Berdamai Dengan Diri Sendiri

1427 Kata
Kembali. Tempat berpulang. Rumah. Bersama ibu, didekapnya tanpa ragu. Tiada pengembaraan tanpa akhir, tiada pula bahagia tanpa pangkal. Segalanya tertaut, bersama dengan semesta bekerja. Pada akhirnya, manusia yang pongah selalu berkata jika berdaya adalah memiliki segalanya. Mereka lupa, siapa yang mencipta, untuk apa tercipta dan mengapa segalanya dicipta. Kita berpulang, kembali, di sini, bersama cinta sejati. “Jika kamu tidak bisa berdamai dengan dirimu sendiri, kamu akan terus seperti ini Raka. Ibu tidak menuntut kamu menurut apa yang ibu sampaikan soal kebahagiaan. Ini soal kamu Raka, kebahagiaan dirimu. Bukan soal ibu atau siapa-siapa,” ucap ibu yang membuyarkan lamunanku di meja makan ketika mengudap sarapan. “Iya aku tahu bu. Maaf kalau terlihat aku tidak bisa berdamai dengan diri sendiri. Ibu memang seringkali lebih memahami diriku lebih dari aku memahami diri ini. Tapi ini persoalan lain bu. Aku tidak ingin melangkahi ketetapan Tuhan mengenai hati yang menunjuk tujuannya. Jika hati ini berkata belum, aku tidak bisa menuntaskan itu bu. Percayalah, waktunya akan segera tiba, kala Tuhan bersuara melalui hati bu.” “Tuhan tidak akan memberikan kamu apapun kalau kamu tidak memberikan kelapangan padanya memasuki hatimu, nak! Ya sudah, kamu habiskan dulu sarapan ini, lalu berangkat.” Ibu mengakhiri percakapan kami. Tidak berapa lama, aku sudah siap mengawali hari ini. Kemeja hitam dengan celana bahan yang biasa digunakan orang-orang bekerja di kantor akan mendampingi waktu sibukku hari ini. Tampaknya memang akan sibuk, walaupun itu sekedar menemani Erik berbincang, atau memandangi mata Senja. Jam sudah menunjukkan pukul 8 ketika aku hendak berangkat bersama skuter kesayanganku. Benda inilah yang selalu menemani hari-hariku menembus padatnya jalanan Jakarta di waktu jam-jam padat berkendara tiba. Jakarta bersama lalu lintasnya memang tidak pernah bersahabat, terutama di pagi sewaktu orang-orang berangkat beraktifitas, siang saat orang yang beraktifitas memasuki jam makan siang dan sore hingga malam hari ketika mereka lelah satu hari beraktifitas dan hendak memasuki kandang-kandangnya. Tak pernah ada waktu untuk sehari saja merasakan kota ini menjadi pantas untuk ditinggali. Jika bukan karena pusat perekonomian dan banyak orang yang menggantungkan hidup di sini, Jakarta pasti sudah kehilangan nilai. Aku percaya ini. Sekira satu setengah jam perjalanan dilewati, aku telah tiba di depan pintu kantor, bertuliskan LSM Rangka Karya pada alas papan besi di depannya. Kantor ini cukup sederhana, bertempat di sebuah rumah sewa berlantai dua dengan desain minimialis berhias cat hitam dipadukan warna dasar putih. Dengan begitu, aku harapkan sedikit banyak membuat penghuninya bisa merasakan cerahnya ruang fikiran yang dipengaruhi keadaan ramah kantor dengan segala desainnya ini. Aku buat segalanya sesuai keadaan zaman, di kantor ini lebih banyak sekat kosong yang bisa kami pergunakan untuk mengisi waktu luang dibanding dengan ruang kerja. Desain interiornya pun aku rancang agar senyaman mungkin menemani kami bekerja, ada sofa, games room, perpustakaan mini, smoking room, bahkan ada pula satu set kecil alat olahraga di sisi belakang kantor. Dari 5 ruangan yang difungsikan, hanya ada 3 tempat berisi komputer untuk mengerjakan pekerjaan yakni ruangan direktur pelaksana dan 2 staf termasuk Senja sebagai sekretaris lembaga berada di paling depan, sebelah kanan pintu masuk. Lalu ada ruangan direktur teknis yang digabungkan dengan ruang divisi keuangan berada di tengah, sementara satu lainnya dengan posisi agak ke belakang diisi oleh direktur progam dengan stafnya. Dua ruangan di lantai dua difungsikan bagi kesenangan kami sebagai manusia. Di sana ada ruang permainan berisi pc games, meja billiard, dart dan satu ruangan lagi difungsikan sebagai perpustakaan yang sekaligus menjadi pojok kopi. Tempat paling favorit kami berkumpul di kantor ini.  Aku menempatkan segalanya atas dasar kesadaran jika manusia tidak boleh kaku dalam kesehariannya. Otak membutuhkan kelenturan agar dapat selalu bersahabat dengan semesta. Aku selalu meyakini jika inspirasi dan daya kreatif hadir dari sistem semesta ini membuka lebar cakrawala. Sedangkan otak seperti jendela, bukan pintu, ada yang masuk tetapi hanya sekedarnya, karena memang kapasitas yang dibatasi, sesuai cara indra bekerja. Di gerbang aku lihat belum ada kendaraan milik Senja terparkir di sana, biasanya Senja selalu datang tepat waktu, sekira itu jam 9 pagi. Tetapi ada beberapa motor yang sudah berjejer rapi di halaman, aku mengenali milik siapa saja. Ada Erik, Wahyu, Hikam dan beberapa teman lain. Itu artinya mereka sudah berada di dalam kantor. Dua minggu ditinggalkan tidak ada perubahan berarti kurasakan. Semuanya masih dalam posisi yang sama. Aku tidak langsung menuju ruanganku, tetapi berangsur menemui Erik terlebih dahulu di ruangannya untuk sekedar bertegur sapa. Pagi hari seperti ini biasanya Erik, Hikam atau Wahyu selalu berada di ruangan, menyelesaikan pekerjaan yang harus dikerjakan. Baru setelah makan siang tiba, biasanya mereka sudah selesai dengan pekerjaan dan berkumpul untuk sekedar jual beli percakapan. Beban pekerjaan di kantor ini memang tidak pernah berlebihan muatan. Segalanya masih dalam koridor batas nyaman. Kami hanya berkenan menerima maksimal 2 project per bulan. Tidak pernah lebih kami paksakan. Alhasil, kebijakan seperti itu membuat rutinitas di kantor ini lebih manusiawi. Mereka merasa betah meskipun upah yang didapat dirasa pas-pasan dengan kebutuhan. Sebagian mencari tambahan lain sebagai pengajar, penulis, atau bahkan fotografer sesuai dengan keahlian. Aku juga tidak menuntut mereka untuk fokus seratus persen di sini. Aku memahami jika ada penekanan, akan membuat mereka menjadi tidak sehat, terutama terhambatnya kreatifitas di akal fikiran. Sebelum beranjak ke ruangan Erik. Dia ternyata lebih dahulu keluar dan berpapasan dengan diriku di depan ruangannya. Sambutan hangat diberikannya. Menjadikanku merasa tidak terasing dengan rutinitas yang telah lama aku tinggalkan. “Halo bro, sudah keluar dari goa pertapaan rupanya,” sapa Erik ketika bertemu denganku lalu memeluk erat seperti sahabat yang sudah setahun tidak berjumpa. “He...he...he.. Iya bro, goa semakin lembab, rindu juga gue sama kantor ternyata,” balasku. “Sama kantor apa sama matahari terbenam bro?” Erik tertawa lepas dan aku mengerti jika arah pembicaraannya adalah Senja. “Matahari terbenam cahayanya meredup ditinggal lo dua minggu,” lanjutnya berjalan dengan membawa cangkir. Terlihat ia menuju arah pantry untuk membuat kopi, aku pun langsung mengarah ke ruanganku, tak jadi mengunjungi ruangan Erik, karena kadung bertemu dengannya barusan. “Eh, bro ada yang mau gue obrolin. Nanti gue ke ruangan lo ya.” Erik berkata setengah berteriak dari pantry. Aku tidak menanggapinya tanda setuju atas permintaan Erik. Di dalam ruanganku, Sinta salah satu staf terlihat sudah hadir, sedang bergumul dengan layar komputer. Di sebelahnya ada meja Senja yang terlihat masih kosong. Ternyata benar, Senja belum datang. Aku pun menyapa Sinta yang sedang fokus menatap layar komputernya, entah apa yang sedang ia lihat di sana. Mengendap-endap aku coba untuk memberikannya kejutan.  “Serius sekali, Sin. Jangan serius-serius, nanti dikecewakan sakit hatinya sulit sembuh lho,” aku mengagetkan Sinta yang kemudian membelalakkan matanya padaku yang berada di sampingnya. “Mas Raka, kirain siapa. Suka parno deh kalau lagi sendirian begini. Apa kabar mas? Lama tak jumpa,” tanya Sinta. “Baik Sin, kamu gimana kabarnya? Keadaan kantor gimana selama saya tidak kesini? Banyak pekerjaan kah? Oh iya, Senja kemana? Belum datang ya? Ada beri kabar dia sama kamu, Sin?” pungkasku dengan tanpa sadar menembakkan banyak pertanyaan kepadanya. “Duh, tidak bisa kah satu per satu mas? Jadi mana yang harus dijawab sebagai prioritas?” gadis berkacamata ini membalas pertanyaanku dengan pertanyaan kembali. Tapi kemudian ia langsung menjawab, segan aku bereaksi atas pertanyaannya. “Pekerjaan, ya normatif mas. Pekerjaan untuk Sukabumi ini sedang aku validasi datanya. Email dari Mas Raka juga seluruhnya sudah aku periksa dan sudah diterima untuk masuk dalam pembahasan divisi teknis. Senja, dia tadi telfon untuk datang agak siang, ingin temani ibunya ke rumah sakit katanya.” “Oh, baiklah kalau begitu Sin. Tapi pasti datang kan dia?” “Khawatir sekali tidak bisa bertemu mas? Hehehe. Iya katanya sehabis dari rumah sakit dan membawa ibunya pulang, dia langsung ke kantor mas. Rindu katanya sama Mas Raka.” “Serius Senja bicara begitu? Makin agresif rupanya dia, Sin.” Percakapan ini diakhiri oleh tawa kami berdua. Aku pun memasuki ruanganku, yang berada beberapa langkah dari meja Sinta. Hanya saja tertutup oleh pintu dan sekat kayu sebagai pembatas pandangan antara ruanganku dan dua meja di depan. Luasnya cukup memberikanku keleluasaan untuk berjalan 4 sampai 5 langkah dari meja menuju pintu, itu sekira 3x4 meter. Sebetulnya dahulu ruangan ini digunakan oleh Bang Hendra, sebelum dirinya diminta membantu Hartedjo di kantor kementerian. Tapi karena sekarang Bang Hendra lebih banyak beraktifitas di sana, ruangan ini pada akhirnya dinisbahkan kepadaku. Di dalamnya aku hias sedemikan rupa, sesuai dengan seleraku. Ada beberapa pajangan tokoh superhero X-Men yang menjadi favoritku di meja. Tumpukan buku di rak sudut kiri sebelah jendela. Dan cukup banyak hiasan memenuhi dindingku yang dominan adalah kata-kata motivasi dari kutipan tokoh terkenal dunia. Ini adalah caraku membangun inspirasi, karena aku sadar akan lebih banyak waktu dihabiskan di sini, sehingga segalanya itu tidak boleh terlihat menjemukan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN