Sejenak hening kembali hadir, kami terdiam di antara gagapnya cara bersikap. Tere melemparkan matanya dariku, Ia lebih memilih menatap jendela yang terbiaskan bulir air bekas hujan tadi. Aku juga sedang berupaya menjelaskan keberanian sikapku yang berlebihan tadi padanya. Aku sadar, itu salah secara etika. Tetapi apa yang harus aku lakukan untuk menunjukkan rasa sedihku melihat gadis ini menelan derita? Tidak ada sikap lain, itu mungkin pilihan terbaik.
Mata kami kembali bertemu, tidak ada yang berubah kecuali terlihat sedikit sembap pelupuk mata Tere. Tangisannya tadi, walau hanya sebentar mungkin sudah mampu mengobati luka hatinya. Aku percaya, ketakutan yang ada pada diri Tere membuatnya sulit untuk menangis di depan kekasihnya. Perlakuan kasar Bang Edo pada Tere telah berhasil memendam perlawanan-perlawanan yang dimiliki manusia dalam mengatasi keadaannya, termasuk menangis sebagai ungkapan kesedihan.
“Entah kapan terakhir kali aku menangis, rasanya sudah sia-sia aku menangis jika hanya untuk menunjukkan ketidakmampuanku. Tapi di depanmu aku menangis, aku baru berani menceritakan segalanya hanya pada kamu. Entah mengapa itu terjadi. Aku tak ingin dianggap lemah, tak ingin juga merasa dikasihani.”
“Tapi kamu tetap manusia yang punya hati, Re. Tak pantas kamu diperlakukan seperti itu. Saya berharap sekarang kamu bisa kesampingkan perasaan kamu, buka mata dan tentukan pilihan.”
“Kamu tidak pernah benar-benar bisa memahami, Ka. Segalanya sulit, tidak semudah kamu mengatakan kesampingkan perasaan. Bang Edo telah merenggut pula pilihan hidupku, kini kami duduk sejajar, dua manusia yang menganggap kehidupan sudah tidak menawarkan pilihan.”
“Pilihan tentang apa? Sudah saya katakan sebelumnya, tidak ada manusia yang benar-benar terenggut pilihan hidupnya. Kalau kamu sudah tidak memiliki apa yang gadis perempuan lain miliki, bukan berarti masa depanmu hitam dan laki-laki lain yang jauh memiliki kebaikan meletakkan posisi kamu dalam keadaan hina. Tidak seperti itu.”
“Kamu tidak paham, Raka!!!” Tere sedikit berteriak, keras. Matanya yang masih sembab membantu suaranya mengintimidasi mataku.
Teriakan Tere barusan juga menyeruakkan keheningan dan itu tidak hanya ditujukan pada kami berdua, tetapi juga beberapa orang yang berada di cafe ini. Lantas, beberapa mata dari tamu cafe berduyun menghampiri meja kami. Menelisik peristiwa apa yang sedang terjadi hingga ada gemuruh suara perempuan di sudut sana. Aku membalas tatapan mereka dengan meyakinkan pula melalui pandangan mataku jika semua baik-baik saja. Sementara Tere masih terhanyut dalam kelam batinnya, menyadari jika ia baru saja mendentumkan ledakan. Kini Tere memasuki alam ketenangan di batinnya, mengendalikan hati, sembari masih mengutuki diri.
Setengah aku berbisik, membantu Tere menenangkan segalanya. Lalu menyambut perkataannya dan mencoba memahami apa yang tidak aku pahami menurut Tere, “Apa yang tidak aku pahami dari hilangnya keperawanan seorang gadis?”
Menyusul pertanyaanku, hujan kembali jatuh dari bumi, tidak dalam rintik yang mendamaikan, mereka datang dengan serempak kini. Bergemuruh bergantian dengan angin, kilat dan gelegar petir. Daun-daun dari tumbuhan rindang di jalan yang sebelumnya berucap terimakasih sambil menari mendapatkan rintikan hujan, sekarang terlihat seolah dirundung ketakutan. Beberapa daun terhempas jatuh ke tanah, tertiup angin, tertimpa deras hujan. Daun-daun itu tidak mati, tetapi akan terganti dengan daun yang lain lagi. Mereka tumbuh saling berganti, melengkapi batang, akar, dahan hingga sari-sari penyebar kehidupan. Membentuk kembali tunas pohon baru yang kelak akan saling menghidupi.
Hujan deras di luar jendela disertai angin itu berhasil memancing perhatian Tere. Sedikit ia melihat ke arah jalan melalui kaca jendela. Kemudian sebentar ia mencuri mataku, melihat aku yang juga sedang menunjukkan pandang ke tempat yang sama dilihatnya. Dengan perlahan mulut Tere terbuka, menguak rahasia terbesar dalam kehidupannya yang mungkin tidak pernah ia biarkan satu setan pun mengetahuinya.
“Bukan hanya soal keperawanan, tapi aku dan Bang Edo sudah menghilangkan nyawa anak kami sendiri!!”
Duarrrr..... suara petir keras menyambar ujung bumi, rasanya kaca ikut bergetar akibat begitu kerasnya bunyi itu. Beberapa orang di luar terlihat menunduk, takut terkena sambaran. Aku ikut pula menunduk, menyelami rasa tidak percaya, terkejut, kecewa, sesak, tapi bukan karena petir, namun karena rahasia yang telah dikuak oleh Tere. Kalimat itu terucap begitu saja dari mulutnya. Seolah memang ingin memberiku pemahaman, tetapi bukan hal seperti itu yang bisa aku pahami. Tak kalah pedih dari pepohonan yang sedang dirundung kesedihan akibat dedaunannya jatuh berguguran terhempas angin dari deras hujan di langit gelap sore ini. Mataku tanpa terasa mulai berkaca. Tertahan oleh kenanganku dahulu, air mata menggenang di pelupuk, tanpa bisa disesali, tanpa bisa kembali lagi, segalanya telah terjadi.
Sekarang aku yang mengutuki diri, bukan hanya Tere. Kalau ada orang yang seharusnya dipersalahkan atas apa yang menimpa Tere, aku adalah orangnya. Andai saja dahulu aku tidak berkenan memintakan nomor telefon Tere ke Kak Tari untuk Bang Edo, andai pula dahulu aku yang mendapatkan cinta Tere. Semua ini tidak akan terjadi, tidak akan pernah. Jelas aku akan memberinya kebahagiaan yang seutuhnya, tidak semu seperti apa yang terjadi padanya hari ini. Lagi dan lagi penyesalan hanya berujung pada kekesalan, berdamai dengan keadaan juga nampaknya merupakan pilihan yang kelak menjeratkan.
Aku tak ingin berbicara sekarang, segala pepatah bijak dan petuah bajik menjadi mentah di hadapan kemanusiaan yang terpinggirkan. Aku hanya menunggu apakah Tere hendak menjelaskan persoalan itu atau ikut pula menunggu aku memberikan tanggapan. Nyatanya Tere lebih memilih untuk tidak menunggu apa yang akan aku ucapkan, jelas ia pahami, butuh waktu lama bagiku bertarung dengan diri sendiri agar dapat memahami pilihan bodoh seperti itu. Bodoh, sungguh perilaku bodoh, menghilangkan nyawa seorang jabang bayi yang tak pernah mengecap dosa dan tidak pernah mengharapkan pula untuk hadir di muka bumi ini. .
“Itu terjadi sekitar 3 bulan lalu, rasa sakitnya pun masih sering aku rasakan hingga sekarang. Aku tak ingin memberikan kamu gambaran tentang bagaimana cara mencabut hak hidup seorang nyawa anak manusia. Yang pasti, aku menyesal dan sangat kecewa dengan diriku sendiri. Tapi kami tidak memiliki pilihan, Bang Edo lebih tepatnya yang tidak memiliki pilihan, takut akan keadaan dan lalu mempengaruhiku untuk masuk ke dalam ketakutannya. Dia sedang berada di titik nadir sekarang, dia tidak siap jika harus menikahiku sementara kuliahnya sudah gagal, tidak ada pekerjaan pun ia dapatkan. Sementara ibuku jelas tidak akan pernah menyetujui aku dinikahi oleh pria yang seperti itu, apalagi kalau ibu sampai tahu Bang Edo seringkali memukuliku. Walaupun aku cinta, tapi realitas kehidupan memang telah membenturkan segalanya. Aku terjerembab, di bawanya ke bawah lembah kenistaan seperti sekarang,” Tere menjelaskan sambil masih terus terisak, air matanya tak pernah habis bercucuran. Entah sudah berapa banyak tisu dihabiskan membasuh wajah serta matanya dari basah akibat kesedihan.
“Karena anak itu, aku dan Bang Edo merasa memiliki ikatan yang jauh lebih dalam. Jika kami ada uang lebih, kami pasti membeli baju atau mainan anak. Kami selalu bercanda penuh duka, berharap anak itu masih ada. Biarpun Bang Edo suka memperlakukanku dengan keras, tetapi dalam keadaan kami yang seolah memiliki seorang buah hati, ia terus ada disampingku, memberikanku kesan jika aku adalah ibu yang sempurna. Aku pun masih tak bisa menafikkan kehilangan, sangat kehilangan. Dan meninggalkan Bang Edo terasa bukan merupakan sebuah pilihan.”
Tere mengakhiri penjelasannya dengan lamunan yang dibawanya terbang melintasi awan-awan. Imajinasinya menuntun ia menuju langit yang biru, bermain bersama anak dari rahimnya, bersenda gurau bersama pria yang dicintainya, meretas bahagia bersama sempurnanya impian berkeluarga. Pada kenyataannya, langit sedang tidak membiru, sekarang justru terasa kelabu. Gelap, mungkin ikut merasakan duka.