Aku duduk di kursi mejaku sambil menatap sekitar, terlihat tidak pernah ada yang memasuki ruanganku. Aku mencoba mengingat letak seluruh barang yang ada di sini, masih sama seperti saat pertama ditinggalkan. Tak lama aku duduk dengan menghadap ke rak buku, memastikan segalanya masih lengkap, terdengar tiga kali ketukan pintu berbunyi, menyusul suara Erik meminta izin untuk masuk ke ruanganku.
“Masuk bro,” aku persilahkan Erik masuk dan dia langsung mengambil kursi di depan meja, biasa digunakan oleh tamu, berada tepat di hadapanku. Aku lihat Erik membawa dua lepit berkas bersama satu buah surat kabar nasional dikepit tangan kanannya. Sementara dalam tangan kirinya ia membawa segelas kopi di cangkir untuknya minum. Itu menandakan perbincangan ini akan berlangsung cukup lama. Sementara, untuk berkas itu aku ketahui jika memang salah satunya adalah draft laporan keuangan yang harus aku tandatangani, satunya lagi mungkin adalah hasil pengerjaan dari beberapa program yang sudah rampung kami tuntaskan. Sementara surat kabar nasional itu aku tidak ketahui untuk apa Erik membawanya.
Ia menaruh seluruh bawaannya di atas mejaku dengan posisi draft di bawah tumpukkan surat kabar dan cangkir kopi di sebelah kiri seluruh tumpukkan itu. Erik lantas mengambil surat kabar dengan maksud memintaku untuk membacanya. Ada hal menarik di sana. Tentang rencana pendirian pabrik semen di Bogor, dan hubungannya dengan kami.
“Sudah baca koran hari ini, bro?” tanya Erik tanpa berbasa basi mencoba membuka pembahasan mengenai apa yang akan disampaikannya.
“Belum, tadi gue buru-buru dari rumah, tidak sempat membaca berita hari ini. Media online juga belum gue sentuh. Memang ada kabar apa? Terlihat penting sekali sepertinya, jarang-jarang juga lo nunjukkin berita ke gue,” pungkasku mencoba menelisik apa yang dimaksud Erik.
“Coba baca ini,” Erik menyodorkan korannya kepadaku. Diarahkannya pandanganku dengan telunjuknya untuk membaca tajuk berita mengenai kabar investasi pabrik semen di Bogor yang melibatkan kementerian tempat Hartedjo Winoto dan Hendra Atmaja bernaung.
Sekelebat aku tatap balik matanya, tidak ada isyarat untuk menganggap berita itu sebagai candaan. Dalam judul yang diberikan, koran ini menyebutkan, ‘Oknum Kemenko Kesra Diduga Terlibat Aktif Pengusiran Warga atas Pendirian Pabrik Semen di Bogor’. Aku melanjutkan membaca sebentar untuk mengetahui duduk perkara persoalan ini.
Dalam isi berita, pewarta yang menulis menyebut jika sang oknum mendapat dana milyaran rupiah guna merelokasi tempat tinggal warga daerah Rumpin dan Pamijahan, tempat sekitar pabrik semen akan didirikan. Oknum ini juga disinyalir mengorganisir preman dan Ormas yang terkenal memiliki ideologi radikal untuk melakukan ancaman serta teror secara sistematis.
Dua puluh persen warga yang tidak tahan dengan teror yang saban hari diterima sudah bersedia menjual tanahnya kepada pengusaha pabrik semen. Harga yang diberikan pun tidak sebanding dengan harga pasaran, rasionya lebih rendah 30%, warga juga tidak dijamin untuk mendapat tempat tinggal baru. Itu artinya persoalan ini menyalahi prinsip relokasi. Sementara di kalimat paling bawah, aku lihat pernyataan Hartedjo Winoto sebagai menteri yang memberikan garansi untuk memastikan tidak ada aparaturnya terlibat dalam persoalan ini. Jikapun ada, dia memberi kepastian kembali, akan dilakukan cara-cara yang manusiawi untuk mengurus warga di lokasi. Aku muak melihat cakap rupanya yang ia bentuk melalui persona malaikat di hadapan media.
Aku kemudian tertarik mengajukan pertanyaan pada Erik mengenai persoalan ini. Mengapa kemudian dirinya fokus pada berita seperti ini. Apakah karena persoalan kementerian yang menaungi senior kami Hendra Atmaja sehingga Erik berlaku etik untuk menganggap ini sebagai sebuah masalah kami? Ataukah Erik secara moral merasa tertarik dan mendorong LSM untuk melakukan advokasi kepada warga? Apakah hal sebaliknya yang terjadi? Selama aku tidak ada di kantor, bisa jadi Bang Hendra datang ke sini. Membujuk Erik, Hikam atau Wahyu membantu tugas Kemenko Kesra mengurus pemindahan warga.
“Bang Hendra tiga hari lalu datang kesini. Dia ceritakan soal permasalahan itu. Maaf gue belum cerita sama lo,” perkataan Erik ini mencuri perhatianku. Aku tahu sebagai sahabat tidak ada sekeping logam pun akan dia sembunyikan dari hadapan. Kami berjuang bersama, mengarungi derasnya kehidupan bersama, sejak masa perkuliahan, mendirikan LSM sampai hari ini. Erik tidak akan bisa berlaku dua wajah di hadapanku, pun begitu aku di hadapannya.
“Lalu apa yang disampaikan Bang Hendra?” tanyaku coba memberi perhatian lebih jauh. Aku tahu keputusan apapun yang teman-teman ambil kemudian melibatkan LSM ini, akan menjadi rumit di kemudian hari.
“Bang Hendra mengatakan jika dia harus mengamankan paket investasi ini. Soal pabrik semen. Dia tidak bisa menghindar, banyak hal dipertimbangkan olehnya, keputusan terakhir tetap untuk secara langsung mengurus segala persoalan agar investasi bisa masuk ke sana.”
“Terus kenapa harus Kementerian Hartedjo yang ambil alih, Rik? Ini tugas Kementerian Lingkungan Hidup, Pemda, atau tugas Kementerian Sosial. Bukan Tupoksinya kalau masuk ke Kemenko Kesra,” aku pura-pura mengajukan pertanyaan yang sebetulnya tidak mendasar. Erik pun barangkali tahu jika aku tidak bertipikal seperti ini. Menarik benang merah jauh dari jarak simpul terpatri di tengah kusutnya permasalahan.
“Lo seperti orang yang baru berurusan sama pemerintahan. Tapi mungkin memang lo ga tahu. Perizinan dari Kementerian LH belum tuntas sebenarnya, butuh disetujui warga dengan radius 1.500 meter dari lokasi. Kemenko Kesra melalui orangnya coba untuk menekan LH agar cepat melakukan proses itu,” jawab Erik lalu mengambil kopi yang ada di cangkirnya, meredakan urat syaraf yang sempat tegang barusan.
“LSM lokal di sana sudah melakukan tugasnya membantu warga mengorganisir penolakan. Warga bertahan enggan tanda tangan persetujuan. Apalagi wilayah yang akan digunakan termasuk ada cagar budaya dan sebagian lahan hutan konservasi di dalamnya. Lo pasti tahu daerah itu kan? Bang Hendra katanya diminta langsung oleh Hartedjo untuk atasi persoalan penolakan warga ini. Karena Pemda juga udah angkat satu tangan, tanda butuh bantuan untuk membuka wilayah ini. Sementara Kemensos dianggap lemah menterinya oleh presiden untuk tangani persoalan semacam itu. Lagipula, Hartedjo itu tangan kanan presiden di kabinet, apapun persoalannya pasti akan dilekatkan sama dia. Ditambah lagi Hartedjo sedang rajin cari muka agar bisa dipilih jadi wakil presiden tahun depan,” Erik menjelaskan persoalan ini secara gamblang. Benar intuisiku jika bagaimanapun ceritanya, persahabatan yang ditawarkan Erik memberikan akses keterbukaan pada cara kami mengetahui satu sama lain.
“Oke gue paham, Rik. Terus hubungannya sama berita ini dan isi pembicaraan Bang Hendra beberapa hari lalu di sini apa?” tanyaku ingin tahu lebih jauh persoalan.
“Bang Hendra menurutnya tidak mau mengambil tindakan represif dengan melakukan pengusiran sepihak tanpa memberikan warga pilihan. Dia mau tindakan yang persuasif. Pesan Hartedjo begitu. Jangan sampai media-media nasional menganggap kebijakan presiden atas keberpihakannya pada investasi bisa bikin citranya buruk. Beberapa LSM sekarang balik badan, setelah dapat kucuran dana dari pemerintah agar tidak lagi mengusik kegiatan di sana. Mereka sekarang malah ikutan mendorong warga untuk segera menjual tanahnya sama pengusaha ini. Sebagian warga bersikukuh tidak mau melepas tanah mereka.”
“Hubungannya dengan kita, Bang Hendra meminta Rangka Karya membantu pemerintah di sana. Beri pemahaman kepada warga kalau adanya investasi di tempat itu akan mampu mengembangkan ekonomi masyarakat. Mereka butuh diberi pengertian kalau pengorbanan memberikan lahannya untuk dijadikan kawasan pabrik semen bisa berarti bagi negara. Intinya Bang Hendra mau kita terjun kesana, tapi dalam posisi yang tidak seperti biasanya,” Erik memandang mataku. Dari sorot matanya terlihat jika ia ingin meminta pendapatku. Aku akan membalikkan sikap teman-teman atas persoalan ini. Secara pribadi sudah aku katakan pada Bang Hendra jika tidak akan pernah menyetujui pembangunan pabrik semen di sana. Itu akan merusak alam dalam jangka waktu panjang. Kami tidak mungkin mengkhianati apa yang dinisbahkan alam untuk kehidupan hanya demi segenggam kekayaan.
“Apa pendapat lo soal permintaan Bang Hendra itu, Rik?” aku menanyakan sikap Erik tanpa mencoba membalas tatapan matanya. Aku harap jawabannya bisa sependapat dengan apa yang akan aku sampaikan padanya.
“Mmm.... Gue rasa kita sama-sama tahu posisi Rangka Karya selama ini. Walaupun spektrum pengembangan ekonomi terpenuhi dari terbukanya investasi itu, tapi jelas menyalahi nilai perjuangan kita. Otak sama hati gue kali ini bertentangan bro. Bang Hendra pasti kecewa kalau kita tidak memenuhi permintaannya. Sedangkan kalau kita sedang minim project dan tidak ada anggaran operasional pasti merengek ke dia. Sekarang yang paling dibutuhkan sikap lo, Ka. Karena lo yang berhak menentukan arah hidup LSM ini ke depannya.”
“Sebagai teman gue, lo pasti paham sikap gue. Dan kenapa gue 2 minggu ini ninggalin kantor, salah satunya karena alasan itu. Bang Hendra pernah minta gue secara pribadi datang ke kantornya, bahas mengenai pabrik semen dan rencana keterlibatan LSM di sana. Penjelasan yang dia kasih ke gue kurang lebih sama dengan apa yang dikatakan dia sama kalian kemarin. Gue sempat berdebat dengan Bang Hendra sampai akhirnya secara halus dia minta gue keluar dari ruangannya. Gue nolak keras terlibat dalam hal itu dan berkomitmen tidak akan pernah melibatkan Rangka Karya ke sana. Secara sadar gue tahu Bang Hendra akan meyakinkan lo, Hikam, Wahyu atau lainnya buat ikut permainan yang dia bikin. Dia butuh kita kalau metode persuasif yang ingin dikedepankan. Tapi buat gue, lebih baik hidup dalam kelaparan Rik daripada harus berkecukupan tapi mengkhianati nilai kemanusiaan.”
Erik melemparkan senyum padaku, tanda kami dalam sebuah pemahaman yang sama. Walaupun Erik sempat ada dalam kegamangan, tapi sikap yang aku utarakan padanya membuat dirinya sedikit merasa lega. Ada kepercayaan yang dirasanya tidak akan pernah dikhianati oleh teman seperjuangannya. Walaupun akibat dari hal ini akan berdampak pada kondisi LSM, tetapi itu tidak membuat kami khawatir.
“Thanks, Ka. Gue tahu kalau ini yang akan jadi sikap lo. Cuma kalau gue pribadi butuh kepastian dari lo. Oh iya ini hasil kerjaan soal project bulan kemarin di Sulawesi. Mengenai project pengembangan ekonomi di Pelabuhan Ratu, Sukabumi masih tahap pengerjaan. Teman-teman punya banyak gagasan, tinggal nanti didiskusikan dengan pemerintahan di sana. Untuk beberapa data masih harus dilengkapi, tapi sudah 80%. Kita rencana akan kedepankan konsep eco-wisata dengan nilai kearifan lokal sebagai penambah daya tarik wisatawan,” Erik menyerahkan sebuah draft yang dia bawa di bawah tumpukan surat kabar.
Aku menerimanya, tetapi masih termenung dalam fikiran, bukan mengenai Sukabumi dan segala pesonanya. Tapi mengenai apa yang hendak dilakukan Bang Hendra pada Bogor serta masyarakatnya. Tak pernah bisa disangkali jika Indonesia masih gagap dalam menghadapi gejolak pembangunan. Saban hari yang terlihat di media adalah soal penggusuran dan pengusiran. Pemerintah melawan rakyat. Penguasa bersama pengusaha, menindas warga. Peristiwa-peristiwa seperti itu yang sekarang berada di dekat kita semua.