Membuka Kedekatan

1245 Kata
Warna, sore itu menjelang senja. Terlihat biru, tiada jingga. Tak seperti biasanya. Warna yang berpendar kali ini membunuh lupa. Aku pernah terasingkan dalam kehidupan. Aku pernah merasa satu-satunya manusia yang pantas mengenyam derita. Sendiri, tidak ada siapa-siapa. Berjalan mencari baiknya sangka. Terkadang juga berlari dari dia yang nyata. Warna, bercampur dalam pekat, kini menjadi sebuah putih yang sekali lagi nampak jingga.            Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang, hanya terlewat beberapa menit menuju tiba detiknya janji dengan Senja. Sejak 3 tahun satu kantor bersama, duduk dengan banyak kegiatan dan pembahasan. Ini kedua kalinya aku berani untuk mengajak Senja secara terbuka, hanya berdua dan secara sengaja merasakan harmoni kehidupan, di luar pekerjaan. Biasanya selalu ditemani oleh teman-teman lain. Atau jika pun hanya berdua, seperti kemarin, tak lain pasti berkenaan dengan pekerjaan. Sehingga rasa yang terjalin pun gempita di ruang kesibukan.            Hari ini menjadi lain, kami tidak akan membahas pekerjaan, entah jika itu menjadi selipan pertanyaan. Tapi yang jelas, aku sedang dirundung bahagia. Tidak ada terlihat niatan penolakan dari gurat matanya barusan. Tidak pula ada rasa penasaran yang pantas untuk dicari jawabannya.            Setelah membereskan beberapa berkas yang tercecer di atas meja saat tadi Erik memberikanku semua ini, aku melangkah keluar pintu ruangan. Tak ingin tergesa, atau terlihat mendekam rindu, aku bertingkah biasa saja. Di depan ruangan sekat kotakku, kulihat Sinta dan Senja masih berkutat dengan pekerjaan di depan layar komputer pada meja masing-masing. Sinta tersadar akibat bunyi decit pintu ruanganku yang memang sedikit berisik, sering sekali mengganggu sunyinya sekat kotak imajinasiku. Sinta melihatku dan tahu jika jam sudah menunjukkan waktu untuk istirahat makan siang.            “Mas Raka, mau makan siang apa? Biar nanti Sinta titip sekalian pesanannya sama Pak Dul,” tanya Sinta yang terlihat cukup lelah menghadap layar komputer. Ia pun mencoba merenggangkan persendiannya, memberi nafas pada tulang belulangnya agar bergerak dari kursi meja kerja.            “Tidak usah Sin. Saya mau keluar sama Senja. Jam setengah satu tadi katanya.”            “Oooohh, jadi sudah berani keluar hanya berdua begini? Sinta dibiarkan sendiri berjamur di sini mas? Hahaha.”            Sinta tertawa melihat kekakuanku. Selain Erik, Hikam dan Wahyu, Sinta merupakan staf paling lama yang telah bergelut di LSM. Sejak merangkak, jatuh bangun, berdiri, bisa berjalan hingga sekarang mampu berlari. Sinta jadi cukup tahu bagaimana keseharian dan karakter masing-masing dari kami. Aku yang pemalu di hadapan wanita tak bisa menghindar dari cibiran manjanya, memberikan jantungku sedikit degup yang tidak beraturan.            “Iya, ada yang mau saya bicarakan berdua dengan Senja. Sinta di sini dulu ya. Nanti saya belikan saja makan siangnya,” ucapku pelan.            “Jadi membelikan makan siang itu termasuk gratifikasi biar Sinta tidak mengganggu atau gimana mas? He..he..he,” Sinta tertawa kembali, terlihat senang melihatku menguncup.            Sementara Senja, walaupun wajahnya tertutupi layar komputer dari tempatku berdiri, aku tahu pasti jika ia sedang tersenyum. Ikut tersipu barangkali. Tapi merah merekahnya pipi Senja tidak bisa terlihat dengan baik oleh Sinta, juga olehku. Itu hanya keyakinanku saja. Karena sepanjang waktu aku digoda oleh Sinta, ia hanya terdiam, tak beringsut dari tempatnya, tak ada suara ketikan keyboard atau ikut tertawa terdengar.            “Bisa dibilang begitu. Tapi gratifikasi kali ini tidak lebih dari 50 ribu ya. Sinta mau makan apa?” balasku pada Sinta.            “Apa saja lah mas yang ada. Kalau bisa yang praktis saja seperti nasi goreng atau nasi bungkus.”            “Ayam bakar di depan jalan sini katanya cukup enak ya, Sin?”            “Nah, iya itu juga boleh mas. Minumnya aku mau es jeruk ya. Hahaha.”            “Boleh Sin. Ada lagi pesanannya nyonya?”            “Sudah, sudah cukup mas. Dan tidak pakai lama ya. Bicaranya sebentar saja. Kalau pakai hati pasti sebentar kok mas bicaranya, jangan ditambahin otak dulu kali ini. Cukup hati ke hati yang berbicara.”            Obrolanku dengan Sinta berakhir dengan kedipan satu mata dariku padanya. Memberikan sinyal setuju. Tapi aku tidak bermaksud membicarakan hati dengan Senja. Walaupun sudah saling mengenal selama 3 tahun. Hubunganku dengan Senja tidak pernah menjadi sedekat ini sebelumnya. **            Rasa yang membuncah pada Senja baru saja hadir, tidak dapat kukendalikan sekira satu bulan belakangan. Saat aku, Senja, Sinta, dan Wahyu mendapat tugas untuk melakukan riset lapangan di Sukabumi. Pada awalnya aku memandang Senja sebagai gadis biasa, tidak ada yang istimewa di luar dari keanggunannya sebagai perempuan. Aku enggan terjebak lagi pada satu tatapan dan mengakui bahwa kecantikan memanglah s*****a paling memikat milik perempuan.            Kami ke Sukabumi selama kurang lebih empat hari tiga malam. Segala akomodasi sudah disiapkan oleh pemerintah daerah setempat sebagai mitra kerja kami menyusun kajian pengembangan ekonomi kawasan wisata Pelabuhan Ratu dan sekitarnya. Sinta dan Senja terlihat sangat bahagia, pun begitu dengan Wahyu. Mereka sudah tidak sabar melihat kecantikan panorama matahari terbenam dari selatan Pulau Jawa.            Aku memang sedikit berkisah pada mereka, jika dibandingkan dengan Bali, Pantai Pelabuhan Ratu menawarkan sesuatu yang lain dari hanya sekedar panorama sunset dan senja di ufuk timur. Ada ketenangan berbalut mistisme yang ditawarkan oleh laut selatan Pulau Jawa. Entah mengapa, aku sendiri tidak bisa menjelaskan. Bukan karena soal mitologi Ratu Pantai Selatan. Ini adalah soal rasa. Rasa mencintai tanah di mana cara hidup, kebudayaan, serta akar sejarah bermula.            Dalam catatan sejarah, Sukabumi memang tidak terlalu terlihat jejaknya. Tapi jika menilik daerah Pandeglang yang menjadi tempat kerajaan Salakanegara berdiri, Gunung Padang Cianjur yang menjadi kebanggaan orang Sunda berada, dan geopark Ciletuh yang menawarkan lukisan alam dari bebatuan purba tidak begitu jauh letaknya dari Sukabumi, bisa dipastikan bahwa daerah laut selatan pasti pernah memiliki peradaban hebat dahulu kala. Ada bibit mistisme, akar sejarah, ranting mitologi, daun kebudayaan, hingga kembang kehidupan di sini. Semuanya ada, bukan oleh pandangan mata, tapi oleh cara kita merasa.            Kami sampai Sukabumi masih agak pagi, belum terlalu siang karena memang berangkat dari Jakarta sebelum Subuh menjelang. Aku meminta Wahyu agar mengarahkan kendaraan ke kantor Pemda terlebih dahulu, sekedar melapor jika kami sudah ada di sini. Walaupun jauh hari seorang pegawai Pemda Sukabumi yang bernama Pak Dana telah mengatakan untuk langsung saja ke penginapan. Rasanya tak enak jika masuk ke rumah orang tanpa bersua dahulu dengan tuan rumah.            Kami diterima dengan sangat baik oleh Wakil Bupati, sahabat karib Bang Hendra yang juga merupakan kader PHS. Aku biasa menyapanya dengan panggilan Bang Wir, karena namanya adalah Eka Wiradaya. Teman-teman lain baru pertama kali bertemu Bang Wir, kecuali Wahyu yang juga memang sering ikut kegiatan PHS. Bagi Senja dan Sinta, figur Bang Wir sangat mudah akrab. Aku sendiri memang mengamini jika para politisi seperti Bang Wir ini memiliki kemampuan lebih dalam cara mendekatkan diri secara personal ke orang-orang.            Setelah urusan basa-basi dengan Bang Wir selesai, kami langsung mengarah ke penginapan. Kami diberikan penginapan di daerah sekitaran Pantai Karang Hawu. Salah satu lokasi pantai yang cukup sunyi. Dari penginapan ke pantai itu bisa kami tempuh dengan hanya berjalan kaki. Suasana penginapannya bagus, mengarah ke hadapan pantai, dan banyak taman yang bisa dinikmati kala suasana pantai mulai menjemukan. Hari pertama kami di sini, aku tetapkan agar banyak beristirahat. Sekaligus coba sedikit beradaptasi dengan keadaan Sukabumi.            Saat teman-teman beristirahat, aku yang kadung akrab dengan tempat ini, mencoba sendiri berjalan menyusuri tepian pantai. Menikmati hembusan angin, menatap ke awan biru. Deburan ombak tak lupa mengisi sekat hatiku yang kosong saat itu. Tanpa alas saat berjalan, pasir bercampur pecahan karang terkadang terasa tajam menusuk telapak kaki. Tapi aku terus berjalan, membiarkan rasa sakit menghantam, sambil ditutupi dengan cengkrama bersama alam, laut, dan ketenangan yang menawarkan tuntasnya kenangan. Semuanya seperti menjaga kehangatan. Membantuku lupa akan lukanya keadaan. Kurang lebih 30 menit aku terdiam, termenung, duduk bersedekap lutut di bibir Pantai Karang Hawu, menerjemahkan bahasa alam yang sedang bernyanyi riang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN