, orang yang cerdas, pandai berargumen, mengerti berbagai hal ternyata memiliki permasalahan perilaku. Kalau kamu yakin Bang Edo bisa berubah dari pribadinya yang sekarang dan mulai mengikuti alur perputaran roda kehidupan, kamu berhak mempertahankan keyakinanmu itu. Tetapi kalau kamu merasa segalanya sudah di ambang batas kewajaran, saya juga merasa tidak ada yang mendorongmu untuk menyerah, segalanya ada pada dirimu. Tidak ada orang yang benar-benar terenggut habis pilihan hidupnya Tere.”
Aku sedikit berupaya mengobati kesedihannya dengan menghadapkan Tere pada rasionalitas kehidupan ke depan. Walaupun hal itu aku rasa tidak disukainya, tetapi ia tetap harus memilih. Sekali lagi mungkin aku bodoh. Bisa saja saat itu aku membujuknya untuk meninggalkan Bang Edo dengan buaian hidup dapat lebih berbahagia di masa depan bersama laki-laki lain, namun itu tidak pernah aku lakukan. Hidup Tere adalah miliknya, pun begitu dengan kesadarannya dan suara hati yang selalu ia dengar. Aku tak ingin berlaku sama seperti laki-laki lain, dengan berujar manis memanfaatkan dilema yang sedang menghinggapi perempuan, lalu memberinya harapan akan kenyamanan serta kebahagiaan semu untuk didapatkan. Itu bukan diriku.
Tapi sejujurnya sekarang aku justru sedang tidak bisa membedakan batas antara sahabat dengan cinta pada Tere. Segalanya terasa samar. Aku akui sekarang jika aku tidak pernah bisa membunuh perasaan sayangku pada Tere, barangkali masih sama saat aku pertama kali melihatnya dahulu, bahkan mungkin menjadi lebih besar karena bercampur rasa iba.
“Pada awalnya saya memang mengetahui jika perangai Bang Edo terhadap perempuan sulit berubah, tetapi dia dahulu bisa meyakinkan saya kalau akan sepenuh hati memberikan cinta kepada kamu. Dia juga berujar tidak akan mengulang kembali perlakuan buruknya seperti apa yang dilakukan terhadap gadis-gadisnya terdahulu. Saya percaya itu dan masih percaya hingga tadi kamu mematahkan segala kepercayaan saya terhadapanya. Kalau kamu ingat, dahulu kamu pernah meminta saya mengatakan maaf tanpa memberikan alasan atas dirimu, saya fikir itu hanya persoalan salah persepsi akibat nomor telefon. Jika memang begini keadaannya, saya tidak mengerti apakah jika saya meminta maaf atas segala asumsi pantas kamu berikan kepada saya hari ini,” ujarku dengan masih menggenggam tangan Tere.
Tere sedikit terhenyak dengan genggaman tangan yang kuberikan padanya, mungkin baginya itu adalah tanda lain diluar dari maksud turut bersimpati terhadap kesedihannya. Tere lantas membalas genggaman tanganku lebih erat, tak ada kata ia ucapkan, hanya tanda terimakasih yang disampaikannya melalui guratan sungging senyum manisnya.
Dengan atau tanpa bisa disadarinya, Tere membuka pintu untuk aku masuk dan menyentuh perasaannya. Aku tidak ingin itu terjadi, terlebih apa yang menjadi pilihanku sekarang terasa akan sulit, di antara persahabatan dan cinta yang tidak memenuhi syarat kepastian. Lekang kebahagiaan nampaknya lebih dalam menyeruak masuk ke kepalaku dibanding dengan berbagai pertimbangan emosional mengenai kisah cinta atau persahabatan.
Aku pun berupaya merenggut kesedihan dari matanya, berbekal tisu yang telah tersedia di atas meja. Aku bermaksud menyeka buliran tetes air mata yang mengalir di rona pipi merahnya. Belum sampai pada bulat pipinya, Tere menyambut tanganku yang masih menggenggam tisu di hadapan wajahnya, Ia mengambil tisu di tanganku sembari mengucap, “Terimakasih Raka.”
Aku berucap terimakasih kembali, tetapi tidak dalam perkataan, cukup didengungkan dalam hati. Rasa terimakasih aku tujukan atas penyangkalan Tere terhadap maksudku. Tere sangat memahami batas sahabat antara kami yang hanya terpisahkan lekatnya tatapan. Sedangkan aku masih tak bisa menepis perasaan, aku memilih menikmati larut dalam keadaan. Aku yang lemah ini tak berdaya di hadapan cinta.