Aku tidak tahu harus berkata apa pada Tere, harus mengasihani dirinya sambil berpura-pura ikut bersimpati atas keadaannya. Ataukah aku harus terus membiarkannya terjebak dalam khayalan yang mulai menyakiti tidak hanya tubuhnya, tetapi juga jiwa serta akal sehatnya???
“Siapa nama anakmu itu, Re? Perempuan atau laki-laki? Kalau perempuan dia pasti secantik ibunya ya, jikapun laki-laki dia akan mewarisi ketabahan kamu, Re,” ucapku.
Tere melirik sebentar padaku pada kedalaman hati yang masih begitu perih dialami. Ia melemparkan senyum kecil, tanda ada secercah kebahagiaan yang sedang merundung wajahnya.
“Perempuan Raka, aku dan Bang Edo memberinya nama Dewi, hanya Dewi. Itu sudah mewakili segala harap kami padanya yang kini sedang ditimang manis oleh Dewi kehidupan. Aku menitipkan Dewi padanya, dewi pemilik kehidupan. Ia berubah menjadi anak kecil yang lugu dan cantik, menjadikan langit begitu ceria di atas sana dan bumi di bawah sini. Seringkali dalam mimpi, Dewi datang menghampiri, ia hanya memberikan senyum kepadaku. Pengorbanannya tidak akan pernah aku lupakan, senyum itu juga tidak akan pernah aku buang sejauh apapun hidupku dijejakkan, Dewi adalah milik semesta sekarang, semoga jiwanya senantiasa bahagia,” Tere menjelaskan, tidak dalam kepedihan kali ini. Ada gurat bahagia yang ia lepaskan.
“Dia pasti bahagia di sana, Re. Ada banyak teman yang bersamanya, menjaga serta melindunginya. Tidak ada kepedihan di langit sana, semuanya bergembira, termasuk Dewi yang menambah kegembiraan isi langit, seperti katamu barusan.” Aku pun melemparkan senyum yang seolah tabah untuk tidak merenggut kebahagiaan perempuan di hadapanku ini. Imajinasi tentang Dewi yang dikatakannya membuat Tere berubah seperti dahulu pertama kali aku melihat dirinya. Senyum kebahagiaannya bukan sebuah kepalsuan, ini adalah senyum terindah dari satu anak Tuhan. Dan aku jadi mengerti mengapa Tere enggan meninggalkan Bang Edo serta pria itu terus berlaku lacur dengan menghadirkan khayalan seorang anak di imajinasi Tere. Segalanya terjawab dengan senyuman Tere.
“Lalu sekarang apa rencamu? Saya masih berharap kamu bisa melanjutkan perjuangan demi masa depanmu, Re. Jangan siakan pengorbanan Dewi atas hidupmu. Saya boleh tanya satu hal lagi?” lanjutku berkata dengan hendak menuntaskan pertanyaan yang sedari tadi sebetulnya membuat gelisah hatiku.
“Selain rencana masa depan, pertanyaan apa lagi yang hendak kamu sampaikan, Ka?” Tere tidak langsung menjawab pertanyaanku yang pertama, ia justru ikut memburu pertanyaan apa yang ingin aku ketahui jawabannya melalui pertanyaan lain.
“Apa dalam mimpimu, Dewi pernah mengisyaratkan agar ibunya berpisah dari ayahnya? Maaf maksud aku, Dewi pasti memahami, jika kehidupannya direnggut bukan atas dasar kemauan ibunya, tapi kehendak ayahnya. Barangkali juga Dewi tidak akan tega melihat ibunya terus menerus menahan derita jika bersama ayahnya yang sekarang? Kamu boleh jawab atau jika tidak berkenan kamu boleh melupakan pertanyaan itu, Re.”
“Sejujurnya Dewi pernah datang, ia hanya menanyakan mengapa aku disini, tidak bersama ibu di dunia sana. Aku hanya menjawab jika ini bukan keinginanku. Lalu dia meminta untuk selalu ikut bersamaku kemanapun aku pergi. Aku izinkan permintaannya, karena jiwanya terpatri dengan jiwaku, sehingga hati kami pun masih bersama walaupun ia tidak hidup di dunia ini, ia hidup dalam duniaku. Apakah itu bisa memberi arti jika Dewi menginginkan aku berpisah dengan ayahnya? Aku tidak mengerti.”
“Soal rencana kehidupan ke depan aku tidak pernah memiliki rencana, segalanya mengalir begitu saja. Satu hal yang pasti, aku harus menyelesaikan tanggung jawab akademisku. Aku telah dipertunjukkan bagaimana orang yang telah sia-sia menjerumuskan dirinya menjauh dari tanggung jawab yang dipikulnya. Aku tidak ingin keadaanku sama seperti itu,” Tere menjawab segalanya dengan lugas.
Aku melihat sedih hatinya telah pudar seiring beban kehidupan yang dibaginya kepadaku. Walaupun sembap matanya masih jelas terlihat, tetapi ada harapan yang tersisa jauh di dalam keinginannya. Memang harapan adalah s*****a terakhir manusia untuk menemui kenyataan yang baru. Jauh sebelum adanya peradaban modern, mitologi Yunani dengan kisah mengenai kotak pandora menjelaskan itu. Pandora yang membuka kotak hadiah atas pemberian para dewa sebetulnya mengingatkan jika segala kesedihan akan bermuara pada kebahagiaan asal kita terus memiliki harapan.
“Semoga segalanya berjalan dengan baik Tere. Saya hanya bisa memberikan kamu doa serta membantu dukungan agar kehidupan kamu bisa berjalan sesuai dengan apa yang kamu bayangkan. Kamu tahu apa yang dikatakan Jimi Hendrix sebelum kematiannya? Dia mengatakan bahwa kematian bukanlah kehilangan terbesar dalam hidup. Kehilangan terbesar adalah apa yang mati di dalam dirimu ketika kamu masih hidup. Dan Jimi mengutip itu dari salah satu album karya Tupac Shakur. Jadi jangan pernah menyerah selama kamu masih bisa melanjutkan hidup ini dengan berbagai kemungkinan.”
“Siapa itu Jimi Hendrix? Siapa pula Tupac Shakur?” tanya Tere dengan mata polosnya yang membuatku lantas tertawa.
Kami berdua pada akhirnya memberikan pandangan ke arah yang sama, lagi-lagi keluar jendela, tempat kesejukan bersemayam. Di sana, depan warung kelontong, bawah pepohonan rindang ada beberapa orang saling berbagi cerita, tertawa, berkumpul dengan ceria setelah hujan reda. Beberapa pengendara sepeda motor juga sudah tidak lagi terlihat berteduh di bawah atap warung. Pemandangan berganti dengan aktifitas kehidupan yang harus dilanjutkan. Bagaimanapun ceritanya, tidak ada kesalahan yang tak pernah bisa dibayar dengan kebenaran.
Tere hari ini sudah mengungkapkan sebuah kebenaran akan hidupnya, di satu sisi aku sangat bersimpati terhadap apa yang terjadi padanya, di sisi lain nyatanya aku semakin tertaut rasa dengan Tere. Atas keterbukaannya padaku, Tere benar-benar menyajikan realita kehidupan yang utuh tanpa sebuah sekat penghalang di jiwa. Tere telah memberikanku gambaran mengenai diri dan apa yang terbesit jauh di dalam lubuk hatinya. Dengan begitu, kami terus mengenal secara baik ke depannya. Tidak ada lagi batas sahabat ataupun batas rasa cinta, yang ada, kami terhubung dalam sekat sesama manusia. Manusia yang coba memahami arti kemanusiaan pada perbedaan paradigma.
“Baiklah Tere, sepertinya hari sudah gelap, hujan pun telah reda. Jika sudah tidak ada hal yang ingin kamu ungkapkan lagi, saya akan antar kamu pulang, ke rumah. Tidak ke kosan. Saran saya kali ini kamu harus habiskan waktu bersama keluarga, tidak dahulu dengan kekasih kamu. Dan kamu harus mau menerima saran saya. Saya memaksa.”
Tere menuruti saranku dengan satu anggukan, ia biasanya selalu membantah atau minimal memiliki pemahaman lain dari diriku. Di balik kelembutan seorang perempuan, kepala Tere memang lebih keras daripada batu karang. Tapi itu pula yang menyadarkanku, betapa kami memiliki banyak kesamaan, termasuk ego sentris yang memakan kebanggaan kami sebagai manusia. Entah persamaan atau justru perbedaan yang kemudian membuat adanya benturan, mungkin karena sudah didera kenyamanan sehingga persamaan hadir begitu saja tanpa bisa dihalangi.
Kami menuruni anak tangga di tempat ini dengan sangat perlahan, satu persatu pijak tangga diperhatikan Tere. Kepalanya mungkin terasa berat karena tangisan hebat yang baru saja ditunjukkannya. Walaupun itu terjadi di depan umum, sedikit orang yang menyadari Tere menangis dengan amat terisak. Selain posisinya membelakangi pelanggan lain, ia sendiri hebat dalam mengendalikan diri, kecuali pada satu seruan yang menganggap aku tidak mengerti.
Malam terasa begitu pekat dan dingin, akibat sisa hujan yang tumpah tadi. Tere mendekap tubuh dengan tangannya sendiri. Melihat ia nampak kedinginan. Aku pun sigap memberikan jaketku padanya, takut jika nanti sampai rumah malah Tere jatuh sakit dan aku harus meminta maaf lagi karena telah membuatnya sakit. Tere menerima jaketku dengan sedikit basa-basi, awalnya ia bilang tidak perlu, tetapi senyuman itu membuncahkan segala penolakan. Aku sendiri yang mengenakan jaket ke tubuhnya dengan agak sedikit memaksa.
Di perjalanan, kami tidak lagi membahas mengenai persoalan hidup, termasuk soal Bang Edo, Dewi, dan apapun masalahnya. Tere lebih banyak membahas mengenai romansa malam. Menurutnya sebuah hal yang romantis melintasi jalanan Jakarta, terbiaskan rona lampu kendaraan dari aspal basah jalanan, ditambah dengan dinginnya udara selepas hujan yang mendera. Sungguh sebuah kondisi sempurna untuk berbicara cinta.
Tak terasa waktu merambat begitu cepat. Kami sampai tiba di rumah Tere setelah melewati satu jam perjalanan. Tere turun dari motor tanpa tergesa, ia seolah enggan melepaskan diri dari tempatnya duduk bersamaku tadi sambil saling menyudutkan cerita. Lalu Tere melepaskan jaketku dan berucap terimakasih atas segala yang telah aku lakukan untuknya hari ini. Sebelum ia berbalik ke arah rumah, satu kalimat dariku membuat segalanya berubah, termasuk keyakinan Tere atas pilihannya.
“Ini jaketnya. Terimakasih ya Raka untuk hari ini, dan maaf jika aku minta bertemu hanya untuk mendengarkan segala omong kosong itu. Dan aku mohon padamu, tolong jangan pernah ceritakan persoalan ini pada siapapun, aku percaya kamu,” dikatakan Tere sambil melepaskan jaketku yang melekat di tubuhnya. Kemudian diberikannya kepadaku.
“Saya janji, lagipula bukan tipikal saya mengumbar persoalan hidup orang lain. Masih banyak hal yang lebih pantas dijadikan cerita daripada harus membahas mengenai hidup orang lain. Oh iya Tere, saya lagi-lagi harus berkata jika saya berharap kamu dapat memikirkan rencana hidup kamu ke depan secara bijak. Jika kamu khawatir tidak ada orang yang hendak menikahimu karena kondisi kamu sebagai perempuan yang sudah tidak utuh, saya akan menikahi kamu. Saya pamit.”
Apa yang aku katakan membuat Tere terdiam mematung. Bahkan ketika aku sudah menjalankan roda kendaraanku beberapa meter dari tempatnya berdiri. Dari kaca spion aku dapat melihat kegamangan dirinya akan harapan yang aku tanamkan. Aku juga tidak mengerti mengapa kalimat seperti itu keluar dari mulutku. Sepanjang jalan aku hanya berfikir jika apa yang kukatakan padanya merupakan caraku menuntaskan kesalahan. Daripada sekedar meminta maaf karena telah mendorongnya masuk ke mulut buaya, aku lebih baik bersikap untuk bersedia menariknya menuju keadaan yang jauh lebih bahagia. Tere, saat-saat itu masih kukenang, saat matamu menggantungkan harapan akan adanya orang yang hendak menarikmu dari tempat yang kamu sebut sebagai jurang kenistaan dan penjara penderitaan.