Hantu dalam fikiranku tiba-tiba hendak mempertanyakan pula sikap teman-teman lainnya. Aku percaya jika Erik berada dalam satu sikap denganku, tapi bagaimana dengan Hikam serta Wahyu. Obsesi dan ambisi selalu ada di kepala mereka. Aku tidak memiliki apapun yang hendak ditawarkan selain kebenaran. Sedangkan Bang Hendra pasti akan menawarkan kedigdayaan, kekayaan, tak mustahil bila kekuasaan pun akan diberikan.
“Rik, bagaimana sikap teman-teman lain? Wahyu? Hikam?” tanyaku menghentikan segala penjelasan Erik pada berkas pekerjaan yang sedang dijelaskannya.
Erik hanya terdiam, melihatku, tak bergeming atas apa yang aku pertanyakan. Aku tidak tahu maksud dari kediamannya. Aku tak hendak pula menegaskan jawaban dari pertanyaan barusan. Erik coba membantah terkaanku pada kepalanya. Ada yang masih belum aku mengerti, dan aku harap Erik bisa memberikan arti.
Sesaat, deru mesin terdengar dari halaman luar kantor. Kendaraan roda empat terlihat dari jendela ruanganku memasuki tempat yang biasa menjadi perhentian. Sebuah sedan silver berjajar merapikan posisi dengan tumpukan roda dua di sebelah kiri. Mobil itu milik Senja.
Sementara itu, ruangan ini masih tidak memberi jawaban mengenai pertanyaanku, Erik hanya berkelakar jika segalanya akan baik-baik saja. Sudah cukup aku yang memberikan jawaban menurutnya, tidak perlu lagi memperdulikan Hikam atau Wahyu. Biarlah itu menjadi urusan mereka tutur Erik.
“Sikap lo saja sudah cukup bro. Itu yang akan berikan kepastian soal akan ke arah mana Rangka Karya bergerak. Gue, Hikam ataupun Wahyu ada di bawah wewenang lo.”
Aku tidak tahu harus menempatkan perasaanku dalam batas lega batin atau tidak, atas apa yang disampaikan Erik barusan. Intuisiku mengatakan ini akan menjadi sebuah permasalahan lain. Dan jika itu datangnya dari hati biasanya menjadi sebuah kenyataan.
“Oh iya, bagaimana soal proposal festival literasi nusantara? Sudah diperbaiki bro? Senja jadi sibuk karena satu project ini, biasanya dia orang paling santai. Akhir-akhir ini jadi susah diajak bercanda. Orangnya sudah datang ya? Taruhan sama gue kalau dia bakal ngingetin lo lagi soal proposal itu,” Erik menambahkan.
“Ya wajar bro, dia penanggung jawab kegiatan, jadi sedikit panik mungkin. Tugas gue bantu dia sebisanya. Termasuk konsep kegiatan dan pengajuan anggaran. Sebetulnya sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Hanja saja sponsor pihak swasta tahun ini banyak mau tapi sedikit anggarannya. Jadi sebisanya kita akali itu. Dengan anggaran terbatas bisa optimal kegiatannya. Ngomong-ngomong, sampai detik ini gue belum tahu siapa sponsor swasta yang bakal danai kegiatan ini. Bang Hendra belum kasih tahu dan tidak pernah membicarakan itu. Dia minta soft copynya saja untuk nanti diedit lagi terkait nama pihak swastanya. Lo tahu perusahaan apa?”
“Apalagi gue bro. Project itu kan hanya lo sama Senja yang pegang.”
Tak lama berselang dari senda gurau yang kami perbincangkan. Ada pula suara dua perempuan yang sedang berbincang di luar ruangan kerjaku. Dari suaranya aku sangat mengenal jika itu adalah milik Senja. Tipikal keceriaan dengan dibalut kelembutan tak bisa tertutupi dari resonansi macam apapun. Satunya lagi milik Sinta yang khas terdengar nyaring dengan disela oleh tawa.
Suara Senja terdengar semakin mendekat menuju ke arah ruangan ini. Bunyi pelatuk hak sepatunya juga membantu menegaskan jika Senja hendak memasuki ruangan tempat aku dan Erik sedang berbincang. Lalu pintu diketuk, gagangnya bergerak ke bawah. Suara pintu kayu dengan engsel besi berdecit. Tanpa harus diizinkan, perempuan yang hari ini tampak sempurna dengan memakai blazer biru masuk ke ruanganku. Erik sekejap memutar leher, melihat siapa yang hendak masuk. Aku tak kalah memberikan perhatian pada sosok di balik pintu. Seolah tak ingin mata Erik mendahuluiku mengetahui bagaimana pesona Senja hari ini.
“Permisi. Oh, ada Erik ternyata. Maaf Raka, tadi aku sudah izin untuk datang sedikit siang sama Sinta. Aku kira kamu juga datang agak siang, jadi aku bicara dengan Sinta tidak dengan kamu,” Senja dengan manisnya menggumam di depan pintu. Matanya tak pernah lepas dari tatapan ke arahku. Seolah ingin menyampaikan rindu tapi tak terucap. Aku pun enggan melepaskan tatap matanya. Mata kami berdua berkelana, dalam rasa yang bisa jadi sama.
“Senja tidak perlu minta izin. Raka saja dua minggu tidak ke kantor tanpa izin. Hahaha.”
Tawa dan kelakar Erik membantuku keluar dari kekakuan menghadapi Senja. Walaupun tersenyum mendengar apa yang disampaikan Erik, aku berusaha setengah mati menggerakkan bibirku hingga terbentuk senyum sungging seperti ini. Aku lumpuh di hadapannya. Tidak berdaya, seolah seluruh indraku mati rasa. Aku yang pemalu menjadi semakin merunduk di hadapan perempuan seperti Senja. Sangat terlihat. Hari ini semakin menjadi-jadi. Tapi aku kembali coba menepis apa yang ada dalam perasaanku.
Aku letih merasakan kecewa. Aku lelah jika harus menjalin cinta tanpa bahagia. Aku sedang tidak ingin bertaruh. Bahkan pada parasnya Senja. Padahal ia datang memberi penawar luka. Hanya saja aku yang mungkin tidak siap mengecap kembali jalinan asmara. Senja, aku menitipkanmu pada eloknya harapan dan waktu yang kelak menjawab segala bengisnya jalan kehidupan.
“Iya, tadi Sinta sudah beritahu,” jawabku singkat setelah tawa Erik reda.
Senja berjalan ke hadapanku, menarik kursi satu lagi di sebelah Erik. Ada yang hendak ia bicarakan sepertinya. Erik sadar jika kehadirannya antara aku dan Senja membuat keadaan tampak tak berpihak padaku. Dia lantas segera memberikan draft yang dibawanya. Satu draft soal anggaran operasional bulanan ia minta tandatangani segera untuk pencairan upah kerja teman-teman. Satu lagi soal hasil kajian pengembangan pariwisata Sukabumi ia minta aku untuk pelajari terlebih dahulu.
Segera aku periksa mengenai kebutuhan pengeluaran anggaran bulanan yang disajikan Erik. Segalanya terlihat lebih baik. Kami masih punya cadangan anggaran hingga 3 atau 4 bulan ke depan. Artinya tidak perlu ada subsidi anggaran yang dikeluarkan Bang Hendra secara personal guna memenuhi kebutuhan operasional LSM. Ya, seperti itulah jadinya jika project yang kami kerjakan ditangguhkan pembiayaannya oleh mitra kerja. Kami memang tidak pernah kekurangan project selama lembaga ini berdiri hingga sekarang. Hanya saja, bekerja dengan pemerintahan terkadang membutuhkan kesabaran. Karena walaupun telah disetujui, tapi anggaran penerimaan biasanya tidak bisa kami cairkan langsung. Butuh waktu beberapa saat hingga anggaran dapat dikeluarkan.
Aku menandatangani apa yang Erik butuhkan untuk mencairkan anggaran operasional bulanan di bank. Setelah itu aku berikan berkas pelaporan anggaran pada Erik. Sedangkan draft pekerjaan untuk Sukabumi aku tahan, menunggu untuk diperiksa. Draft hasil pekerjaan yang dinamakan kajian seperti ini sungguh menyita waktu, tebalnya bisa lebih dari 150 halaman. Tidak cukup waktu satu hari jika itu diperiksa secara detail agar mengetahui letak kesalahannya. Tidak cukup pula satu kali pengerjaan hingga sampai ke tangan klien. Biasanya kami melakukan dua sampai empat kali perbaikan hingga bisa diserahkan kembali pada klien.
“Bro, izin balik ke ruangan gue ya. Masih ada beberapa kerjaan lagi,” ucap Erik setelah kuberikan tumpukan kertas yang telah aku tandatangani.
“Tidak perlu minta izin, Erik!” Senja menjawab kata-kata Erik dengan tertawa. Apa yang dilakukan Erik sebelumnya dibayar lunas oleh Senja. Erik membalas dengan sejungkit tawa dari mulutnya.
Kini tinggal aku dan Senja berada di sekat ruangan sesak ini. Tak lekang aku menatap setiap sudut ruangan, mencoba berlari dari kejaran mata Senja. Hingga sampai kembali pada mata itu, dingin bertambah pekat. Tapi tidak mampu menyentuh hatiku yang kian hangat. Tiada yang membuka suara, antara aku dan Senja. Keakraban yang tadi terlihat seolah punah oleh ketakutan salah berucap kata.
“Bisakah kamu mengawali pembicaraan,” Senja pemenangnya.
“Kamu sudah lebih dulu berbicara,” balasku. “Jadi saya sudah tidak bisa mengawali pembicaraan seperti apa yang kamu minta.”
“Baiklah. Bagaimana soal proposal, Raka? Kamu sudah bisa berkomunikasi dengan Bang Hendra?”
“Tidak adakah yang lebih penting dari sebuah proposal, Senja? Bagaimana ibumu? Mengantar ke rumah sakit tadi dikatakan Sinta.”
“Iya, sekedar check up rutin saja. No worries Raka.”
“Semoga segalanya menjadi baik ya. Jika kamu butuh bantuan apapun, jangan ragu hubungi saya. Dan kemarin saya ditelfon oleh Bang Hendra, soal proposal bisa saya selesaikan hari ini. Sudah saya lihat poin perbaikannya. Tidak terlalu banyak. Bang Hendra memberi waktu 3 hari. Tapi nanti setelah selesai, saya langsung email saja soft copy-nya, biar ada waktu diperbaiki lagi jika ada kesalahan. Saya akan email juga ke kamu agar bisa belajar. Dan tidak perlu terlalu tegang Senja. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Terimakasih atas keyakinannya. Benar mungkin apa katamu, segalanya telah menyita perhatianku. Ahh, aku terlalu berlebihan ya?” tanya Senja padaku. Raut wajah yang tadi terlihat begitu lelah berakhir dengan senyum sekarang, ia perlahan berbalik badan dan hanya terlihat punggung menutupi poster Bon Iver yang aku pajang lurus searah letak kursiku. Senja ingin berlari dari ruanganku, dia berdiri bersiap melangkahkan kaki. Aku menghentikan gerak tubuhnya, karena lupa pada satu hal, permintaan maaf yang tak kunjung kuberikan. Layaknya seorang pria, permintaan maaf baiknya disampaikan secara langsung.
“Senja!” panggilku. Ia menoleh.
“Maaf soal kemarin. Ego saya sedang butuh makanan. Keberadaanmu jadi kudapan lezat kemarin sore.” Perkataanku menyusul tatap lembutnya Senja.
“Tidak masalah Raka. Sudah tidak ada yang perlu dimaafkan. Tak adil rasanya kesalahan hanya ditimpakan pada kamu seorang. Aku juga bersalah karena berbicara tapi menghilangkan perhatian pada matamu. Seharusnya aku tidak melewatkan itu. Lagipula aku sudah terbiasa dengan sifat kamu yang seperti itu,” Senja tertawa mengatakannya, seolah dia menertawakan diri sendiri yang hendak memberikanku kebahagiaan. Tidak seharusnya, mari kita bahagia berdua.
Walaupun tidak ada seorangpun tahu apakah itu serius atau tidak keluar dari mulutnya. Tetapi aku senang dengan keceriaannya hari ini. Canda tawanya selalu mengisi ruang sepi di sudut keramaian duniaku. Senja selalu membawa kedamaian yang tidak pernah bisa dihadirkan perempuan lain selama ini. Setelah 5 tahun aku terjebak perasaanku sendiri pada Tere, di waktu seperti sekarang ini aku menemukan kembali siapa diriku.
Aku tak ingin mengulangi kesalahan kembali seperti apa yang pernah terjadi dengan Tere. Disaat aku merasa aku menyukainya, justru aku kesampingkan perasaanku demi membahagiakan orang lain. Mencintai Senja tidak pernah menjadi satu rasa, selayaknya dahulu aku mencintai Tere. Tetapi darinya aku belajar jika cinta tidak boleh dilewatkan begitu saja. Ia yang hadir berulang kali, kini berhasil mencuri hati, “Mmm... Senja, sudah makan? Kalau tidak keberatan, saya mau ajak kamu makan siang.”
Senja memicingkan mata, terbentuk pula gelayut tipis di bibir bawah mulutya, mencoba mencibir. Lalu ditengadahkan kepalanya, seperti gerak orang yang sedang berfikir. Tak mau tertinggal, jari telunjuk serta ibu jarinya menyusul diarahkan ke arah dagu. Kepalanya kini berlenggok ke kiri. Terlihat serius sekali. Tak lama ia berbicara, “Aku sebenarnya belum ingin makan, tetapi karena itu kamu yang menawarkan dan kuanggap sebagai hadiah dari permintaan maaf. Aku baru saja berdamai dengan mengatakan pada perutku agar ia segera lapar. Tapi ada satu syarat ya!” pintanya.
“Apa syaratnya?”
“Jangan jadikan aku makanan untuk ego kamu lagi! Oke? Jam setengah satu. Pakai motor kamu saja. Aku ingin merasakan angin jalanan,” Senja lalu berlalu, menghilang dari pandanganku tanpa ada izin. Aku hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepala ke kiri kanan. Tanda kemenangan. Ruang kerja ini nyatanya tidak hanya menawarkan cara, tetapi perlahan menghadirkan cinta. Aku yang sempat bercucuran luka, sekarang dihadirkan cerita baru dengan bahagia.